Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Penjelasan Dokter Lucas



...Bab 81...


...Penjelasan Dokter Lucas...


"Kenapa kau tega sekali mengusirnya pulang?" kesal Tania.


"Aku menyuruhnya segera kembali ke rumah, justru ingin menyelamatkan dirinya...jika sampai Lia bertanya tentang dia siapa..masalah malah akan bertambah runyam.." sahut Hendra.


"Huh iya...tapi tidak seharusnya juga kau mengusirnya seperti itu kan..." pekik Tania.


"Hah sudahlah kau tidak akan pernah mengerti soal itu.." geram Hendra.


Selang beberapa menit setelah Hendra dan Tania berdebat membicarakan Tasia. Pintu kamar Hendra terdengar ada yang mengetuk dari luar.


tok tok tok


"Masuk.." sahut Tania yang masih sibuk membereskan pakaian Hendra, karena mereka akan bersiap pulang sore itu.


Pintu kamar pasien di bukanya pelan. Lia dan Dian masuk bersamaan dan mereka tersenyum ke arah Hendra dan Tania.


"Hallo Lia...dan kau juga Dian..?" tanya Hendra sumringah.


"Hallo..Paman, Tante..." seru Lia dan Dian barengan.


Lia dan Dian mengecup pipi kanan kiri Tania bergantian. Lalu berlanjut pada Hendra. Dian memberi Tania bingkisan pastel buah dan bunga untuk Hendra.


"Terimakasih...sudah repot-repot.." sahut Tania datar.


"Bagaimana sekarang kabar Paman?" tanya Lia penasaran setelah berdiri di samping Hendra.


"Ha ha..sekarang Paman sudah lumayan agak baikan Lia..mana kedua orangtuamu?" tanyanya.


"Mereka masih sibuk bekerja...tapi mungkin mereka akan menyusul menjenguk Paman di rumah langsung nanti. Tapi mereka juga malam sempat khawatir kok dengan keadaan Paman Hendra.." riuh Lia. "Makanya Lia langsung kesini setelah tahu Paman dirawat.."


"Hem...gadis cantik dan pintar.." puji Hendra pada Lia.


Tania cuek mendengarnya dia fokus dengan kerjaannya sendiri. Lalu dia melihat ke arah Dian dan pura-pura bertanya tentang Mira.


"Dian..kemana Ibumu? kenapa tidak datang menjenguk Pamanmu? seorang adik harusnya lebih perhatian terhadap kakaknya..bukan" sindir Tania.


"Em..itu Tante Tania, Ibu.. tidak bisa datang makanya Dian yang mewakili ibu menjenguk Paman Hendra disini.." jawabnya.


"Bagaimana sih...tahu kakaknya lagi sakit parah tapi tidak buru-buru datang menjenguknya.." ketusnya.


"Sudah..sudah biarkan saja..." jawab Hendra menghentikan Tania bicara jelek tentang Mira di depan anak tirinya itu.


###


Rizal baru saja sampai ke Rumah Sakit siang itu setelah ditelepon dari pihak Rumah Sakit mengabarkan hasil pemeriksaan obat yang di konsumsi Ayahnya itu tadi pagi.


"Bagaimana hasilnya Dokter?" tanya Rizal setelah memasuki ruang lab Rumah Sakit, dan duduk di depan meja dokter Lucas. Dokter yang selalu menangani Hendra setiap kali dia cek-up.


"Dalam botol obat milik Ayahmu, tercampur dengan jenis obat yang sangat berbahaya jika di konsumsi oleh penderita kardiovaskuler akut. Bentuk dan warna keduanya sangat mirip juga memiliki fungsi yang sama untuk sama-sama meredakan nyeri, namun jenis obat pereda nyeri ini malah akan memperparah kerja jantung itu sendiri..." terangnya menjelaskan dengan serius.


Di perlihatkannya dua pil obat yang bentuk dan warnanya sama di hadapan Rizal, lalu di simpannya di atas meja kerja Dr. Lucas perlahan. Sehingga Rizal bisa melihatnya dengan teliti.


"Ini..." sahutnya. "Terlihat sama bukan?" tanya Dokter Lucas lagi kepada Rizal. Rizal memanggut-mamggut mengiyakan dokter itu. "Orang awam akan melihat obat ini sekilas sama...tapi jika diteliti lebih lanjut ini jelas sekali berbeda." lanjutnya lagi.


