
...PROMOSI NOVEL TERBARU...
Assalamu'alaikum... Maaf isinya hanya pengumuman, silakan boleh mampir kemari ya sudah BAB 30... Beri dukungannya yang banyak 🙏🙏🙏🙏🙏 dan terimakasih sebelumnya yang sudah mampir.... ❤️❤️❤️❤️❤️
Cuplikan Selingan BAB...
Pria berbadan tinggi dan putih itu tersohok yang lalu membuka kacamata hitamnya cepat, kedua matanya terbelalak. Lalu sekali tegukan ludahnya akhirnya menyadarkan dirinya.
"Vi-raa~" lirihnya pelan, dahinya kini mengernyit tak percaya yang dia lihat.
Mendengar Pria itu menyebut namanya. Pelan Vira mengangkat kepalanya, yang sama tak kalah terkejutnya menatap wajah Pria itu.
"Vicky?!" sahutnya sama-sama lirih.
"Vira, ah haai... Lama sekali kita tak jumpa? Apa kabarmu?" ucapnya tergugup. Wajah yang tadi memerah karena geram. Kini berubah pasi dan jadi salah tingkah. Jantungnya kini berdegup sangat cepat.
"A-aku... Baik-baik saja..." Vira memalingkan pandangannya yang lalu dia berjongkok dan buru-buru mengambil semua belanjaannya yang tadi berjatuhan.
Vicky yang melihat itu lekas membantunya membereskan belanjaannya Vira.
"Terimakasih banyak..." ucapnya sedikit tergugup. Vira menunduk lalu pamit pada Pria tadi.
"Ng.. Vira tunggu!" teriaknya menghentikan langkah kecil Vira. Vira kembali mematung namun tak berbalik melihatnya.
"Boleh aku tahu sekarang kamu tinggal dimana?" tanyanya cepat, yang sebenarnya sempat ragu untuk bertanya.
Vira menelan ludahnya kasar. Lalu menoleh pada Pria itu. Tatapan dingin serta sirat kecewa tersorot dalam mata hitamnya.
"Kamu tidak perlu tahu. Itu tidak penting lagi untukmu..." ucapnya datar namun ada sedikit ketegasan di sana. "Selamat tinggal, ku harap kita tidak akan bertemu lagi." Vira pun bergegas pergi dari sana setelah mobil taksi online yang tadi dia pesan sudah ada datang di depannya.
Vicky lagi tercenung, seperti ada rasa nyeri yang tiba-tiba menghantam ke jantungnya. Tatapannya nanar dan sendu menatap wanita berambut hitam dan panjang, dengan khas poni di depannya. Rok panjang sebatas betisnya berkibar saat dia melangkah cepat, masuk ke dalam taksi.
"Viraa~ Apa dirimu tahu? Selama tujuh tahun ini aku selalu mencarimu. Ternyata kamu berada di Kota ini..." lirihnya.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
"Aku ingin kembali melanjutkan kisah cinta kita yang belum usai... Aku ingin memperbaikinya lagi, dan menjalani hidup bersamamu. Tanpa ada yang menghalangi langkah kita bersama..." ungkap Vicky dengan tatapan sendu dan penuh harap.
Vira lagi tersentak dan menatap lagi wajah Vicky dengan kedua netra yang sudah memerah dan berkaca-kaca. Vira pun menggeleng tersenyum padanya.
"Maafkan aku Vicky, tapi kisah kita sudah usai sejak lama. Karena aku, karena aku sudah menikah." ucap Vira dengan nada lirihnya dia mengangkat perlahan tangan kirinya sebatas dadanya. Memperlihatkan jelas cincin emas pernikahannya dengan Dika.
Tubuhnya berguncang bagaikan tersambar petir. Cinta yang sudah lama dia nantikan, harus musnah begitu saja dengan cara yang menyakitkan. Vicky tak menyangkakan akan kesetiaannya selama ini harus terhempas jauh ke dasar jurang. Matanya semakin memanas perih. Namun hatinya lah yang bertambah perih, menatap getir pada cincin yang melingkar di jari manis wanita yang dia cintai. Seharusnya cincin pemberiannyalah yang melingkari jari Vira. Tetapi tanpa di ketahuinya selama ini sudah ada Pria lain yang memasangkannya lebih dulu.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
"Ya sudah terserah apa katamu saja... Lebih baik kita jangan pernah mengungkitnya lagi. Lagipula itu sudah lama sekali..." imbuh Vira. Sontak Vicky mendelik tak terima dengan pernyataan Vira.
