
Bab 65
Honey Moon (20th++)
Malam hari itu, Tania memandang masam wajah Hendra di tempat tidurnya, setelah Hendra memasuki kamar mereka dan duduk di samping kasurnya.
Matanya Hendra pun mengarah pada Tania yang terus memandangi dirinya kesal dengan wajah muram.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" pekik Hendra yang tidak suka dilihati istrinya dengan wajah masam.
"Aku cuma heran saja kepadamu.. kau memang gila, sama sekali tidak pernah berpikir panjang, kenapa kau membiarkan anakmu menikahi dua wanita sekaligus. Apa kau memang sengaja membiarkan anakmu itu mewarisi sikapmu?" geram Tania mengolok-olok Hendra.
"Itu sudah menjadi keputusan dia sendiri. Aku tidak bisa memaksanya lagi untuk meninggalkan gadis itu, aku khawatir dia akan gila seperti anakmu Raffi yang patah hati karena cinta. Dan yang terpenting Rizal setuju dengan pertunangannya dengan Lia, yang pasti Rizal pun harus pintar merahasiakan hubungan dari keduanya" jelasnya panjang lebar.
"Aku hanya ingin perusahaanku kembali stabil, jika hubungan kerjasamaku dengan Gusti baik, maka dia akan dengan sukarela menyumbangkan sebagian persen sahamnya itu padaku" lanjutnya lagi, menoleh ke arah Tania dengan menyipitkan matanya.
"Dan dijamin hidupmu juga tidak akan pernah terlantar lagi" ketusnya, menyindir sebal pada Tania. Lalu Hendra segera membaringkan tubuhnya menyamping di kasur membelakangi Tania, tanpa basa basi lagi dia tertidur mendahuluinya.
Tersentak hati Tania berdecak dengan kalimat sindiran akhir dari Hendra. Dia jadi teringat, kalau dirinya dulu hanyalah seorang anak yatim piatu yang terlantar, kedua orangtuanya kecelakaan di pesawat saat mereka perjalanan pulang dari luar negeri. Tania menikahi Hendra atas dasar keinginan ibunya Hendra dahulu, karena pesan dari orangtuanya dulu untuk menitipkannya di keluarga Wijaya. Karena pada waktu itu Tania sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain keluarga Hendra.
Tania membaringkan tubuhnya di kasur dengan menyampingkan badannya membelakangi Hendra juga. Lalu perlahan Tania bergumam sendiri.
"Aku hanya khawatir, nanti gadis itu bisa kecewa pada Rizal..." gumamnya sendiri pelan.
Hendra mendengar ucapan Tania. Lalu dia mendengus perlahan dan berucap.
"Rasa cinta dan sayang terlihat sama tapi berbeda...aku memang mencintai Audi, tapi rasa sayangku juga besar terhadapmu.. Aku yakin suatu hari nanti Rizal pun bisa menerima Lia dan Tasia bersamaan.." membalas gumaman Tania.
Seketika mata Tania pun membulat mendengar ucapan Hendra, dan tak terasa air matanya pun jatuh menetes ke pipinya.
'Bodoh..kau sama sekali tidak tahu bagaimana rasa sakit hatinya seorang wanita jika dia di duakan' bathinnya sendiri.
#####
Keesokan harinya. Tasia mulai terbangun dari tidurnya, namun saat ingin bangun badannya sulit untuk digerakkan. Tangannya Rizal sudah memeluk erat dirinya yang melingkar ke perutnya itu. Tasia melihat Rizal di belakangnya yang masih tertidur pulas.
"Rizal...Rizall ayo bangun ini sudah pagi?" sahutnya pelan membangunkan suaminya itu.
"Em..sebentar lagi...hari ini...aku masih ingin tidur bersamamu" gumamnya memelas.
"Eh, tapi ini kan sudah pagi, ayo cepat kita siap-siap mandi lalu sarapan.." ajak Tasia, sambil berusaha melepaskan tangan Rizal yang memeluknya kencang. "Gak enak sama ibu disini kalau kelamaan tertidur, lagipula disini masih ada kak Maya sama kak Supri" jelasnya.
Rizal lalu memaksakan dirinya untuk bangun, lalu membalikkan tubuh Tasia ke hadapannya dan di peluknya lagi erat istrinya itu.
"Sekali lagi ya.." katanya belum puas memeluk Tasia lagi.
"Eh...sudah dulu.." tolak Tasia melepaskan tangan Rizal lagi yang memeluk pinggangnya terus.
Rizal cemberut karena kemauannya tidak dituruti.
Tasia tersenyum melihatnya ngambek. "Kan masih ada hari lagi..." rayunya menggoda.
