Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Tidak Rela



...Bab 30...


...Tidak Rela...


Setelah belanja dan kembali ke Cafe, Tasia buru-buru memasuki ruang dapur dan mengambil obat P3K nya di laci lemari. Lalu dia menghampiri Rizal lagi diruang kerjanya.


"Maafkan ulah mas Adrian ya... dia melukaimu sampai begini..." sahut Tasia khawatir, sambil mengobati sudut bibir Rizal yang berdarah dengan kapas yang sudah di taburi alkohol.


"Ya tidak apa-apa!" jawab Rizal. "Wajar dia seperti itu, karena dia teramat mencintaimu, aku terkesan dengan ucapannya tadi kepadamu. Kenapa kamu menolaknya?" gurau Rizal tiba-tiba.


"Apa maksudmu?"Tasia langsung mencubit perut Rizal. "Jadi kau menginginkan aku dengannya, begitu? " jengkel Tasia.


"Aaaww.. tidak-tidak, bukan begitu maksudku!" rintih Rizal terkekeh.


"Jangan diambil hati dengan yang tadi dia ucapkan, dia memang begitu tapi hatinya baik kok..." tutur Tasia. Rizal hanya memanggut saja.


"Benarkah...kamu kelihatannya sudah mengenal dia sangat lama!" lirik Rizal sedikit cemburu. Tasia melihat ke arah Rizal sambil menghela nafasnya.


"Mas Adrian itu, pria di kampung sebelah dekat kampungku, dia terkenal baik di kampung kami...cukup lama dia menungguku dan mengajakku menikah, namun aku selalu menolaknya..." Tasia sejenak terdiam. Rizal memandangi wajahnya yang tiba-tiba saja membisu tidak melanjutkan bicaranya.


"Terus kenapa kamu menolaknya?"


Tasia menoleh sejenak ke arah Rizal, lalu memandang ke depan. "Karena dia bukanlah tipe pria yang aku sukai, selain itu dia adalah anak dari keluarga kaya raya..." Rizal sontak terkejut melihati Tasia.


"Jadi...tipe yang bagaimana yang kamu sukai?"


"Dia adalah...pria yang mandiri, sederhana, dan juga pekerja keras..." Tasia melebarkan senyumannya memandangi Rizal dengan tatapan cantik. Rizal tersenyum tipis di tatapi gadis di depannya.


"Ehm! Apakah itu termasuk diriku?" celetuknya. Tasia mengerucutkan bibirnya sambil mengangkat kedua bahunya.


"Menurutmu??" liriknya lagi. "Sudah ahh kelamaan ngobrol jadi lupa masak...sekarang aku mau ke dapur dulu. Kamu istirahat saja disini yaa..." ucapnya mengalihkan pembicaraan, dia lalu pergi ke dapur meninggalkan Rizal di ruangan kerjanya dan membereskan belanjaannya lalu mencuci semua sayuran dan ayam yang dibelinya tadi, di wastafel.


Setelah Tasia pergi ke ruangan dapur, Rizal jadi terdiam sambil terus mencerna perkataan Tasia barusan.


"Jadi Tasia menolak Adrian karena dia adalah pria dari keluarga kaya.. lalu apa bedanya dengan diriku? bahkan Tasia tidak tahu siapa diriku yang sebenarnya?" gumamnya sendiri.


Tak lama handphonenya berbunyi di dalam saku celananya. Lalu dia berdiri dan merogohnya di sakunya.


krriiinnng kriinnggg krriinngg


"Ini dari Ayah!" Rizal terbelalak kaget ternyata Ayahnya yang meneleponnya. Segera dia mengangkatnya.


"Hallo.. Apa kabarmu Ayah?" tanya Rizal.


"Ayah baik-baik saja. . Rizal apa kau sudah menyelesaikan tugas akhirmu itu?" suara serak dan berat terdengar jelas di seberang telepon.


"Sudah selesai Ayah, tinggal tiga bulan lagi, aku mau wisuda... Kenapa Ayah tiba-tiba menanyakan hal itu?" bertanya kembali.


"Baguslah, Ayah ingin sekali kau segera pulang setelah menyelesaikan wisudamu itu. Ada acara keluarga yang wajib kau menghadirinya, ini juga demi kepentinganmu dan keluarga kita" ujar Ayahnya.


