
...Bab 17...
...Ulah si Playboy...
Setelah menangis lama, Lia mengelap pipinya yang basah dengan tisu, lekas dia pergi dan dudukan di kursi Taman dekat kampusnya bersama Rina.
Lalu dia melemparkan botol minuman itu dengan kesalnya, ke tempat sampah yang berada di depannya, botol juice jeruk yang tadi pagi dia berikan kepada Rizal namun masih tersisa itu.
"Sudahlah... buat apa kamu kesal begitu?" ujar Rina ikut kesal.
"Di kampus ini begitu banyak pria yang lebih tampan dan baik dari Rizal! Tapi kamu hanya mau mengejarnya saja!" jengkelnya lagi.
"Apa aku kurang cantik, Rin?!" tanya Lia memotong perkataan Rina
"Kurang baik apa aku padanya selama ini?" sedihnya lagi.
"Kau itu, sudah terlalu baik dan kau itu gadis tercantik di kampus ini! Rizal saja yang bodoh. Gak tahu bagaimana caranya menghargai wanita!" sahut Rina lagi sangking jengkelnya dia jadi mengatai Rizal.
"Aku sudah memberikan apapun kepadanya, tapi kenapa dia tetap saja tidak jatuh hati padaku...?" ucap Lia tersedu-sedu.
"Memangnya kamu sudah memberikan apa saja padanya?" tanya Rina penasaran.
"Seluruh uang tabunganku, untuk bantu dia membangun usaha Cafenya itu..." ungkapnya lirih, dengan menyenderkan kepalanya di batang pohon dan pandangannya yang lurus ke depan.
"Benarkah?! Ya ampuun...Lia!" teriak Rina tak percaya, "Sampai segitu cintanya kamu sama si kutu buku itu?" terbelalak kaget mendengar pernyataan dari sahabatnya itu.
"Bukan cuma itu saja Rin, tapi aku juga sudah membuat usaha Cafenya tidak berjalan lancar" terangnya tiba-tiba.
"Maksudmu bagaimana?" tanya Rina kaget, sembari mengerutkan kedua alisnya, masih belum memahami perkataannya Lia.
Di samping kanan jalan taman, tampak Revan dan teman-teman kuliahnya sedang berjalan keluar gerbang kampus. Sekilas dia melihat Lia dan Rina sahabatnya sedang berbincang di kursi Taman. Lalu tidak sengaja Revan di sisi jalan sampingnya, mendengar percakapan mereka dengan jelas.
"Demi dia, akan kulakukan apa saja Rin,. aku memang sengaja membuat Cafenya tidak laku, untuk bisa terus berpura-pura membantu dia, agar dia bergantung terus padaku sehingga dia pada akhirnya..mau tidak mau...akan menerima cintaku dan tidak berani untuk meninggalkanku!" tegasnya lantang dan terisak-isak, dengan matanya yang memerah menahan tangis dan amarah.
Rina tersentak kaget dengan pernyataan Lia. Dia tidak menyangka Lia akan berbuat senekad itu demi Rizal.
Lia berdiri dan menundukkan kepalanya di bahunya Rina dengan memegang erat pundak Rina, tubuhnya bergetar setelah mengungkapkan semua yang telah dia perbuat itu, pada sahabat baiknya.
Lalu Rina segera memeluk Lia untuk menenangkan hatinya yang masih kemelut itu. Di usap-usapnya rambut sahabatnya dengan lembut.
"Sudah Lia...sudah, ayo, lebih baik kita pulang saja. Tidak baik kamu menangis di tempat umum. Nanti bisa terlihat orang!" bujuknya. Lalu Lia mengangguk menuruti saran Rina, dan mereka pun pergi ke parkiran untuk membawa mobilnya.
Revan yang dari tadi berdiri, hendak mencerna perkataan Lia.
"Apa maksud perkataan Lia barusan?!" batinnya
"Hei, Van ayo cepat! malah melamun disitu.." panggil temannya yang sudah berjalan di depan dari tadi. Revan tersentak kaget lalu berlari menyusul teman-temannya lagi.
...***...
Tasia pada hari itu pulang dengan gembira, karena membawa uang banyak hasil kerja kerasnya sendiri. Sebelum pulang dia ingin mampir dulu ke toko pakaian berniat membelikan ibunya daster rumahan.
Tapi saat hendak berjalan, Tasia merasa dirinya di ikuti seseorang dari tadi, dengan cepat dia menengok kebelakang. Tetapi tak ada satupun orang terlihat.
"Ah mungkin cuma perasaanku saja" pikirnya dengan memegang erat dadanya agak sedikit ketakutan kalau-kalau si perampok yang waktu itu muncul lagi di hadapannya.
Tasia berjalan cepat-cepat, karena memang di jalan itu lumayan sepi orang. Saat melewati pohon besar d pinggir jalan besar. Tiba-tiba ada yang menarik lengannya ke arah pohon besar itu, dan mulut Tasia langsung ditutupinya dengan tangan kekarnya. Seorang pria berjaket, dan bertopi hitam lalu memakai kacamata dan juga maskernya. Penampilan pria tersebut seperti seorang gangster sangat mencurigakan sekali.
Nafas Tasia terasa sesak akibat bungkamannya, Tasia mencoba melepaskan diri dari tahanannya, namun tangan pria itu begitu kuat menyekalnya, dengan refleks dan cepat Tasia menyikut keras perut pria itu.
Duuugh
"Aaaarrrghh!!" gaduhnya.
Tasia akhirnya bisa terlepas dari genggamannya.
"Kamu siapa?!" teriak Tasia histeris.
Dia masih merintih kesakitan.