"Sudah lama katamu? Seharusnya kamu katakan ini semua padaku, Ra? Kalau saja kamu katakan dari sejak dulu. Mungkin saja kita masih tetap bisa bersama." ungkapnya masih dengan raut kesal dan marah, Vira kembali menoleh. Membalas tatapan tajam Vicky di hadapannya.
"Bagaimana aku ingin menceritakan semuanya padamu, dulu?! Kau pun sama, tak memberitahukanku kalau kamu sebenarnya akan di jodohkan saat itu?! Seharusnya kamu pun terus terang padaku sebelumnya, Vicky! Sehingga aku dahulu tidak terlalu berharap lebih padamu, tak tahunya hanya sakit hati yang ku terima dari keluargamu sejak itu. Tapi semua sudah berlalu dan percuma saja kita terus mengungkitnya lagi, semua tidak akan pernah bisa kembali lagi, Vicky..." lirihnya dengan terisak-isak menahan penyesalan yang tak bertepi.
"Itu bukan kemauanku. Aku di jodohkan karena kemauan mereka, Viraa!" lantangnya, yang sama-sama menahan kekesalan di hatinya, rasanya ingin sekali Vicky melampiaskan kemarahan yang terus menekannya di dada.. Vicky sontak beranjak berdiri. Menyugar rambutnya kasar membelakangi Vira, menghadap ke luar jendela kamar rawat pasien.
"Aku tak pernah mau, sampai sekarang pun aku terus menolak Riska. Itu semua, itu semua karena dirimu. Kau tidak tahu betapa hatiku selalu hampa tanpa dirimu Vira..." ucap Vicky yang semakin memelan dan lirih. Tak terasa bulir bening di sudut matanya pun kembali jatuh berlinangan.
Vira terenyuh mendengarnya serta ikut menangis melihat Vicky yang tersiksa bathinnya.
"Maafkan aku Vicky... Sekali lagi aku meminta maaf padamu. Namun kenyataannya hubungan kita sudah berakhir. Jadi aku mohon ikhlaskan, dan lepaskan aku di hatimu. Sekarang cobalah kamu membuka hatimu untuk wanita lain... Ku mohon kau jangan siksa hatimu lebih dalam lagi..." pinta Vira menyuruhnya untuk segera move-on darinya.
Vicky membalikkan tubuhnya, menoleh ke arah Vira. Menatap nanar wajah cantiknya yang masih tetap sama, tak ada perubahan baginya. Malah menurutnya Vira semakin terlihat cantik mempesona. Kalau saja tak ada hukum di negara ini. Rasanya ingin sekali Vicky menculik dan membawa Vira pergi jauh bersamanya.
"Boleh aku minta sesuatu padamu." pintanya tiba-tiba. Membuat Vira mendongak kaget padanya.
"Meminta sesuatu?" Vira mengernyitkan dahinya berpikir dalam. "Meminta apa?" tanyanya pelan. Vicky pun meneguk ludahnya perlahan.
"Bolehkah aku, memelukmu sebentar...." pintanya yang sontak kedua mata Vira membulat lebar. "Bolehkan? Aku janji ini yang pertama dan mungkin yang terakhir kalinya." pintanya lagi dengan mimik yang memohon.
Vira tertegun mendengar permintaan Vicky padanya, keduanya kini saling memandang tanpa berkedip, dengan keadaan mata keduanya sudah berkaca-kaca.
Tak lama akhirnya Vira pun mengangguk mengijinkannya. "Iya.. Boleh..." ucapnya tersenyum lirih.
Vicky tersenyum haru. Pelan Pria itu mendekat lalu menarik tubuh Vira kedalam dekapannya. Mengusap lembut punggung dan juga membelai rambut mantan kekasihnya. Aroma wangi sampho di rambut Vira yang tak pernah berubah dari dulu. Menguar tajam di penciumannya. Tak terasa Vicky meneteskan lagi air matanya hingga membasahi pundaknya Vira.
"Vira... Maafkan kata-kataku dulu yang pernah menyakiti hatimu, menuduh dan juga mengataimu dengan perkataan kasarku." ucapnya dengan perasaan sesak di hati.
"Semuanya sudah ku maafkan Vicky... Aku memakluminya, dulu kamu sedang emosi..." ucap Vira.
Vira yang merasakan pundaknya telah menghangat dan basah, perlahan mengangkat tangannya dan membalas usapan lembut di punggungnya Vicky.
Masih bolehkah aku menyimpan rasa cinta ini untukmu, Vira Adelia...? Rasanya sesak sekali melihatmu sudah menjadi istri lelaki lain.. Ingin rasanya ku ulang waktu untuk tidak menyakitimu di masalalu... isaknya dalam hati.
...🥀🥀🥀🥀🥀...