
...Bab 26...
...Kepercayaan Yang Hilang...
Siang itu setelah pulang dari kampusnya, Lia mampir ke restorant dekat Cafe Rizal, membeli makanan untuk makan siangnya dan Rizal. Makanan menu favoritnya, semur ayam dan tumis udang pedas.
"Siang ini, makanan ini pasti akan membuatnya tidak tahan ingin segera menyantapnya, dan si gadis desa bodoh itu lama-kelamaan akan minder kepadaku! kalau akulah satu-satunya yang tahu apa kesukaannya Rizal!" gumamnya sendiri seraya menjalankan mobilnya.
Tak lama mobilnya berhenti di parkiran, dan dia segera turun dari mobil.
Seperti biasa siang itu terlihat Tasia dan Revan disibukkan melayani para pelanggan yang datang silih bergantian. Yogi juga tak kalah sibuknya, di dapur dia selalu menata dan menyiapkan pesanan itu satu persatu.
Lia langsung masuk ke dalam Cafe dan berdiri dekat tempat kasirnya, sambil memperhatikan pekerjaan mereka. Setelah selesai melayani pembeli satunya, Tasia hendak berjalan ke dapur lagi untuk membawa pesanan lainnya yang sudah disiapkan Yogi dari tadi.
Tetapi Lia tiba-tiba menghentikan langkahnya disana, dan memintanya untuk membawakan dua minuman ke ruangan kerjanya Rizal.
"Tolong ya.. aku haus! jangan lupa bawa dua gelas minuman!" pintanya. Tasia menghela nafas kasar.
"Lia.. kamu kan bisa buatkan itu sendiri, aku benar-benar sibuk, apa kamu tidak melihatnya sendiri? " sahut Tasia agak jengkel dengan sikap Lia yang teramat manja.
"Heh, apa kamu tahu statusmu semdiri, kamu itu hanya pekerja baru disini, berhentilah melawanku, sekarang ini aku adalah atasanmu. Aku berhak nyuruh-nyuruh kamu tahu! " gertak Lia.
"Dengar walaupun Rizal baik hati kepadamu, tapi dia hanya menganggapmu sebagai teman seperti yang lainnya tidak lebih dari itu, jangan kepedean kamu ya! Sedangkan aku sendiri, aku tidak akan pernah menganggapmu teman seperti mereka, selamanya tidak akan pernah, kau mengerti. Ingat itu! kau itu tetap karyawan di bawahku!" tambahnya lagi dengan tatapan yang tajam mengarah ke Tasia.
"Baiklah, aku mengerti!" pasrahnya.
"Baguslah kalau memang sudah mengerti, jadi jangan lupa ya.. air perasan jeruknya yang hangat!" pintanya lagi dengan menunjuki mukanya Tasia dengan telunjuk kanannya. Setelah menyuruh Tasia, Lia melangkahkan kakinya ke ruangan Rizal.
Tasia terpaksa tidak bisa menolak permintaannya, memang karena apa yang dikatakan Lia ada benarnya dia hanyalah seorang bawahannya saja.
Tasia segera pergi ke dapur dan membuatkan air jeruk peras pesanan Lia sedikit menggerutu dan kesal.
Lia masuk ke ruangan Rizal dan segera menghampirinya, dia yang melihat Rizal masih fokus dengan laptopnya itu, lalu tangannya memijat pundaknya Rizal dengan lembut. Rizal terperanjat kaget dibuatnya.
"Hah, Lia kau mengagetkanku saja" sahutnya.
"Rizal apa kamu tidak lapar, ini sudah waktunya jam makan siang lho?"tanyanya dengan suara lembut dan manja.
Rizal melihat ke arah jam dinding, waktu sudah menunjukkan jam 2 siang. Dia tidak menyadarinya memang hari sudah sangat siang sangking disibukkannya dengan tugas kampusnya itu, dirinya jadi lupa diri belum sempat makan siang.
"Iya kau benar, sangking sibuknya aku melupakan makanku!" gumamnya seraya menghela nafas panjangnya dan menghapus keringat di dahinya
Lia tersenyum lebar, dia sudah bisa menebaknya. Jikalau selama pria itu sibuk dengan tugasnya yang banyak, dirinya oasti akan melupakan jam makannya sendiri.
