Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Pernikahan Kami



Bab 64


Pernikahan Kami



Malam setelah perbincangan dirinya dan Hendra itu. Rizal membaca dan meneliti lagi semua buku catatan milik Ibu kandungnya sendiri, di dalam kamarnya. Rizal merasa di balik itu ada sesuatu yang ganjil yang belum terpecahkan. Perjanjian diantara tiga sahabat itu apakah nyata ataukah hanya di rekayasa belaka? Persahabatan antara tantenya Mira, ibunya Lia (Lisna) dan juga ibu kandungnya (Audi). Masih dengan tanda-tanya.


###


Setelah Rizal memutuskan akan memenuhi keinginan Ayahnya kemarin, dia pun meminta agar Ayahnya mau merestuinya untuk menikahi Tasia. Tetapi syarat yang diberikan Hendra sontak membuat hati Rizal jadi terluka, pernikahan dengan wanita yang dicintainya terpaksa harus disembunyikan. Tidak ingin mengecewakan Gusti dan Lisna. Hendra menyuruh Rizal untuk menikahi Tasia secara diam-diam di Kota Yogjakarta sana.


Dia hanya inginkan pernikahan Rizal dan Tasia hanya diketahui oleh keluarganya sendiri, pernikahan mereka setidaknya jangan sampai bocor dan terdengar oleh keluarga Lia maupun semua rekan bisnis Ayahnya Rizal.


Sebenarnya Rizal pun tidak ingin menyakiti hati Tasia. Tetapi dia sudah terlanjur berjanji pada dirinya kalau dia tidak akan pernah melepaskan cintanya dan akan menikahinya segera.


Esoknya Rizal dan Tasia kembali ke Yogjakarta. dan dua hari setelahnya pernikahan mereka pun di gelar. Pernikahan yang sesederhana mungkin, yang dilaksanakan di rumahnya Tasia, jadi hanya keluarga Tasia sajalah yang ikut menghadirinya.


Maya dan Supri sengaja pulang dan menghadiri pernikahan mereka juga dan tidak lupa mereka pun sudah membawa bayi lelaki dipangkuannya. Sulastri gembira sekali karena hari itu dia bisa menggendong cucu pertamanya. Frianto memandang jauh melihat cucunya yang di gendong Sulastri serasa ingin juga ikut menggendongnya.


Hendra hanya memberi restu namun tak ikut dalam acara penting mereka. Tania dan Nenek melihatnya dari video call dan memberi selamat atas pernikahan mereka. Hari itu adalah hari kebahagiaan bagi Tasia, karena semua sudah berkumpul mengucapkan selamat kepadanya dan Rizal. Termasuk Yogi dan Revan juga yang sudah berada di samping Rizal menjadi saksi pernikahan mereka.


Setelah Ijab qabul mengucap janji suci di depan penghulu dan Ayah Tasia yang jadi walinya, Tasia dan Rizal saling menukar cincin pernikahan itu lalu diakhiri dengan kecupan hangat dari Rizal ke keningnya Tasia. Rizal memejamkan matanya kuat menahan rasa sakit dan sedihnya, janji suci untuk tidak menyakiti Tasia terasa menusuk kedalam bathinnya sendiri. Setelah menikahinya dia harus pergi bertunangan dengan Lia.


Tasia sama sekali tidak tahu-menahu soal dirinya akan segera bertunangan minggu depan. Dia berani berbohong demi tidak ingin mengecewakan hati gadis yang dicintainya.


###


Setelah selesai acara pernikahan mereka. Di keheningan malam itu. Tasia masih terduduk diam di kursinya lama. Sambil memandangi wajah kalemnya di cermin, semburat wajahnya banyak sekali pertanyaan yang masih mengganjal dalam hatinya, yang ingin dia utarakan langsung pada Rizal.


Rizal baru saja selesai keluar dari kamar mandi, dan masuk ke kamar sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecilnya.


"Kau tidak mau mandi?" tanyanya pada Tasia yang masih terduduk manis di kursi dengan kebaya putih pengantinnya.


Tasia baru kali itu melihat Rizal yang memakai piyama tidurnya dengan rambut yang basah dan acak-acakan, sangat terlihat tampan sekali. Lalu tidak sadar dia memandang ke arah Rizal dengan senyuman manisnya.


Rizal terkejut dengan Tasia yang sedari tadi terus saja memperhatikan dirinya.


"Kenapa?" tanyanya tersipu. "Bukannya mandi malah lihatin suamimu terus..ayo mandi sana..." gerutunya lalu mencolek hidung Tasia sehingga membuyarkan lamunannya.


Tasia tersontak kaget dan langsung mengelak perkataan Rizal padanya "Iih..ge-er banget sih...siapa juga yang lihatin kamu.." ejek Tasia tersipu malu karena ketahuan yang sedang terpesona pada sosok kekasihnya yang sekarang menjadi status suaminya sendiri. Karena malu dia lalu bergegas keluar dari kamarnya dan segera mandi ke kamar mandi.


Rizal tersenyum-senyum sendiri melihat tingkahnya yang lucu, melihat Tasia yang sangat cantik jelita dengan kebaya pengantinnya itu membuat jantungnya berdebar-debar sangat kencang.