Lalu keduanya saling beradu pandang, karena tak tahan dengan rayuan Tasia, tanpa pikir panjang Rizal segera menarik tubuh Tasia ke dalam dekapannya lagi, lalu mengecup pipi Tasia.
"Ayo kita pergi berbulan madu.." ajaknya tiba-tiba.
"Emm kemana?"tanya Tasia berbinar.
"Ke Pantai Parangtritis tempat kita dulu sering pacaran..kita akan menginap untuk tiga malam di hotel Queen of The South Resort" sahutnya.
Tasia memanggut senang lalu dibalasnya lagi dengan menciumi pipi Rizal, dan di peluknya suaminya itu.
"Baiklah...dari dulu aku sudah memimpikan untuk bisa tidur di hotel itu bersamamu.." sahutnya sumringah dan sekarang keinginan Tasia tercapai.
Setelah selesai sarapan bersama di meja makan, mereka semua kini telah berkumpul bersama.
Sulastri tampak bahagia sekali hari itu, bukan hanya bahagia karena Tasia sudah menikah, tetapi dia juga bahagia dengan hadirnya si kecil putra Maya dan Supri, dia tidak bosan-bosannya menggendong cucunya itu yang baru saja berusia 5 bulan.
Rizal dan Supri saling meluapkan kerinduan antara persahabatan mereka. Mereka tertawa berbarengan dan tidak pernah menyangka sama sekali kalau mereka akan menjadi saudara ipar.
Maya memandang ke arah mereka para suami yang sedang mengobrol di ruang tamu.
"Heh..kakak tidak menyangka sama kamu, secepat ini kalian bisa menikah...wah jangan-jangan kalian sudah pada kebelet ya..." ledeknya ke Tasia.
"Apa sih kak, suudzon" balas Tasia memanyunkan bibirnya.
"Nah sekarang tunggu apa lagi, cepetan kamu bikin momongan biar ibu ada yang nemenin tuh, soalnya kan aku mau pulang ke Bogor lagi" celetuknya sambil melihat Sulastri dan Irna bergantian menggendong bayinya.
Sontak wajah Tasia jadi merah. "Kak Maya apaan sih, itu kan masih lama..."
"Kak Maya, Hani sudah di kasih makan belum?" tanya Tasia.
"Belum lah..kan masih 5 bulan" sahut Maya sambil memakan cemilan ringan di toples.
"Oh..emang biasanya umur berapa sudah di kasih makan?"
"Enam bulan baru boleh.."jawab Maya singkat. Lalu Tasia menghampiri ibunya dan mencoba menggendong Hani putra Maya.
"Hani...sini tante gendong ya..." seru Tasia sambil menggendongnya ke atas. "Uuuh gantengnya sih kamuu.. gemess gemess.." di kecup-kecupinya pipi Hani.
###
Sore harinya Tasia dan Rizal berpamitan pada mereka akan menginap tiga hari di hotel. Lalu mereka bergegas berangkat dengan mobilnya Rizal.
Setelah sampai hotel dan memesan kamarnya lalu Rizal segera mengambil kuncinya, terus mereka berdua berjalan masuk menuju kamarnya yang berada di lantai atas.
Mereka menyimpan barang bawaannya di kursi kamar. Lalu Tasia membuka horden jendela perlahan dan melihati pemandangan pantai lewat jendela kamarnya.
"Waah..sebentar lagi muncul sunset...Rizal ayo kita keluar dan lihat sunset." teriak Tasia kagum melihat panorama alam sore hari itu.
"Kita makan malam dulu saja yuk.." ajak Rizal yang sudah kelaparan dari tadi.
"Ya sudah...ayo kita makan dulu" seru Tasia, berlari dan merangkul lengan Rizal.
Lalu mereka berdua makan di Restorant hotel Quen yang tampak romantis itu. Pas sekali untuk pasangan yang sedang menikmati honeymoon-nya.
Setelah makan mereka berdua berjalan-jalan di pantai.
Seharian itu mereka puas sekali bermain berduaan hingga lupa waktu, tak terasa hari sudah malam. Mereka pun pulang kembali ke hotel, dan pergi mandi secara bergantian.
Setelah Rizal selesai mandi. Dilanjuti Tasia yang ke kamar mandi, setelah dia mandi, dia mencoba memakai gaun lingerie berwarna ungu muda pemberian Maya, hadiah di hari pernikahannya kemarin.
"Masa aku harus pakai pakaian ini sih kakak, aneh sekali rasanya" gumamnya tersipu malu, karena bahannya yang tipis dan modelnya terlalu terbuka. "Wah ini sih kakak lagi candain aku.." gerutunya, sontak wajah Tasia jadi memerah setelah memperhatikan gaun seksi itu karena dirinya belum pernah memakainya sama sekali.
