
Bab 72
Menghilang di Kota Jakarta
Mata Rizal tercengang membulat ke arah Tasia yang sudah ada berdiri di depan lorong kantornya. Spontan Rizal langsung melepas tangannya yang masih merangkul bahu Shanti, lalu dia mendorong pelan Shanti ke sampingnya supaya menjaga jarak dengannya.
"Ta-Tasia?" gelagapnya. "Ke-kenapa kamu ada disini?"tanyanya terheran-heran dan mulai panik.
Mata Tasia memerah dan mulai berkaca-kaca, memandangi suaminya bersama wanita lain, tak percaya dengan penglihatannya sendiri. Dia merasa kehabisan suara untuk menjawab pertanyaannya Rizal, dia langsung membalikkan badannya sigap, dan berjalan cepat-cepat meninggalkan Rizal dengan wanita itu di koridor dengan menarik kopernya yang lumayan berat.
"Tasiaa..." panggilnya berteriak. Namun Tasia tidak menghiraukan Rizal yang memanggilnya. Air mata Tasia berhamburan dibiarkan keluar karena sulit ditahannya lagi. Dia terus mencoba berlari secepatnya menjauhi Rizal. Tetapi Rizal juga begitu cepat berlari dan segera menahan kopernya Tasia menghentikan jalannya.
"Tu-tunggu kamu mau kemana?" tanyanya lari dengan tersengal-sengal. Di raihnya lengan kanan Tasia. Setelah Tasia berhenti karena kesulitan menarik kopernya yang di tahan oleh Rizal.
"Lepaskan aku!" teriaknya tegas. "Jangan pegang-pegang aku!" bentaknya lagi penuh amarah.
"Baiklah...aku tidak akan memegangimu lagi..." Rizal melepas tangannya lalu sedikit menjauh supaya Tasia tenang. "A-aku cuma ingin tanya, kenapa kamu bisa ada di Jakarta?"
Tasia segera membuka resleting depan kopernya dan mengambil lembaran kertas poto Lia yang dia sobek di majalahnya kemarin.
"Ini!" melempar kencang ke dadanya Rizal lembaran itu.
"Aku datang kemari memang sengaja menemuimu untuk menyelidiki kamu..karena cincin kalian sama persis" terangnya tersenyum paksa.
"Ha ha ha.." tawanya palsu menahan rasa sakit hatinya. "Kamu hebat sekali ya.., kamu bukan cuma bertunangan dengan Lia saja.. tapi kamu juga berani selingkuh dengan wanita lain dibelakangku.." ungkapnya lirih dan mulai menjatuhkan lagi air matanya.
"Tasia...biar aku jelaskan itu semuanya kepadamu...ya.." sahut Rizal gelisah, mencoba menenangkan hati Tasia yang dipenuhi emosi karena cemburu.
"Tidak perlu! dari awal kau sudah membohongiku, buat apa aku harus percaya juga dengan penjelasanmu itu?" pekiknya.
Tasia tak tahan melihat mukanya Rizal, lalu dia bergegas pergi meninggalkannya lagi.
Rizal termangu dan menatap poto Lia di lembaran majalah. Lia yang memakai cincin pertunangan mereka.
"Haah sial!" geram Rizal, sambil meremas-remas lembaran poto itu.
Shanti yang melihatnya dari jauh langsung menghampiri Rizal dengan tergesa-gesa.
"Pak.." sahutnya ikut cemas.
Lalu di pegangnya pundak Rizal lembut. Rizal menghempas tangan Shanti agar tidak memegangnya lagi.
"Kita batalkan pertemuan itu..." ujar Rizal datar.
"Ta-tapi Pak kita sudah terlanjur.." bicaranya terputus karena Rizal cepat menyelanya.
"Aku bilang batalkan..ya batalkan..!" bentak Rizal memandang Shanti dengan tatapan yang tajam. Shanti terkejut jadi ketakutan dengan atasannya yang berubah ekspresi itu.
"Em..b-baiklah Pak.." jawab Shanti jadi gugup.
Rizal lalu membuang lembaran itu ke tong sampah di samping koridor, dan menyusul Tasia keluar dari kantornya.
Shanti melihat lembaran kertas di tong sampah yang di buang Rizal.
"Siapa wanita tadi, kenapa begitu marahnya karena melihat poto tunangannya Pak Rizal..?" gumamnya mengerutkan dahinya.
Tasia terus berlari keluar gedung kantor tiada henti dan lelah. Dadanya mulai sedikit sesak dan rasanya seperti kehilangan oksigen. Nafasnya mulai tersengal-sengal. Namun dia tetap memaksakan dirinya terus berlari agar Rizal tidak mengejarnya lagi.
Setelah benar-benar jauh dari gedung kantor Rizal, dia mulai berjalan pelan di trotoar. Dengan raut wajah yang sedih, tangan kanannya yang pegal terus menarik koper dorongnya itu, sesekali pegangannya di ganti dengan tangan yang satunya lagi. Setelah lama berjalan dia akhirnya menemukan tempat duduk di samping jalan. Tasia mulai melepaskan lelahnya dengan beristirahat sejenak di sana. Kaki-kakinya mulai lecet karena terus berlari tadi.
"Aww.." rintihnya saat melepas sepatunya perlahan.
"Ya..ampun kakiku sampai begini..?" keluhnya.
