
...Bab 39...
...Menjaga Cinta...
Selama bekerja di Cafe itu, Tasia memang sudah jadi terbiasa menyiapkan sarapan dan makan siang untuk mereka dan dirinya sendiri. Selain itu juga dia sudah punya ruangan khusus untuk dirinya sendiri sebagai ketua kokinya disana. Rizal yang sudah mengaturnya agar memberikannya kenyamanan selama dia bekerja.
Mereka berempat mulai menikmati sarapan bersama. Namun Tasia terlihat dingin terhadap Rizal, tak ada satu katapun yang terucap darinya. Rizal menatapnya gundah, ingin sekali Rizal memeluk dan membelai dirinya. Mereka makan bersama namun tidak seceria seperti hari-hari kemarin.
Yogi menatap kedua pasangan itu di depannya, keduanya terlihat sangat canggung. Tasia hanya menundukkan pandangannya yang kosong ke piring yang sudah terisi nasi dan lauknya, sambil mengaduk-ngaduknya dengan sendok. Terlihat tidak bersemangat sekali pada pagi itu.
Yogi memahami perasaan Tasia yang sedang bersedih mungkin karena akan ditinggal pergi Rizal besok. Lalu dia tiba-tiba mengajak Revan keluar dan makan di ruang kerjanya.
"Van!" sahutnya.
"Hah apa?" sahut Revan. Setelah Yogi menepukkan tangannya ke pundaknya.
"Ayo bawa piring dan gelasmu, ikut denganku ada yang ingin kutunjukkan!" sahut Yogi.
"Haah kau mengganggu saja..sudah enak-enak makan disini.." kesalnya. Yogi langsung menarik kerah belakang bajunya supaya cepat dia ikut keluar dengannya.
"Ayoo..cepat!" sahut Yogi
"Iya, tu-tunggu dong.. sebentar!" teriak Revan semakin kesal, segera mengambil piringnya yang sudah terisi penuh oleh makanan yang di masak Tasia barusan.
Yogi berjalan keluar dan mengedipkan matanya ke Rizal memberi kode. Rizal melempar senyum padanya, mengerti yang dia maksudkan. Rizal berterimakasih sekali padanya karena telah memberi pengertian.
Setelah Yogi dan Revan keluar dari ruangan Tasia, dan menutup pintunya pelan. Rizal segera menoleh ke arah Tasia di samping kanannya. Tasia yang masih melamun dan memainkan sendok di piringnya sama sekali tidak mau berbicara.
Perlahan Rizal meraih dan menggenggam tangan manisnya Tasia.
"Apa kamu akan terus mendiami ku begitu?" tutur Rizal risau. Tasia terkejut dan terbangun dari lamunannya, lalu dia segera menarik tangannya yang di pegang Rizal.
Dia berdiri dan membelakangi Rizal, lalu perlahan melangkah menjauhinya dan mendekati jendela ruangannya, memandangi pemandangan kota di balik jendelanya.
Rizal gelisah dan tak berdaya melihat Tasia seperti itu, dia tampak murung sekali selama dua hari ini, setelah tahu kalau besok Rizal akan pulang ke tempat kelahirannya lagi.
Rizal melangkah dan mendekatinya perlahan lalu memeluknya dari belakang. Tangan kanan Rizal yang melingkar di leher Tasia, dan tangan kirinya lagi memeluk perut rampingnya Tasia, dengan dagu yang sengaja ditopangkan di bahunya.
"Jangan begini, kumohon.. aku tidak akan bisa tenang kalau meninggalkanmu seperti ini.. kamu harus kuat selama tidak ada aku yaa... Kita masih bisa berhubungan lewat ponsel..." bisiknya pelan dengan suara yang lirih. Tasia terkesiap, dan langsung mengeluarkan air matanya yang dari tadi tak tertahankan itu.
Dia terisak menahan kesedihan, dirinya takut tidak kuat menahan rindu, dirinya takut harus menjalani hari sendirian dan tidak lagi sesemangat yang dia rasakan seperti bersama kekasihnya itu. Tasia hanya bisa menangis, sulit mengeluarkan kata-kata.
Tapi dia mencoba mengatakan isi hatinya pada Rizal.
"A-apa kamu akan kembali lagi kesini?" tanyanya terbata-bata. Rizal berusaha untuk menenangkan hatinya Tasia, walaupun dia sendiri belum yakin apa dirinya bisa kembali ke Yogyakarta lagi atau tidak. Setelah Rizal tahu niat kepulangannya ke Jakarta karena memenuhi perintah Ayahnya sendiri.
"Iya..tentu saja aku akan kesini lagi.. "jawabnya menghibur Tasia, sambil mencium puncak kepalanya dan membelai rambutnya yang lurus dan indah. Tasia lekas berbalik badan dan memeluk pinggangnya Rizal. Rizal pun membalas pelukan hangatnya.
"Kamu berjanji kan tidak akan menduakan aku?" tutur Tasia lagi. "Tidak akan selingkuh dan main-main di belakangku!" tambahnya lagi tiba-tiba kecemasannya semakin menjadi-jadi.
Mendengar perkataan Tasia, dada Rizal seakan sesak terikat kencang oleh rantai. Matanya mulai menggenang berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya. Dirinya begitu sangat takut akan mengecewakan dan menyakiti gadis pujaannya itu. Tapi dia tetap berusaha untuk bisa bertahan demi cintanya, walau nantinya jarak memisahkan mereka dan walau nantinya juga dia harus berseteru melawan keluarganya sendiri.
