
...Bab 19...
...Koki Baru...
Malam hari itu, Tasia menceritakan semuanya di meja makan. Bahwa besok dia akan mulai bekerja di sebuah Cafe Cake milik teman kuliahnya Kak Supri, suaminya Kak Maya.
"Benarkah itu? tentu ibu sangat senang sekali Tasia. Bekerjalah yang baik..Ibu yakin Cafe milik temannya Supri pasti akan laris, setelah kamu jadi kokinya disana." sahut Ibunya ikut senang, akhirnya Tasia tidak harus berpanas-panasan berjualan lagi di pasar.
"Aah...Ibu ini terlalu berlebihan" sahut Tasia.
"Irna mana Bu? gak ikut makan dengan kita" tanya Tasia.
"Dia di kamarnya mungkin sedang mengaji.." sahut Ibunya.
"Ooh... bagaimana pekerjaannya di rumah, apa tidak ada masalah kan?" tanya Tasia, Ibunya menggeleng-gelengkan kepalanya, dia merasa puas dengan pekerjaan Irna.
"Irna anaknya baik dan rajin..Ibu suka dengannya" ujar ibunya.
"Oh, syukurlah kalau ibu menyukainya...jadi Tasia benar-benar akan tenang meninggalkan ibu di rumah sendirian, nantinya." Sahutnya.
Setelah selesai makan malam bersama Ibunya, Tasia pergi ke kamar mandi untuk sikat gigi malam, lalu hendak tidur supaya besok pagi tidak bangun kesiangan.
Saat hendak memejamkan matanya, Handphonenya tiba-tiba berdering. Ternyata itu panggilan dari Rizal. Tasia segera mengangkat teleponnya itu.
"Hallo..."
"Hallo Tasia, kau belum tidur?"
"Belum...ada apa yaa?"
"Besok, apa perlu aku jemput kamu ke rumahmu?"
"Tidak perlu, aku sudah tahu alamatnya..jadi aku datang sendirian saja. Pukul 7 aku kesana."
Rizal kembali berseri-seri hanya dengan mendengarkan perkataannya membuat semangatnya kembali muncul.
"Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi...aku tutup ya teleponnya. Sekarang aku mau istirahat!" Sahut Tasia yang memang sedikit lelah.
"Ah..iya baiklah.. selamat malam..selamat tidur.." sahut Rizal.
"iya..se-sela-mat malam juga.." jawab Tasia tiba-tiba tergugup ketika Rizal mengucap selamat malam padanya.
Setelah menutup handphonenya dia menyimpannya di atas meja. Tasia membaringkan lagi tubuhnya di kasur.
"Ini kenapa yaa?? kok dia buat hari-hariku jadi gelisah begini? semenjak kejadian tadi di pasar..hatiku kok jadi tidak karuan begini?!" gumamnya sendiri. Dia jadi teringat akan tatapan mata Rizal terhadapnya, pandangannya yang hanya melihat ke arahnya saja.
"Tidak..itu tidak mungkin...! tidak mungkin kalau aku bisa suka dia..! ucapnya, tersipu malu sendiri, di kamarnya.
...***...
Yogi termenung sendiri di ruang kerja Rizal sambil duduk rebahan di sofa, dengan menatap kosong pandangannya ke arah televisi. Malam itu memang Yogi dan Rizal berada di Cafe mereka. Mereka sudah terbiasa tidur disana.
Cafe tempat mereka bekerja sudah seperti rumah bagi mereka sendiri.
Rizal yang hendak mengambil air minum di kulkas, melirik sahabatnya itu yang sedang melamun dari tadi. Dikibas-kibaskan tangannya ke pandangan Yogi. Namun matanya tetap lurus ke depan tak bergerak.
"Hei kau kenapa?" pekik Rizal mengeraskan suaranya. "Dari tadi kerjaannya melamun terus!"
Sontak Yogi terkejut, suara kencang Rizal membuyarkan lamunannya.
"Kalau TV nya gak ditonton mending di matiin saja, hemat listrik!" gerutunya sedikit kesal dengan kelakuan sahabatnya itu. Dengan segera Rizal merebut remote yang ada di tangan Yogi, lalu mematikan TV-nya.
"Haaaah..hari ini aku sedang badmood! ketemu Nia jadi berantakan semua rencana ku, dia malah menghancurkan privasiku sebagai pria idaman!" celotehnya tiba-tiba tidak karuan sambil menggaruk-garuk seluruh kepalanya dengan kedua tangannya.
"Kau ini sedang membicarakan apa sih? mending kau cepat istirahat sana. Besok kita akan kedatangan tamu spesial, dia akan membantumu bekerja di dapurmu. Jadi... bersiap-siaplah kita akan meraih keuntungan besar!" sahutnya dengan mengangkat kedua alisnya mendelik ke arah Yogi.
"Maksudmu?" tanya Yogi penasaran.
"Besok, Tasia akan mulai bekerja di tempat kita!" sahutnya lagi tersenyum lebar. Mata Yogi melongo tidak percaya mendengar pernyataan Rizal, tiba-tiba yang tadinya, dia tengah murung mendadak hatinya menjadi berbunga-bunga.
