Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Menyusun Rencana



...Bab 25...


...Menyusun Rencana...


Di perjalanan Lia melajukan mobilnya dengan cepat, matanya merah menahan sakit hati dan marah.


"Tidak mungkin, aku tidak percaya itu! Aku harus segera hubungi Tante Mira, untuk mempercepat perjodohanku dengan Rizal, kalau tidak dia bisa-bisa jatuh hati dengan gadis kampungan itu" sahutnya geram, lalu menginjak gasnya kencang.


Dia berhenti di sebuah butik dekat perempatan jalan. Lalu Lia segera mengambil handphonenya di dalam tasnya. Tapi sebelum dia membuka resleting tasnya, handphone nya sudah berdering duluan. Lia cepat-cepat membuka dan melihat layar ponselnya. Dia senang ternyata yang meneleponnya adalah Tante Mira.


"Hallo? Tante, baru saja Lia ingin telepon Tante! " jawabnya sumringah.


"Lia, bagaimana perkembangan Rizal disana?" tanya Tante Mira.


"Hah... Tante ada masalah, lebih baik Tante minta Ayahnya Rizal untuk mempercepat perjodohan kami" sahut Lia tiba-tiba.


"Loh kenapa jadi ingin dipercepat? bukankah katanya dulu kamu bilang ingin bersabar menunggu Rizal, hingga dia benar-benar mencintaimu? memangnya, dia sudah mau menerimamu?" tanya Tante Mira penasaran.


"Tante, ini sudah tidak ada waktu lagi, akan kuceritakan semuanya, tapi Tante kita harus ketemu dulu. Sekarang Tante dimana? aku sudah di depan butik tempat anak Tante bekerja" jelas Lia.


Tante Mira adalah adik kandung dari Ayahnya Rizal yang kebetulan juga sahabat dekatnya Ibunya Lia (Lisna). Mereka sudah akrab dari waktu Lia SMA saat pernikahan Tante Mira yang kedua kalinya itu, dia menikah dengan seorang duda kaya raya dan memiliki satu putri. Sekarang Tante Mira sedang di kota itu yang kebetulan juga ingin mengunjungi Dian putri tirinya tersebut.


"Tante masih di hotel, baru saja sampai dan bersantai, baiklah aku kesana sekarang! kamu ngobrol saja dulu dengan Dian" ujarnya.


"Baik, Tante" setelah memarkirkan mobilnya, Lia keluar mobil dan masuk ke butik Dian.


Dian yang baru saja melayani costumernya di dalam, sekilas melihat Lia membuka pintu butiknya. Dia dudukkan di ruang depan lalu Dian melangkah menghampirinya.


"Lia?" tanyanya, "Apakabaaar?" senangnya mencium pipi kanan dan kirinya Lia.


"Baik, kabarmu bagaimana? kamu selalu sibuk yaa..." tanya Lia.


"Ya.. kamu lihat sendiri kan? bahkan anak buahku juga kewalahan menangani para costumer kami." sambung Dian.


"Ayo masuk ke dalam ruang kerjaku, ada model baju terbaru. Siapa tahu kamu menyukainya! " ajaknya sambil menggandeng tangannya Lia untuk masuk ke dalam ruangan kerjanya.


...***...


Yogi terdiam di samping luar dapur, menyenderkan punggungnya ke balik dinding itu, dan mengepalkan erat jari-jari tangannya.


'Harusnya akulah yang berada di situ Tasia' ucap dalam bathinnya sendiri.


Tiba-tiba Revan juga datang, dan masuk ke dalam. Dia melihat Yogi sudah berdiri mematung di balik dinding ruang dapur.


"Hei, kenapa kamu diam saja disitu? " celetuknya. Yogi terkejut mendengar suara kerasnya Revan.


Yogi langsung berlari menghampirinya, dan cepat membungkam mulutnya.


"Emm-emm" Revan kaget karena Yogi tiba-tiba menutup mulutnya itu.


Karena suara mereka berisik, terdengar oleh Rizal dan Tasia di dalam dapur. Mereka pun terperanjat dan segera melepaskan diri dari pelukannya. Mereka sama-sama tersipu malu. Tasia lekas membersihkan air mukanya dengan tissu. Lalu Rizal segera keluar dapur untuk melihat siapa di sana.


Tampak Yogi sudah berdiri dengan Revan disana dan mulut Revan yang masih di bungkamnya. Yogi langsung melepaskan tangannya dari mulut Revan setelah Rizal melihat ke arahnya.


"Kalian, sejak kapan datang?" tanya Rizal.


"Aku barusan kak, kalau dia dari tadi! " celoteh Revan. Yogi langsung menginjak kaki Revan.


"Aaww! " rintihnya kesakitan.