"Acara apa Yah?" tanyanya penasaran.


"Acara perjodohanmu!" ungkap Ayahnya. Rizal terbelalak kaget mendengarnya matanya membulat besar dan panik.


"A-apa maksud Ayah? ke-kenapa tiba-tiba mendadak begini, tanpa meminta persetujuanku terlebih dahulu?" gelisahnya.


"Ayahmu ini sudah sangat tua Rizal...Ayah berharap kamu segera menikah dan menggantikan Ayahmu mengurus perusahaan disini!" pintanya tiba-tiba.


"Ayah... bukankah disana sudah ada kak Raffi? dia yang bisa mengurus semuanya. Kenapa harus Rizal yang mengurusi perusahaan Ayah. Lagipula Ibu dan Nenek juga sudah mendukung kak Raffi sepenuhnya!" terang Rizal.


"Ayah tidak bisa bicara di telepon. Tapi jika nanti kita bertemu, akan Ayah ceritakan semuanya kepadamu. Turutilah kemauan Ayahmu kali ini saja, sebelum Ayahmu benar-benar sudah tidak ada lagi di dunia ini!" pesannya singkat. "Nanti setelah kau sudah mengenali calon istrimu itu, secepatnya kita akan melaksanakan pertunangan kalian!" tambahnya lagi.


Rizal termenung lama. Dia mencoba untuk tidak menolak kemauan Ayahnya. Dia jadi teringat akan mimpi buruknya dahulu, Ayahnya meninggal karena dia menolak perintah dari Ayahnya tersebut.


"Baiklah Ayah... " jawab Rizal agak memelas, terpaksa menuruti perintah Ayahnya.


"Baguslah, kalau begitu nanti Ayah hubungi kamu lagi, sampai jumpa di Jakarta nanti..." tuturnya.


tuuuutt tuuuutt tuuuttt


'Apa yang harus aku lakukan sekarang... Tasia dia tidak boleh mengetahui masalah ini!' ucapnya di dalam hati bertambah gelisah dan bimbang, sambil kepalanya disenderkan di sofa seraya mengusap-usap mukanya sendiri.


Di dapur terlihat Tasia yang masih serius meracik masakannya sendiri dengan hati yang gembira. Pagi hari itu, untuk pertama kalinya dia membuat makanan kesukaan Rizal. Selang 15 menit kemudian akhirnya semua masakannya sudah matang. Setelah itu dia menghidangkan makanannya di piring-piring dengan rapi dan cantik. Lalu membawanya ke ruangan Rizal.


Sedangkan Rizal yang waktu itu rebahan di sofanya, terlihat sedang tertidur pulas karena terlalu banyak berpikir tadi.


Perlahan Tasia menghampirinya yang sedang tertidur dan menaruh masakannya satu-persatu di meja. Lalu Tasia sengaja memutar-mutarkan piring hidangannya di dekat wajahnya Rizal, supaya bau asapnya tercium olehnya. Hidung Rizal bergerak mengendus-endus mencium aroma masakan itu seperti berada tepat di hidungnya sendiri. Tasia cekikikkan sendiri mengerjai kekasihnya itu.


"Haaaai.. makanannya sudah mateng niih...." godanya. Rizal terbangun memelas mendengar suara Tasia. Samar-samar terlihat Tasia sudah ada di dekatnya. Lalu dia terperanjat dan bangun dari tidurnya.


"Kamu.. sudah selesai masaknya? Waaah.. kelihatannya sedap semua nih?" Rizal tergugah melihat semua makanan sudah tersedia di mejanya.


Tasia lalu duduk di samping Rizal dan memberikan minuman hangat untuknya. Lalu Rizal mengambil dan meneguknya perlahan. Setelah itu Tasia mengambil nasi dan lauknya di piring satu persatu. Dia hanya tersenyum memandangi wajah Tasia yang tengah sibuk melayani dirinya. Seraya menyenderkan sikut kanannya di sofa dan menekukkan tangannya di samping pipi bawahnya. Tasia tersipu malu tiba-tiba di perhatikannya terus.


"Ini, kamu tidak mau makan?!" sodornya. Rizal menggelengkan kepalanya. Tasia cemberut lalu menekukkan muka kesalnya padanya.


"Kenapa?"


