Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Mengandung



...Bab 87...


...Mengandung...


Di luar rumah, Mbok Darmin membantu merapihkan semua barang-barang Tasia ke dalam kopernya lagi. Dia terus saja menangis melihat keadaan Tasia pada saat itu.


"Sabar ya non...non Tasia harus kuat dengan cobaan ini...mbok sangat percaya sekali sama non..semuanya bukan perbuatan non Tasia" hiburnya sambil terus mengelap air matanya dengan celemeknya sendiri.


"Terimakasih mbok...aku baik-baik saja kok.." ujar Tasia mencoba tegar dengan semua ini.


Tasia menatap kembali ke arah pintu rumah depan Hendra yang sudah ditutup rapat oleh mereka.


Tasia mengingati wajah Rizal tadi yang sama sekali tidak melihat ke arahnya ketika dirinya di usir seperti ini. Tasia berdiri perlahan di bantu mbok Darmin dan berjalan keluar ke arah gerbang.


"Terimakasih, mbok sudah mengantarku..sampai sini saja..."


"Lalu.. nanti sama siapa non Tasia akan pulang?"


"Tak perlu mengkhawatirku mbok..ada temanku nanti yang akan menjemputku.."


"Non Tasia...hati-hati ya non.."sahutnya lagi, mbok Darmin kembali memeluk Tasia erat sambil terus menangisinya.


"Iya mbok...mbok juga, lebih baik mbok kembali masuk ke dalam rumah ya.." ujar Tasia.


Mbok Darmin memanggutkan kepalanya, Pak Mamat membuka pintu gerbang itu cepat-cepat lalu membantu menarik kopernya Tasia.


"Selamat tinggal non..." sahut Mbok Darmin dan Pak Mamat sambil melambaikan tangannya ke arah Tasia.


Tasia melempar senyum pahit pada mereka lalu kembali berjalan ke arah jalan raya menunggu Yogi datang untuk menjemputnya.


Pandangannya kosong ke arah jalan raya yang dipenuhi kendaraan yang berlalu lalang. Matanya seakan sudah kering terkuras kehabisan air mata. Dia hanya bisa mengeluh nasib di sana.


'Ya Tuhan...kenapa engkau memberikan cobaan yang begitu sulit kepadaku? kenapa obat itu tiba-tiba saja berada dalam koperku sendiri? Tidak ada yang benar-benar percaya dengan semua penjelasanku...bahkan Rizal pun tidak memperdulikanku lagi... kenapa Rizal? kenapa kita harus bercerai secepat ini...Rizal...aku benar-benar tidak mau bercerai denganmu...aku masih ingin bersama kamu...aku masih mencintai dirimu...'


Terisak dalam hatinya Tasia kembali menangisinya.


Selang beberapa menit suara klakson taksi terdengar kencang sekali dan mengagetkan Tasia yang tengah berdiri di sisi trotoar.


"Hey..kau sudah menunggu lama? ayo kita berangkat ke statsiun.." teriak Yogi memanggilnya yang sudah berada dalam taksi itu.


Tasia lekas mengusap pipi-pipinya yang masih basah.


Lalu Yogi keluar dari taksi hendak membantu Tasia membawa kopernya. Yogi tersenyum dan berjalan menghampiri Tasia. Tapi seketika itu, Yogi terkejut melihat air muka Tasia yang terlihat kusut seperti habis menangis.


"Kamu kenapa?" tanyanya.


Tasia sengaja diam tak menjawab pertanyaan Yogi. Dia hanya tidak ingin menyusahkan Yogi dengan menceritakan semua kepadanya.


"Kenapa kamu diam saja? ayo ceritakan padaku? ada apa?" paksanya penasaran.


"Tidak ada apa-apa..." jawabnya datar. "Ayo kita berangkat sekarang...nanti kita bisa ketinggalan kereta..." jawabnya.


Lalu mereka berdua menaiki taksi perjalanan menuju ke statsiun. Di dalam taksi Tasia hanya diam duduk termangu, tatapannya kosong mengarah ke luar jendela mobil.


Yogi diam-diam terus memperhatikannya sekali-kali dia menawarkan cemilan dan permen pada Tasia untuk menghilangkan kebosanan. Tapi Tasia menolaknya dia sama sekali tidak berselera untuk makan apapun saat itu.


"Apa kau sudah ijin pulang pada Rizal tadi?" tanya Yogi tiba-tiba membuyarkan lamunannya Tasia. Tasia tidak menjawabnya dia malas membuka suara, namun dia hanya menganggukkan kepalanya pelan.


Melihat tingkah Tasia yang sangat aneh sekali waktu itu, Yogi semakin penasaran dibuatnya.


"Tasia... sebenarnya kamu itu kenapa?" tanyanya lagi.


