
Bab 79
Ada Yang Salah
"Sayang...malam ini kamu tidur dikamarku ya..." pinta Rizal tiba-tiba. Memandang matanya Tasia penuh rayuan. Tasia hanya tersenyum sinis di pandanginya itu.
"Apa kamu tidak ingat kalau malam ini kamu sudah berjanji akan menjemput Lia pergi jalan-jalan? hmm..hmm.." sahutnya jengkel sambil mencubit hidung Rizal dan di goyang-goyangkannya kencang, untuk mengingatkannya.
"Aahh...aaahh" teriaknya merintih kesakitan di hidungnya, dia baru teringat akan hal itu. Tasia menyungging senyum di sudut bibirnya dan menyipitkan matanya ke arah Rizal tampak kesal.
"Hah...aku sudah lupa, kenapa kamu malah mengingatkannya...biarkan saja aku melupakan itu" jengkelnya terlanjur berjanji, lalu dia menjatuhkan punggungnya di atas kasur empuknya itu, tidak peduli dengan janjinya kepada Lia.
"Heh...jangan ingkar janji nanti kamu bisa kualat loh.." ocehnya lagi.
"Memangnya apa kamu tidak cemburu, kalau aku jalan bersama Lia?"tanyanya tiba-tiba melirik Tasia yang pura-pura menahan rasa cemburu. "Kalau tidak... ya sudah kamu harus ikhlasin saja jika nanti dia menyosor memaksa mencium suamimu yang tampan ini..." Pedenya, sambil menakut-nakuti Tasia, lalu lekas dia beranjak dari tidurannya dan pergi ke kamar mandi berpura-pura bersiap akan menjemput Lia.
Tasia mendongak khawatir "T-tunggu!" cegahnya cepat. "Jangan sampai itu terjadi pada kalian berdua..aku tidak akan pernah memaafkanmu seumur hidupku jika kamu bersentuhan dengan wanita lain.." ungkapnya emosi tingkat tinggi sambil mengepalkan jari-jari tangannya.
Rizal berbinar mendengar perkataannya yang menggemaskan itu. Lalu dia kembali membalikkan badannya lagi ke hadapan Tasia
"Aku suka dirimu yang sedang cemburu.." Rizal semakin mendekatkan wajahnya di depan Tasia.
"Tidak...kok? siapa yang cemburu.." elaknya, wajahnya semakin memerah, cepat-cepat dia memalingkan wajahnya ke arah pintu.
"Kalau kamu berkata jujur...nanti aku bisa batalkan jalan bareng dengan Lia..." ujarnya. Tasia jadi terdiam beberapa saat. Kalau dia ijinkan Rizal pergi maka Lia akan menciumnya habis-habisan, tidak terbayang dalam pikiran kotornya itu.
'Aaaahh tidak bisa' teriaknya dalam hati.
"Tentu saja cemburu...bodoh, kamu itu kan suamiku!" jengkelnya cemberut, memanyunkan bibirnya hingga membentuk kerucut.
"Nah..begitu dong.. itu jelas istriku...demi kamu..aku tidak akan jadi pergi...tapi malam ini aku ada tugas berat untukmu..." pintanya tiba-tiba.
"Tugas apa?" tanyanya penasaran.
"Aku ingin mandi, tolong kamu yang gosokkan punggungku yaa..." celotehnya nyengir sambil mengangkat-ngangkatkan alisnya naik turun melirik Tasia, tampak terlihat ada maksud yang tersembunyi di baliknya.
"Hmm...sudah ketahuan pasti ada maunya...? iya kan..!" sindir Tasia mencurigai suaminya itu.
Lalu Tasiapun di giring paksa Rizal masuk ke dalam kamar mandi, sambil cengengesan tak jelas.
"Sudah...ayo...! jangan banyak bicara lagi. " ajaknya lalu berjalan cepat-cepat sambil merangkul Tasia, yang sudah tidak sabaran lagi.
"Rizal.. kamu dasar genit..." gemasnya, sambil mencubit pangkal lengan Rizal.
Rizal hanya tertawa terkekeh-kekeh cuek mendengar omelan istrinya itu.
###
Malam itu, ketika suasana hening dan penghuni rumah tengah pulas dengan tidur mereka masing-masing. Hendra yang baru saja selesai membuang hajatnya di dalam kamar mandinya.
