Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Terpaksa Memilih



Bab 54


Terpaksa Memilih


Sudah berapa jam lamanya Rizal belum juga menemukan Tasia dan Adrian kemanapun.


"Ah kepalaku sampai pusing sekali" menekan- nekan pelipis keningnya di dalam mobil.


"Kemana sebenarnya mereka..?" Setelah tadi siang dia bertanya-tanya kepada anak buahnya Adrian di toko nya. Namun mereka juga tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Rizal memarkirkan mobilnya di depan rumah Tasia sampai menjelang sore hari.


Dia mencoba menunggu Tasia pulang, sampai dia tertidur di dalam mobilnya.


###


Adrian melepaskan ciumannya itu setelah dia rasa puas menikmati bibir manisnya Tasia. Teriakan dan tangisan Tasia yang ketakutan membuatnya jadi tidak tega untuk melanjutkan kembali aksinya.


"Sekarang katakan padaku pilihlah salah satu...kau mau menikah denganku atau aku akan menyiksa dan mengurungmu terus di rumah ini berhari-hari?" ancamnya.


"Pilihan apa itu? aku tidak mau kedua-duanya." teriak Tasia, menatap Adrian penuh dengan kebencian. Dia tidak menyangka sama sekali kalau Adrian yang dia kenal baik selama ini, akan melakukan perbuatan senonoh itu padanya.


"Ya sudah berarti kau ingin aku terus mengurungmu di tempat ini..dan ibumu pasti akan khawatir..aku beri kesempatan lagi dan menunggu sampai 10 menit. Kamu putuskan dari sekarang juga!" tegasnya lalu Adrian berdiri dan pergi keluar sebentar meninggalkan Tasia untuk berpikir.


Tasia bangun dari baringannya segera, sambil mengelus kedua pergelangan tangannya yang sakit akibat cengkraman kuat tangannya Adrian tadi.


"Pilihan apa yang kuberi...dua-duanya sangat menyiksaku.." gumam Tasia bingung.


###


Telepon Rizal berdering nyaring, Rizal pun terbangun dari tidurnya di dalam mobil.


Dia segera mengambil ponselnya di jaketnya.


"Kak Raffi?" serunya terkejut.


"Hallo ada apa kak?"


"Kamu dimana? waktumu di Yogyakarta cuma sebentar saja besok pagi kau harus kembali lagi ke Jakarta. Perusahaan masih membutuhkanmu.." ujar Raffi setelah selesai makan malam di restorant, dia langsung menelepon Rizal.


"Iya kak aku tahu, tapi aku belum sempat bilang dia..aku sudah berjanji pada Ayah dan Ibu akan membawanya pulang bersamaku. Tapi sekarang masalahnya kami sedang bertengkar hebat. Dia juga belum pulang dari tadi. Kak kumohon beri waktu sebentar lagi..aku ingin menunggunya pulang"


"Hmm.. ya sudah terserah kau saja, aku tunggu lima jam lagi. Setelah itu kau harus cepat-cepat ke bandara..pengawalku nanti yang akan mengantarmu pulang lagi"


"Baiklah kak...terimakasih" lalu Rizal menutup kembali teleponnya.


###


Setelah 10 menit berpikir sambil mondar-mandir di ruangan menunggu Adrian kembali masuk.


Lalu pintu terbuka dan Adrian juga sudah siap mendengar jawaban Tasia padanya.


"Bagaimana? sekarang kamu sudah mendapat jawabanmu?" tanyanya.


"Aku..setuju menikah denganmu, tapi beri aku waktu dulu untuk bisa mencintaimu.." ucap Tasia. "Kita bisa pacaran dulu selama 1bulan, jika kau bisa buat aku jatuh hati padamu...aku mau menikah denganmu. Tapi jika kau tidak bisa membuat aku jatuh hati aku menolak menikah denganmu." ucapnya lagi memberi keputusan terakhirnya.


Tasia terpaksa melakukan itu, agar tidak terkurung lagi di rumah ini. Setelahnya dia akan pikirkan lagi jalan lain supaya terlepas dari ikatan Adrian padanya.


"Baiklah..kalau begitu aku setuju kita menjalin hubungan dulu.." Ada sedikit harapan bagi Adrian, walaupun Tasia belum mau menikah dengannya tapi Adrian merasa sudah sangat senang, bisa berpacaran dengan gadis yang disukainya dari dulu.


"Oh ya ada satu hal lagi..ini" tiba-tiba saja Adrian mengembalikan kalung hati milik Tasia. Mata Tasia berbinar terang.


"Kalungku" senangnya, saat ingin mengambilnya dari tangan Adrian.


"Hep" Adrian langsung menjauhkan kalung itu di atas tangannya hingga Tasia sulit menggapainya. Tasia mengerutkan keningnya jengkel.


"Tunggu dulu.. tapi berjanjilah padaku.."


"Apalagi?" kesal Tasia.


"Nanti selain kita berpacaran, kamu juga tidak boleh menyimpan barang-barang pemberian mantanmu lagi. Supaya aku lebih percaya dengan janjimu itu..kembalikan kalung ini kepada mantan pacarmu lagi. Kau setuju!" pintanya.