"Jika kamu terus bertanya lagi...aku akan turun disini dan pulang ke Yogyakarta sendirian!" gertak Tasia mengancam Yogi untuk tidak bertanya lagi padanya.


Tasia melotot tajam ke arah Yogi kali itu dia benar-benar serius marah kepadanya.


Yogi menyerah kalah. "Oke..oke aku tidak akan bertanya lagi padamu..santai saja ya..he he"


Yogi menghembuskan nafasnya kasar. "Ya sudahlah kalau itu memang maumu..tidak cerita juga tidak apa-apa..." ucapnya lagi pelan.


Tasia memalingkan mukanya lagi dari Yogi, dia lalu kembali melihat ke arah jendela mobil dan memandangi pemandangan kota.


###


"Bagus...Kau sudah bekerja sangat baik..." sahut Mira tersenyum puas kepada Luna si pembantu bersih-bersih itu.


Lalu Mira mengambil amplop di dalam tasnya dan memberikannya diam-diam pada Luna di luar gerbang rumah Hendra.


"Ini hasil kerjamu..tetapi ingat jangan sampai kau membocorkan semua rahasia ini pada siapapun.. kau mengerti!" titahnya lagi.


"Saya mengerti Nyonya..." girangnya setelah menerima amplop berisi uang berjumlah banyak yang sudah di janjikan Mira padanya dulu. "Terimakasih banyak Nyonya..." sahutnya lagi.


Setelah Mira memberikan amplop itu pada Luna, orang suruhan Mira selama ini. Mira lalu pergi menaiki mobilnya kembali yang masih di kawal oleh dua pengawalnya tersebut dan pergi meninggalkan rumah Hendra dengan hati yang puas karena semua rencananya untuk menjebak dan mengusir Tasia dari rumah Hendra telah berhasil dia lakukan.


"Ha ha aku kayaaa...aku kayaaa..." jerit Luna melonjak-lonjak bahagia, saat dia membuka isi amplop itu.


Luna tidak menyadari saat itu juga Pak Mamat diam-diam memperhatikannya dari tadi di samping gerbang itu.


Walaupun tidak mendengar pembicaraan mereka jelas, tetapi Pak Mamat sempat melihat Mira memberikan amplop berisi uang itu pada Luna.


Pak Mamat lalu bergegas pergi menemui mbok Darmin di dapur dan menceritakan itu semuanya tanpa ada yang tertinggal.


"Benarkah yang kau lihat Pak?"


Pak Mamat memanggut-manggut yakin dengan yang dia lihat.


"Ini sangat jelas mencurigakan sekali..kita benar-benar harus menyeledikinya pak..!" sahut si mbok semakin penasaran.


"Kenapa kalian berdua lihatin aku terus seperti itu?" ketusnya sedikit judes, setelah sadar di perhatikan terus oleh mereka.


Mbok Darmin melihatnya jengkel. "Haah siapa juga yang lihatin kamu toh? kepedean kamu..ya kan pak.."


"Ho-oh nih..sok kecakepan aje.." jawab Pak Mamat mengiyakan.


"Huuuh" jengkelnya. Luna menggebris kesal kepada mereka lalu dia kembali keluar dapur cepat-cepat meninggalkan mereka.


###


Delapan jam perjalanan mereka berdua telah sampai kembali ke Yogyakarta.


Yogi mengantar Tasia sampai rumahnya.


"Terimakasih sudah mengantarku pulang.." Tasia hendak membuka pintu taksi itu namun tangan kanannya di tahan Yogi.


"Tunggu Tasia, selama di kereta kau tidak berbicara sama sekali..kau terlihat murung hari ini.. bahkan wajahmu juga sangat pucat...katakan padaku...sebenarnya kamu kenapa?" tanyanya.


Yogi memberanikan diri lagi untuk menanyakan padanya. Tasia hanya menghelakan nafasnya kencang. Kedua matanya benar-benar lelah dan mulai kembali berair berusaha untuk menahan kesedihan itu di hadapan Yogi. Saat ini dia ingin cepat-cepat berada di dalam kamarnya sendiri dan tidak ingin di ganggu oleh siapapun.


"Yogi...maaf saat ini aku benar-benar lelah sekali, aku ingin cepat-cepat istirahat..." sahutnya lagi, lalu melepas paksa tangan Yogi yang masih menggenggamnya erat. Tasia buru-buru membuka pintu mobilnya dan keluar.


Tetapi saat Tasia ingin melangkahkan kakinya, tubuhnya tiba-tiba lemah dan dia malah terjatuh pingsan tidak sadarkan diri di samping mobil taksi itu.


Gubrakk


"Tasia....!" teriak Yogi terkejut setelah melihat Tasia tergeletak di jalan. Yogi lekas keluar dari taksi dan menghampirinya "Tasiaa...kamu kenapa? hei sadarlah.." paniknya lagi, sambil menggoyangkan pipinya Tasia.


