Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Menjebak Mira



...Bab 85...


...Menjebak Mira...


Keesokan harinya, minggu pagi ini...


Tasia baru saja terbangun dari tidurnya, lalu tiba-tiba saja di benaknya dia jadi teringat akan ajakan Yogi semalam tadi, untuk kembali pulang ke Yogyakarta.


"Aku sudah tidak diharapkan Rizal lagi disini...dia masih kecewa dan terlihat marah kepadaku...mungkin sebaiknya hari ini aku ikut pulang dengan Yogi saja..." gumamnya sendiri.


"Lagipula...aku sudah kangen berat sama Ibu..." katanya lagi.


Tanpa berpikir panjang lagi Tasia langsung segera mengemasi pakaiannya dan memasukannya ke dalam kopernya itu. Tapi sebelum melanjutkan beres-beres nya dia terlebih dahulu menghubungi Yogi untuk memberi tahukannya.


"Hallo..Yogi?" sahutnya. Setelah telepon mereka terhubung.


"Iya Tasia...ada apa?" jawabnya terdengar girang saat tahu Tasia yang meneleponnya.


"Jam berapa pemberangkatan kereta ke Yogyakarta hari ini?"tanyanya.


Yogi sumringah.


"Nanti pukul 10.00 siang ini...kalau mau pesan tiket aku bisa pesankan sekarang naik kereta cepat saja...kebetulan aku juga belum pesan tiketnya.."


"Ya sudah kalau begitu..maaf ya sudah merepotkan kamu lagi...hari ini aku jadi ikut pulang ke Yogyakarta denganmu..."


Yogi berbinar mendengarnya.


"Benarkah...baiklah nanti aku akan jemput kamu siang ini di rumah Rizal.."


"Oke..." jawab Tasia. Lalu Tasia segera menutup kembali ponselnya dan melanjutkan membereskan semua barang-barangnya lagi.


Setelah satu jam Tasia membereskan barangnya lalu dia keluar kamarnya pergi sarapan ke dapur bersama mbok Darmin.


Mbok Darmin awalnya melarang Tasia ikut makan dengan para pembantu, yang seharusnya Tasia makan di ruang makan keluarga bersama suaminya.


"Memangnya kenapa sih mbok? Aku lebih suka makan di dapur bersama kalian kok.."sahutnya lagi.


"Eh non Tasia.. apa enaknya sih makan dengan kami yang pada bau badan kena keringat terus..." celoteh pak mamat yang juga sedang menikmati sarapannya disana.


"Bagiku makan bersama kalian itu adalah hal menyenangkan, kalian tulus baik kepadaku...kalian semua sudah seperti keluarga yang sesungguhnya bagi diriku..." ujarnya tersenyum terharu.


Mbok Darmin dan Pak Mamat ikut terharu mendengar Tasia menganggap mereka sebagai keluarganya sendiri. Sekilas mereka berdua pun jadi teringat dengan sanak keluarganya di kampungnya masing-masing.


Tasia memandang ke arah mereka sambil mengunyah nasinya pelan dan berpikir dalam benaknya.


'Setidaknya kalian tidak pernah menampakkan wajah penuh kepalsuan seperti mereka ..' gumam Tasia di hatinya.


###


Rizal dan kedua orangtuanya sarapan bersama di ruang makan. Rizal melihat murung ke arah kursi di sampingnya tempat dimana Tasia selalu duduk makan dekat dengannya. Sudah kejadian itu dia tidak pernah ikut makan lagi bersama mereka.


Beberapa menit kemudian mobil Mira baru saja sampai di rumah Hendra. Mira sengaja datang karena Rizal menghubunginya untuk datang mengundangnya sarapan. Hari itu Rizal dan Tania berencana ingin membeberkan semua perilaku Tantenya di hadapan Ayahnya sendiri.


Rizal menyeringai setelah mendengar suara klakson mobil Tantenya itu sudah datang, dan dia tersenyum memberi kode kepada Ibunya. Tania pun membalas senyuman kode itu kepada Rizal lalu mengusap bibirnya dengan sapu tangannya perlahan.


"Seperti suara mobilnya Mira? Tumben pagi-pagi dia kemari?" tanya Hendra heran. "Bukankah hari minggu ini katanya dia akan pergi ke Dubai menjemput suaminya?"


"Aku yang menyuruhnya datang kemari Ayah, mengundangnya sarapan bersama kita..."sahut Rizal.


Mira berjalan masuk ke dalam rumah Hendra dengan sudah di kawal dua pengawalnya di belakangnya.


"Maaf aku sedikit terlambat.." sahutnya setelah masuk ke ruangan makan keluarga lalu seorang pelayan menarik kursi untuk Mira duduk.


"Tidak apa-apa Tante...kami juga baru saja duduk dan mengambil makanan.." sahut Rizal santai.


Mira melirik ke arah Rizal penuh pertanyaan. "Apa yang ingin kau sampaikan kepadaku Rizal?" tanyanya penasaran saat di telepon tadi pagi-pagi sekali. "Soalnya siang hari ini Tante harus berangkat ke bandara menyusul ayah Dian di Dubai.." terburu-buru.


