Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Dibalik Perceraian



...Bab 14...


...Dibalik Perceraian...


Setelah mendengar pertanyaan Tasia, ibunya tertegun cukup lama. Sambil berjalan dan melangkahkan kakinya menghadap jendela dapur, pandangan matanya yang menengadahkan ke atas pohon, dengan raut wajah yang tampak keriput merautkan kesedihannya. Beliau menghelakan nafas panjangnya, mungkin sudah waktunya Tasia putrinya itu mengetahui kebenarannya. Beliau sedikit ragu untuk menceritakan itu tapi mau tidak mau Tasia harus mengetahui hal sebenarnya di balik perceraian orangtuanya itu.


"Kamu ingin tahu Tasia?" lanjut ibunya lagi. Tasia mengangguk yakin dengan pertanyaan kepada ibunya lalu berjalan mendekat ke arah ibunya. Mereka pun berdudukan di samping jendela dapur. Tak lama kemudian ibunya pun memulai menceritakan perihal perceraiannya tersebut.


"Ayah dan ibumu dulu menikah tidak pernah direstui nenek kakekmu" sahut Ibunya, Tasia terbelalak kaget dengar pernyataan Ibu. Nenek-kakek yang dimaksud Ibunya adalah orangtua dari Ayahnya.


"Jadi itu artinya dulu Ayah dan Ibu nikah lari?" tanya Tasia belum yakin. Beliau menggelengkan kepalanya,


"Maksud ibu, dulu ayahmu menikahi ibu tanpa Kakek dan Nenekmu, walaupun kami menikah tanpa restu dari keluarga dari ayahmu, tapi ayahmu nekad menikahi ibu, dan orangtua ibu yang waktu itu sudah terlalu tua juga, terpaksa merestui pernikahan kami.


Mereka tidak bisa menjamin akan kehidupan ibu sendiri di masa depan. Orangtua ibu mempercayakan Ayahmu menanggung semuanya. Setelah menikah kami hidup disini. Ini adalah rumah orangtuanya ibu.." papar ibunya menjelaskan sebagian cerita itu, Hati Tasia terenyuh, dan merasa iba mendengarkan masalalu ibunya yang begitu memprihatinkan.


"Ibu adalah anak seorang petani yang miskin, keadaan orangtua ibu dulu sangatlah susah, ditambah lagi dengan jumlah anak yang tidak sedikit, ibu adalah anak paling kecil dari 8 saudara.


Itulah sebabnya kenapa orangtua dari Ayahmu tidak pernah menyukai Ibu!" lanjutnya lagi.


Tasia hanya tertegun mendengarkan cerita Ibunya seraya memiringkan kepala dan menyandarkan dagunya ke kedua tangannya itu.


"Setelah satu bulan pernikahan ibu dan ayahmu, Kakekmu atau ayahnya ibu meninggal dunia, lalu setelah punya Maya, ibunya ibu pun meninggal menyusul kepergian ayahnya ibu. Satu persatu keluarga ibu tidak ada." cerita ibunya seraya mengerutkan alisnya lalu mata yang sedikit berair.


"Sejak saat kau bayi, Ayah dan Ibu berencana menemui Kakek dan Nenekmu di kota. Tapi sikap mereka selalu acuh pada ibu, setelah punya kalian pun mereka tidak pernah menganggap ibu menantunya." sedihnya, air mata yang tertahan pun akhirnya tumpah keluar.


"Pekerjaan di kantor ayahmu 5 tahun yang lalu sedang mengalami kebangkrutan, ayahmu tidak bisa mempertahankan pekerjaan itu lagi. Saat itu kakekmu datang menolong Ayahmu, tapi dengan minta bantuan dari teman kakekmu. Mereka bekerja sama dengan perusahaan tersebut, dan menjodohkan ayahmu dengan Putri dari teman kakekmu itu. Sehingga kini pekerjaan di kantor ayahmu kembali pulih."


"Jadi begitu? berarti wanita yang jadi istrinya sekarang adalah wanita yang dijodohkan Kakek dan temannya Kakek sendiri?!"


"Sekarang aku mengerti, kenapa ayah tidak bisa menolak perintah Kakek karena dia adalah orangtuanya! jadi posisi ibu disini dia hanya bisa menerima keputusan ayah, demi hubungan baik antara ayah dan orangtuanya ibu rela berkorban dan ditinggalkan ayah" pikir Tasia di dalam hatinya, sambil menatap wajah ibunya yang sedih karena terluka. Dia langsung memeluk dan mencium pipi ibunya. Tasia berusaha menenangkan dan menyembuhkan hati ibunya.


"Ibu..Dengan mendengar cerita ibu, Tasia berjanji pada diri sendiri, Tasia tidak akan jatuh cinta dengan anak orang kaya." sahut Tasia tiba-tiba. "Tasia takut nanti orangtuanya juga tidak akan menerima Tasia juga, seperti nasib ibu dulu. Tasia gak mau ibu di hina lagi. Tasia berjanji suatu saat nanti Tasia akan bahagiakan ibu, seperti kak Maya.


"Anakku Tasia, carilah pria seperti Supri, dia adalah anak dari keluarga biasa, orangtuanya Supri hanyalah seorang tukang bubur. Namun hati mereka begitu baik luar biasa, mereka sangat menyayangi Maya seperti layaknya anak sendiri." ujar Ibunya terharu bahagia, yang melihat putri sulungnya sudah menemukan kebahagiaannya sendiri.


...***...