
Bab 52
Di culik
\=\=\=(Kilasan Percakapan Adrian & Lia)\=\=\=
Pukul 09.00 pagi, pesan whatsapp masuk ke ponselnya Adrian, dan itu dari orang suruhannya Lia.
Sekarang target sedang sendirian di tepi danau.
Dan beserta poto yang di kiriminya, yaitu poto Tasia yang tengah berdiri dekat danau.
"Sedang apa dia di sana?" gumam Adrian, setelah dia membuka pesannya itu. Lalu dia beranjak pergi dan menitipkan tokonya ke karyawannya.
"Tolong kau jaga tokoku dulu, aku mau pergi sebentar ada urusan penting" pinta Adrian pada bawahannya dengan menepuk-nepuk punggungnya. Adrian segera mengambil helmnya di atas mejanya, dan memakainya terburu-buru.
"Siap bang.." jawab karyawan Adrian. Setelah Adrian melewatinya. Adrian berlari keluar dan menaiki motornya cepat-cepat lalu dinyalakan mesin motornya dan berlalu pergi meninggalkan toko sepatunya.
###
10 menit perjalanan menuju danau tempat dulu Tasia tenggelam, Lia tiba-tiba saja meneleponnya. Adrian menghentikan lajunya dan mengangkat teleponnya dulu.
"Hallo ada apa? kenapa kau menyuruhku menemuinya di sini?" tanya Adrian penasaran.
"Kau sudah sampai sana?" tanya Lia.
"Ya.." jawabnya
"Aku hanya ingin bilang padamu...semalam aku gagal bertunangan dengan Rizal, dia sudah menolakku mentah-mentah. Dan sekarang Rizal sudah berada di kotamu lagi" gerutunya. Adrian tersentak mendengar bahwa Rizal sudah ada di kotanya lagi.
"Apa katamu? lelaki itu ada di sini?" mengerutkan dahinya gelisah.
"Iya dia memang sengaja pulang lagi kesana ingin mengajak Tasia ke Jakarta menemui keluarganya, dan berencana untuk menikahinya" jelas Lia.
"Benarkah itu?" masih belum percaya.
"Iya..tentu saja mana aku bohong padamu?" ketus Lia.
"Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? dia tidak boleh membawa Tasia pergi" agak panik.
"Sekarang kau harus lakukan sesuatu, apa kau inginkan Rizal merebut gadis pujaanmu itu?"
"Tak akan kubiarkan itu terjadi..." geramnya.
"Makanya kalau begitu, culik dia dan bawa dia ketempat persembunyianmu" pinta Lia.
"Apa maksudmu? kau sudah gila ya" sahut Adrian, belum berani melakukan tindakan kriminal.
"Ini adalah rencana terakhirku jika aku tidak menikah dengan Rizal maka Tasia pun tidak boleh menikah dengannya, mengerti!"
"Ta-tapi...aku tidak berani melakukannya" sahut Adrian lagi terbata-bata.
"Hei bodoh apa kau benar-benar mencintainya?" tanya Lia jengkel.
"Tentu saja aku mencintainya.." jelasnya.
"Kalau begitu lakukan perintahku!" gertak Lia lagi penuh emosi di teleponnya. Adrian lama terdiam, tapi pada akhirnya dia menuruti kemauan Lia.
Lalu Adrian segera menutup ponselnya kembali dan menyimpannya di saku celananya. Dan kembali melajukan motornya menghampiri Tasia yang sedang berdiri di tepi danau sendirian.
...***...
Sudah ada beberapa jam Rizal mencari Tasia di penjuru kota Yogyakarta, dan sampai dia harus mencari ke tempat-tempat wisata yang pernah mereka berdua kunjungi. Tapi satupun tak ada tanda-tanda Tasia disana.
"Kamu dimana.." keluhnya merengkuhkan kepalanya di stir mobilnya. Lalu dia tak terpikir di rumah Tasia.
"Ah apa mungkin dia sudah pulang?" serunya. Lalu Rizal memundurkan mobilnya dan membelokkannya lagi setelah itu pergi menuju arah rumah Tasia.
"Kenapa baru saja sempat aku pikirkan itu" kesalnya.
###
Tasia memandang air danau yang bergelombang karena angin yang menghembusnya kencang. Dia berjalan-jalan pelan di tepinya, sambil berpikir sendiri.
"Seandainya aku tidak menuruti kata Lia, aku tidak akan mungkin di bawa kesini dulu dan kalungku juga tidak akan di buangnya kesini" ujarnya.
"Rizal...kenapa kamu tega berkata itu padaku..aku benar-benar sayang padamu...mana mungkin aku mau menghianatimu..hhhh" lirihnya sedih dengan air matanya yang terus bercucuran. "hhh.,hhh..hhhh..." isakannya yang terus menyesakkan batinnya.
Kedua tangannya di kepalnya erat ke samping tubuhnya karena udara di danau itu cukup dingin menusuk ke tulangnya.
Motor Adrian telah sampai lalu menghampirinya perlahan yang mengejutkan Tasia disana.
"Mas Adrian!" Tasia menengok ke sampingnya, Adrian sudah berada di dekatnya. cepat-cepat Tasia menghapus air matanya.
"Enng tidak..." kilahnya.
"Jangan bohong..matamu merah dan pipimu basah, apa kamu masih berniat mencari kalung itu?"
Tasia mengernyitkan dahinya seketika tiba-tiba Adrian menanyai kalungnya itu.
"Aku sudah menemukannya. Sekarang kalungmu tersimpan di rumahku..Kau mau ikut denganku kesana untuk mengambilnya?" tawar Adrian. Tasia tersenyum lebar mendengarnya matanya berbinar terang.
