Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Kau Yang Bersinar



...Bab 16...


...Kau yang Bersinar...


'Secepatnya aku harus segera mengembalikan uang itu ke Lia, kalau tidak aku benar-benar akan terus bergantung padanya!' ucapnya Rizal dalam hatinya gelisah. Lalu Rizal segera turun dari bus tumpangannya, setelah bus berhenti di terminal, dia lalu mencari Tasia di pasar sana.


Namun tidak lama kemudian Rizal sudah menemukannya, dia yang tengah sibuk berjualan di kerumunan orang-orang. Wajah gadis itu terlihat begitu gembira sekali.


Pembeli satu-persatu tiba-tiba berdatangan ke arahnya.


"Nak Tasia, besok-besok lagi saya yang pesan duluan! pokoknya bungkus dulu buat saya ya!" sahut ibu pembeli agak kesal.


"I-iya Bu!" gumam Tasia terkekeh kecil kebingungan, menghadapi salah satu pembeli nya yang tidak sabaran itu.


Sepulang dari kampus Rizal memang berniat ingin pergi ke pasar menemui Tasia. Dia sudah tahu kalau lewat pesan, Tasia tidak pernah mau untuk membalasnya. Sehingga dia datang sendiri untuk menemui gadis itu.


Rizal tersenyum memandangi Tasia dari jauh, sedari tadi dia diam-diam memperhatikannya, dia yang sibuk melayani satu persatu pembeli itu, Hari itu Rizal melihat begitu banyak sekali pembeli mengerumuninya.


Rizal lalu menghampiri Tasia yang tidak tega melihatnya kerepotan sendiri, lalu berinisiatif mengambilkan kantong plastik di samping keranjang besarnya itu dan membantunya berjualan disitu.


Tasia sontak terkejut melihat Rizal tiba-tiba muncul di sampingnya dan ikut duduk berjongkok di dekatnya.


"Rizal?!" serunya melongo.


"Biar aku bantu kamu ya.." ujarnya lembut dan tersenyum pada Tasia.


Gadis itu tersipu malu dan menundukkan kepalanya, lalu dengan segera mereka berdua kembali melayani pembeli-pembeli itu.


Setelah satu jam lamanya mereka berjualan. Jualan Tasia akhirnya ludes terjual semua.


Tasia sangat senang sekali waktu itu lalu memancarkan senyumannya yang indah ke Rizal.


"Terimakasih banyak ya..sudah bantu aku!" ucapnya puas, setelah dia menghitung beberapa uang lalu di simpannya di dalam tas kecilnya.


Rizal membalas tersenyum, ketika itu Rizal jadi terpana dibuatnya, sejak pertama kali bertemu dengannya, Rizal memang sudah tertarik dengan gadis yang polos dan agak judes itu, dan untuk pertama kalinya itu juga Rizal melihat dia mau tersenyum kepadanya.


Lama sekali Rizal memandangi Tasia. Matanya tak berkedip sama sekali seperti terhipnotisnya. Gadis di depannya itu terlihat seperti memancarkan cahayanya sendiri, rambutnya yang panjang terlihat berkilauan terkena sinar matahari, helai demi helai rambutnya tertiup angin dan tampak kecantikan di wajah Tasia, membuat mata Rizal tak jemu untuk memandangnya.


Tiba-tiba sebuah gerobak bapak tukang sayuran hendak ingin lewat di belakangnya, tapi Rizal yang masih berdiri di depannya dari tadi tidak juga mau menghindar.


Dan si tukang sayur itu memanggil Rizal yang hanya terdiam saja seperti patung di situ


"Hei mas! tolong minggir sebentar..saya mau lewat dulu!" sahutnya.


"Aah maaf, maaf Pak!" sahutnya tersentak kaget.


Dengan segera Rizal maju kedepannya dan tak sengaja menabrak tubuhnya Tasia sehingga wajah dan tubuh mereka saling berdekatan, Tasia kaget dibuatnya, dengan segera kakinya kebelakang mundur dan terpeleset


"Aaaaahhh..." teriak Tasia yang hampir jatuh ke belakang, Rizal spontan segera meraih pinggangnya yang ramping itu, supaya dia tidak terjatuh.


Tasia pun dengan refleks menarik kerah bajunya Rizal. Sehingga kedua mata merekapun tak sengaja bertemu, lalu menatap satu sama lain.