Rizal menghela napas panjangnya lalu segera merebahkan punggungnya di atas kasur yang empuk itu, kedua tangannya disilang masuk ditindih kepalanya sendiri. Lalu pandangannya fokus menatap langit-langit kamar, dan tak lama dia mulai bergumam dipikirannya sendiri.


'Mungkin nanti kita akan bertunangan...Lia! tapi jangan harap kita nanti bisa menikah... Maafkan aku Ibu...aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu untuk menikahinya..setelah membaca semua buku catatan harian tentangmu ibu..kau sangat terluka karena cintamu telah terbagi dua. Dan aku tidak mau hati Tasia juga terluka karena aku telah menduakannya... Ibu...apa kamu tega melihat orang yang kucintai terluka? aku berjanji padamu ibu kalau aku tidak akan pernah membiarkan Tasia bernasib sama denganmu... Aku memang anak Ayah tapi sikapku tak akan sama seperti Ayah...' diiringi senyuman yang mengandung makna tersembunyi di baliknya.


###


Setelah 10 menit Tasia selesai mandi dia segera kembali ke kamarnya, dengan memakai gaun malam berenda berwarna putih cerah tanpa lengan.


Tasia membuka pelan pintu kamar, Rizal sudah terbaring di kasurnya dan matanya yang sudah terpejam.


"Eh, dia sudah tidur duluan?" keluhnya sedikit kecewa.


Rizal melirik Tasia di belakang punggungnya. Lalu diam-diam dia mencubit kecil pinggang Tasia yang ramping.


"Aduh" Tasia tersontak kaget langsung dia membalikkan badannya ke arah tempat tidur. Rizal kembali memejamkan matanya.


Tasia mengernyit ke arah Rizal, ternyata Rizal mencoba mencandainya dengan pura-pura sudah tertidur.


"Nah..ya ketahuan masih belum tidur.." celoteh Tasia, lalu dia membalas mencubit perut Rizal sambil menggelitik pinggangnya, yang membuat Rizal jadi bergerilya dan tak tahan karena geli.


"Eh eh apa yang kau lakukan..ha ha ha..sudah ampun-ampun" kilahnya ketawa geli.


"Tidak akan kuampuni..." gurau Tasia. Lalu mereka bercanda di ranjang dan saling membalas menggelitik.


Candaan mereka tiba-tiba terhenti. Setelah Tasia menyadari kalau tubuhnya sudah berada di atasnya Rizal. Kedua tangan Tasia yang di genggam erat oleh Rizal di bawahnya, agar menahan Tasia tidak menggelitiknya lagi. Mata mereka mulai saling memandang lama.


Tasia terkecoh langsung melepas genggaman Rizal dan segera duduk di samping kasurnya. Wajah cantiknya mulai merona indah. Rizal sedari tadi melihatnya terpesona. Perlahan Rizal membangunkan tubuhnya dari baringannya dan mulai menyibak rambut Tasia ke belakangnya yang barusan mengurai panjang menutupi lehernya.


Rizal mengecup pelan pipi Tasia tiba-tiba, dan perlahan turun ke lehernya yang jenjang.


"Apa malam ini kau lelah?" bisiknya pelan ke telinga Tasia tiba-tiba.


Mata Tasia terbelalak terkejut dan dirinya merasa panas dingin menjalar ke seluruh tubuhnya.


Tasia menggelengkan kepalanya tak menjawab. Rizal memandang wajah disampingnya Tasia. Tasia yang masih melihat ke arah cermin hiasnya belum berani menatap ke arah Rizal.


"Tidak usah terburu-buru.. kalau kau masih lelah melakukannya sekarang, masih ada besok malam. Masih ada seminggu lagi aku disini kok..." terangnya. Tasia mendengarnya sedih.


"Rizal sebenarnya ada yang masih inginku tanyakan kepadamu.."


Tasia perlahan mulai mengutarakan pertanyaan yang dia pendam dari kemarin.


"Aku masih belum percaya bahwa pernikahan kita begitu mudahnya di restui oleh Ayahmu.." membalikkan badannya dan memandang ke arah Rizal penuh tanda tanya.


Rizal memegang tangan Tasia yang barusan menepuk ke lututnya itu.


"Perkataan apa yang kamu berikan padanya sehingga dia mau merestui pernikahan kita?" tanya Tasia lagi.


Rizal lama tak menjawab pertanyaan Tasia, dia sengaja memendamnya sendiri. Tidak ingin Tasia berpikir yang macam-macam terhadapnya, dan biarlah dia yang tanggung sendiri masalahnya.


"Ibuku...yang merayu Ayah agar aku bisa menikahimu.." ujarnya singkat. "Sudah ayo tidur.. sudah malam jangan banyak berpikir lagi...yang penting kita sekarang sudah menjadi suami-istri..dan aku siap memanjakanmu kapan saja." gumamnya merayu, yang membuat Tasia semakin berbunga-bunga di buatnya.


"Benarkah... kau mau memanjakanku?" sahutnya girang.


"Iya...asal kau mau tidur malam ini di pelukanku.." pintanya.


Dengan gesit Rizal merangkul tubuh Tasia untuk berbaring di dekatnya lalu menarik selimut di bawah kakinya dan selimut itu menutupi tubuh mereka berdua di atas ranjang.


Malam itu adalah malam kebahagiaan mereka. Rizal tidak ingin ada pikiran lain yang mengganggu dirinya dan istrinya itu.


bersambung...


...***...