"Benarkah apa yang kau katakan?! besok Tasia mau kesini?" dia langsung terperanjat berdiri dan memegang bahunya Rizal. Rizal mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Haaah mati aku" langsung menepok jidatnya sendiri teringat kemarin siang.
"Kenapa, bukankah harusnya kamu senang dengan kedatangan dia?" tanya Rizal.
"Tidak apa-apa..aku cuma mau istirahat dulu!" ujarnya pelan.
Rizal terheran-heran dengan sikap Yogi yang tidak biasanya itu. Tapi dia tak memikirkannya,, yang tengah di pikirkannya hanyalah hari esok, akhirnya gadis penjual kue itu akan bekerja di tempatnya.
...***...
Pagi itu, Tasia pergi ke sebuah kota dengan diantar ojek motor.
Setelah sampai di sebuah Cafe besar, Tasia memeriksa kembali alamatnya untuk memastikannya.
"Benar ini tempatnya!" sahutnya. Tasia masuk ke pintu gerbang Cafe. Tasia terkejut saat melihat isi halaman Cafenya penuh dengan tanaman bunga, sangat indah sekali.
"Waah ada air mancur dan patung angsa juga, seperti di Taman saja?" seru Tasia terkagum-kagum melihatnya.
Tidak lama kemudian, Lia datang dengan mobilnya lalu memasuki gerbang Cafe, hendak akan memarkirkan mobilnya itu. Tetapi didepannya ada Tasia yang menghalangi jalannya.
Tiiiiiiddddttt tiiiidddt
Lia segera mengklakson mobilnya, Tasiapun terkaget dan melangkahkan kakinya ke samping jalan.
Lia melirik gadis itu di dalam mobil, sambil melajukan mobilnya. Tasia pun tersenyum melihat ke arah Lia sambil menganggukkan kepalanya.
Setelah mobilnya diparkirkan, Lia cepat-cepat keluar dari mobilnya dan menghampiri Tasia disana.
"Maaf, ya mbak Cafenya buka jam 9, dan sekarang masih terlalu pagi, jadi Cafenya masih tutupan." ujar Lia.
"Iya...maaf mbak saya kesini bukan untuk makan, tapi saya kesini karena disuruh oleh Pak Rizal. Apa betul ini Cafe milik Pak Rizal Agung Permana?" sahut Tasia dengan menyodorkan kartu nama alamat milik Rizal.
Lia tersentak kaget, sejak kapan Rizal dekat dengan seorang gadis selain dirinya.
"Ya benar, tapi ada apa ya Rizal menyuruh Anda datang kesini?" tanya Lia penasaran.
Lia memandang Tasia dengan penuh pertanyaan, di tatapnya gadis itu dari atas hingga bawah kakinya.
Rambut Tasia yang dikepang satu diurai kesamping kanannya, juga pakaian yang dikenakannya terlihat sederhana, baju putih lengan panjang dan rok berwarna merah muda sepanjang lututnya, dan juga sepatu ballerina flat yang dipakainya, tampak seperti gadis desa.
Tentu sangat jauh berbeda dengan penampilan Lia yang ala modern itu. Sepatu berhak tinggi milik Lia bermerk mahal, juga pakaian modis yang dikenakannya model yang kekota-kotaan.
Berselang kemudian Rizal membuka pintu depan Cafenya, dan di depan pintunya sudah ada Lia dan Tasia tengah berdiri berhadapan.
Senyum Rizal melebar saat melihat Tasia sudah berada di halaman Cafenya.
"Sejak kapan kamu datang?" sahutnya.
Lia dan Tasia berbarengan menengok ke arah Rizal.
"Rizal!" ucap mereka bersamaan.
"Apa kalian sudah kenalan?" Rizal menghampiri mereka berdua.
"Lia, ini Tasia dia adalah karyawan baru kita sekarang ini, dan dia akan jadi koki baru di tempat kita bekerja!" ujar Rizal menjelaskan.
"Tasia ini Lia, dia akan membantumu membeli semua bahan-bahan kue."
Dari gerbang pintu Revan baru saja datang dengan sepeda motornya, lalu dengan gesit dia memarkirkan motornya di samping mobil punya Lia. Melihat semua sudah berkumpul di depan pintu luar Cafe, Revan segera membuka helmnya dan menghampiri mereka. Revan bertanya-tanya dengan wajah baru yang ada di sana.
"Dan ini Revan dia akan membantumu melayani pelanggan..Lalu..." lanjutnya. Rizal menengok ke belakangnya melihat Yogi juga ada disana.
"Hai Tasia selamat datang!" seru Yogi sambil melambaikan tangannya ke arah Tasia.
"Lalu..disana Yogi, kamu sudah kenal dia kan..dia dan kamu yang akan bekerja di dapur nanti!" jelasnya lagi.
bersambung...
...***...
Jangan lupa like dan komentarnya yaa ..
...🌺🌺🌺...