Rizal yang sudah menunggu di ranjang, tampak bosan menunggu Tasia yang belum juga keluar-keluar dari kamar mandinya.
"Tasia..?" panggilnya tidak sabaran.
"Iya..tu-tunggu sebentar lagi..." teriaknya gugup.
"Aduuh..bagaimana ini? pakai tidak ya...aduh aku gak pede.." sontaknya. Tapi pada akhirnya mau tidak mau, dia memberanikan diri memakai lingerie itu.
Tasia keluar perlahan membuka pintu kamar mandi. Rizal langsung mengarah padanya yang baru saja keluar.
"Kenapa la-ma..se.." sahutnya terpotong, sesaat mata Rizal mengarah pada penampilan Tasia pada malam hari itu. Bola matanya Rizal langsung terpana dibuatnya dan dia menelan ludahnya berapa kali.
Malam hari itu adalah malam pertama bagi mereka untuk melepaskan kelajangannya. Pandangan Tasia mengarah ke ranjang matanya tidak berani menatapi Rizal yang tengah memandanginya terus tanpa berkedip.
Jantung Tasia jadi berdebar-debar sangat kencang di depan Rizal dengan pakaian minimnya yang dia pakai, karena selama ini dia belum terbiasa memakainya.
Rizal pun tergugup dan cepat-cepat bangkit dari duduknya. Lalu perlahan mendekati Tasia dengan mulut yang sedikit terbuka. Tasia terus memalingkan wajahnya dari dia, sambil menggigit kecil bibir bawahnya karena tegang.
"Kau...cantik sekali Tasia.." ucapnya pelan, seraya menghembuskan nafasnya pelan. Ucapan Rizal begitu pelan namun jelas terdengar di keheningan malam yang sunyi itu.
Tubuh Tasia mulai bergetar hanya dengan sederet ucapan manisnya Rizal.
Rambut Tasia mulai dibelai Rizal perlahan dan disibakannya kebelakang.
Rizal memandangi seluruh wajah Tasia lalu mulai mengecup kening dan perlahan ke pipinya hingga berakhir di bibirnya yang ranum.
Tangan Rizal mulai meregang dan menggenggam tangan Tasia erat namun lembut. Sebelum melanjutkannya ke lebih intim, Tasia cepat menelunjuk bibirnya Rizal.
"Tunggu dulu" sahutnya tiba-tiba.
Rizal terkejut dan menghentikan ciumannya sejenak.
"Berjanjilah padaku...setelah kau lakukan itu padaku, dan mengambil keperawananku...jangan pernah kau menghianati cintaku..." ujarnya penuh makna yang tersirat di matanya.
Rizal tertegun dengan ucapan Tasia padanya. Di dalam hatinya yang paling dalam tentu dia akan tetap setia pada Tasia. Namun bagaimana jikalau Tasia tahu bahwa dirinya akan bertunangan dengan Lia.
Rizal memanggutkan kepalanya. Bahwa dia berjanji tak akan menghianati cinta mereka. Meskipun dia harus berkorban dahulu demi memenuhi kemauan orangtuanya itu.
Tasia tersenyum lalu perlahan tangannya merangkul ke lehernya Rizal. Dan mereka kembali melanjutkan cumbuan mesra itu. Hingga akhirnya mereka bertumpuan di atas ranjang.
Setelahnya mereka dilanjut dengan aktivitas di atas ranjangnya. Perlahan piyama Rizal dibukanya pelan-pelan lalu sengaja dijatuhkannya ke lantai, dan mulai membantu Tasia membuka lingerienya.
Rizal terpesona memandang tubuh polos Tasia tanpa busana itu. Jantungnya terus berdebar tiada henti. Dicumbuinya Tasia dari bibir hingga leher dan menuju yang terindah itu.
Sesekali Tasia mendesah pelan karena rasa nikmat dan geli saling beradu di sekujur tubuhnya.
Setelah sampai mereka menyatukan itu, Rizal berhasil memecahkannya. Mereka saling merasakan dan menikmati tubuh dari pasangannya sendiri.
Keringat di dahi Rizal mulai menetes jatuh hingga dagunya. Akhirnya Rizal berhasil menuju klimaks dan mengeluarkan apa yang harus dikeluarkan darinya.
Tasia mengerang lemas dan mulai bernafas lega. Mereka berdua akhirnya tersenyum puas dan saling memandang penuh dengan kebahagiaan, di cengkeramnya perlahan kepala belakang Rizal oleh Tasia lalu di tariknya ke arah bahunya, membiarkan suaminya tertidur di atas pelukannya. Rizal menuruti Tasia...dan dia berbisik pelan padanya.
"Selamanya aku hanya tetap mencintai dirimu..." ucapnya.
bersambung...
...***...