Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Menolak Perjodohan



Bab 47


Menolak Perjodohan


Malam itu Tasia baru saja pulang dari tempat kerjanya, seperti biasa bang Mail selalu mengantarkannya pulang-pergi. Setelah turun dari mobilnya dia lekas akan membukakan pagar rumahnya itu, tapi tiba-tiba Adrian sudah ada berdiri di samping pagar rumahnya, tengah menunggu kepulangannya.


"Tasia" serunya. Tasia menengok ke samping kirinya, setelah memegang handle pintu pagarnya.


"Mas Adrian?"sahutnya memandang kaget. "Mas Adrian lagi ngapain disitu?" tanyanya seraya mengangkat kedua alisnya heran.


Adrian menghampiri Tasia perlahan dengan memasukkan kedua tangannya ke saku jaket hitamnya.


"Apa kau punya waktu sebentar, aku ingin sekali mengobrol denganmu" pintanya memandang Tasia dengan mata penuh harap. Mengetahui bahwa Adrian sudah menyelamatkannya pada waktu itu, Tasia tentu tidak bisa menolak ajakannya.


"Boleh..tapi jangan lama ya mas.." sahut Tasia.


"Ya.." angguk Adrian berseri-seri. Dia senang sekali pada akhirnya Tasia mau di ajaknya pergi. Selama pendekatan Adrian kepada Tasia dahulu, Tasia selalu saja mencari-cari alasan untuk menolak ajakannya itu. Tapi pada malam hari itu Adrian merasakan sepertinya ada peluang dan harapan untuk bisa menyentuh hatinya Tasia.


'Ternyata ide dan rencana si gadis model itu berhasil juga' gumamnya di hati berseri-seri. Memuji kepintaran Lia karena mungkin rencananya kali ini akan berhasil.


Adrian melirik ke belakangnya tengah seorang pria suruhan Lia sudah bersiap dengan kamera digitalnya. Dia memang sengaja membuntuti mereka demi uang. Pria itu memang sudah dibayar Lia dari dulu untuk mengamati gerak-gerik Tasia kemanapun dia pergi, dan saat ini pun Adrian memang tengah mengikuti saran Lia untuk menemui Tasia dan mengajaknya pergi jalan.


Mereka lalu pergi keluar dan mengobrol di tempat lain sambil berjalan kaki.


"Kakimu sudah sembuh?" tanya Adrian memulai pembicaraan.


"Iya..kakiku sudah sembuh.."jawabnya. "Terimakasih sekali lagi ya Mas...kalau saja dulu tidak ada kamu yang menolongku, aku mungkin sudah mati tenggelam. Adrian memanggut senang. Dia merasa bangga sekali karena sudah menyelamatkan Tasia dulu. Usahanya tidaklah sia-sia.


Setelah lama mereka berjalan sampai taman kota. Terlihat kerlap-kerlip lampu di taman itu, membuat para pasangan muda-mudi disana tengah asyik menikmati keindahannya.


Ah, Tasia jadi lupa diri kalau malam itu adalah malam minggu, yang dimana semua pasangan sedang berkeliaran saling memadu kasih. Di pikirannya sejenak dia jadi teringat akan Rizal dulu yang tak pernah absen selalu mengajaknya keluar di malam minggunya. Tapi sekarang, tidak lagi. Terus terang hatinya Tasia memang tengah kesepian setiap harinya, yang sudah hampir lebih satu bulan itu, mereka berhubungan jarak jauh alias LDR. Semakin membuat Tasia merindukan Rizal di sampingnya.


Lalu mereka berdua dudukkan di kursi taman itu. Mereka cukup terdiam lama.


Adrian melihat seorang anak kecil yang menjual bunga-bunga. Dia lalu beranjak dan menghampirinya. Tasia melihatnya penuh tanda tanya. Lalu Adrian kembali lagi dengan membawa bunga yang dia dapat dari anak kecil tadi.


"Kamu beli bunga dari anak itu" tanya Tasia kagum kepada Adrian yang begitu peduli pada anak kecil.


"Ya..aku tidak tega jika melihat anak yang banting tulang mencari uang, namun entah dimana perasaan orangtuanya itu?" ujar Adrian.


"Ambillah ini buatmu.." Adrian menyodorkan sebuket bunga itu pada Tasia. Tasia tercengang tiba-tiba saja Adrian memberikan bunga itu padanya.


"Tidak usah mas"


Tasia terpojok dengan perkataan Adrian dan mau tidak mau dia harus menerima bunga itu darinya.


"Ya sudah, aku terima... terimakasih ya.." ucap Tasia tersenyum sambil memandang ke bunga itu.