"Kamu tidak apa-apa?" sahut Rizal tiba-tiba membuyarkan lamunannya. Tasia terperanjat kaget dan langsung melepaskan pegangannya itu.


"E-eh iya, tidak apa-apa!" gugupnya. "ehm karena jualanku sudah habis... jadi aku harus segera pulang, maaf yaa..." Dengan tergesa-gesa Tasia lekas merapikan keranjang belanjaannya, dan terburu-buru pergi meninggalkan pria itu.


"Tunggu, Tasia!" panggil Rizal. Mendengar itu langkah Tasia terhenti seketika.


"Memangnya, apa penting ya aku balas pesanmu? kita kan tidak punya hubungan apa-apa?!" jawab Tasia terus terang.


"Tentu saja ada hubungannya, kau dan aku sudah ditakdirkan bertemu. Apa kau tidak merasa kita ini berjodoh?" ujar Rizal, mendengar itu tiba-tiba jantungnya berdebar kencang kakinya mendadak terasa kaku untuk melangkah.


Rizal menghampirinya perlahan, dan membisikkan ke telinganya.


"Sejak pertama kali bertemu denganmu...aku sudah jatuh cinta...." Rizal menghentikan bicaranya, Tasia menoleh cepat ke arah Rizal.


Rizal tersenyum manis padanya, wajah Tasia jadi merah merona.


"Aku jatuh cinta pada kue buatanmu..!" ungkapnya Rizal lagi.


"Apa?!" Tasia mengerutkan dahinya terkejut dengan ucapannya, rasa kesal dan sedikit kecewa.


"Iya aku jatuh cinta dengan kue-kue buatanmu!" ulangnya lagi.


"Jatuh cinta sama kue?" lalu Tasia tertawa meledeknya.


"Iya, memangnya apa lagi?" ujar Rizal pura-pura bodoh.


"Jatuh cinta itu ya..sama lawan jenis atau pasangan...ini malah sama kue?!" ledeknya lagi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan melanjutkan tawanya lagi.


"Hmm..kamu berbohong kan, aku tahu kalau semua kue itu buatanmu sendiri?! jangan menyangkalnya lagi...semuanya sudah kudengar dari Maya dan Supri.." ungkapnya dengan mata yang memandang lurus ke depan. Lalu menoleh kembali pada gadis itu.


"Kau bicara apa sih?!" Tasia menunduk malu karena sudah ketahuan dia berbohong, lalu dia hendak berjalan lagi pergi meninggalkan lelaki itu.


Rizal hanya berdiri dibelakangnya, lalu mengusap rambutnya ke belakang mengharapkan jawaban gadis itu.


Tasia berhenti sejenak, dia jadi teringat akan pesan dari Maya, kakaknya. Lalu dia membalikkan badannya lagi kebelakang dan menatap Rizal dari jarak 3 meter darinya.


"Besok, aku akan coba datang ke tempat kerjamu..." serunya tiba-tiba.


"Kalau bukan Kakakku yang suruh, aku tidak mau bekerja di tempatmu dan meladenimu!" lanjutnya lagi jengkel dengan wajah di tekukkannya. Setelah berbicara lalu Tasia pergi meninggalkan Rizal di sana sendirian.


Dari belakang Rizal yang mendengarnya itu langsung kegirangan sambil mengepalkan tangannya sebatas lehernya.


"Yees akhirnyaa... berhasil! Akhirnya kamu mau bekerja di tempatku juga!" sahutnya senang.


...***...


"Entah mengapa aku jadi penasaran sekali dengan gadis itu!" gumam Yogi sambil melajukan motornya itu menuju pasar.


"Aku ingin menemuinya lagi..kali ini aku harus bisa mengajaknya bekerja di cafe bersamaku.." sahutnya lagi.


Setelah sampai di pasar Yogi melihat kanan-kiri jalannya berharap dia bisa menemukan Tasia di sana. Tidak lama kemudian akhirnya dia menemukan gadis itu yang sedang berjalan sendirian di sisi trotoar.


Lekas Yogi memarkirkan motor besarnya di parkiran toko-toko disana lalu dia memilih berjalan kaki untuk mengikutinya.


bersambung...


...***...


Jangan lupa like dan komentarnya yaa..


...🌺🌺🌺...