Tak lama kemudian, terlihat oleh Lia pintu terbuka perlahan, dan gadis itu sudah membawa minuman pesanannya tadi. Lia sudah meliriknya dari samping dan tahu bahwa yang masuk adalah Tasia, lalu dia mulai melakukan akting di depannya.
"Ya sudah kalau begitu ayo kita makan dulu..kebetulan sekali aku sudah bawakan makanan favoritmu. Tadi saat perjalanan kesini, aku mampir ke restorant tempat biasa kita makan" ujarnya seraya menarik lengan Rizal untuk bangkit dari kursi kerjanya dan mengajaknya pindah duduk di sofa.
"Benarkah, kamu bawa semur ayam?" serunya terlihat senang mendengarnya.
"Iya bukan cuma semur ayam tapi tumis udang pedas juga aku bawakan!" ujar Lia lagi.
"Waah...asyik, rasanya aku jadi sangat lapar sekali mendengarnya!" ungkapnya. Lia terkekeh -kekeh mendengar perkataan Rizal.
Mereka berdua lekas dudukkan di sofa sambil berdekatan, dan Lia menaruh dua kotak nasi itu di mejanya, lalu membukakannya untuk Rizal.
"Taaraaa!" seru Lia setelah kotak nasi itu dibukanya, makanan favorit Rizal sudah berjejer rapi di kotak itu, terlihat dari postur dan bau masakannya pun begitu sangat menggiurkan yang memandangnya sehingga membuat seleranya makan semakin bertambah.
"Heeemm...aku benar-benar tidak sabar ingin segera melahapnya!" seru Rizal, dia mengambil sendok makan yang sudah tersedia di kotak itu.
Tasia mendengarkan obrolan mereka di belakang pintu, dan masih mematung berdiri saja disana. Kakinya tiba-tiba serasa enggan untuk masuk ke dalam. Tapi dia harus segera memberikan minuman itu, dan dia mencoba memberanikan diri untuk masuk dan menghampiri mereka berdua.
Rizal tidak memperhatikan keberadaan Tasia disana, dirinya terlalu fokus pada makanan yang di bawa Lia.
"Eit tunggu..lepas dulu kacamatanya dong!" seru Lia tiba-tiba menghentikan Rizal yang akan memasukan nasi ke dalam mulutnya itu, dia membantu melepas kacamatanya pria itu, lalu menyimpannya di meja.
"Terimakasih banyak Lia, kau selalu memperhatikan makanku setiap saat! kau memang paling tahu apa saja yang kusukai" ucapnya tersenyum lebar memandangi Lia.
"Tentu saja.. kitakan sudah bertahun-tahun bersama dan saling mengenal.. tidak mungkin kan kalau aku tidak tahu semua seleramu" serunya sumringah.
"Nah, sekarang ayo buka mulutmu! biar aku saja yang suapi kamu makan... " sahutnya tiba-tiba merebut sendok tangan Rizal.
"Eh tidak usah biar aku makan sendiri!" ujar Rizal menolaknya.
"Emm..ya sudahlah... " ujarnya terpaksa menuruti perintah gadis itu membuka mulutnya, dengan perlahan Lia memasukan nasi di sendok ke dalam mulut pria itu dengan hati-hati.
Tasia yang berada dibelakangnya tidak sengaja melihati kedekatan mereka yang begitu akrab sekali layaknya sepasang kekasih. Mata Lia sekilas melirik ke arah Tasia yang wajahnya ditekukkan menahan cemburu.
Tasia yang tidak ingin lama-lama melihat ke akraban mereka, cepat-cepat gadis itu menaruh dua gelas minumannya di meja mereka, dan pandangannya yang masih menunduk kebawah.
"Ini minumannya...! "ucapnya dengan tangan yang gemetaran. Rizal terkejut saat itu juga, dia menoleh ke sampingnya dan baru menyadarinya kalau Tasia sudah berada di ruangan kerjanya.
Gleek, Rizal menelan nasinya bulat-bulat.
"Tasia?! "ucapnya kaget.
"Aku... permisi dulu masih ada banyak pekerjaan menungguku..! "gumamnya, lalu dia cepat melangkah pergi keluar meninggalkan mereka, lalu menutup pintunya rapat kembali.
"Ta, Tasia tunggu! " teriak Rizal tapi dia tidak keburu menghentikannya Tasia sudah pergi keluar.
Lia tersenyum puas melihat kecemburuan Tasia. Akhirnya dia berhasil membalas kesakitan dirinya pada gadis itu.
