Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Menolak Perjodohan 2



Bab 48


Menolak Perjodohan 2


Setelah panjang lebar Hendra menjelaskan semua tujuan kenapa mereka dijodohkan. Rizal akhirnya mengerti, semua ternyata sudah direncanakan mereka sejak dulu tanpa sepengetahuan Rizal sendiri.


Rizal meminta ijin mengajak Lia untuk berbicara empat mata dengannya. Sebelum dia memutuskan itu. Sedangkan kedua orangtua mereka pergi duluan untuk menikmati makan malam bersama.


Lia mengikuti Rizal di belakangnya berjalan keluar menuju halaman rumah, terlihat sekali raut mukanya Rizal yang memendam amarah padanya. Kini dia sudah tahu kalau ternyata Lia punya tujuan tersendiri, ketika Lia dulu selalu mencoba mendekatinya dan pura-pura membantu usaha Cafe nya di Yogyakarta itu.


"Jadi selama ini kau sudah tahu, kalau kita memang sudah dijodohkan dari dulu? berarti diam-diam kau juga telah memberitahukan keluargaku bahwa aku membangun usaha Cafeku di Yogyakarta?" sahutnya dengan nada tinggi yang menampakkan keemosiannya Rizal padanya.


"Kenapa kau berpura-pura di depanku dulu?" tanya Rizal masih belum mempercayainya "Jawab pertanyaanku Lia?" bentaknya.


Wajah Lia terlihat sangat pucat, dibentak Rizal seperti itu. Karena dirinya tidak menyangka kalau Rizal bisa memarahinya sehebat itu.


"Iya, memangnya kenapa? itu semua kulakukan karena kamu" jawabnya membela diri. "Aku rela melakukan apapun semua demi kamu.. karena aku benar-benar mencintaimu..Rizal, aku ingin kau menikahiku" sahutnya lagi mencoba untuk memberanikan dirinya mengungkapkan semua, dengan matanya yang sedikit berkaca-kaca.


"Maafkan aku Lia..tapi aku tidak bisa menikahimu" tegasnya. "Dan aku akan tetap menolak perjodohan ini"


Rizal segera memalingkan mukanya agar pandangannya tidak melihat ke arah Lia yang hampir saja menangis olehnya.


"Rizal..." Lia menyergap tangan Rizal dan tangan satunya lagi menarik pipinya dan menahannya ke arah wajah Lia, lalu mencumbui bibirnya Rizal paksa. Rizal tersentak kaget tidak percaya Lia akan berani melakukan itu padanya. Rizal spontan langsung mendorong tubuh Lia ke depannya, sehingga dia terdorong dan punggungnya menabrak dinding benteng pagar rumahnya Rizal.


"A-apa yang kau lakukan?" sentaknya. "Lia sudah berulang kali aku katakan padamu, tolong mengertilah..aku tidak pernah mencintaimu...hanya Tasia lah yang aku cintai.." ungkap Rizal lagi.


Lia tertawa-tawa kecil setelah mendengar Rizal menyebuti nama Tasia.


"Kau menyukai gadis itu, apa kau ingin tahu seperti apa dia?" gertak Lia. Rizal tidak mengerti dengan apa yang diucapkannya. Tiba-tiba saja Lia mengeluarkan sesuatu di dalam tasnya, dan mengeluarkan amplop coklat dan di berikannya pada Rizal.


"Ambillah ini..kau akan tahu siapa Tasia sesungguhnya, wanita yang sangat kamu cintai itu!" sahut Lia diiringi senyuman sinisnya. "Setelah kamu melihatnya apa kamu masih tetap mencintai dia? pikirkan itu sebelum terlambat." tambahnya lagi. Lalu Lia kembali masuk ke dalam rumah setelah memberikan amplop itu, dan pergi meninggalkan Rizal menyusul keluarganya makan malam.


Di luar balkon kamarnya, tengah Raffi sedang memperhatikan mereka berdua. Diam-diam dia mendengarkan semua percakapan mereka yang sedang di halaman rumahnya itu.


###


Rizal penasaran dengan isi di dalam amplop coklat yang diberikan Lia, lalu dia membukanya cepat-cepat.


Dia terkejut dengan menelan ludahnya lambat, ternyata ada beberapa poto Tasia bersama dengan pria lain, dan pria itu adalah Adrian.


Satu-persatu Rizal menatapi poto-poto itu dengan teliti. Tasia yang berjalan berduaan dengan Adrian di taman kota, lalu duduk berduaan di kursi taman, poto Tasia yang sedang menerima sebuket bunga dari Adrian, poto wajah Tasia yang sedang tersenyum manis saat menatap bunga pemberian dari pria itu, lalu yang terakhir poto mereka yang sedang berpandangan dan saling memberikan senyuman.