"Aduuuuh, sebenarnya kamu belajar beladiri dari mana sih?" tanyanya. Mendengar oria itu bicara Tasia merasa begitu familiar dengan suaranya.
Karena penasaran Tasia lansung membuka topi dan kacamata pria tersebut, dan juga masker yang masih melekat menutupi hidung dan mulutnya.
"Yogi?! kamu..!!" teriak Tasia membulatkan matanya ke arah pria di depannya.
"Haai...!" serunya melemparkan senyuman manis padanya, lekas dia berdiri dan menepuk-nepuk celananya yang kotor karena tanah.
"Sorry, tadi aku habis lewat jalan sini..gak tahunya ketemu kamu di jalan sendirian, jadi aku sengaja ikutin kamu dari belakang." jelasnya cengengesan.
"Jadi aku coba kerjain saja kamu!" celotehnya lagi terus terang.
"Benarkah...?hmm.." gumam Tasia, jengkel mengerungkan kedua alisnya sambil menyedekapkan kedua tangannnya.
"Gayamu itu memang sudah seperti gangster, kamu memang pantas dipukuli orang!" sahut Tasia lagi sangking kesalnya dia lalu memukul-mukul pundaknya Yogi dengan kencang.
"E eeh eh..iya sorry-sorry takkan ku ulangi lagi. sudah hentikan..sakit sekali Tasia!" terkekeh-kekeh sambil menghindari pukulannya Tasia.
Tak lama kemudian mereka kembali lagi akur.
"Sebenarnya kau mau pergi kemana?" tanya Yogi sambil berjalan mengikuti gadis itu.
"Bukan urusanmu!" ketus Tasia judes.
"Nah kamu sendirian mau ngapain? kok ikutin aku terus sih!" balik nanya.
"Aku sengaja ke sini, ingin makan siang di rumah makan depan puskesmas waktu itu lagi. Masakannya bikin aku ketagihan!" sahutnya.
"Kebetulan ada kamu, kamu mau temani aku makan siang kan?!" pintanya pada Tasia.
"Maaf aku tidak bisa, aku mau beli baju buat ibuku.!" ujarnya menolaknya cepat-cepat.
"Ooh, ya sudah aku akan temani kamu beli baju dulu. Setelah itu kita pergi makan!" ujarnya lagi.
Tasia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah pria itu. Tanpa menghiraukannya lagi, Tasia langsung masuk ke toko baju yang sudah jadi langganannya dari dulu. Yogi terus berjalan mengikutinya dari belakang, tingkahnya sudah seperti bodyguardnya saja. Setiap orang yang lewat selalu melihat ke arahnya dengan pandangan aneh.
Lalu Tasia cepat-cepat memilah dan memilih baju yang pantas buat ibunya, supaya cepat pulang. Wajahnya menunduk malu karna tatapan oranglain padanya, yang selalu diikuti Yogi.
Setelah membeli baju dan hendak membayarnya. Yogi menahan tangan Tasia yang hendak membuka dompetnya.
Tasia tersentak kaget, tanpa sepatah katapun Yogi cepat-cepat membuka kartu kreditnya dan lekas memberikannya pada kasir.
"Eh aku gak memintamu bayar bajuku ini?!" jelas Tasia, tidak menyangka pria itu malah ingin membayarnya untuk Tasia.
"Terimakasih mas, ini kartunya!" ucap mbak kasir itu mengembalikan kartu milik Yogi. "Tidak apa mbak.. pacarnya kan niat mau beliin buat mbak!" tambah mbaknya lagi tersenyum tersipu.
Tasia tercengang kaget matanya membulat dengan ucapan si mbak kasir itu.
"Maaf ya mbak, dia ini bukan pacar saya!" seru Tasia wajahnya mendadak memerah, mendengar ucapan mbak kasir barusan.
"Mbak tidak usah dengarkan omelannya, dia memang begitu.!" ujar Yogi mengiyakan perkataan kasir itu dan sok akrab padanya.
"Ooh..iya saya mengerti mas, kalau mas sedang marahan. Semoga kalian cepat baikan lagi!" ucap mbak kasir itu, semakin salah paham dibuatnya.
Tasia geram dengan ulah Yogi, lalu dia keluar toko duluan. Melihat Tasia kesal, Yogi lekas menyusulnya keluar toko.
"Ya udah, mbak kami harus pergi, terimakasih banyak ya .!" ucap Yogi, mengulas senyumnya.
"Sama-sama mas, silahkan kembali lagi nanti..! sahut mbak kasir itu, mengerti. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala dibuatnya melihat kedua pasangan itu bertengkar.
Setelah di luar Tasia marah besar.
"Apa maksudmu bicara begitu pada pelayan toko itu?!" gerutunya jengkel.
"Heh, aku tidak mau ya..kalau harus berhutang pada oranglain. Jadi sekarang makan siangmu akulah yang traktir sendiri.. Puas!" gertaknya lagi pada Yogi, dengan tatapan tajam sambil menunjuk wajah Yogi.
Yogi tersenyum puas, ternyata ide mengajak Tasia makan siang hari itu tercapainya.
"Ya sudah, ayo kita makan ditempat waktu itu..!" tanpa basa-basi lagi Yogi langsung berjalan duluan di depannya Tasia sambil bersiul-siul sendiri, dengan kedua tangan yang dia masukkan ke saku celananya.
Tasia menghela nafas kasar karena terpaksa menuruti kemauannya itu.
"Huuuuh..." desahnya. Lalu berjalan mengikuti pria itu di belakangnya.
bersambung...
...***...
Jangan lupa like dan komentarnya yaa...
...🌺🌺🌺...