Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Mencarimu



Bab 51


Mencarimu


Tasia berlari cepat menuju luar Cafe tanpa memperdulikan orang-orang di sekitar yang tengah memperhatikannya itu. Air matanya terus berhamburan keluar setelah meninggalkan Rizal di ruangan kerjanya.


Yogi dan Revan yang baru saja turun di lantai atas dengan menaiki lift, setelah diberi tahu bawahannya kalau Rizal sudah pulang. Mereka berdua langsung berjalan menuju ruangan Tasia. Saat di koridor mereka bertemu, dari jauh Yogi memandang Tasia yang berlari akan melewatinya sambil menangis. Tapi refleks Yogi langsung mencekal tangannya Tasia saat berpapasan dengannya.


"Tasia, heh kau kenapa?" Yogi menahannya untuk tidak berlari lagi dan bertanya-tanya heran padanya.


"Lepaskan tanganku" sela Tasia pada Yogi, dengan suara serak basah, sambil memejamkan matanya lalu di palingkan mukanya itu. Revan juga heran dengan sikap Tasia, terus dia memandang ke arah depannya dan Rizal juga sudah ada berdiri tak jauh dari mereka.


"Kak Rizal? kau sudah pulang kak!" seru Revan tersenyum mengembang, melambaikan tangannya ke arah Rizal dia girang sekali melihat bosnya itu pulang.


Rizal mengedipkan mata sambil memanggut pelan tanpa menjawab dengan suara, pandangan matanya yang masih dingin menatapi Tasia dari jauh.


Yogi yang tahu Rizal sedang melihatnya, lekas-lekas dia melepas tangannya yang memegang erat lengan Tasia.


"Eh maaf" ucapnya pada Tasia.


Tasia tak menengok sama sekali ke arah belakangnya, namun dia malah kembali melanjutkan larinya, meninggalkan mereka bertiga.


Yogi menunjuk-nunjuki Tasia yang berlari pergi ke Rizal, lalu bertanya heran kepadanya yang hanya berdiam berdiri mematung seperti es balok.


"Ada apa, kalian habis bertengkar?" tanya Yogi, mengerutkan dahinya. Rizal menghembuskan nafasnya kasar, lalu dia kembali masuk ke ruangan Tasia, karena penasaran Yogi dan Revan pun juga mengikutinya dari belakang, ikut masuk ke ruangan itu.


###


Bang Mail yang sedang asyik ngobrol sambil dudukkan di temani jamuannya, dengan dua teman security nya di halaman samping cafe. Tidak sengaja melihat majikannya keluar dan melewatinya sambil menangis. Karena penasaran lalu bang Mail memanggilnya.


"Non Tasia mau kemana? biar aku antar non" mengejar Tasia ke parkiran. Tasia mencegah bang Mail mengikutinya.


"Aku mau keluar sendirian, jadi tidak perlu abang anterin ya.." pinta Tasia. Lalu Tasia keluar gerbang pergi dengan di antar taksi online, yang barusan dia pesankan mendadak.


Bang Mail memandangnya terheran-heran dan penuh tanda tanya. "Kira-kira non Tasia mau pergi kemana ya?" sambil menggaruk-garukkan kepala belakangnya. Tapi tak banyak dipikirkannya dia lalu kembali melanjutkan obrolannya dengan kedua securty di sana sambil minum kopi dan gorengan.


###


Yogi dan Revan menatapi poto-poto Tasia dengan pria lain yang berceceran di lantai. Yogi langsung mengenalinya, dan hendak akan mengangkat bicara namun tidak keburu, karena Rizal dengan cepat sudah melemparkan bunga mawar dengan kertas yang di remasnya tadi ke arah dadanya Yogi kencang sekali.


Bruukk


Yogi terkejut dan langsung memarahinya, karena lemparannya lumayan terasa sakit di dadanya.


"Heh, kenapa denganmu? datang-datang sudah tidak memberi kabar..ketemu-ketemu langsung marah-marah pada kami!" sambil mengelus-ngelus dadanya itu.


Revan tidak ikut bicara, karena melihat Rizal seperti kerasukan setan, dia jadi takut juga akan terkena amukannya.


"Selama ini kau kemana saja, heh!" tanya Rizal menatap tajam ke Yogi.


"Apa kau tidak lihat, dia di belakangku berbuat apa?" menyindiri Tasia.


Yogi membaca tulisan di kertas yang diremas bulat-bulat oleh Rizal. Dia mengangkat alisnya dan menertawakan Rizal.