"Jadi, menurut Dokter..salah satu obatnya ini?" gagapnya, mata Rizal membulat ke arah dua pil dimeja itu lalu kembali mengangkat kepalanya menoleh ke arah Dokter itu.


"Ya..ada yang menaruhnya dengan sengaja obat berbahaya itu di dalam botol obat milik Ayahmu..sehingga Ayahmu tidak sadar telah memakannya.." ungkap Dokter Lucas lagi sambil mengerungkan dahinya ketat hingga garisnya mengkerut, turut mengkhawatirkannya setelah tahu itu.


Rizal mendengus kasar setelah dengar dari penjelasan Dokter Lucas padanya. Siapa yang berani ingin meracuni Ayahnya sendiri sebegitu lihainya.


"Hah...kurang ajar, kalau sampai bertemu orangnya aku tidak akan memaafkannya Dokter.." sahutnya geram menggeleng-gelengkan kepalanya masih belum percaya soal ini.


Dokter Lucas hanya memanggutkan kepalanya ikut khawatir.


"Sebaiknya..kamu harus lebih hati-hati lagi menjaga Ayahmu..Rizal.." sarannya lagi mengingatkan.


Rizal memanggutkan kepalanya mematuhi saran dokter Lucas. Lalu dia permisi untuk kembali ke ruangan Ayahnya ingin memberi tahukan kabar buruk ini.


Namun sebelumnya dia ingin membawa obat itu sebagai bukti, lalu di taruhnya dua pil itu di plastik cetik obat oleh Rizal. Lalu dia juga meminta keterangan obat tersebut dari Dokter Lucas, sekedar ingin tahu jelas dampak bahayanya jika obat itu di minum Ayahnya dalam waktu jangka yang lama.


Rizal segera bergegas ke ruangan Hendra, sudah tidak sabar ingin segera menyampaikan berita buruk itu secepatnya pada Ayahnya. Terlintas di dalam pikiran Rizal menuduh kepada Mira, tantenya itu.


"Ini akan menjadi tambahan bukti lagi untuknya, tapi aku belum bisa mengungkapkannya dalam waktu dekat ini perlu banyak informasi lagi untuk memperkuat semua tuduhan itu kepadanya.." gumamnya sendiri sambil berjalan cepat ke arah ruangan VIP, tempat Hendra di rawat.


Rizal membuka pelan pintu kamar Hendra, dia terkejut karena ternyata Lia dan Dian sudah ada berada di kamar Ayahnya itu. Dan melihat Tasia sudah tidak berada lagi di sana.


"Nah..itu putraku baru saja datang Lia..ha ha.." celoteh Hendra saat melihat Rizal masuk ke ruangannya.


"Rizal..." serunya tersenyu mengembang.


Lia berbinar memandang ke arah calon suaminya itu, lalu dia berjalan mendekat menghampiri Rizal dan menggandengkan tangan Rizal dengan erat dan manja di depan kedua orangtuanya Rizal tanpa ada rasa malu sama sekali.


Hendra mendengarnya "Biarkan saja Lia melakukan sesuka hatinya padamu Rizal... bukankah cepat atau lambat kalian akan segera menikah juga.." gumamnya terkekeh-kekeh bingar.


"Paman Hendra memang selalu paling pengertian..." sahut Lia senang.


"Ayah..." kesal Rizal menggeleng-gelengkan kepalanya, dan Lia malah semakin agresif saja setelah tahu Hendra malah membelanya.


Tania melihatnya sebal, setelah selesai membereskan semuanya. Dia lalu cepat-cepat keluar dari kamarnya Hendra.


"Besok malam kalian berdua harus datang ke acara ulang tahun Rizal..." pinta Hendra kepada Lia dan Dian.


"Tentu saja kami akan datang kok Paman.." jawab Lia, dan Dian memanggut mengiyakan Lia.


"Ya baguslah..berarti kalian harus segera mempersiapkannya mulai dari sekarang. Karena nanti Paman dan kedua orangtuamu Lia, akan membicarakan pernikahan kalian berdua.." terangnya kepada Rizal dan Lia


Lia sontak mulutnya terbuka lebar dan menjerit, matanya kembali berbinar terang.


