
Bab 63
Keputusan Ayah
Tidak terasa waktu terus berlalu, dan sudah tiga hari itu Tasia berada di rumahnya Rizal menunggu keputusan Hendra, namun sampai detik ini pun Hendra belum juga memutuskan apakah mereka benar-benar boleh menikah atau tidaknya.
Di pagi hari itu Tasia berada di halaman rumah kediaman keluarga besar itu bersama Neneknya Rizal.
Kejenuhan Tasia berada di rumah Rizal membuat dirinya tidak pernah bisa diam, dia selalu saja mencari aktivitas baru, setiap pagi dia memang sengaja selalu mengajak nenek Rizal jalan-jalan di halaman rumahnya supaya neneknya juga tidak terlalu bosan terus di perbaringannya.
Di dorongnya kursi roda nenek perlahan-lahan, sambil menikmati pemandangan bunga yang bermekaran, serta menghirup udara segar di pagi hari, dan sesekali Tasia juga mengajak neneknya Rizal bercanda. Lama kelamaan hubungannya dengan neneknya Rizal semakin akrab, nenek sampai tertawa terkekeh-kekeh setiap kali mendengar gurauannya Tasia.
Tidak cuma itu, selain mengajak Nenek jalan-jalan. Tasia juga selalu membantu para pelayan dan mbok Darmin memasak di dapur rumahnya Hendra. Kebiasaannya itu membuat semua para pelayan di rumah Hendra begitu sangat menyukai keberadaannya.
Di kursi halaman Tasia menyuapi nenek makan kue buatannya subuh tadi, setelah tahu kalau neneknya Rizal begitu sangat menyukai manisan. Tasia jadi ingin sekali memberikan kue buatannya untuk nenek.
"Nek..coba makanlah kue ini..." sahut Tasia seraya memotong kue itu dengan sendok kecilnya lalu perlahan di masukkannya ke dalam mulut nenek.
Nenek membuka mulutnya lebar-lebar dan melahapnya. Saat mengunyahnya pelan wajah nenek terlihat berbinar dan tersenyum bahagia menatap Tasia.
"Bagaimana enak tidak nek?" tanya Tasia penasaran.
"Emmm emm..." Nenek mendehem sambil menikmati potongan kue itu.
"Enyaaakk...he he..kau pintaar sekyali buwat kwe..nak" ujar nenek dengan suara yang berat dan serak.
Tasia senang karena nenek menyukai kuenya itu.
"Kalau nenek suka, Tasia siap kok buatin nenek setiap hari.." hiburnya.
Nenek jadi terharu dengan ucapan manis Tasia padanya serasa ada yang memperhatikannya lagi, lalu di pegangnya tangan Tasia erat-erat.
"Kamu..kapyaan...mau..meni-kah dengan Rizal?"tanya Nenek, sontak Tasia terkejut dengan pertanyaan nenek yang membuat dia merenung lama.
Dia sendiri pun tidak tahu. Setelah pembicaraan nya bersama Mira kemarin, keraguan untuk melanjutkan hubungan itu semakin jelas saja.
"Tasia dan Rizal sedang menunggu keputusan dari Paman Hendra dulu nek..."ucap Tasia melas. "Kalau Paman merestui hubungan kami, kami akan segera menikah secepatnya" jelas Tasia bimbang.
Nenek mengelus pipinya Tasia lembut. Lalu tersenyum kepadanya. Tersirat ada keceriaan di wajah keriput nenek. Semenjak keberadaan Tasia di rumahnya, hari-harinya menjadi semakin menyenangkan dan bahagia, seperti layaknya mendapatkan seorang cucu perempuan yang cantik.
Tania menatap mereka di balik tirai jendela ruangannya Hendra. Dia senang melihat nenek begitu tampak semangat hari itu, padahal sebelumnya nenek tidak pernah mau keluar kamarnya setiap Tania atau pelayan mengajaknya jalan-jalan sekedar mencari udara segar. Tetapi alhasil, bersama Tasia akhirnya dia mau di ajak jalan-jalan keluar kamarnya.
"Kau lihat itu...ibumu terlihat bahagia sekali setelah kedatangannya disini. Apa lagi yang kau tunggu..lebih baik kau segera nikahkan Rizal dengannya.." sahut Tania menggertak Hendra yang hanya diam saja tak berkutik.
"Aku belum bicara pada Rizal, aku ingin sampaikan hal penting dulu padanya..." jawabnya masih datar.
"Membicarakan apalagi? jangan kau terus undur-undur niat baik mereka. Aku yakin sekali Tasia itu gadis yang baik, di wajahnya sama sekali tidak seperti wanita matre lainnya. Dia tidak akan merugikan keluarga kita!"
"Ini menyangkut perusahaanku Tania..karena anakmu Raffi, semua jadi kacau..aku ingin Rizal hanya menikahi Lia. Hari Minggu besok dimana kita akan merayakan hari ulangtahun perusahaan keluarga kita, akan kuputuskan itu. Kau lebih baik diam, atau tidak aku akan ceraikan dirimu!" gertaknya naik darah.