'Sekarang kau harus lebih tahu diri lagi! disini hanya akulah wanita satu-satunya yang boleh mendekati Rizal' pekiknya di dalam hati.
Tasia bergegas lari ke dapur, dan menyimpan nampannya di meja dengan wajah yang sedikit kesal dan hampir menangis, lalu buru-buru masuk ke kamar mandi. Yogi yang tengah sibuk dengan pesanan pembeli itu, sekilas memandangi gadis itu penuh dengan keheranan.
"Kenapa dia?" pikirnya.
Di dalam kamar mandi, cukup lama Tasia memandangi wajahnya di cermin dengan matanya yang sedikit berkaca-kaca, lalu meraba pipinya itu dan terus memperhatikan dirinya sendiri.
'Aku terlalu bodoh dan naif, Rizal begitu perhatian padaku, sehingga hatiku nyaris saja terikat olehnya.. Sadarlah Tasia semua lelaki itu sama saja, mereka tidak akan pernah mungkin menyukai dan setia pada satu wanita dalam hidupnya... Kepercayaanku untuk menemukan cinta sejati itu sudah hilang, sejak aku tahu Ayahku sendiri.. yang kupikir Ayah adalah lelaki yang setia pada Ibu, namun kenyataannya tidak begitu.. Dia tega meninggalkan Ibu dan lebih memilih hidup dengan wanita lain..'
Dia jadi teringat akan perkataan Lia tadi pagi di gang itu, dirinya hanyalah gadis desa yang tidak menarik sama sekali. Mengingatnya kembali mendadak matanya mulai berair dan menganak sungai.
'Apa yang kau harapkan dari Rizal? Lia lebih cantik, berpendidikan dan juga kaya raya.. Tidak mungkin dia mau sama kamu yang seperti endapan tanah ini demi menjauhi dia yang seperti tumpukan berlian itu?' menyadarkan dirinya sendiri.
Tak terasa air matanya keluar dan meleleh, mengucuri ke permukaan pipi-pipinya yang halus.
Yogi yang berada di dapur terus menunggu Tasia yang masih di dalam kamar mandi. Karena penasaran dia mengetuk pintu dan memanggilnya.
"Tasiaa? Tasiaa kamu tidak apa-apa?" tanyanya.
Di dalam kamar mandi, dia terkejut dan lekas membasuh mukanya dengan air lalu mengelapnya dengan handuk kecil yang sudah tersedia di sana.
"Iyaa...aku tidak apa-apa!" jawabnya. Tasia kembali merapikan pakaiannya lalu perlahan membuka pintu dan keluar.
"Kamu kenapa?" tanya Yogi lagi. Tasia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak ada apa-apa kok..." jawabnya datar, sambil terus melangkah ke arah meja lalu melanjutkan kembali menata pesanan pembeli ke nampannya dan di bantu Yogi. Saat dia akan membawa pesanannya keluar dia berpapasan dengan Rizal yang tiba-tiba muncul di depan pintu dapur yang memang dibiarkan terbuka.
Mereka saling bertatapan lumayan lama. Tetapi Tasia cepat-cepat tersadar dan kembali mengalihkan pandangannya dan melewati Rizal di depannya keluar dapur.
"Em..Ta-Tasiaa.." panggilnya terbata-bata tetapi dia pura-pura tidak mendengarnya dan tetap berjalan lurus ke arah ruang cafe.
Rizal memandangi punggung Tasia dengan raut muka mencemaskannya. Perasaan yang tidak enak tiba-tiba saja muncul di dalam hatinya.
'Kenapa..kenapa perasaanku terhadapnya jadi kacau begini?' gumamnya dalam hati, dengan jantung yang berdebar kencang.
Di lain pihak Yogi pun sedari tadi melihati tingkah mereka yang tiba-tiba saja saling diam.
"Kalian berdua kenapa?" tanyanya semakin penasaran. Rizal yang ditanya seperti itu kesulitan menjawab, sambil mengusap rambutnya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Emm...ti-tidak kenapa-kenapa" sangkalnya sedikit gugup.
Yogi hanya menyunggingkan sisi sudut bibirnya dan mengangkat bahunya tidak mengerti, lalu melanjutkan kembali aktivitasnya.
bersambung...
...***...
Jangan lupa like and komentarnya yaa...
...🌺🌺🌺...