
Bab 95
A Special Of Story 'Yogi and Dian'
Malam itu pukul 21.00. Dian bersiap pulang kembali ke apartemennya dan mengunci rumah butiknya. Dia menekan tombol remote mobil dari jauh untuk membuka pintu kunci mobil.
"Haah..hari ini melelahkan sekali, aku harus benar-benar lembur menyelesaikan gaun pengantin pesanan bu pejabat..." keluhnya sambil menghela nafas panjangnya, Dian benar-benar letih sekali malam itu.
Dia segera membuka pintu mobil dan melempar tasnya ke dalam kursi mobil. Dia cepat-cepat masuk dan menyalakan mesin mobilnya.
"Aduh rasanya ingin cepat mandiii...badanku terasa gatel semua...hheeh" desisnya.
Dian merasa bosan di dalam mobil, lalu dia mulai menyalakan musik barat di tape mobilnya. Suara alunan musik merdu akhirnya memecah keheningan malam itu. Dian pun menikmatinya sambil ikut menyanyikan lagunya.
Because of you
I never stray too far from the sidewalk
Because of you
I learned to play on the safe side so I don't get hurt
Because of you
I find it hard to trust not only me, but everyone around me
Because of you
I am afraid
Dian melirik jalan, dan melihat ada yang berjualan martabak di samping jalan itu tiba-tiba dia ingin sekali makan cemilan, lalu dia keluar dari dalam mobilnya dan membeli martabak manis itu untuk cemilan nanti malam di apartemennya sambil nonton film the movie kesukaannya, setelahnya dia membeli minuman dingin di mini market.
Setelah selesai membayarnya dia kembali menaiki mobilnya lalu melanjutkan perjalanannya pulang ke apartemennya.
Selang beberapa menit di jalan tiba-tiba dia menghentikan mobilnya, karena dia tidak sengaja melihat Yogi yang sedang membetulkan ban moge nya seorang diri di seberang jalan sepi.
"Yogi?" sahutnya pelan, sambil tersenyum mengembang. Matanya seketika itu berbinar melihat ke arah pria yang suka memakai jaket kulit hitamnya itu. Dian membuka cepat kaca jendela mobilnya dan mendongakkan kepalanya keluar, lalu memanggilnya kencang.
"Yogiiiii...!!" teriaknya menyeru Yogi dari jauh.
Yogi tersentak kaget dan menoleh ke arah suara yang memanggilnya kencang.
Yogi tersenyum lebar melihatnya. "Dian...Heeyyy..." serunya melambai-lambaikan tangannya ke arah Dian yang di seberang jalannya.
Dian lalu membuka pintu mobil dan lekas keluar menyebrang jalan menghampirinya.
"Kamu lagi ngapain?" tanyanya sambil berlari kecil.
"Ban motorku bocor, tadi tidak sengaja menggilas paku di jalan..." riuhnya mengeluh dan mendengus nafas kesal. Sambil memperlihatkan paku kecil ke Dian yang dia cabut barusan di ban motornya.
Alis Yogi di angkatnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya nampak badmood sekali malam itu, lalu dilemparkannya paku itu ke samping kirinya.
Dian merasa kasihan pada pria itu. Lalu dia pun ikut berjongkok di samping Yogi.
"Hmm..terus temanmu yang di bengkel itu sudah dihubungi belum?"
"Aku barusan sudah telepon dia, menyuruhnya datang kemari, tapi katanya dia masih repot dan aku terpaksa harus menunggunya lama disini.."
"Hmm begitu ya..apa kamu lapar?" tanya Dian tiba-tiba, Yogi mendelikan matanya ke arah Dian dan sedikit menganggukkan kepalanya.
"Sedikit lapar sih.." sahutnya.