"Percayalah padaku, jika kamu ingin selalu aku setia cinta kepadamu, jagalah baik-baik kalung hati pemberianku ini..!" ucapnya sambil menyentuh bandul kalung hati yang menggantung di bagian tengah atas dada Tasia.
"Jangan pernah kau melepaskannya...maka aku pun akan menjaga cintamu, sampai nanti kita bertemu lagi di sini...di kota ini..." ucapnya lagi, lekas dia mengangkat dagu Tasia untuk menatap ke arahnya, dan mengelus-ngelus lembut bibir mungil merahnya itu dengan ibu jari kanannya.
Tasia memanggut dan memejamkan matanya sejenak. Rizal menarik dagu gadis itu perlahan ke arahnya lalu didekatkannya bibir cantik itu dan dia mulai menyentuhkannya dengan bibirnya juga. Rizal mencoba mencicipi sentuhan bibirnya yang indah. Hari itu Rizal ingin memberikan moment yang terindah untuk kekasihnya, agar dia selalu teringat dengan ciuman mesra itu, ketika mereka terpisah jauh nantinya.
Rizal semakin melekatkan dan ******* bibir ranum Tasia yang manis, dan memasukkan lidahnya ke dalam mulut kekasihnya itu. Tasia pasrah apa yang pria itu lakukan kepadanya. Diapun menikmatinya dan membalas sama yang dia lakukan. Sesekali Tasia melepas pautannya karena terasa sulit bernafas ketika Rizal terlalu kuat menciuminya. Rizal tersenyum memandanginya lalu di dekapnya kepala belakang Tasia oleh tangannya dan menariknya untuk melanjutkan kembali ciuman itu dengan waktu yang sangat lama.
#
#
#
Malam harinya itu di Cafenya, mereka berempat asyik berpesta barbeque di halaman samping dekat kolam ikan disana. Rizal dan Tasia menyiapkan daging yang sudah di potong dan juga sayuran yang sudah di cucinya, sedangkan Revan menyalakan api unggun dekat mereka untuk dudukkan di kursi halaman. Yogi mengambil gitar di ruang kerjanya.
Malam itu malam terakhir Rizal di kota Yogyakarta, malam terakhir mereka bisa bergurau bersama. Yogi ingin sekali mengajaknya bernyanyi seperti pertama kalinya bertemu. Teman satu jurusan dan satu kost-annya itu. Setiap mereka jenuh dengan rutinitas kuliahnya mereka selalu bernyanyi bersama nongkrong di depan teras kost sambil minum kopi dan makan cemilan barengan.
Setelah mereka makan barbeque bersama. Rizal duduk di tengah Tasia dan Yogi, Revan di samping Yogi sambil memperhatikan api unggun yang ada di depannya.
Yogi memulai memetikkan senar gitarnya dan Rizal yang menyanyikan lagunya. Lagu favorit Rizal sewaktu masih dia SMA. Dia menoleh ke Tasia di sampingnya lalu memulai mengeluarkan suara merdunya itu.
Takkan pernah terhenti cinta ini...
Ku mohon engkau untuk pahami aku...
Di hati ini hanya dirimu yang s'lalu menenangkan diriku...
Ku cinta dirimu setulusnya,
Sungguh cintaku
Takkan pernah terbagi yang lain...
Ku cinta dirimu setulusnya hatiku, u-hu
Sayang, dengarkanlah rintihan hatiku, rintihan jiwaku
Percayalah kasih, hanyalah dirimu cinta sejatiku tersayang...
Ku mohon engkau untuk tetap pahami aku...
Di hati ini hanya namamu yang s'lalu menggetarkan nadiku, uwo...
Ku cinta dirimu setulusnya...
Sungguh cintaku takkan pernah terbagi yang lain...
Ku cinta dirimu setulusnya hatiku...
Hingga saat nanti engkau mengerti...
Sungguh diriku t'lah kau miliki
Sungguh batinku t'lah kau racuni
Dan seluruh jiwa ragaku ini kekasih
Hanyalah untukmu...
Ku cinta dirimu setulusnya...
Sungguh cintaku takkan pernah terbagi yang lain...
Ku cinta dirimu setulusnya hatiku
Hingga saatnya nanti, uwo-ho
Ku cinta dirimu setulusnya...
Sungguh cintaku takkan pernah terbagi yang lain...
Ku cinta dirimu setulusnya hatiku...
Hingga saat nanti engkau mengerti, woo...
Hari Tasia bergetar kencang seketika mendengar suara nyanyian merdunya Rizal sampai dia terhanyut dan terbawa suasana, lalu dia tak sadar hingga meneteskan air matanya sendiri. Rizal bernyanyi sambil memandanginya, dan tiba-tiba saja pria itu duduk berlutut di depan Tasia lalu mengecup punggung tangannya lembut, di depan Yogi dan Revan.
Rizal menarik Tasia dan memutar-mutar tubuh gadis itu di halaman Cafe sambil terus bernyanyi untuknya. Hal yang paling romantis yang pernah dia rasakan untuk pertama kalinya ini. Ciuman sayang dan pelukan hangat dari kekasihnya yang tidak akan pernah Tasia lupakan selamanya dalam hidupnya.
"Aku mencintaimu...Tasia..." ucapnya lagi, di pegangnya kedua pipi gadis manis itu lalu di kecupi lagi keningnya. Tasia tersenyum bahagia dan memenjamkan matanya.
Kedua temannya tersenyum ikut bahagia melihati mereka.
Bersambung...
...***...
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya klik like dan komentarnya...
...🌺🌺🌺...