"Sedang apa kau di dapur? itu bukan tempatmu bekerja?"tanyanya masih jengkel, karena Rizal hari itu berhasil meluluhkan hati Tasia.


Rizal tersenyum meremehkan Yogi. Dia sudah tahu kalau Yogi pasti telah memergokinya bersama Tasia di dapur tadi.


"Apa maksudmu, apa kau lupa Cafe ini milikku? jadi aku juga berhak untuk melihat dapurku sendiri " jawabnya santai.


"Ayo kita mulai bekerja, semuanya sudah aku persiapkan dari tadi!" senyumnya pada Yogi.


...***...


Tante Mira yang baru saja sampai toko Butiknya Dian, dia masuk dan ingin memberi kejutan pada putri tirinya itu, bahwa hari ini dia sudah sampai di Yogyakarta.


"Permisi bu Dian, ada tamu katanya itu Ibunya bu Dian! " sahut salah satu anak buahnya Dian.


Saat itu Dian yang tengah asyik mengobrol dan memamerkan baju-baju rancangannya sendiri ke Lia, dia terkejut bahwa mama tirinya tiba-tiba datang.


"Benarkah? ya sudah suruh Nyonya masuk saja Win! " pintanya. Dia memanggut paham lalu di hampirinya lagi Ibunya Dian.


"Silahkan Nyonya, Nyonya boleh masuk! ruang kerjanya berada di sana!" sahutnya ramah, sambil menunjuk dan mengantar Tante Mira ke ruangan Dian


"Baiklah..!" jawabnya. Lalu Tante Mira berjalan masuk dan memanggil putri tirinya itu.


"Hallo Dian, putriku sayang... " serunya.


Dian tersenyum dan langsung menyerbu Ibu tirinya itu.


"Hallo, Ma.. apakabar, kenapa mama tidak bilang sudah sampai Yogyakarta? kan Dian bisa nyiapin semuanya? " sahut Dian mencium pipi mamanya.


"Mama, sengaja memberimu kejutan! Eh Lia, kamu ada disini?" sahutnya berpura-pura.


"Iya Tante, aku kan mau sekalian nyari baju baru di tempat Dian" ikut bersandiwara.


Sebelum mereka memulai percakapannya, tiba-tiba anak buah Dian sudah memanggilnya.


"Bu Dian, maaf mengganggu obrolannya ibu, ini ada costumer ingin bicara di lantai 2, dia memerlukan sesuatu. Bisa ibu sebentar menemui mereka? " sahutnya panik.


"Oh, ya sudah nanti aku kesana Win, ah Mama , Lia maaf aku tinggalkan sebentar kalian disini ya.. kalian bisa saling mengobrol dulu! " gumam Dian.


"Iya pergilah, Mama disini bisa santai dulu"


Lalu Dian pergi ke ruang kerjanya bersama bawahannya itu. Tante Mira memandang Lia penuh pertanyaan.


"Ada apa kenapa kamu di telepon tadi begitu panik? " tanyanya sambil dudukkan di sofa.


"Pipi kananmu kok kelihatan merah?" tanyanya lagi heran. saat pipi Lia sedikit memar.


"Tante, lihat kan ini buktinya. Makanya kenapa aku suruh Tante mempercepat perjodohan kami! " sahut Lia sambil menunjuk ke pipinya sendiri.


Tunggu-tunggu, Tante masih belum mengerti jalan ceritanya, kamu belum jawab pertanyaan Tante itu pipimu kenapa? tidak mungkin kalau Rizal memukulmu. Dia bukan anak yang kasar! " jelasnya langsung berdiri dari kursinya, yang masih belum percaya itu ulahnya Rizal keponakannya.


"Aku gak bilang ini ulah Rizal, Tan! tapi ini ulah gadis kampung yang bersama Rizal selama ini! " jengkelnya.


"Apa katamu, siapa? Rizal sama siapa?" terkejut.


Lia lalu menghela nafas panjangnya dan menenangkan hatinya terlebih dahulu. Lalu mengajak Tante Mira untuk duduk kembali bersamanya di sofa.


Lia lalu memulai pembicaraannya, semuanya diceritakannya kepada Tante Mira jelas dan panjang lebar. Tante Mira mendengarnya penuh antusias dan prihatin pada Lia.


"Jadi begitu? gadis itu bernama Tasia ya..! " gumamnya. "Kamu tidak usah khawatir Lia, Rizal itu hanya bisa menikah denganmu saja..tentu Tante akan membantumu untuk menyingkirkan gadis itu dari Rizal! " sahutnya lagi kepada Lia.


Lia tersenyum senang. Karena Tante Mira akhirnya mau bertindak membantunya menyusun rencana.


bersambung...


...***...


Jangan lupa like dan komentarnya...yaa...


...🌺🌺🌺...