Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Terkena Tusukkan Pisau



Bab 74


Terkena Tusukkan Pisau



"Ada apa?" tanya Rizal.


"Sepupuku di rampok preman, aku harus segera menyusulnya. Kau mau ikut?" ajak Yogi. Sambil memakai helmnya lagi.


Rizal menunduk ke jalan. Lalu dia lama berpikir tapi akhirnya dia putuskan untuk ikut dengan Yogi juga.


"Ya...aku akan menyusulmu naik mobil!" jawab Rizal. Yogi memanggut lalu jalan duluan dengan motornya.


15 menit kemudian mereka hampir sampai jembatan itu. Sebelum Yogi melewati jembatan untuk menemui Ramond, memang dia sudah melihat ada tiga preman disana sambil mengobrak-abrik barang curiannya di samping jalan.


Yogi memarkirkan motornya di pinggir jalan dan menghampiri ketiga preman itu.


Dari jauh Ramond melihatnya. "Ayo cepat sepupuku sudah sampai.."teriaknya menyuruh Tasia berjalan cepat.


"Aku tidak bisa jalan jauh lagi, kakiku sakit.." keluh Tasia.


"Aduuh...ya sudah kamu tunggu disini saja ya.." suruh Ramond.


Tasia memanggut. "Iya.."


Lalu Ramond berlari cepat ke arah Yogi.


Yogi disana sudah berdiri di hadapan mereka.


"Hei..kembalikan barang-barang curian itu.." gertak Yogi berani.


"Heh siapa dia?" tanya salah satu preman ke temannya, sambil memandang ke arah Yogi, lalu tak lama mereka tertawa mengejek Yogi.


"Yogi... iya mereka bertiga orangnya" teriak Ramond baru terlihat muncul dari sisi kanan Yogi.


Ketiga preman itu terkejut mendengar Ramond yang berteriak, lalu mereka bertiga serentak bangkit dari duduknya lalu mulai menggeram dan bersiap menghadang Yogi.


"Hooo..jadi anak itu cari bantuan ya.." geramnya.


Rizal yang baru saja sampai dia langsung menghubungi polisi.


"Iya pak, di jalan jembatan besar ada kasus perampokan,." sahut Rizal sambil memandangi Yogi yang mulai di kerumuni tiga preman itu di jendela mobilnya.


Salah satu preman mulai menghantam Yogi dengan pukulannya tapi cekatan Yogi langsung meraih dan mencengkram tangannya dan memutarnya ke sampingnya dengan kuat. Lalu di tendang-tendangnya bagian perutnya itu.


"Aaarrrrgh...aaarrgh.." teriak preman itu merintih kesakitan. Lalu berguling-guling di aspal menahan perutnya yang sakit.


Lalu yang lainnya mencoba membantunya dengan melayangkan golok di tangannya di belakang Yogi.


Rizal melihat itu, dia berteriak.


"Awass... di belakangmu!" Rizal langsung keluar dari mobilnya dan menahan perut perampok itu supaya tidak membacok Yogi.


Yogi gesit dan langsung menendang perut si perampok yang membawa golok tersebut. Dan tersungkur jatuh ke tanah.


"Yeeeay..." seru Ramond puas, ikut senang dan cepat-cepat Ramond berlari mengambil goloknya yang terpental jauh.


Tasia masih mendengar dari jauh kegaduhan itu, karena perkelahian mereka ada di seberang belokan jalan sehingga tidak terlihat olehnya.


Tasia mencoba berjalan pelan ke arah mereka karena penasaran, sambil menarik kopernya lagi.


Tinggal satu lagi preman yang masih berdiri. Yogi, Rizal, dan Ramond mulai mengerumuninya sehingga dia ketakutan seorang diri.


"A..ampun.." sahutnya pasrah, lalu berlutut dan bersujud di depan mereka bertiga.


"Kapok kamu ya...ha ha" puas Ramond.


Saat Yogi ingin memukulnya preman yang menyerah itu, dengan mengepalkan baju si preman. Suara teriakan nyaring memekikkan telinga mereka bertiga.


"Aaaaaaah...."


Tasia di seret ke arahnya yang baru saja datang melihat mereka.


"Kalian semua berhenti!" teriak salah satu preman yang masih sanggup berdiri itu. Semua serentak melihat ke arahnya.


Mata Rizal dan Yogi terbelalak melihatnya terkejut. "Tasiaaaa!" teriaknya bersamaan.


"Bagus..kawan..." sahut kedua teman premannya, lalu mereka berdua berjalan mendekati temannya yang menyandera Tasia.


Tasia tercengang dia pula terkejut ternyata yang berkelahi dengan para preman adalah Rizal dan Yogi.


Tangannya gemetaran memegang tangan kekar preman yang membekap bahu Tasia kencang dan erat.