Udara dingin mulai menusuk di sudut ruangan kamar mandi tersebut. Seketika itu juga Hendra mulai gelisah dan tiba-tiba saja sekujur tubuhnya mendadak menggigil kedinginan, rasa panas dan cengkraman kuat kian menusuk di bagian dada kirinya hingga masuk ke dalam rongga-rongganya. Dibagian tangan kirinya hingga menjalar ke atas bahunya terasa kebas dan kesemutan yang semakin menjadi-jadi. Hendra berjalan pelan mencoba berpegangan erat pada dinding-dinding kamar mandi tersebut, namun dia sangat kesulitan karena tangan kanannya ingin terus mengepal ke dada kirinya untuk menahan rasa sakitnya itu.
Hendra merasakannya jika sakit jantungnya itu telah kumat kembali. Nafasnya tersengal berat menahan rasa sesak.
"Ta...Ta...niaa...." teriaknya di kamar mandi dengan suara berat dan sesak. Tania masih tertidur pulas di kasurnya, tidak mendengar suara Hendra yang memanggilnya.
"Ta..nia.." Hendra berusaha memanggilnya berulang kali, namun tak ada jawaban dari Tania. Sehingga dia terpaksa menjatuhkan semua barang yang ada di kamar mandi biar terdengar gaduh.
Sontak Tania terkejut mendengarnya dan terbangun dari tidurnya dan tersadar bahwa suaminya sudah tidak ada di tempat tidur bersamanya. Lalu dia beranjak berdiri dan mencari Hendra di kamar mandi. Pintu kamar mandi dia buka lebar-lebar. Matanya membulat terbelalak kaget ke arah depannya.
"Yah..ya ampun ..suamiku....!!!" teriaknya histeris ketika melihat Hendra yang sudah tergeletak jatuh di lantai kamar mandinya.
"Mbok...mbok...tolong...Rizaaaal..."
teriaknya kencang, memanggil semua orang yang ada di seluruh penjuru rumah itu.
Semua yang mendengarnya ikut terkejut dan panik, dan mereka semua keluar dari kamarnya masing-masing. Lalu mereka langsung berlarian menuju ke kamar Hendra.
"Rizal ayo bangun!" sahut Tasia membangunkan Rizal yang masih tertidur pulas di sampingnya. Rizal membuka perlahan matanya.
"Ada apa?" tanyanya melas.
"Ibumu berteriak memanggil, apa kamu tidak mendengarnya.. ayo cepat kita kesana..." menarik lengan Rizal supaya cepat bangun dan berdiri.
Lalu Tasia dan Rizal segera turun ke bawah mereka berlarian bersamaan para pelayan disana yang berhamburan pergi ke kamar orangtuanya Rizal.
"Ada apa ibu?" teriak Rizal dan Tasia bersamaan ikut panik setelah memasuki kamar orangtuanya itu.
Mereka semua terkejut sudah melihat Hendra di ranjangnya yang masih memegang dada kirinya menahan sakit.
Tania menangis sesegukkan.
"Kami sudah telepon rumah sakit Nyonya..." teriak Mbok Darmin yang baru saja kembali lagi ke kamar itu.
"Ayah...apa sudah meminum obatnya..." Rizal menghampiri ke kasur Ayahnya yang gemetar dan berkeringat dingin masih kuat menahan rasa sakit di dadanya itu.
Hendra menunjuk pelan ke arah obat di atas nakasnya, supaya Rizal mengambilnya.
"Sebaiknya Ayah segera meminum obatnya dulu..." pinta Rizal segera mengambilkan obat itu dan hendak membuka botol obatnya. Hendra menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mata mereka mengarah pada Hendra terheran.
"Ja-ngan..tunggu, obat itu Ayah tidak mau meminumnya lagi..." cegahnya, mencoba mengatur nafasnya pelan.
"Kenapa kau tidak mau meminumnya? mana bisa kau sembuh kalau tidak meminum obat itu.." sahut Tania.
"Aku..merasakan ada yang salah dengan obat tersebut.." sahut Hendra terbata-bata sambil melotot menunjuk ke arah botol obat yang di pegangi Rizal.
Semua memandang ke arah botol itu. Rizal melihat-lihat tulisan yang ada di botol tersebut.
"Apanya yang salah Ayah?" tanya Rizal penasaran.
Hendra tidak bisa menjelaskannya secara detail karena dia sudah tidak kuat untuk berbicara lagi.
Beberapa menit kemudian ambulance datang menjemput Hendra. Dan Hendra di bawanya ke rumah sakit bersama ditemani Tania.
Sedangkan Rizal dan Tasia mereka juga bersiap-siap untuk menyusul Hendra ke rumah sakit.
Rizal dan Tasia segera menaiki mobil pribadinya, lalu tidak lupa Rizal mengambil obat Ayahnya untuk diperiksakan di lab rumah sakit. Untuk mencari tahu obat apakah yang sudah diminum Ayahnya selama ini.
bersambung...
...***...