"Aku mau kamu yang suapin aku!" pintanya tiba-tiba. Tasia terkejut dan pipinya berubah merona lagi.


"Iiiih manja banget siih!!" dicubitnya hidung mancung kekasihnya itu ke kiri-kanannya. Rizal terkekeh-kekeh sangat puas menggodanya dan membuat Tasia tersipu malu lagi.


Tasia lalu menyuapinya perlahan, dan pria itu membuka mulutnya lebar-lebar dan dengan cepat melahapnya. Kini giliran Rizal yang mengambil sendok bekas makannya itu barusan lalu dia membalas menyuapi nasinya ke mulut Tasia.


"Akan terasa lebih nikmat lagi kalau kita makan satu piring berdua.." ucapnya romantis. Hati Tasia berbunga-bunga lagi. Akhirnya diapun juga mau disuapi Rizal lalu membuka mulutnya dan melahapnya. Mereka saling memandang dan tersenyum bahagia.


Setelah selesai sarapan, Tasia biasa mencuci semua piring dan gelas kotor bekas mereka makan di wastafel. Rizal menghampiri Tasia di belakangnya, lalu memeluk erat lingkar pinggang Tasia yang ramping, dan menundukkan kepalanya di pundaknya Tasia.


Tasia terkejut, karena tiba-tiba saja Rizal muncul dan memeluknya di belakangnya, lalu dia segera menoleh ke samping kirinya Rizal. Mereka akhirnya saling menatap dekat, dan perlahan Rizal mendekatkan bibirnya dan mengecupkannya pada bibir ranum milik gadis itu dengan lembut. Mata Tasia membulat dan terkejut, jantungnya seketika itu berdegup kencang seakan mau copot. Suara debarannya sampai terdengar oleh Rizal. Pria itu tersenyum kecil dan dia kembali memeluki gadis itu erat-erat dan melepaskan kegalauan di hatinya di pundaknya lagi.


"Aku cinta kamu..." bisiknya pelan. Tasia tergugup, lalu pelan-pelan melanjutkan cucian piringnya itu sedikit tak fokus.


'Apa yang harus aku katakan nanti kepadamu..? aku benar-benar tidak rela harus berpisah dan meninggalkanmu nanti Tasia... Bersamamu aku seperti menemukan kembali harapan hidupku... Tetapi kenapa hidupku harus ditentukan oleh orangtuaku sendiri, kenapa aku tidak bisa memilih pasangan hidupku sendiri... ' lirihnya dalam hati.


...***...


"Aaaah, benarkah Tante?" teriak Lia kegirangan di dalam kamarnya sendiri setelah selesai di telepon Tante Mira lalu dia berlari keluar kamar menemui Ibunya di ruangan salonnya.


"Mam... mama..? dia berlari dan langsung memeluk ibunya. Lisna terkejut dengan polah Lia. Dia yang sedang sibuk menata dan merapikan alat-alat salonnya di peluk Lia tiba-tiba dari belakangnya. Semua anak buah Lisna, pandangannya mengarah pada Lia.


"Kamu itu kenapa Lia mengagetkan semua orang di tempat salon mama saja!" kesalnya kaget.


"Mah...coba tebak apa tadi yang dikatakan Tante Mira pada Lia?" tanyanya. Lisna menggelengkan kepalanya tidak bisa menebaknya.


"Tadi... Tante Mira sudah bilang sama Ayahnya Rizal. Katanya kalau aku dan Rizal akan segera di jodohkan dan bertunangan setelah selesai wisuda Rizal nanti mah... aahhh... " girangnya kembali menjerit-jerit karena senangnya, hatinya berbunga-bunga lagi.


Semua karyawan Lisna ikut tertawa dan senang lalu mereka menyelamati Lia.


"Waah selamat ya non Lia... sebentar lagi bakalan ada pesta-pesta nih!" sahut salah satu anak buah Lisna.


"Syukurlah kalau begitu!" sahut Lisna. Lia langsung mencium pipi Ibunya lalu dia balik lagi ke kamarnya dengan melonjak-lonjak bahagia. Semua karyawan Lisna tersenyum dan menertawai putri bosnya itu. Lisna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menutupkan mukanya sendiri melihat polah putri semata wayangnya itu.


"Lia.. Lia... " ocehnya.


bersambung...


...***...


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya...like dan komentarnya oke...


...🌺🌺🌺...