"Le-lepaskan dia!" teriak Rizal ikut panik. Ketika istrinya di sandera preman itu. Rizal perlahan mendekati preman yang menyandera Tasia.


Tubuh Tasia di bawa-bawanya preman itu, dan mulai masuk ke dalam mobil Rizal yang tidak terkunci.


"Kalian mau kemana? lepaskan dia.." pinta Rizal lagi memohon meratapi Tasia.


Kedua temannya menjaga di depan pintu mobil. Setelah temannya sudah masuk ke mobil bersama Tasia.


"Ayo berikan semua barang kalian atau tidak dia akan mati"ancamnya lagi. Menyuruh Rizal, Yogi dan Ramond mengeluarkan semua benda berharganya.


"Emmmm...emmm" Tasia menangis menggeleng-gelengkan kepalanya. Mulutnya ditutup kencang tangan preman itu.


Yogi tidak bisa berbuat apa-apa lagi dia juga ketakutan preman itu akan melukai Tasia. Mereka semua jadi panik dan tergugup.


"Dengarkan...aku akan berikan kartu tanpa batas semuanya untuk kalian termasuk mobilku itu, asalkan kalian mau benar-benar melepaskan istriku..." tiba-tiba tawar Rizal.


Mata mereka tiba-tiba tergiur dengan tawaran Rizal.


"Benarkah?" sahut salah satu preman.


"Iya..." lalu Rizal mengambil dompet di saku celana kerjanya, dan merogoh black card di dalam dompetnya. "Ini...apa kalian tidak tertarik?" memamerkannya pada mereka.


Ketiga preman itu berpikir lama. Lalu akhirnya mereka setuju. Salah satu preman menarik kasar lengan Tasia keluar dari mobilnya lagi.


"Aah..." rintih Tasia yang masih sakit dengan kakinya yang lecet.


"Baiklah ayo sinikan barangmu itu!" sahut preman tidak sabaran.


Ketika mereka mau membarter Tasia dengan black card milik Rizal. Seketika itu terdengar suara sirine mobil polisi mengarah ke tempat mereka. Lantas ketiga preman itu jadi panik dan ketakutan.


"Kalian...memanggil polisi? Brengsek!" geramnya.


Lalu salah satu preman mengambil cepat black card di tangan Rizal dan keduanya masuk ke dalam mobil Rizal.


Sementara Tasia belum juga di lepas. Preman yang menyandera Tasia sangat kesal karena mereka memanggil polisi, lalu dengan cepat di tusuknya pisau itu ke sisi perut kirinya Tasia. Lalu di dorong jauhnya Tasia ke depan Rizal.


"Aaaaaaa...."jeritnya kencang.


"Tasiaaaa...." mereka serentak memanggil Tasia.


"Itulah akibatnya kalau memanggil polisi" geramnya.


"Brengsek kau, bajingan!" Teriak Yogi lekas mengejarnya tapi tidak sempat karena preman yang menusuk Tasia cepat-cepat menaiki mobil Rizal, dan mereka dengan cepat melajukan mobilnya itu.


Lalu mobil polisi yang baru saja muncul di tengah-tengah mereka pun, langsung mengejar cepat preman itu setelah di beritahukan Ramond. Lalu Ramond segera menelepon rumah sakit untuk mengirim ambulance ke tempat itu.


Yogi mencari-cari bantuan di sekitar jalan siapa tahu ada mobil yang lewat dan minta tumpangan.


Rizal memeluk tubuh Tasia yang tergeletak di aspal.


"Tasia bertahanlah..." Rizal menatap wajah Tasia merana. Air mata Rizal berhamburan keluar di matanya. Tangan Rizal gemetaran, tak bisa di hentikan lagi pisau itu sudah menusuk ke dalam perut Tasia.


Tangan Tasia sudah bersimpuh darah karena tusukkan di perutnya. Pandangannya melolong ke arah Rizal. Mulutnya sulit berucap. Menahan sakitnya di perut.


"Hhh...a-aku, Rizal...a-aku akan ma-ti..kah.." tanyanya terbata-bata.


"Ti-tidak...sayang...sayang kau harus kuat..kau tidak akan mati!" jawab Rizal menggeleng-gelengkan kepalanya.


Pandangan Tasia mulai kabur, dan tubuhnya mulai melemah lalu perlahan-lahan Tasia menutupkan matanya.


"Tasia...Tasia...ayo bangun...sayang? Tasia" teriak Rizal mulai panik. Digoyang-goyangkan pipi Tasia supaya bangun lagi.


Yogi dan Ramond ikut panik dan gelisah melihatnya. Tak ada mobil satupun yang lewat disana, dan ambulance pun belum juga datang.


"Tasia..." teriak Rizal mulai putus asa.


bersambung...


...***...