"Ha ha ha ha...hanya ini saja kau sudah berani menuduhnya selingkuh" ejek Yogi pada sahabatnya yang kurang berpengalaman itu.


"Apa maksudmu?" kesal Rizal yang malah di tertawakan Yogi.


"Ini kan cuma kata-kata biasa...aku juga bisa bilang itu padanya.." celotehnya.


"Tentu aku ingat dengan pesanmu itu, aku sudah berusaha menjaga dia tapi untuk memantaunya terus itu aku tidak bisa. Memangnya aku tak butuh kerja apa? Apa kau pikir aku ini pengawalmu? seenaknya saja kau suruh ini itu..?" gertak Yogi emosi.


Revan yang menatap kedua temannya bertengkar tidak mau berkomentar apapun. Dia hanya duduk diam di sofa. Tapi dia sekilas teringat akan kejadian yang menimpa Tasia dulu.


"Bukankah dulu katanya Tasia nyaris tenggelam?" ceplos Revan tiba-tiba. "Ya aku juga dengar itu dari bang Mail" Rizal menatap ke arah Revan terkejut.


"Apa maksudmu? Tasia tenggelam? ceritakan padaku?" sahut Rizal menghampirinya dengan menggoyangkan pundaknya Revan, belum percaya dengan cerita yang di sampaikannya.


"Iya aku baru ingat itu...Dia mencari kalungnya yang jatuh di danau..lalu dia terjebak di dasar danau...dan seseorang telah menyelamatkannya" terang Yogi membantu Revan menjelaskannya.


Mata Rizal membulat mendengar cerita dari kedua sahabatnya itu.


"Kapan kejadian itu terjadi?" tanya Rizal jantungnya tiba-tiba berdebar cepat. "Kenapa aku sama sekali tidak di beri tahu?"


"Setelah dua hari kepergianmu ke Jakarta...bung" ujar Yogi kesal. "Tasia yang memintaku untuk tidak menceritakannya padamu, katanya takut kau khawatir" jelasnya lagi. Rizal termenung mendengarnya, lalu perlahan dia mengambil selendang merah punya Tasia yang terjatuh tadi di lantai.


"Dan satu lagi pria yang di poto ini adalah orang yang telah menyelamatkan nyawa Tasia di danau" tambahnya Yogi, sambil menunjuki poto Adrian di tangannya di hadapan Rizal.


Rizal mendadak terdiam bisu, matanya melotot seolah mulutnya di sumpal sesuatu. Pandangannya kosong ke satu arah. Dikepalkannya selendang merah yang dipakai Tasia tadi terus di lekatkannya ke hidung dan bibirnya, lalu dahi yang dikerutkannya.


"Hhhh Tasia...maaf...maafkan aku..." desahnya dengan bibir yang bergetar, perlahan air matanya meleleh keluar.


###


"Apa maksudmu? kau sudah gila" sahut Adrian kencang. Saat di perjalanan Adrian di telepon Lia.


"Ini adalah rencana terakhirku jika aku tidak menikah dengan Rizal maka Tasia pun tidak boleh menikah dengannya" gertak Lia di telepon.


"Ta-tapi...aku tidak berani melakukannya" sahut Adrian lagi terbata-bata.


"Hei bodoh apa kau benar-benar mencintainya?" tanya Lia jengkel.


"Tentu saja aku mencintainya.." jelasnya.


"Kalau begitu lakukan perintahku!" gertak Lia lagi emosi di teleponnya. Adrian terdiam tapi pada akhirnya dia menuruti kemauan Lia.


Lalu Adrian segera menutup ponselnya. Dan melajukan motornya menghampiri Tasia yang sedang berdiri di tepi danau sendirian.


###


Rizal berlari ke luar cafe, berharap Tasia masih belum jauh dari sana. Dia bertanya-tanya pada bang Mail.


"Tadi non Tasia naik Taksi sendiri, saya sudah tawarin mau anterin dia kemana pak, tapi dia nya gak mau saya anterin" jelas Mail.


"Ya sudah, kalau begitu aku pinjam mobilnya" pinta Rizal, Mail pun memberikan kunci mobilnya itu ke Rizal.


Rizal menyalakan mesin mobilnya dan mulai melajukannya. Dia mencoba mencari Tasia sendirian. Di ambilnya ponsel di saku jaketnya dan segera menghubunginya. Namun nomernya tidak di angkat-angkat.


"Tasia...kamu kemana?" tanyanya sendiri. Terus di cobanya lagi memanggilnya tapi tidak juga di angkat-angkatnya.


"Ayo angkat teleponnya.." resahnya.


bersambung...


...***...