"Kebetulan, aku punya cemilan di dalam mobil..sebentar aku ambilkan dulu ya.." Dian lalu lari menyebrang jalan lagi dan mengambil satu dus martabak manis rasa kacang coklat beserta minuman kaleng di mobilnya yang dibelinya tadi. Lalu dia menyebrang kembali ke tempat Yogi yang sedang dudukan di tanjakan trotoar.
"Ini..." Dian menyodorkannya dus martabak dan kaleng minuman itu ke Yogi. Terus dudukkan di sampingnya.
Yogi mengambilnya dan tersenyum memandang ke arah Dian. "Terimakasih ya..."ucapnya.
Yogi langsung membuka isi dus itu dan mencomotnya satu, martabak itu masih terasa panas karena memang baru saja diangkat dari teplon. Dia lalu melahap martabak itu pelan ke dalam mulutnya "hemmm..mantap..huuuh huhh" riuhnya sedikit kepanasan di mulutnya. "Kamu tidak mau ikut makan?" tanya Yogi yang sedari tadi melihat Dian yang terus saja memperhatikannya makan sendirian.
Dian menggelengkan kepalanya. "Em..tidak usah itu buat kamu saja.." Dian tidak ikut makan karena melihat Yogi saja membuat hatinya senang dan tiba-tiba saja mendadak jadi kenyang.
"Em..tidak-tidak kau juga harus ikut makan...masa aku sendiri saja yang makan..sini buka mulutmu!" sahut Yogi menyuruh Dian membuka mulutnya hendak menyuapinya.
"Aahh tidak usah...kau saja yang makan!" jawab Dian malu-malu.
"Tidak, pokoknya kamu juga harus ikut memakannya, ini kan juga punya kamu.."celotehnya. "Ayo cepat buka mulutmu!" pinta Yogi lagi memaksanya untuk makan.
"Aaaaa....." Yogi menyuruh Dian membuka mulutnya yang lebar.
"Baiklah..Aaaa..!" Dian terpaksa menurutinya dan membuka mulutnya lalu perlahan menggigit martabak yang ada di tangan kanannya Yogi membuat jantung Dian jadi dag dig dug tak karuan. Sehingga wajahnya mendadak memerah karena malu.
Yogi tertawa kecil melihat Dian yang di imut-imutkan makannya. Lalu dia mengusap cepat sudut bibir Dian yang belepotan oleh coklat martabak itu. Dian jadi salah tingkah dan malu-malu sendiri dibuatnya.
Tes.. tiba-tiba setetes air jatuh ke hidung Dian, lalu tak lama kemudian air itu bertambah banyak dan deras.
"Hujaaan! aaah..." teriak Dian. "Ayo cepaaat kita berteduh di dalam mobilku!" ajaknya, Dian berlari cepat duluan menyebrang jalan menuju mobilnya.
"Tungguuu akuu!" teriak Yogi.
Dia pun berlari terbirit-birit ikut menyusul Dian dari belakang, sambil masih memegang dus martabak dan minuman kaleng di kedua tangannya dan merunduk jalan cepat ke arah mobil Dian.
Mereka berdua segera masuk ke dalam mobil dan berteduh disana. Hujan bertambah deras dan lebat. Anginnya pun mulai menghembus kencang menyapu jalanan. Pohon-pohon di pinggir jalan pun ikut bergoyang kencang diterpa angin hujan.
"Huuuhhf" Dian bernafas lega karena tidak terlambat untuk berteduh.
Yogi melirik sebentar ke arah motornya yang ada diseberang jalan. Lalu menutup kaca jendela mobil yang masih terbuka agar cipratan air hujan tidak masuk ke dalamnya.
"Semoga hujannya tidak akan lama.." sahutnya sedikit khawatir. Lalu sejenak dia menyenderkan kepalanya di kursi mobil dan menghelakan nafasnya. Terdengar samar-samar suara musik barat melantun lembut di telinganya, Yogi tersenyum mendengarnya.
