
Bab 68
Mendadak Perhatian
"Ada apa?" tanya Tasia terheran dengan tingkah Yogi yang sedari tadi menatapinya aneh seperti itu.
"Aah tidak kok, cuma aku ingin tahu saja kabarmu?" gelagap Yogi.
"Aku...baik saja kok? hampir setiap hari kan kita juga bertemu di cafe..." jawabnya santai sambil memasukan kerupuk ke mulutnya dengan mengunyahnya renyah.
Yogi jadi gelagapan kesulitan mencari alasan lain lagi.
Lalu Tasia melihati sikap Yogi yang tiba-tiba saja mendadak perhatian begitu kepadanya.
Yogi tersenyum gugup kepada Tasia dengan raut muka yang cemas, dengan mengusap-ngusap rambutnya kebelakang, sambil mengalihkan pandangannya.
'Ah..bagaimana ini? teman sendiri yang dapat masalahnya tapi kenapa aku sendiri juga ikut-ikutan mencemaskannya..' pikirnya.
Yogi menghela nafas panjangnya dia tidak henti-hentinya ikut tegang dan panik setelah mengetahui hal ini. Tidak bisa dibayangkan bagaimana jikalau sampai Tasia mengetahui berita tentang pertunangan Rizal.
#####
Malam harinya, Rizal melanjutkan pembicaraannya dengan Yogi di telepon. Lalu Rizal menjelaskan semuanya tanpa ada satupun kata yang tertinggal.
"Hah..ini benar-benar kasus yang rumit. Kalau begini terus kau bisa terjebak dengan pertunanganmu sendiri dan wanita itu!" pekik Yogi menakutinya sambil duduk di kursi kamar singgasananya.
Rizal menghela nafas kasarnya. Dia sendiri juga masih bingung mencari kebenarannya.
"Iya aku tahu itu, ini sudah jadi resikoku sendiri. Aku pun bingung harus bagaimana? aku harus segera mencari tahu kebenarannya baru aku bisa terlepas dari ikatan pertunangan ini. Ah seandainya saja kau ada disini membantuku.." keluh Rizal mengusapkan rambut ke belakang kepalanya kasar karena gelisah.
"Baiklah disini aku akan berusaha mencegah Tasia supaya tidak tahu tentangmu, tetapi ingat kau juga harus segera menuntaskan masalahmu itu
sendiri.. kalau sampai dia tahu, aku juga tidak akan bertanggungjawab lagi dengan hubungan kalian?" papar Yogi.
"Terimakasih sobat aku benar-benar meminta bantuanmu.. maaf aku selalu saja merepotkanmu terus.." keluh Rizal, menundukkan kepalanya dengan menyenderkan punggungnya di dinding kamarnya.
"Hhh...sudahlah aku malas mendengar perkataanmu seperti ini terus...Ya sudah sekarang lebih baik kau hubungi istrimu itu, sesempatnya kau harus sering menghubunginya biar dia disibukkan denganmu...jangan sampai dia menyendiri dan kebosanan lalu menonton beritamu itu, mengerti! gertaknya menakuti Rizal.
"Iya baiklah...aku mengerti, terimakasih dengan sarannya kawan..."
Lalu Rizal segera menyelesaikan pembicaraannya dengan Yogi di telepon, dan melanjuti menelepon Tasia.
"Malam....sayangku... baru saja aku mau telepon" sahut Tasia berseri-seri saat menerima telepon dari Rizal, sambil merebahkan tubuhnya yang langsing dengan baju tidurnya yang seksi di atas ranjangnya setelah tahu Rizal menelepon dirinya.
"Malam juga sayang...kamu sedang melakukan apa?" tanya Rizal mencoba santai menutupi perasaan gelisahnya.
"Aku sudah selesai makan malam sekarang mau tiduran..tapi keinget kamu...eh gak tahunya kamu telepon duluan..." jelasnya tersipu-sipu.
"Berarti kita memang satu hati.." ucap Rizal sambil senderan di dipan kasurnya.
"Aku rindu sama kamu...boleh tidak aku kesana?" sahut Tasia tiba-tiba.
Rizal langsung panik dengan permintaan Tasia.
"Apa? tidak boleh" jawabnya spontan.
Tasia mengernyit dan langsung cemberut. "Kok tidak boleh sih?" jawabnya kesal.
"Eh..heehe ma-maksudku nanti saja ya..kalau aku yang jemput kamu, nanti kita bisa ke Jakarta bersama-sama.."
"Rizal...tapi aku juga merindukan nenek, boleh ya kesana..."rengek Tasia.
"Sayang nanti saja ya kalau aku pulang kesana...kita barengan balik lagi ke Jakarta, oke!" sahut Rizal.
"Iyaa tapi itu kan masih lama..pokoknya aku ingin secepatnya ke Jakarta ketemu sama nenek...titik!" teriaknya kesal.