"Benarkah kamu sudah menemukan kalungku!" tiba-tiba ekspresi wajah Tasia berubah. Adrian memanggutkan kepalanya.
Lalu dia mengajak Tasia ikut dengannya dengan naik sepeda motornya. Tasia setuju dan ikut dengannya pergi.
Tasia berlari buru-buru mengambil tasnya yang dia simpan dari tadi diatas batang pohon yang sudah di tebang orang, batang pohon itu cocok sekali kalau di pakai dudukkan orang.
Setelah menaiki motornya Adrian. Adrian melajukan lagi motornya, dan di bathinnya mengatakan sesuatu.
'Maaf,.mungkin ini caraku agar bisa memilikimu...' tutur di hatinya.
###
Rizal baru saja sampai rumah Tasia, dia bertanya pada Irna dan Ibunya. Namun Tasia belum pulang ke rumahnya.
"Bukankah tadi dia bekerja nak Rizal. Ini belum waktunya jam pulang kan?" sahut Sulastri yang tiba-tiba ikut cemas karena Rizal menanyakan Tasia tiba-tiba dengan kekhawatiran yang nampak sekali di wajah Rizal.
"Iya tante..tapi ini baru jam istirahatnya. Dan dia keluar tanpa bilang-bilang. Aku jadi mengkhawatirkannya tante.." keluhnya menundukkan pandangannya ke bawah lantai.
"Tapi apa kamu sudah menghubunginya lagi?" saran Sulastri.
"Aku sudah menghubunginya dari tadi tetapi dia sama sekali tidak mengangkat teleponku tante.." lirihnya menyesali.
"Ya sudah coba kita telepon lewat handphone nya Irna" sarannya. Lalu Sulastri memanggil Irna dan menyuruh Irna menghubungi Tasia.
"Baik Bu.." sergap Irna langsung membuka telepon dan menekan kontak Tasia.
Tak lama panggilannya terhubung, Tasia pun mengangkat telepon dari Irna.
"Hallo? ada apa Na?" tanya Tasia menjawabnya.
Rizal terkecoh, dia langsung beranjak dari duduknya. Dia sedikit kesal karena dari tadi dia telepon tapi tidak diangkatnya, tapi setelah pembantunya yang menelepon dia cepat sekali mengangkatnya.
Rizal meminta Irna menyuruh menyalakan speakernya dengan bahasa isyarat dan pelan, dia ingin mendengar jelas suaranya Tasia di telepon. Irna memanggut patuh dengan permintaan Rizal.
Lalu Rizal membisikkan ke telinga Irna untuk menjawab teleponnya dengan instruksi darinya. Irna memanggutnya lagi memahami pintaannya Rizal.
"Enng...mbak Tasia? mbak Tasia lagi dimana?
Ini Ibu menyuruh mbak pulang katanya.." sahutnya mengibuli Tasia. Sulastri yang tengah berdiri di depan pintu rumah mendengarnya langsung mencibir jengkel ke arah mereka karena namanya yang di bawa-bawa. Irna langsung cengengesan pelan ke arah Sulastri.
"Ibu? memangnya ibu kenapa?"
"Ibu meminta mbak Tasia ingin di ajak pergi beli sesuatu.." sahutnya berdusta lagi.
"Ooh..iya sudah nanti aku pulang..sekarang ini aku sedang naik motor di bonceng temanku, mau mengambil barang dulu. Nanti kalau sudah selesai, Tasia segera pulang..bilang itu ke Ibu ya" jawabnya lalu hendak menutup teleponnya lagi. Tapi Rizal belum puas dengan obrolannya dan menyuruh Irna menanyakan rumah temannya dimana.
"Hmmm...tunggu dulu mbak, memangnya rumah teman mbak Tasia dimana?" tanya Irna cepat.
"Aduh ngapain sih kamu pengen tahu segala?" kesal Tasia. "Sudah ya..aku gak punya waktu nih.."
"Eh mbak jangan gitu dong..jadi biar ibu mbak gak khawatir nyariinnya" selanya lagi.
Tasia menghela nafasnya cepat " Aku mau ke rumah mas Adrian Irna... ibu juga sudah tahu kok dimana rumahnya" teriaknya kesal. "Sudah ya kututup dulu teleponnya. Rizal melohok tidak percaya dia masih menemui lelaki itu, dan sekarang dia malah pergi di bonceng lelaki itu.
Muka dan hatinya Rizal langsung memerah panas. Dikepalnya erat tangannya itu sambil mendengus-denguskan napasnya karena kesal.
Irna terkaget dengan perubahan wajah Rizal yang terlihat marah karena cemburu itu. Sulastri juga jadi serba salah.
"Hmm..nak Rizal rumah Adrian tidak jauh dari pasar kok" sahut ibunya lalu ibunya memberikan alamat rumah Adrian yang di tulis di kertas.
Rizal langsung mengambilnya dan pamit pada ibunya Tasia cepat-cepat untuk menyusul Tasia pergi ke rumah Adrian dengan keadaan hatinya yang masih bergejolak menahan kecemburuannya. Rizal menaiki mobilnya dan di jalankannya cepat sekali.
Irna yang masih berdiri di teras rumah jadi sedikit ngeri melihati wajah Rizal.
"Waah kalau seorang pria lagi cemburu...wajahnya mendadak jadi sangat mengerikan sekali!" celoteh Irna. Sulastri hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sudah ayo masuk, lanjutkan lagi memasakmu!" tegur Sulastri.
bersambung....
...***...