
...Bab 45...
...Hilangnya Kalung Pemberianmu...
"Bagaimana, sudah ketemu?" tanya Yogi kepada teman-temannya, sambil berjongkok di tepi danau, mereka membantu Yogi mencarikan kalung Tasia yang terjatuh di dasar danau kemarin.
Mereka menggelengkan kepalanya, hasilnya nihil. "Kami sama sekali tidak melihat ada kalung hati di dalam sana" sahut salah satu temannya setelah lama muncul di dalam air. Tasia mendengarnya kecewa lalu berjalan agak pincang menjauhi danau, Yogi mengikuti jalan Tasia di belakangnya.
"Kami sudah berusaha, tapi mau bagaimana lagi kami tidak menemukan kalungmu..." sesal Yogi. Tasia duduk di batang pohon lalu segera menutupi kedua matanya, dan menangisinya.
"Sudahlah jangan bersedih lagi...kamu cuma kehilangan sebuah benda, nanti juga kamu bisa beli lagi kan?" saran Yogi nyengir mencoba menghiburnya. Tasia malah semakin kencang saja menangis mendengar saran dari Yogi, Yogi yang tidak tahu kalau kalung itu adalah pemberian dari Rizal, tentu itu sangat berharga sekali buat Tasia. Yogi langsung menepuk bahu Tasia dan duduk disampingnya.
"Aduh sudahlah kamu jangan menangis, kamu itu seperti anak kecil saja yang kehilangan mainan! nanti kita beli lagi saja ya.." rayu Yogi tersenyum lebar mencoba untuk menghiburnya, tapi cara hiburnya malah membuat Tasia tambah kesal.
"Apa! anak kecil katamu?" gerutunya, dengan cepat menoleh ke arah Yogi dan melepaskan tangan Yogi di bahunya lalu memukul pundak Yogi kencang.
"Aww!" rintih Yogi sambil mengelus-elus pundaknya sendiri yang dipukul Tasia. Pukulan Gadis itu memang terkenal kuat sekali dari dulu.
"Kamu itu gak akan pernah mengerti, kalung itu pemberian Rizal untukku, tentu saja itu sangat berarti sekali buatku!" pekiknya lagi tersinggung. Lalu dia pergi meninggalkan Yogi dengan kakinya yang masih pincang, dan menaiki mobilnya.
"Tasia..Tasiaa..." panggilnya. "Wah dia benar-benar marah sekali, pantas saja ternyata kalung itu dari kekasihnya" menaikkan alisnya seraya menggaruk rambut kepalanya sedikit bingung. Setelah melihat Tasia sudah menaiki mobilnya. Lalu Yogi kembali berlari ke arah danau menghampiri teman-temannya lagi, yang masih berenang berusaha mencari kalungnya Tasia.
"Jalan bang, arah pulang ya.." pinta Tasia dengan suara serak basah karena menangis terus. Bang Mail langsung menyahutnya dan menuruti perintah Tasia.
Setelah mobil di jalankan bang Mail, Tasia menatap ke arah luar jendela. Dia jadi teringat akan pesan Rizal dulu padanya agar selalu menjaga kalung pemberiannya itu.
'Percayalah padaku, jika kamu ingin selalu aku setia cinta padamu, jagalah baik-baik kalung hati pemberianku ini...jangan pernah kau lepas..maka aku pun akan menjaga cintamu, sampai nanti kita bertemu lagi di sini...di kota ini...' ucap Rizal.
Bayangan Rizal dalam lamunannya Tasia.
'Maafkan aku Rizal, aku tidak bisa menjaga kalung pemberianmu..sekarang aku harus bagaimana? kalung itu benar-benar telah hilang...' batinnya gundah, menutup lagi matanya dengan tangannya yang terus saja mengeluarkan air mata.
#
#
#
Rizal masuk perlahan ke kamarnya Raffi yang tidak terkunci, dia melihat Kakaknya yang masih terduduk menyenderkan punggungnya di kursi luar teras kamarnya dengan menumpukkan kedua kakinya di atas meja, sambil menatap langit terlihat seperti tengah direnungkannya.
Tapi dia menyadarinya kalau Rizal sedang memperhatikan dirinya dari tadi.
"Masuklah, tidak perlu mengendap-ngendap seperti seorang pencuri..." ujarnya kepada Rizal.
"Kak Raffi sudah tahu aku ada disini?" tanya Rizal, Raffi menoleh ke Rizal sebentar.
"Aku sudah tahu...dari tadi!" melemparkan senyuman sendu ke adiknya. Baru kali itu Rizal mendapatkan senyuman seperti itu dari kakaknya sendiri, yang dulu biasanya Raffi selalu tersenyum mengejek dan merendahkan dirinya.
"Kau kembali kesini ingin menertawakanku? tertawa saja...aku pantas menerimanya!" sahut Raffi pasrah.
