
...Bab 13...
...Kisah masa lalu ibu...
Minggu pagi itu, menjelang matahari terbit. Suasana yang masih sepi, alunan suara jangkrik masih terdengar dimana-mana. Terlihat satu persatu datang bergilir para petani hendak berjalan menuju pesawahan yang hijau dan masih berembun bersiap untuk bekerja membajak sawahnya yang masih berlumpur.
Pagi itu sebelum berangkat untuk perjalanan jauh. Supri pergi ke halaman depan hendak memanaskan mobilnya.
Sedangkan Ibu membantu Maya menyiapkan perbekalan mereka, dan Tasia membantu merapikan pakaian Maya ke dalam kopernya.
Setelah selesai, Tasia lalu memandangi kakaknya yang masih duduk asyik berdandan di depan cerminnya.
Maya yang tahu itu segera menyelesaikannya dan membereskan perlengkapan make-upnya.
"Kamu kenapa? kayak gak tega kakak pergi ya?!" tanyanya yang dari tadi melihat mimik wajah murung adiknya di cermin.
Tasia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Enggak kok siapa yang sedih?! Pede banget nih kak Maya?!" dusta Tasia.
"Justru Tasia senang karna Tasia sekarang bisa terbebas dari Kakakku yang cerewet ini!" sahutnya lagi seraya melebarkan bibirnya yang dipaksakan itu.
"Jangan bohong.. sudah jelas kamu tadi malam ngigau sendirian di luar...!" Terang Maya, saat memergoki Tasia tadi malam.
Tak terasa air mata jatuh ke pipinya Tasia.
"Kak Maya....jangan pergi jauh kak?!" tiba-tiba langsung memeluk merangkul kakaknya dibelakang. "Iya jujur Tasia bakalan sedih ditinggal kakak!" ungkapnya terisak-isak menahan tangis.
Mendengar ungkapan sedih dari mulut adiknya itu. Maya hanya bisa terenyuh diam seakan sulit mengeluarkan kata-kata.
"Kamu itu kayak ditinggalin jauh saja ke luar negeri. Kakak ini kan di Bogor tentu masih di pulau Jawa!" ucapnya menenangkan, yang masih tidak tega untuk meninggalkan adik dan ibunya.
"Tapi Tasia nanti gak ada teman curhat lagi?" lanjutnya sedih.
"Ini kan sudah jamannya maju Tasia..nanti kamu bisa video call kakak kalau misalnya pengen curhat" terangnya.
"Gak, kak itu rasanya berbeda sekali! dulu kita selalu satu kamar berdua..bercerita bareng. Tapi nanti hanya lewat video saja, rasanya seperti tidak nyata!" sedihnya lagi.
"Terus kamu maunya gimana? kakak harus disini terus? Lalu gimana dengan Mas Supri kalau ditinggalin terus? Kakak sekarang sudah jadi status istri, beda dengan waktu masih single, jadi kemanapun suami pergi, ya kakak juga harus ikut pergi!" terang Maya.
"Dengarkan pesan kakak, kamu jagain ibu jangan bikin ibu kecapean. Nanti kakak akan transfer uang ke kamu sebulan sekali, untuk kebutuhan ibu juga untuk bayar sewa pembantu." pesannya, "Dan satu lagi, kakak saranin, mending kamu cepat-cepat ikut kerja di tempat Cafenya Rizal." tambahnya lagi menyarankan.
"Tapi kan kak!" sela Tasia yang masih ragu dengan saran dari kakaknya, belum selesai Tasia bicara kakaknya sudah menyelanya lagi.
"Sssttt...percayalah pada kakak, Rizal itu orangnya baik dan jujur, dia itu rajin juga pekerja keras. Kakak merasa yakin kamu dan Rizal pasti sangat cocok nantinya!" tuturnya Maya lagi sambil mengelus-elus wajah adiknya dengan penuh kelembutan. "Selain itu kami juga akan mendapat penghasilan dari kerjamu sendiri..tanpa harus capek-capek berdagang sendirian.." lanjutnya lagi.
Tasia mengangguk patuh mendengar semua perkataan kakaknya itu dengan matanya yang masih berkaca-kaca, lalu dipeluk eratnya kakak tersayangnya itu.
...***...
Ibunya pun merasakan hal yang sama, dan Lama sekali mereka berpelukan.
Lalu Supri pun mencium punggung tangan mertuanya dengan rasa cinta dan hormat, dan mereka berduapun berpamitan lalu menaiki mobilnya. Serta merta di jalankannya mobil, Maya pun melambaikan tangannya di jendela mobil kearah mereka, Tasia dan ibunya pun juga membalas lambaian tangannya.
Setelah mereka pergi. Ibu Tasia langsung masuk ke rumah, menuju arah dapurnya dan hendak melanjutkan pekerjaannya kembali. Tasia mengikuti ibunya dari belakang.
Melihat Ibu hendak membereskan cucian piring kotor bekas mereka sarapan buru-buru Tasia mencegah itu.
"Ibu, ibu mau ngapain? biar Tasia saja yang nyuci!" sahutnya. "Mending ibu istirahat saja, Kak Maya pesen sama Tasia tadi, ibu hari ini dan seterusnya tidak usah melakukan pekerjaan berat lagi." sambung Tasia mengingatkan ibunya.
Ibunya tersenyum terharu mendengar ucapan putrinya itu. Baru kali ini dia mendengar kata-kata yang manis dari mulut Tasia.
Berkat Maya dan doanya itu akhirnya perlahan-lahan Tasia tumbuh menjadi gadis yang lembut dan dewasa.
"Ya sudah kalau begitu.." sahut ibunya. "Ibu senang sekali Tasia kamu sudah mau berubah, dengan begitu kamu juga akan cepat bertemu dengan calon suami mu nanti dan menikah seperti Maya." ucapnya bahagia.
"Ibu bicara apa sih? Tasia belum mau mikirin soal itu dulu..itu masih sangat jauh buat Tasia!" ujarnya sambil menyalakan air di wastafel hendak mencuci piring-piring dan gelas kotor.
"Tapi kan sebentar lagi usiamu mau menginjak 21 tahun. Kalau orang desa seperti kita, sudah wajar menikah di usia muda seperti kamu" papar ibunya. Tasia hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum mendengar perkataan ibunya.
"Bu..Bu, kak Maya saja kemarin menikah di usia mau 24 tahun!" celotehnya.
"Lho Tas, jangan salah ibu dulu menikah sama ayahmu d usia 16 tahun." terang ibunya.
Tasia terkaget tidak percaya mendengar ungkapan ibunya "Masa sih Bu?" setelah selesai dengan cuciannya.
Ibu mengangguk pelan.
"Iya dulu waktu itu ibu sudah tidak sekolah lagi.. Sedangkan ayahmu sudah bekerja dan menyandang gelar sarjana 1.
Ibu dan ayahmu menikah pada tahun 1985. usia ibu waktu itu 16 sementara ayahmu sudah 23. kami hanya selisih 7 tahun..."ceritanya.
"Bu boleh Tasia bertanya?" sahut Tasia menghentikan lanjutan cerita ibunya.
"Apa ibu tidak bersedih di ceraikan ayah?" tanya nya tiba-tiba. "Dan sebenarnya kenapa Ayah lebih memilih hidup dengan wanita itu, dan bukannya ibu kita?!" tanyanya lagi antusias.
Ibu menatap Tasia dengan seksama, rasa sedih nampak dari raut wajahnya yang agak keriput.
bersambung...
...***...
Jangan lupa like dan komentnya...ya..
...🌺🌺🌺...