Hari sudah malam Tasia melirik samping kanan kirinya tidak seorangpun yang lewat di sana, hanya beberapa kendaraan saja yang melewatinya di jalan raya. Dia tampak mulai kesepian ditambah lagi perutnya mulai keroncongan.
"Aduuh aku lapar sekali.." gumamnya. Tapi sayangnya tidak ada tukang jualan dekat sana bahkan tempat makan juga masih lumayan jauh dari tempatnya duduk.
Tasia terpaksa memakai sepatunya kembali dan berjalan beberapa meter lagi untuk sampai ke arah rumah makan tersebut.
###
"Kenapa Tasia bisa sampai ke Jakarta? semua rencanaku jadi gagal total, kenapa Yogi tidak mencegahnya untuk tidak kemari?" gerutunya. Lalu diambilnya ponsel Rizal dan dia menelepon Yogi sambil menjalankan mobilnya.
Lalu teleponnya mulai terhubung ke Yogi.
"Hallo?" sahut Rizal kencang.
Yogi menyahut. "Ya ada apa?"
"Apa yang kau kerjakan disana? kenapa Tasia bisa ada di Jakarta?" bentaknya kesal. Sambil melirik jendela kanan-kiri mencari keberadaan Tasia.
Yogi pasrah "Aku tidak bisa mencegahnya..dia tadi pagi nekad ke Jakarta. Dan aku sekarang juga baru sampai ingin menyusulnya." terangnya.
"Tasia menghilang, sekarang dia terlihat marah sekali padaku...rencana awalku semuanya jadi gagal karena kedatangannya..cepat kau bantu aku untuk mencarinya.." suruh Rizal geram.
Yogi tercengang "Apa? kenapa kau bisa kehilangan dia?" herannya. "Baiklah nanti aku pinjam motor sepupuku setelah sampai." sahutnya lagi ikut cemas.
Lalu Yogi segera menutup ponselnya dan setelah sampai di antar taksi Yogi segera mampir ke apartemen sepupunya.
Dia lalu menekan bel beberapa kali menunggu sepupunya keluar. Tapi lama sekali keluar.
"Sebentar..." teriak seorang pria di dalam apartemen itu tiba-tiba setelah 15 menit berlalu.
Lalu di buka pintunya lebar.
"Kenapa kau lama sekali?" tanya Yogi ketus langsung nyelonong masuk ke apartemen sepupunya itu, dan menyimpan tas gendongnya di kursi tamu. Pria itu berjalan mengikuti Yogi dari belakangnya setelah menutup pintu rumahnya.
"Aku habis mandi...ya tentu saja lama..." jawabnya.
"Mandimu itu sudah seperti wanita yang sedang luluran.." ejek Yogi. Dia tertawa terbahak-bahak mendengar olokan Yogi.
"Bisa saja kau..." tawanya.
"Mana kunci motormu? aku pinjam dulu semalaman ini.." pinta Yogi langsung, sambil memakai sarung tangannya dan membetulkan jaket kulitnya.
"Kau baru saja datang, sudah mau pergi lagi? apa gak capek?" kilahnya lalu melempar kunci motornya ke Yogi, gesit di tangkapnya kunci motor yang melayang ke arahnya.
"Aku sedang mencari seseorang...aku khawatir dia dalam bahaya..." ujarnya Yogi nampak serius.
"Wiiih...siapa tuh? soal wanita lagi?" celanya.
"si Tari saja kamu masih gantungin tuh, sampai kering.." ejeknya menyindir mantan Yogi.
"Ramond...berhenti mengolokku...sekarang aku bukan yang dulu lagi.." ketus Yogi pada Ramond dengan tatapan serius.
"Ya..ya benarkah?" pekiknya sambil mendekap tangan di dadanya dan melirik matanya Yogi. "Aku sih belum percaya seratus persen padamu...ha ha ha" ejeknya diiringi tawanya yang menyindir.
Yogi melempar muka Ramond dengan bantal sofa. "Terserah kau saja!" kesalnya lalu dia mengambil helm Ramond di meja dan segera keluar menaiki motor sepupunya itu.
Ramond menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ck ck ck Yogi.. Yogi...dasar playboy ingusan.." ejeknya setelah Yogi keluar dari apartemennya.
Di lihatnya jam dinding waktu sudah pukul setengah sembilan malam, Ramond jadi lupa belum makan. Dia lalu terpaksa berjalan kaki keluar mencari makan.
"Huuuft..." menghembuskan nafasnya kasar. "Terpaksa berjalan kaki..." keluhnya sambil mengangkat bahunya.
###
Setelah sampai rumah makan dengan susah payah berjalan dengan kakinya yang lecet, akhirnya Tasia bisa dudukkan di kursi rumah makan itu, dia lalu memesan satu porsi nasi dan lawuhnya.
Sambil menunggu pesanan datang, dia kembali melamun dan memutar-mutar cincin di jari manisnya, cincin pernikahannya itu bersama Rizal. Lagi-lagi dia kembali meneteskan air matanya.
'Dasar...playboy..kau sama saja seperti lelaki yang lainnya, mulutmu manis tapi pada akhirnya kau juga sama menyakiti hati...' kesalnya dalam bathin.
Tasia memandang ke jalan raya. "Sekarang aku harus pergi kemana? aku tidak mungkin ke rumah orangtuanya Rizal. Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi..." tuturnya pelan, mengusap-ngusap air matanya di pipi.
bersambung...
...***...