"Ta-tapi sayaaang..." seru Rizal
Tasia ngambek tak menjawab teleponnya Rizal lagi dia langsung menutup teleponnya itu.
Rizal menghela nafasnya panjang. "Bagaimana ini...Tasia mulai jenuh sendirian tanpa aku disana..." sahutnya risau. Mengusap-ngusap mulut dan dagunya sendiri.
###
Esoknya Tasia berangkat ke Cafe sedikit malas, dia sampai bangun kesiangan. Lalu disana sudah banyak yang menunggu kedatangannya.
Tiba-tiba....
"Bu Tasia, ini majalah edisi terbaru, baru saja terbit pagi ini" teriak seorang pelayan cafe menghampiri Tasia yang hendak berjalan masuk ke ruangannya terus dia memberikan majalah langganannya itu ke Tasia.
"Ooh..iya terimakasih" jawabnya, menerima majalah itu.
Yogi dan Revan yang baru saja sampai pintu depan, memandang ke arah Tasia yang sudah berdiri di depan ruangan sambil mengobrol dengan pelayan cafe disana.
Dari jauh Revan melirik majalah yang ada di tangan kanannya Tasia. Lalu dia tiba-tiba panik dan beranjak mendekati Tasia.
"Haaai Kak Tasia...pagi..." teriaknya. Tasia terkejut dan langsung menoleh ke arahnya.
"Hai Van..pagi juga..." jawabnya.
Lalu Revan segera mengambil majalah punya Tasia dengan secepat kilat.
"Kak Tasia aku pinjem majalahnya dulu ya...penting sekali nih kak..." seru Revan dengan suara yang nyaring sambil melirik Yogi dari samping kanannya sejarak 3 meter.
"Eeh ta-tapi aku belum baca juga Van..." sahut Tasia.
Yogi pun mengerti maksud Revan, dia pun segera menghampiri Tasia dan merangkul bahunya Tasia.
"Hemm..Tasia aku punya masalah, ikut denganku dulu ya...ini penting sekali.." celoteh Yogi mengalihkan pembicaraan soal majalah itu, lalu dia langsung menarik bahu Tasia agar ikut pergi dengannya ke ruangannya.
"Ta-tapi itu...majalahku.." sahutnya diacuhkan Yogi dan Revan.
Revan melambaikan tangannya ke arah Tasia yang dibawa pergi Yogi.
"Pinjam dulu ya kak..." teriaknya senyum terpaksa.
"Huuuh...nyaris saja ketahuan.." kilahnya Revan, menghembuskan nafasnya lega.
###
Yogi berjalan masuk menuju lift sambil merangkul bahunya Tasia. Tasia tidak bisa menolaknya karena dia terus menariknya berjalan dengan cepat.
Setelah di dalam lift berdua. Tasia melepas paksa tangannya Yogi yang merangkulnya kuat di bahu kirinya.
"Lepas...tidak perlu pegang-pegang bahuku segala kan.." kesalnya cemberut. Yogi jadi kaget dia lupa dan tak sadar, kalau sedari tadi dirinya memegang bahunya Tasia.
"Eh..Maaf..." senyumnya tersipu.
Yogi melirik ke arah wajah Tasia yang masih cemberut dengan menatap pintu lift di depannya yang belum juga terbuka.
Tasia menoleh pelan ke arahnya dan Yogi tersentak refleks dia memoles senyum ke arah Tasia.
"Kamu harus ingat sekarang aku ini sudah jadi istrinya Rizal" sahut Tasia. "Jadi mohon jangan bersikap itu lagi kepadaku, jangan seolah-olah aku seperti teman wanitamu saja.." jelas Tasia lagi dengan wajahnya yang memerah lekas dia memalingkan mukanya dari Yogi.
Yogi terkejut dengan ucapan Tasia yang semakin hari semakin dewasa dan lembut.
Matanya memancarkan cahaya indah, ketika dia berbicara seperti itu padanya. Aura wajahnya semakin cantik terlihat ketika dia memarahinya.
Perubahannya itu dia rasakan setelah Tasia menikah dengan Rizal. Yogi melihat ada perubahan besar dari diri Tasia yang belum pernah dia lihat sebelumnya, dan perubahannya itu semakin membuat Yogi jatuh cinta kedua kalinya pada Tasia.
Pintu lift terbuka, Tasia berjalan cepat mendahului Yogi. Tubuhnya indah gemulai saat dia berjalan memakai pakaian kerja dengan rambut bergelombang yang di urainya panjang. Kaki betisnya terlihat putih tinggi semampai.
'Ahh...kenapa kau begitu cantik sekali, sayang..kau bukan milikku...' lirih Yogi di hatinya kecewa.
bersambung....
...***...