"Apa maksudnya ini semua?"


Rizal tercengang menatapi poto-poto kekasihnya itu yang tengah bersama pria lain, antara percaya dan tidak percaya menanggapi kenyataan ini. Hatinya tiba-tiba saja terasa sakit bagaikan tertusuk pisau belati. Perasaan kecewa kini mulai menyelimuti hati dan pikirannya. Poto-poto itu dijatuhkannya di pegangan tangannya sendiri lalu berhamburan ke segala arah dan tertiup angin malam kencang.


Raffi di atas balkon masih mengamati adiknya yang terlihat seperti patah hati itu. Perasaan yang tengah dialaminya sekarang sama ketika Raffi di hianati kekasihnya juga dulu. Raffi lalu segera turun ke bawah dan menghampiri adiknya itu.


Rizal mengepalkan tangannya lalu di pukul-pukulkannya ke dinding benteng rumahnya sendiri, punggung jari-jarinya hingga sampai terluka memar dan berdarah.


"Apa yang kau lakukan? hentikan!" teriak Raffi mengejutkan di belakangnya, sehingga menghentikan tingkah Rizal yang sedang kerasukan setan itu. Di ambilnya satu-persatu poto yang di jatuhkan Rizal tadi. Lalu di amatinya dengan baik.


"Sebaiknya kau temui dia dulu sebelum menuduhnya, yang kulihat poto-poto ini sama sekali tidak menunjukkan kalau pacarmu itu sedang berselingkuh" Raffi tiba-tiba saja muncul dan berkata seperti itu pada Rizal, seakan dia lebih tahu semuanya. Mungkin karena dia lebih banyak pengalaman tentang pahit manisnya cinta dibandingkan Rizal.


"Ta-tapi kak, bagaimana aku bisa meninggalkan pekerjaanku disini?" khawatir dengan pekerjaannya.


"Naik pesawat pribadiku, kau akan lebih cepat sampai sana.." sarannya lalu memberikan poto-poto itu ke adiknya lagi.


Rizal baru teringat kalau kakaknya memiliki pesawat pribadi, pesawat itu adalah hadiah ulangtahunnya dari ayahnya dulu saat dia berusia 25 tahun. Yang sekarang Raffi sudah berusia 32 tahun.


"Bersiaplah aku akan mengantarmu pergi ke sana malam hari ini, sekalian aku ingin berlibur juga ke kota Yogyakarta" sahutnya lagi, sambil berlalu pergi ke kamarnya lagi.


Rizal terharu dengan kebaikan hati kakaknya itu, tengah malam ini dia akan pergi diantar kakaknya ke Yogyakarta.


"Terimakasih banyak kak" serunya senang berubah ekspresi.


...***...


Setelah selesai makan malam Rizal menyampaikan pada semuanya, dia memutuskannya dengan berani.


"Maafkan aku Ayah, Ibu..Paman Gusti dan juga Tante Lisna..aku tidak mencintai Lia..hubunganku kepada Lia hanyalah sebatas kakak-adik.. aku sudah mencintai seseorang yang ingin aku nikahi segera.." papar Rizal terus terang.


Semua terkejut dengan ungkapan Rizal di meja makan.


"Apa katamu?" sahut Gusti dengan mengebrakkan tangannya di meja makan, membuat semua yang melihat terkaget dan ketakutan. "Persetan dengan cinta! Dengarkan, menikah itu tidak harus selalu di dasari cinta, cinta itu akan datang dengan sendirinya!" tegas Gusti. Lalu dia menoleh pada Hendra melempar raut kekecewaan padanya. Hendra pun hanya bisa diam dan mengeluskan dada kirinya, dia tidak menyangka kalau Rizal akan menolak permintaan keluarganya itu.


"Hentikan pak! pelankan suaramu. Ingatlah Tuan Hendra masih sakit.." sarannya Lisna, menenangkan suaminya itu.


Lia menundukkan kepalanya sambil mengepalkan tangannya di atas meja makan. Air mukanya basah karena air matanya menghambur keluar, kali ini Rizal benar-benar sudah keterlaluan, dia telah mempermalukan dan menolak itikad baik dari keluarganya itu.


bersambung...


...***...


Jangan lupa setelah baca ceritanya tinggalkan like dan komentnya ya...mohon bantu dukung dan semangati saya supaya bisa melanjutkan ceritanya hingga THE END..oke


Terimakasih banyak yaaa...yang sudah like and favorit novel ini..mudah-mudahan para pembaca setia selalu diberkahi dan di lancarkan rezekinya. aamiin..


🙏😊🥰