###


Setelah Tasia kehilangan kalungnya itu, Tasia selalu saja banyak alasan untuk menghindari teleponnya Rizal. Karena Tasia sangat takut kalau Rizal akan bertanya dan membencinya karena tidak bisa menjaga benda berharga pemberiannya itu. Tapi lama-kelamaan semakin dia menghindari dari kekasihnya itu, Rizal malah semakin ingin menghubunginya dan bahkan ingin menemuinya. Entah apa yang akan dijelaskan Tasia nantinya. Tetapi waktu pun terus berlalu dengan cepat dan perjanjian perjodohan Rizal dengan calon pilihan Ayahnya pun segera tiba. Rizal pun tak membendungnya, perasaannya diliputi kekalutan kala itu. Namun dia memang tengah berencana akan menolak perjodohan itu. Setelah itu dia akan pamit ke Yogyakarta dan membawa Tasia ikut ke Jakarta bersamanya.


...***...


Di kediaman rumah Hendra, malam itu mereka tengah menunggu kedatangan keluarga calon tunangannya Rizal. Tiba 10 menit kemudian mobil dari keluarga calon tunangannya Rizal datang. Kedatangan mereka pun disambut baik oleh keluarganya Rizal. Rizal yang masih di dalam kamarnya segera di panggil Tania.


"Rizal...mereka sudah menunggumu di ruang tamu" seru Tania, berjalan menaiki tangga menuju kamarnya Rizal.


Di kamarnya Rizal tampak masih memakai pakaian biasa dan sama sekali belum menyiapkan apa-apa, Rizal memang tidak berniat untuk ikuti acara perjodohan itu.


"Apa yang sedang kamu lakukan Rizal? kenapa kau masih memakai pakaian biasa?" ujar Tania mengerutkan dahinya setelah masuk ke kamar Rizal. "Apa kata mereka jika tahu kalau putranya Hendra tidak bisa menghargai acara keluarga ini?" kesalnya.


"Ibu, Rizal sebenarnya sudah bilang pada Ayah. Kalau Rizal tidak mau di jodohkan. Rizal hanya ingin menikah dengan wanita pilihan Rizal sendiri" sahut Rizal cuek sambil mengotak-ngatik ponselnya dan masih berbaringan di kasurnya.


"Rizal jika kamu berniat menolak perjodohan ini, sampaikan saja langsung kepada mereka keluarga calonmu itu. Kau jangan mau di pengaruhi oleh Tantemu itu, ikuti kemauan hatimu yang menurutmu itu baik. Ibu memanggilmu karena ingin mengikuti permintaan Ayahmu saja" sahut Tania. "Putuskan dari sekarang jika memang kamu tidak setuju dengan perjodohan tersebut" tambahnya lagi. Setelah memberi arahan pada Rizal lalu Tania keluar dan kembali turun menemui mereka.


Sebenarnya di dalam hati kecilnya Tania, dia pun tidak setuju dengan acara perjodohan itu. Semakin Rizal cepat menikah semakin cepat aset perusahaan Hendra juga diambil alih oleh Rizal. Sedangkan Raffi bisa-bisa tidak akan mendapatkannya sepersen pun.


Rizal merenungi apa yang dikatakan Tania barusan.


Putuskan dari sekarang jika memang kamu tidak setuju dengan perjodohan tersebut.


Tidak berapa lama Rizal menuruni anak tangga dan menemui mereka dengan pakaian santai yang dia kenakan. Keluarga calon tunangan Rizal menatap ke arahnya bersamaan. Mereka semua mengernyitkan dahinya ketika melihat Rizal menemui mereka dengan pakaian seadanya, mereka berpikir Rizal tidak serius dan tidak menghormati dengan acara perjodohan ini.


Saat memasuki ruang tamu Rizal mendapati seseorang yang dia kenali selama ini. Wanita muda menggunakan gaun malam berwarna merah yang duduk diantara orangtua itu ternyata Lia. Ya itu Lia, Rizal sangat mengenalinya dengan jelas.


"Lia?!" sahutnya tercengang. Semua memandang ke arah Rizal tersenyum, termasuk Tante Mira yang juga ikut andil dalam perjodohan ini.


"Hahhh ke-kenapa kau bisa disini?" seru Rizal.


"Rizal, ya kau sudah mengenali Lia, dan Bapak Gusti ini adalah Ayahnya Lia, beliau dan ayah adalah satu rekan bisnis kerja di industri pertambangan sewaktu kami masih muda dulunya. Jadi putrinya Lia adalah calon tunanganmu sekaligus dia nanti yang akan jadi calon istrimu kelak" papar Ayahnya.


bersambung....