Karena panik dan cemas Yogi segera memangkunya dan membawanya masuk ke rumah Tasia.


###


Malam itu Rizal masuk ke kamar bekas Tasia tidur. Di rabanya kasur itu pelan-pelan. Lalu dia menelungkupkan tubuhnya sendiri dan memeluk guling itu erat, membayangkan dirinya sedang memeluk istrinya kala itu di tempat tidurnya.


"Apa yang telah aku ucapkan tadi siang kepadamu? Ya Tuhan...maafkan aku...tak seharusnya tadi aku mengucapkan kata cerai kepadanya..." lirihnya mulai menyesali.


Tak lama kemudian Rizal tertidur di dalam kamar itu. Mbok Darmin tiba-tiba masuk ke dalam kamar Tasia dan hendak mengambil seprei kotor di sana. Tapi dia tidak tahu kalau ada majikannya yang sedang tidur. Mbok Darmin menyalakan lampu kamar itu dan membuat matanya Rizal terbuka karena tiba-tiba cahaya lampu menyilaukannya tersng.


"Eh ada Den Rizal...oh maaf kirain mbok tidak ada den disini?" sahutnya kaget.


Rizal lekas beranjak dari tidurnya. "Tidak apa mbok..aku hanya ingin tidur disini saja..." sahutnya.


Mbok Darmin menatapi majikannya yang terlihat sedih setelah berpisah dengan istrinya. Karena tidak tahan dengannya, mbok Darmin akhirnya membuka mulut lalu pelan-pelan menceritakan soal kejadian demi kejadian.


"Hmm...den Rizal maaf sebelumnya..sebenarnya ada kekeliruan pada sayuran yang di masak non Tasia untuk Tuan besar waktu makan malam itu..." katanya. Rizal menoleh pada Mbok Darmin penasaran dengan ceritanya.


"Maksudnya mbok?"


"Sebenarnya...." lanjutnya.


Mbok Darmin menjelaskan dengan jujur dia pun telah mencicipi semua masakan Tasia sebelumnya dan tidak ada masalah dengan masakannya lalu dia pun menceritakan kalau dia pernah memergoki Luna yang berani masuk ke kamar Tasia entah apa yang dia lakukan di dalam kamarnya waktu malam ulangtahunnya Rizal.


Dan tidak ketinggalan Mbok Darmin pun menceritakan kejadian tadi siang yang dilihat Pak Mamat saat Mira memberikan sesuatu pada Luna siang itu.


Rizal mendengarnya penuh seksama dia mencerna apa yang di jelaskan mbok Darmin padanya.


"Benarkah, benarkah apa yang kau ceritakan itu mbok?" sahutnya tercengang mendengar penjelasan pembantu setia keluarga besarnya itu. Kedua tangannya menutupi wajahnya sendiri dan hatinya mulai terluka dalam, setelah tahu kebenarannya dari mbok Darmin selama ini.


"Iya Den...buat apa sih si mbok ini bohong? mbok hanya ingin mengatakan yang sebenarnya..mbok kasihan sama non Tasia den..mbok sangat yakin sekali kalau non Tasia orangnya sangat jujur dan tidak bersalah apa-apa disini.." terangnya tersedu-sedu sambil meneteskan air matanya deras.


Rizal langsung beranjak berdiri dan buru-buru pergi ke kamarnya di loteng hendak mengambil ponselnya itu. Dia ingin menghubungi istrinya tapi saat membuka ponselnya, terlihat di layar ponselnya sudah banyak sekali panggilan tak terjawab dari Yogi.


Rizal kembali meneleponnya balik.


"Kemana saja kau?" teriak Yogi terdengar kesal sekali. Setelah teleponnya terhubung.


"Maaf aku tinggalkan ponselku tadi..Ada apa?" tanya nya panik.


"Aku hanya ingin memberi kabar baik kepadamu...saat ini Tasia sedang mengandung anakmu.." ujarnya ikut senang.


Saat itu juga Rizal tersontak terkejut mendengar berita itu.


"Apa? be-benarkah yang kau katakan itu?"


"Iya...sekarang cepat kau susul ke Yogyakarta..keadaan tubuh Tasia saat ini sangat lemah sekali.. dia terlihat sakit.." terangnya lagi.


Rizal gugup mendengarnya, hatinya sedih tak karuan. Dia kini di hadapi dengan kebimbangan. Antara bahagia mendengar berita itu dan sedih karena terlanjur mengucap kata cerai pada istrinya tersebut.


"Maafkan aku Yogi...aku tidak bisa kesana.."


"Kenapa?"


"Karena aku.. aku sudah terlanjur menceraikannya tadi..."


Yogi terbelalak kaget, tidak percaya mendengarnya, Rizal terisak pelan menahan tangis penyesalannya.


bersambung...


...***...


Jangan lupa like dan komentarnya...yaa...


...🌺🌺🌺...