"Apa..?" Mata Tasia membulat terkejut dengan permintaanya Adrian yang satu ini. Dia sebenarnya tidak mau melakukan itu. Tapi untuk meyakinkannya agar dia mau melepaskannya dia harus bersabar menuruti segala kemauannya.


###


Setelah lama beberapa menit, Tasia pulang dan diantar Adrian malam hari itu.


Sesampainya di depan rumahnya, dia terkejut Rizal sudah berada disana tengah menunggunya di dalam mobil yang biasa Tasia sering diantar jemput oleh bang Mail.


'Rizal sedang apa dia disini?' bathinnya. Tasia segera turun dari motornya Adrian.


Rizal segera keluar dari dalam mobilnya setelah tahu melihat Tasia pulang dan diantar oleh Adrian di depan matanya.


"Kemana saja kamu? aku mengkhawatirkanmu.." teriak Rizal. Lalu Rizal berlari menghampiri Tasia dan memeluknya erat.


"Aku mencari dan menunggumu dari tadi.." ujarnya dibelai-belainya rambut Tasia yang sedikit kusut itu.


"Ehem" Adrian berdehem kencang di samping mereka. Tasia jadi teringat dengan janjinya dengan Adrian, dia langsung mendorong badan Rizal yang memeluknya itu.


"Maaf...Rizal.., sekarang...aku adalah kekasihnya Adrian..." sahutnya tiba-tiba menjauh darinya dan memalingkan wajahnya dari Rizal. Rizal tersentak kaget mendengar ucapannya Tasia, seakan dia di sambar petir.


"A-apa? kita belum putus tapi kau sudah berpacaran dengannya?" sela Rizal tidak percaya.


"Apa kau tidak dengar tadi dia bicara apa? kurang jelaskah yang Tasia bilang padamu?" Adrian menghampiri Tasia dan memeluknya menyamping.


Tasia menundukkan kepalanya sedih dan tidak berani menatapi Rizal.


Rizal menggeleng-gelengkan kepalanya belum percaya.


"Tasia jelaskan maksudnya apa? Apa kamu masih marah padaku karena kejadian tadi pagi? aku benar-benar minta maaf padamu.." ujar Rizal menyesal dengan yang dia ucapkan pada Tasia. Matanya mulai berair.


Tasia bingung yang ingin dia ucapkan sendiri. Tapi dia harus bicara tegas supaya Adrian semakin percaya dengan ucapannya.


"Sekarang kita sudah putus Rizal, ini.. aku kembalikan kalung ini lagi padamu.." sahut Tasia dengan segera memberikan kalungnya lagi pada Rizal.


"Aku tahu dimatamu aku adalah wanita tidak baik, itu artinya aku tidak cocok untukmu.. aku sudah menghianatimu dan menyakitimu..sekarang kamu bebas membenciku." serak Tasia yang hampir saja suaranya habis karena menahan sedih di hatinya.


Rizal menggeleng-gelengkan kepalanya tidak setuju dengan keputusannya Tasia.


"Tidak, aku tidak mau putus denganmu..aku masih mencintaimu!" teriak Rizal, dan ingin meraih tangan Tasia. Tapi Adrian langsung mendorongnya menjauhi Tasia.


"Hei kau jangan memaksanya lagi dia sudah tidak mau denganmu" ujarnya.


"Dengar Adrian, aku tahu kau yang sudah menyelamatkan nyawa Tasia dulu waktu dia tenggelam..aku berterimakasih banyak padamu karena telah menolongnya.. tapi aku tahu Tasia masih mencintaiku, dia hanya ingin membalas budi saja padamu!" mencengkeram kerah baju Adrian. "Tolong kau jangan merusak hubungan kami!"


"Siapa yang merusak katamu!" jengkelnya


Buuughh


Tiba-tiba saja Adrian emosi dan memukul perutnya Rizal, lalu di teruskan dengan menghentakkan lututnya ke muka Rizal. Rizal terjatuh menggaduh kesakitan.


Tentu saja Adrian lebih kuat dari Rizal karena dia dulunya seorang ahli beladiri. Tasia tahu itu makanya dia takut kalau sampai Rizal mati di pukulinya terus.


"Hentikan! Mas Adrian..apa yang kau lakukan, jangan kau teruskan itu.."


Tapi Adrian tidak menghiraukan teriakan Tasia. Adrian belum puas dan ingin meneruskan serangannya lagi kepada Rizal. Dia menarik baju kerah Rizal lalu hendak di hempaskan pukulannya itu ke arah mukanya Rizal lagi.


"Rizaaal" teriak Tasia, sambil berlari kilat.


Saat pukulan itu ingin melayang ke wajah Rizal, namun tak sempat karena Tasia langsung spontan mendorong tubuh Rizal ke samping kanannya dan akhirnya pukulannya itu malah melesat mengenai wajah Tasia sendiri. Tubuh Tasiapun sampai terpental jauh hingga menubruk mobilnya Rizal.


Tubuh Tasia melemas hingga terjatuh ke tanah.


Mereka berdua langsung terbelalak kaget.


"Tasiaa...." teriak Rizal menggelegar bagai suara gemuruh petir.


bersambung...


...***...