"Iya Tante, nanti akan Rizal katakan tapi sebaiknya kita sarapan dulu...nanti setelah itu kita baru mengobrol di ruangan tamu.." ujar Rizal.


Selang 15 menit setelah mereka selesai sarapan. Mereka berempat pergi ke ruang tamu. Hendra di dorong Tania ke depan. Lalu Mira duduk duluan di sofa dan kedua pengawal setianya masih tetap berdiri di sisi belakang kiri kanannya Mira.


Rizal pun sudah bersiap untuk mengungkapkan semuanya di hadapan Hendra.


"Hmm..Tante...mungkin sebaiknya Ayah juga tahu semua ini tentang Tante.."


Mira mengernyitkan dahinya "Apa maksud perkataanmu itu?" terheran-heran dengan ucapan Rizal yang memacu kepadanya.


Tania tiba-tiba saja muncul lagi dari ruangan kerja Hendra dan mengambil sebuah kotak peninggalan Audi yang sudah di persiapkannya dari tadi. Lalu memberikan kotak itu pada Rizal dan Rizal memegang kotak itu, lalu segera membukanya.


"Maksud Rizal...soal ini Tante ..Tante pasti mengenal tulisan ini bukan? catatan harian milik Ibu kandungku..." sahut Rizal terangnya dengan memperlihatkan lembaran terakhir itu pada Mira dan Hendra lalu menaruhnya di atas meja tamu.


Mira tercengang dengan apa yang disampaikan Rizal dia mulai terlihat gelisah.


"Ayah...Ibu...hari ini aku ingin sekali menyampaikan hal penting mengenai ini..jika memang semua tuduhan ku terbukti benar..aku punya satu keinginan pada kalian..." ujarnya lagi seraya menyunggingkan senyuman mendalam menatapi wajah Mira yang duduk di depannya.


"Katakan...Apa yang kau inginkan?" tanya Hendra mengerungkan dahinya menatap putranya itu.


"Aku ingin membatalkan pernikahanku dengan Lia..." ungkapnya.


"Apa?!" teriak Hendra dan Mira bersamaan.


"Tidak bisa begitu..." pekik Mira terperanjat kaget lekas dia berdiri dari duduknya.


"Maaf Tante...tapi semua yang sudah Tante lakukan selama ini adalah sebuah penipuan...dan Rizal tidak setuju dan tidak akan pernah mau memenuhi keinginan kalian untuk menikahi Lia dengan hasil penipuan seperti ini..." sahutnya lagi.


"Jelaskan maksudmu apa Rizal...Ayah masih belum mengerti betul dengan perkataanmu itu...apa maksudmu dengan menipu?" tanya Hendra semakin penasaran.


"Ayah...disini tertulis jelas sekali terakhir ibu mencatat surat wasiat tentang perjodohan untuk anak kalian kelak, pada tanggal, bulan dan tahun keberapa...?" jelas Rizal, lalu dia kembali menoleh ke arah Mira dengan pandangan mencurigai.


"Tapi...Ayah bilang kalau ibuku meninggal setelah satu jam aku dilahirkan Tante..."


Rizal lalu mengambil buku catatan itu dari kotak dan melemparkannya di atas meja tamu.


Braaaak!


"Jelaskan semua ini Tante...jelaskan semua ini pada Ayahku! Apa maksud Tante dengan merekayasa tulisan ibu untuk mengelabuiku dan Ayah? Hah... Aku yang tidak tahu apa-apa pun juga harus menjadi korban penipuan Tante sendiri..dan harus dipaksa menikahi wanita yang tidak pernah aku cintai selama ini!" gerutunya penuh emosi.


Mira sontak terkejut dan matanya mulai membulat besar ke arah Rizal yang terlihat marah sekali kepadanya. Hendra pun sama-sama terkejutnya mendengar pernyataan dari putranya.


"Apakah itu benar? Mira!" geram Hendra masih belum percaya dengan kebenarannya.


Mira terlihat gelisah saat itu juga ketika dia mulai di sudutkan oleh beberapa pertanyaan dari Rizal dan Hendra. Tania tersenyum tipis memandang ke arah Mira yang tengah gelisah menghadapi masalahnya sendirian.


###


Setelah selesai mandi Tasia merapikan kamarnya sebentar sambil menunggu Yogi datang untuk menjemputnya. Lalu setelah selesai dia keluar kamarnya dengan membawa kopernya hendak berpamitan pulang kepada Rizal dan mertuanya.


Tasia menutup perlahan pintu kamarnya lalu menarik kopernya ke arah ruang tamu. Tapi langkahnya terhenti tiba-tiba, karena matanya Tasia sudah melihat keluarga Rizal yang sedang mengobrol serius di sana.


'Ini...sepertinya bukan waktu yang tepat untuk pamitan kepada mereka..' pikirnya.


Saat Tasia ingin berputar kembali ke kamarnya, namun Mira sudah terlanjur melihat ke arahnya yang baru saja muncul di hadapan mereka.


"Tunggu kau..." teriak Mira memanggil Tasia yang bergegas akan pergi ke kamarnya lagi.


Semua menoleh ke arah Tasia.


bersambung....


...***...


Jangan lupa like dan komentarnya yaa...


...🌺🌺🌺...