"Benarkah itu Paman...Aaah" teriaknya, refleks mengecup pipi Rizal dengan cepat.


Rizal kesal dengan mengusap lagi pipinya yang di kecup Lia, lalu dia melepaskan pegangan tangannya Lia di lengan kanannya, dan cepat-cepat dia keluar menyusul Tania.


Lia cemberut karena Rizal selalu saja menghindarinya.


Rizal bergegas menutupi pintu kamarnya lagi, dan melihat Tania yang sudah dudukan sambil minum di kursi ruang tunggu pasien.


"Ibu...dimana Tasia?" tanya Rizal cemas.


"Tasia..dari tadi sudah pulang..dia diusir oleh Ayahmu..sebelum Lia dan Dian kemari.." jawab Tania menggelengkan kepalanya tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Rizal menghela nafasnya kasar, lalu mengusap air mukanya cepat dan menekan pelipis dahinya kencang. Dia hanya bisa diam pasrah Hendra berbuat sesuka hatinya kepada Tasia.


'Haah sayangku...maafkan aku tidak bisa berbuat apa-apa padamu...' keluhnya di hati.


"Kenapa dia tidak menghubungi dan meminta jemputan dariku kalau sudah pulang.." ujarnya lalu segera dia merogoh ponselnya di saku jasnya itu.


Dilihatnya tidak ada pesan maupun panggilan dari Tasia yang masuk ke handphonenya. Namun hanya beberapa pesan dari karyawan kantor dan Dokter Lucas saja tadi.


"Mungkin dia naik taksi.." seru Tania. Rizal lalu mencoba menghubungi Tasia lewat pesan WA.


Rizal


Kamu dimana sekarang? aku sudah di rumah sakit


Lalu beberapa menit kemudian Tasia membalasnya.


Tasia


Kamu tidak perlu khawatir...Aku sudah pulang...tadi bertemu Yogi di jalan...dan dia yang mengantarkan aku ke rumahmu...


Rizal menghela nafas lega setelah membaca pesan darinya.


"Bagaimana?" tanya Tania.


"Iya Tasia sudah sampai rumah.."


"Heeh..syukurlah..." bernafas lega.


"Hmm..ibu sebenarnya aku ingin bicara serius denganmu.." ujar Rizal tiba-tiba.


"Membicarakan apa?" terheran.


"Ada saja..ini masalah penting"


Tania memandang Rizal heran, Rizal lalu mengajak Tania sebentar dan mengobrol dengannya memberi tahukan tentang perihal obat tadi. Mereka lalu mencari tempat untuk bisa mengobrol dengan tenang.


Setelah mereka sampai di rumah makan dekat Rumah Sakit. Rizal memperlihatkan obat dan surat itu pada ibunya dan menjelaskan semuanya satu persatu. Tania sontak terkejut dengan semua penjelasan Rizal.


"Apa? Ya Tuhan...pantas saja, Ayahmu sering mengeluh setiap habis minum obat itu, bukannya sembuh dari sakitnya tapi ini malah bertambah parah..." cebik Tania terkatung-katung semakin mencemaskan suaminya.


"Ibu...sekarang ibu harus bantu aku untuk menyelediki ini bersama..jika memang keyakinan ibu juga kalau ini semua perbuatan Tante Mira...kita harus menyelesaikan masalah ini segera.." sahut Rizal khawatir. Tania memanggut-manggut paham.


"Ibuu...Kumohon bantu Rizal, agar Rizal tidak jadi menikah dengan Lia..." pintanya dengan wajah sendu memandang dan memohon pada ibu tirinya tersebut sambil dipegangnya erat tangan Tania di atas meja di depannya.


Tania terenyuh mendengar kata-kata Rizal dia malah semakin menampakan sayangnya kepada anak tirinya itu. Entah mulai dari mana dan kapan itu terjadi, tumbuhnya rasa sayang itu. Tania tiba-tiba saja merasa ada ikatan batin terhubung dengan anak tirinya tersebut. Perlahan air matanya menetes dan terharu dibuatnya.


bersambung...


...***...


Jangan lupa like dan komentarnya...yaa


...🌺🌺🌺...