"Hem kau suka musik barat ternyata!" celotehnya. Dian sontak terkejut dia lupa kalau tape mobilnya belum di matikan dari tadi, dia hendak mematikan tape musik itu tetapi tangan Dian malah di tahan oleh Yogi.
"Biarkan saja menyala, aku suka mendengarnya kok.." sahutnya. Dian menoleh ke Yogi di sampingnya.
Hujan semakin deras dan lebat yang terpaksa membuat mereka berdua harus tetap menunggu lama disana. Teman Yogi pun mengirim pesan padanya dan meminta maaf karena tidak bisa datang untuk membetulkan motornya karena terjebak macet akibat banjir di jalan.
Yogi menghela nafasnya mengeluh kesal, karena hujan tiba-tiba saja turun membuat dia terlambat berkumpul dengan teman-teman organisasinya malam itu, dan terpaksa harus membatalkan pertemuan itu.
"Huuuuhh, kenapa akhir-akhir ini sering hujan deras!" gerutunya.
Dian malah tertawa kecil melihatnya menggerutu.
"Ada yang lucu?"
"Aku cuma ingin katakan, sebenarnya hujan itu membawa berkah dan tidak baik jika kita mengeluhkan apalagi kalau mencelanya.." sahut Dian.
"Benarkah itu?" mengangkat alisnya karena baru dia dengar soal itu.
Dian menganggukkan kepalanya." He ehm..iya tentu saja.."
"Waah..aku baru tahu soal itu..ya sudah kalau begitu, aku tidak akan mengeluhkannya lagi.."
sahutnya tersenyum pada Dian.
Tiba-tiba...
Duaaaaarrrr duuaaaaarrr
Saat mereka asyik mengobrol suara petir menggelegar memekikkan gendang telinga mereka yang membuat Dian terkaget dan segera menundukkan kepalanya menyungkur ke arah tubuh Yogi, sambil menutupkan kedua telinganya.
"Aaaa..." teriak Dian menjerit ketakutan.
Yogi sontak terkejut karena kepala Dian membentur bagian dagunya kencang.
"Adawww!" teriaknya merintih sakit.
"Ah, maaf aku tidak sengaja..aku selalu kaget kalau dengar petir!" sahutnya lalu refleks membantu mengelus-ngelus dagu Yogi.
Yogi terdiam sesaat ketika jari-jari tangan Dian mengelus ke dagunya, matanya mengarah pada wajah gadis itu yang tengah serius mengusap lembut dagunya tersebut.
"Bagaimana masih sakit tidak?" tanya Dian khawatir matanya yang masih fokus melihat ke dagu pria di depannya, namun pertanyaannya tidak di jawabnya. Dian sontak melihat ke arah Yogi yang ternyata dia sedang memperhatikannya dari tadi tanpa dia sadari. Dian langsung menarik tangannya kembali.
"Ahem se-sekali lagi..aku minta maaf ya.." beciknya tergugup dan jadi salah tingkah lagi di buatnya.
" Tidak apa-apa..." sahutnya santai. Sambil terus memandang Dian yang malu-malu kepadanya.
Dian dengan cepat menundukkan kepalanya, kedua pipinya tiba-tiba berubah merah seperti tomat, dan tangannya mendadak berkeringat dingin terlihat gugup. Entahlah tiba-tiba dia selalu saja merasakan hal yang aneh di depan Yogi, jika mata mereka saling bertatapan lama.
"Yogi bolehkah aku bertanya sedikit padamu?" tanya Dian memberanikan dirinya setelah mereka lama terdiam.
"Yaa..tentu saja boleh.."
"Apa boleh aku tahu, ada hubungan apa kamu dengan Tasia?" Dian menolehkan pandangannya ke Yogi ingin sekali memastikan jelas jawaban dari pertanyaannya itu.
Yogi mendelik cepat ke arah Dian yang tiba-tiba saja dia bertanya tentang Tasia.