Sontak Tania terdiam dengan ancaman Hendra, dia tidak bisa memaksakan lagi suaminya yang terus nekad menjodohkan Rizal dan Lia. Hanya karena Gusti adalah orang yang mampu memulihkan perusahaan Hendra kembali. Dia tega mengorbankan perasaan anaknya sendiri.
###
Rizal memasuki ruang kerja Ayahnya, malam itu Hendra ingin menyampaikan sesuatu padanya.
"Ada apa Ayah memanggilku?" tanya Rizal menghampiri Ayahnya yang masih berkutat dengan buku bacaannya.
"Duduklah...Ayah hanya ingin menyampaikan sesuatu yang penting untuk kau ketahui." paparnya.
"Apa itu Ayah..." Rizal segera menurunkan dirinya ke kursi.
Hendra terdiam menatap sejenak pada putranya, Rizal. Ada semburat, sedikit sesal di dirinya terhadap Rizal. Tapi inilah keputusan yang tepat yang harus dilakukannya dan putranya itu mau tidak mau harus menerima kenyataan itu.
"Buka dan bacalah ini... di dalamnya, kau akan mengetahui, kenapa Ayah harus menikahkanmu dengan Lia" pekik Hendra menyodorkan sebuah kotak peninggalan Audi Ibu kandungnya Rizal.
Tersontak Rizal terkejut dengan pembicaraan Ayahnya yang masih bersikukuh dengan kemauannya agar dirinya menikahi Lia.
"Aku bosan mendengar Ayah selalu membicarakan Lia terus, aku tetap tidak akan mau menikah dengannya Ayah..." tolak Rizal berkali-kali.
"Kau buka itu dan baca isinya, baru kau boleh bicara dan memberi keputusanmu sendiri" bentak Hendra.
Rizal menggertak gigi gerahamnya kuat-kuat, serta mengeluarkan nafasnya yang terputus-putus akibat menahan kesal terhadap sikap Ayahnya yang selalu saja memaksakan kehendaknya.
Dibukanya kotak itu dengan terpaksa, dilihatnya hanya sebuah buku catatan harian milik siapa dan dia belum bisa menerkanya. Saat buku itu dibuka, selembar poto terjatuh dari selipannya. Rizal langsung memungut poto itu kembali, yang terjatuh tepat di dekat sepatunya.
Poto seorang wanita remaja dengan poto Ayahnya yang masih terlihat muda. Rizal mengernyit lalu segera membuka lembaran pertama catatan harian itu.
Audi nama depannya, di dalam isi curahan hatinya mengatakan dia adalah istri keduanya Hendra.
"Si-siapa dia Ayah?" bertanya pada Ayahnya sambil menunjuk ke poto yang ada ditangannya.
"Dia adalah poto ibu kandungmu Rizal..." jawab Hendra jelas.
Mata Rizal membulat besar, antara percaya dan tidak mendengar kenyataan dari mulut Ayahnya sendiri. Selama 25 tahun ini Ayahnya dan lainnya tak pernah menyinggung ataupun menceritakan ini padanya. Ibu kandungnya? jadi selama ini Tania yang dia sebut ibu, bukanlah ibu kandungnya sendiri melainkan ibu tirinya dan Raffi juga adalah saudara tirinya Rizal.
Rizal merapatkan bibirnya erat lalu dibacanya lagi lanjutan curahan ibunya. Setelah lama dia membaca sampai pada akhirnya sebelum dia meninggal dunia, pesan singkat darinya kepada kedua sahabatnya itu. Ya Mira dan Lisna.
Sekarang Rizal tahu maksudnya, ini seperti bohong tapi kenyataan. Rizal bimbang dengan dua pilihan ini, setelah tahu hidupnya akan begini, sebelum lahir takdirnya sudah di tentukan oleh kedua orangtuanya sendiri. Kesal, geram namun dia tidak bisa melawannya. Dia terpaksa mengikuti kemauan mereka, dan menikahi Lia itupun demi ingin berbakti kepada keduanya. Ayah dan juga mendiang ibunya sendiri.
Tetapi Rizal meminta ijin dahulu sebelum dia bertunangan dengan Lia pada Hendra. Kalau dia akan menikahi Tasia di Yogyakarta. Hendra menyetujuinya, namun dengan syarat pernikahan mereka harus disembunyikan dari publik.
Tinggal satu minggu lagi, Ayahnya sudah merencanakan itu jauh-jauh hari bersama Mira, di hari ulangtahun perusahaan keluarga Wijaya yang nanti akan di rayakannya, yang sudah hampir 150 tahun lebih itu tepatnya akan berbarengan dengan merayakan pertunangan dirinya dengan Lia.
bersambung....
...***...
Para pembaca setia...jika inginkan lanjut ceritanya minta terus dukungannya yaa..🙏🙏🙏
Jgn lupa sllu tinggalkan jejaknya supaya author bisa terus semangat up tiap hari sampai The end...aamiin...