Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Perjanjian Mereka



Bab 55


Perjanjian Mereka


💮💮💮💮💮


FlashBack ~ percakapan antara Rizal dan kedua orangtuanya, sebelum Rizal berangkat ke Yogyakarta. Mereka melakukan perjanjian dahulu.


"Ibu..terimakasih banyak telah memahamiku..." lirihnya menangis terharu.


"Iya...Rizal" Tania berdegup, karena pertama kalinya ini dia dipeluk sayang oleh anak tirinya itu. Sebenarnya Tania tidak pernah menyukai Rizal, mengingat Rizal adalah anaknya Audi. Dia semakin membencinya, Tania membela Rizal kali itu hanyalah semata-mata ingin menyingkirkannya saja dari keluarganya.


Tania mendukung Rizal untuk usahanya di Yogyakarta supaya dia tidak bisa menguasai perusahaan mendiang Ayahnya Hendra, yang sejak dulu turun temurun dari ahli warisnya keluarga Wijaya.


Hendra melihat koper yang sudah disusun rapi di kasurnya Rizal.


"Kau mau pergi kemana?" tanya Hendra menelitik.


"Ayah..aku meminta izin pulang ke Yogyakarta dulu..selain disana sudah seperti tempat tinggalku sendiri. Aku juga tidak bisa meninggalkan lama sahabat-sahabatku yang sudah seperti keluargaku sendiri, terutama melihat mereka yang telah berperan penting dalam memajukan karirku." jelas Rizal.


"Tapi kau juga sangat penting dalam mengurus perusahaan Ayah!" tegas Hendra sedikit naik darah.


"Ayah...aku hanya ingin membicarakan usahaku dengan sahabatku saja. Nanti aku juga akan kembali kesini lagi...dan sekalian aku... juga ingin membawa Tasia kesini lalu memperkenalkannya pada kalian.." sahutnya tiba-tiba dengan menundukkan pandangan dari ke dua mata Ayahnya.


Hendra menghembus kencang nafasnya lalu bersender punggungnya ke kursi rodanya.


"Baiklah..Ayah beri kamu kesempatan besok, kau membawanya kesini. Tapi berjanjilah pada Ayah.." tiba-tiba Ayahnya juga meminta sesuatu.


"Berjanji apa Ayah?" tanya Rizal penasaran.


"Kalau Ayah dan Ibumu nanti tidak ada rasa kecocokkan dengan wanita pilihanmu itu, kau harus berjanji tetap melanjutkan pertunanganmu dengan Lia" tegasnya. Rizal lagi-lagi terbelalak kaget.


"Karena nanti Ayahnya Lia yang akan membantumu melancarkan perusahaan kita, jadi mau tidak mau kamu harus segera pikirkan itu dulu, sebelum kamu berniat menikahi wanita itu" lanjut Ayahnya. Rizal lama terdiam dan berpikir.


Tania menatap Rizal ikut khawatir lalu dia segera angkat bicara.


"Apa maksudmu, suamiku? aku yakin wanita yang di cintai Rizal itu pasti wanita baik-baik" sela Tania sambil tersenyum memandang Rizal, membangkitkan semangat Rizal "Ibu pasti akan menyukainya, Rizal.." hiburnya.


Melihat Tania selalu mendukungnya, Rizal semakin bersemangat mengajak Tasia ke Jakarta.


"Baiklah.. Rizal berjanji pada Ayah dan Ibu..kalian berdua pasti akan menyukainya.." serunya girang.


Dan malamnya Rizal dan Raffi pun berangkat ke Yogyakarta.


#############


...***...


(Kembali melanjutkan episode kemarin)


"Ta-Tasia...ma-maafkan aku" sesalnya gemetar, Adrian menjatuhkan kakinya lemas ke tanah kali itu dia memang telah terbakar emosi tadi, akalnya jadi tidak terkendali ingin rasanya terus-menerus menghajar Rizal, namun kenapa malah Tasia yang kena hantaman dahsyatnya.


Dia merangkak pelan maju mendekati Tasia yang tergeletak pingsan di tanah.


Rizal dari jauh pun berusaha bangkit menahan perutnya yang sakit akibat pukulan keras dari Adrian, dan dia berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Tasia yang masih belum tersadar.


"Tasia..sayang, ayo bangun...bangunlah" gumam Rizal panik, mencoba membangunkannya lalu dipeluknya kepalanya dan di goyang-goyangkan bahunya.


Adrian juga berusaha membangunkannya dan ingin menyentuh pipi gadis itu yang sudah dia lukainya sendiri.


Tapi Rizal langsung menghempas tangannya Adrian supaya tidak menyentuhnya.