"Kenapa tiba-tiba kamu ingin bertanya soal dia?"
"Hem...soalnya....soalnya, maaf aku jadi teringat saat pertama kali kita bertemu, saat itu kamu tengah mabuk dan...kamu mengigau menyebut nama Tasia.." ucapnya lagi penasaran yang membuat dia kembali melihat ke arah Yogi.
"Apa kalian pernah pacaran?"
Yogi cukup terdiam lama untuk menjawab pertanyaan Dian.
"Hemm pacar? dia bukan pacarku!" sahutnya yang membuat Dian sontak tersenyum mendengarnya.
"Dia..hanya wanita yang mampu merubah hidupku..tapi sayang sepupumu telah mendahuluiku.." gumamnya agak kecewa.
Mendadak Dian ada sedikit cemburu ketika Yogi mulai bercerita terus terang kepadanya soal Tasia.
"Hmm..maksud kamu? dia adalah wanita yang kau cintai.." jelas Dian. Yogi menganggukkan kepalanya perlahan.
"Jelasnya pernah kucintai...akh tapi itu sudah jadi masa laluku.. dan aku harus segera move on dari dia!" ujarnya lagi menatap wajah Dian yang sekilas terlihat cemberut.
"Karena, entah mengapa, mungkin sepertinya aku sudah mulai tertarik dengan wanita yang berada di dekatku sekarang.." celotehnya tiba-tiba, sambil pura-pura melihat jam tangannya dan menatap kembali hujan yang sudah mulai mereda.
Dian terhenyak seketika mendengar celotehan Yogi barusan sehingga membuat jantungnya berdebar kencang. 'Apa aku tidak salah dengar?'batinnya.
"Hem..ma maksudnya?"
"Wah..sepertinya hujan sudah reda, aku harus kembali kesana. Temanku sebentar lagi juga mau datang.." Yogi langsung mengalihkan pembicaraan dan segera membuka pintu mobilnya.
"Yogiii tungguu..."
Dian mengerucutkan bibirnya agak kesal dan kecewa karena Yogi belum menjelaskan maksud pembicaraannya itu. Yogi sudah pergi keluar menghampiri motornya.
"Apa aku tidak salah mendengarnya...tadi dia bilang kalau dia mulai tertarik dengan..?" gumamnya. Dian tersenyum-senyum sendiri mengartikan perkataannya.
Dian lalu cepat keluar dari mobilnya dan berdiri di samping mobilnya.
"YOGIIIII...." teriaknya, membuat Yogi kembali menoleh kepadanya.
"AKU SUKA SAMA KAMUUU...." teriaknya lagi tiba-tiba Dian melempar senyuman manis pada pria di seberangnya.
Yogi tersenyum tipis mendengar jelas teriakan Dian padanya. Dia mengusap rambut depannya sambil menggaruk pelan jadi salah tingkah sendiri. Yogi memanggutkan kepalanya dan dia juga membalas teriakan Dian.
"YAA...AKU JUGA SUKA SAMA KAMUU..." serunya kencang.
Lalu mereka saling melempar senyuman bahagia. Dian lalu berlari kecil menghampiri Yogi. Yogi pun berjalan cepat ke arahnya dan mereka saling berhadapan lama. Lalu berpelukan erat saling berkasih mesra. Yang akhirnya, pada saat itu juga mereka mulai menjalin hubungan asmara.
bersambung...
...***...
jangan lupa readers tinggalkan like and komentnya selalu...ya..pokoknya di setiap episode minta like dari kalian..karena itu bikin author selalu semangat menulis. ❤️❤️❤️
Karena tinggal beberapa episode lagi cerita Novel ini juga akan berakhir membuat author sedih juga..terimakasih banyak ya yang selalu setia menunggu lanjutannya...semoga kalian selalu terhibur dengan ceritaku ini...terimakasih...ketemu lagi di episode selanjutnya..🙏🙏🥰🥰