"Ini bukan kakakku yang kukenal..kau tidak seperti ini biasanya..." ujar Rizal, sedikit mengejek untuk menghibur suasana hatinya. Raffi menurunkan kedua kakinya ke lantai lalu menundukkan pandangannya ke bawah.
"Aku tahu aku dulu sudah meremehkan kemampuanmu dalam hal kepintaran. Dulu aku terlalu di butakan dengan kesombongan. Aku merendahkan nilai-nilai di sekolahmu. Aku yang selalu memandangmu lemah, kenapa aku sampai berpikir begitu dulu? aku menyesal semuanya akibat dari kesombonganku dan ambisiku yang ingin mengendalikan perusahaan Ayah sendirian, tapi pada akhirnya sekarang aku rasakan sendiri. Tuhan tengah menegurku dengan melalui perusahaan Ayah kita yang tiba-tiba saja turun anjlok akibat kesalahan besarku sendiri" ungkapnya lirih dan menyesali.
Rizal prihatin mendengar Raffi mengatakan itu, dia jadi tidak tega untuk membalas perlakuannya dulu selama ini pada Rizal.
"Sudahlah kak, tak perlu banyak dipikirkan lagi..sebaiknya kau harus berusaha memperbaiki kesalahanmu dan semangat merintisnya kembali, belajarlah dari kegagalan" hibur Rizal.
"Aku ingin ke luar negeri dan berlibur diri untuk menenangkan hatiku, aku sudah tidak di butuhkan di perusahaan Ayah lagi oleh mereka, aku resign jadi pengganti Ayah" lirihnya. "Kenapa Ayah menginginkanmu segera pulang? apa kau tidak tahu maksud Ayah?"tanyanya. Rizal menganggukan kepalanya. Dia jelas tahu maksud Ayahnya agar Rizal mau menggantikan posisi Raffi.
"Ya...Ayah ingin kau menggantikan aku" jelas Raffi.
"Berjanjilah padaku kau akan memulihkan lagi perusahaan Ayah kita agar kembali berkembang pesat seperti sedia kala.." menatap Rizal dan mengharapkan bantuannya.
Rizal memandang kakaknya luluh, tidak tega untuk menolak permintaannya. Rizal lama terdiam menjawabnya. Namun pada akhirnya dia setuju untuk menggantikan posisi kakaknya menjadi direktur Perusahaan Tambang terbesar milik Ayahnya itu, perusahaannya yang bernama Bayan Resources yang sudah terkenal sampai ke mancanegara.
_______________________________________________
Esok paginya Rizal dan Ayahnya pergi ke perusahaannya berdua dengan diantarkan mobil pribadinya Hendra. Semua orang di perusahaan itu memandang ke arah Rizal yang baru saja datang berjalan tegap dan gagah di belakang Ayahnya yang di dorong asistennya dengan kursi rodanya.
Penampilan Rizal pagi itu begitu memukau banyak orang, dengan rambut yang tersisir rapi kebelakang serta pakaian jas kerjanya yang elegan berwarna hitam, sehingga semua karyawan wanita terpana dan berbondong-bondong melirik ke arahnya yang tidak ada bosannya.
Mereka jadi bertanya-tanya dengan temannya masing-masing, siapakah pemuda tampan yang berada di belakang Atasannya itu. Rizal memang baru kali itu menginjakkan kakinya di kantor perusahaan milik Hendra, Ayahnya. Sehingga mereka tidak mengenali bahwa dia adalah putra kedua Hendra Permana Wijaya pemilik Perusahaan Pertambangan terbesar.
Hendra di dorong asistennya menuju ruang rapat besar Ayahnya, Hendra memperkenalkan Rizal dan resmi menobatkan putra keduanya sebagai Direktur utamanya sebagai pengganti Raffi. Semua terkejut setelah mengetahui siapa Rizal sebenarnya, mereka yang belum pernah melihat keberadaan putra kedua Hendra selama bertahun-tahun ini terkagum padanya, selama ini mereka hanya tahu Raffi anak pertamanya.
"Mulai hari ini putra keduaku ini akan resmi bekerja sebagai Direktur pertambangan di Bayan Resources ini, dan mohon dukungan dan kerjasama dari kalian semua untuk menerima kehadirannya di perusahaan ini" usai pidato dari Hendra Permana Wijaya.
Semua bersorak dan bertepuk tangan kepada Rizal, dia disambut baik oleh seluruh pegawai-pegawai disana. Mereka satu-persatu bergilir menjabat tangannya Rizal.
"Selamat Pak Rizal.." sapa manager dan semua staf disana, ikut senang dengan kehadiran Rizal.
bersambung....
...***...
Jangan lupa like and komentarnya ya...
...🌺🌺🌺...