"Pergi kau brengsek! kau sudah puas telah melukainya?" bentak Rizal menatap tajam Adrian.


"Ini juga salahmu sendiri..coba saja kalau kau tidak memaksanya terus. Dia sudah katakan dari tadi padamu bukan, kalau kami sudah menjalin hubungan!" sahut Adrian dengan bibir yang masih gemetar, mencoba membela diri.


Kreeeeeeetttt


Suara pagar rumah Tasia terbuka, dan Irna keluar dari sana, setelah mendengar ada suara teriakan. Dia terkejut menutup mulutnya yang menganga melihat Tasia yang sudah tergeletak pingsan di tanah.


"Mbak Tasia, kamu kenapa mbak" teriaknya panik.


"Irna..tolong bantu aku bawa masuk Tasia" pinta Rizal.


"Iya..iya mas.." sergap Irna membantu Rizal mengangkat Tasia.


Lalu dengan cepat Rizal menggendong Tasia dengan sekuat tenaganya di bantu Irna karena perut Rizal masih terasa sakit.


Mereka masuk ke dalam rumahnya. Namun Adrian tidak berani masuk, karena dirinya merasa bersalah. Dia menyenderkan punggungnya ke pagar lalu mengusap-ngusap seluruh kepalanya kasar karena kesal pada dirinya sendiri.


Irna merapikan tempat tidur Tasia dan perlahan Rizal membaringkan Tasia di kasurnya. Lalu dia dudukkan di sampingnya Tasia.


"Aku kebelakang dulu, ambilkan air dingin untuk kompres ya!" sahut Irna. Rizal memanggut setuju.


Sulastri yang baru saja selesai sholat maghrib, dan bertanya-tanya ada apa, kenapa Irna tiba-tiba panik. Lalu dia pergi ke kamar Tasia untuk melihatnya.


"Ada apa dengan Tasia, nak Rizal?" tanyanya khawatir langsung menghampiri putrinya yang terbaring di kasurnya.


"Hmm tidak ada tante dia..dia..."Rizal kebingungan menjawab pertanyaan Sulastri di mulai dari mana.


Namun tak lama Tasia pun akhirnya terbangun. Dia mulai tersadar dan merintih kesakitan di bagian rahang pipinya, dan sudut bibirnya pun berdarah.


"Aaahhhh...sssshh" rintihnya.


"Hati-hati jangan bangun dulu" cegah Rizal.


"Ooh Tasia..anakku, kamu kenapa nak bisa begini?" tanya ibunya cemas.


"Ibu bingung sama kamu nak, kamu selalu saja kena pukulan orang.." sedih ibunya terus meratapi wajah putrinya itu.


"Ini mas, air dan handuk buat kompresannya" teriak Irna setelah muncul dari belakang masuk kamarnya Tasia. Rizal langsung cepat mengambil baskom di tangan Irna, lalu di perasnya handuk kecil dan perlahan hendak mengompres sudut bibirnya Tasia. Tapi Tasia lekas memalingkan wajahnya ke samping kirinya.


"Biar ibuku saja yang lakukan itu.." pintanya ketus.


Rizal ngebathin, dan sudah merasakan kalau Tasia memang masih marah kepadanya. Dia lalu memberikan handuknya pada Sulastri.


"Aku..tunggu di luar dulu.." ujarnya. Rizal lalu banhkit berdiri dan keluar dari kamarnya Tasia, sambil memegang perutnya yang sakit. Tasia menatap punggungnya Rizal sedih dan tak tega.


Setelah Rizal keluar melewati pintunya. Sulastri bertanya pada putrinya itu.


"Ada apa ini? apa kalian habis bertengkar?" tanyanya, penasaran. Tasia menunduk murung. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak ingin menceritakan pada ibunya. Lalu Tasia meminta Irna memanggil Adrian.


"Irna, apakah mas Adrian masih ada di luar" tanyanya.


"Sepertinya sih masih ada mbak!" jawab Irna.


"Tolong suruh dia masuk, aku ingin bicara dengannya penting" titahnya Tasia.


"Iya mbak biar aku panggilkan.." sahut Irna, lalu Irna bergegas keluar rumah, melewati Rizal yang sedang duduk di kursi tamu.


Dan dua menit kemudian, Adrian masuk ke dalam rumah Tasia. Memandang tajam ke arah Rizal di ruang tamu, begitupun Rizal membalas tatapannya itu.


Setelah Tasia di obati ibunya, dia meminta Ibunya keluar dulu karena Tasia ingin bicara sebentar dengan Adrian berdua.


bersambung...


...***...