Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Kecurigaan



...Bab 33...


...Kecurigaan...


Setelah sebulan lebih Tasia bekerja di Cafenya Rizal. Semakin hari semakin pesat pula perkembangan usaha cafenya itu, setiap minggu banyak sekali orderan untuk acara syukuran dan acara-acara penting lainnya. Sehingga saat itu pun Rizal membutuhkan banyak tenaga kerja lagi untuk perkembangan Cafenya dan usaha kulinernya tersebut.


Minggu pagi itu, setelah menyapu halaman, Tasia bergegas pergi mengambil handphone di kamarnya. Karena bosan tidak ada pekerjaan lagi, Tasia menelepon dan bertanya tentang Maya, setelah lama belum ada kabarnya. Tasia jadi merindukan kakaknya itu, karena sudah lama sekali mereka juga tidak saling curhat.


"Kak, apa kabarmu?" sapa Tasia di video call nya setelah terhubung dengan Maya. Tasia dudukkan di kasurnya sambil menatap kakaknya di ponselnya.


"Aku baik bagaimana Ibu dan kamu?" tanya Maya balik, sambil memakan buah pagi itu.


"Ibu dan aku juga baik kok kak...! "


"Syukurlah oh ya.. Kakak ingin kasih kabar, kalau kakak sekarang tengah hamil 3 minggu!" ujar Kakaknya sumringah.


"Wahh... benarkah itu kak, ini berita bagus dong! Ibu pasti bakalan senang mendengarnya, tapi sekarang dia sedang pergi bersama Irna. Ada yang lagi nikahan tetangga di kampung sebelah"


"Ooh begitu! Eh ngomong-ngomong kamu betah tidak bekerja di tempatnya Rizal?" tanya Maya tiba-tiba. Tasia terkejut karena kakaknya langsung bertanya ke intinya, dia hanya tersenyum-senyum sendiri. Maya melirik wajah adiknya itu memerah.


"Eh..Kenapa jadi senyum-senyum begitu? wah wah..jangan bilang kalau kamu suka sama dia..iya kan?" tebak Maya yang bisa menerkanya hanya melihat dari raut muka adiknya itu.


"Apa sih kak, sok tahu..!" ledek Tasia.


"Ngaku aja kamu, Rizal itu tipe lelaki ganteng di kampus kakak..nah siapa juga yang gak naksir sama dia? ayo iyakan? kamu naksir?" celoteh Maya, Tasia memanggut malu. Memang kakaknya itu paling jago kalau soal masalah cinta. Dengan begini juga kesempatan Tasia bertanya mengenai Rizal padanya.


"Iya kak bukan cuma naksir, tapi kami memang sudah pacaran!" ungkap Tasia terus terang.


"Apa? beneran Tas!" Maya terbelalak kaget belum percaya. "Sejak kapan?" tanya Maya lagi.


"Sudah lama, ada satu bulan lebih!" sahut Tasia lagi.


"Ciiieee..ciee pantas saja sekarang jarang hubungi kakak! tidak tahunya, lagi kasmaran! masih hangat-hangatnya nih!" celoteh Maya lagi menggoda adiknya itu.


"Ha ha..Cerita-cerita dong kalian bisa jadian bagaimana?" tanya Maya sambil ketawa ketiwi.


"Mau tahu saja nih kakakku!" ledek Tasia.


"Sekarang ini Tasia cuma ingin tanya kakak saja, dia kan sama kak Supri sahabatan, menurut kakak dia itu bagaimana orangnya? latar belakang keluarganya seperti apa kak?" tiba-tiba Tasia memberanikan bertanya pada kakaknya soal Rizal. Karena Tasia ingin ada kejelasan biar dia tidak salah telah mencintai seseorang.


"Dulu kan kakak sudah kasih tahu kamu, Rizal itu orangnya baik dan jujur.. pekerja keras, kalau soal keluarganya ya kakak tidak terlalu mengenal dia. Tapi kalau Mas Supri, mungkin dia lebih mengetahuinya soalnya kan mereka satu kelas selama kuliah dulu!" jelas Maya.


"Coba minta tanyain Kak Supri, Kak! Tasia mohon kak ini penting sekali buat masa depan Tasia!" pintanya.


"Kamu kenapa sih kayak panik begitu?" heran Maya. Tasia sebentar terdiam dengan pertanyaan kakaknya itu.


"Pokoknya, kakak mesti tanyain itu ke kak Supri titik!" sahutnya memaksa.


"Ya udah- ya udah nanti kalau ada waktu kakak tanyain ke dia! " balas Maya.


"Beneran ya kak, terimakasih kakakku tersayang.. jaga dirimu baik-baik ya kak! hati-hati itu keponakanku yang belum lahir mesti di jaga.. supaya lahir selamat dan sehat, wah sudah gak sabar jadi tante nih hehe!" ikut senang dengan kehamilan kakaknya.


"Eh ya udah kak, aku tutup dulu teleponnya ya.. kayaknya Rizal mau telepon aku deh" sahutnya tiba-tiba.


"Ya udah.. nanti lagi ya bye..!" jawab Maya. Lalu Tasia menutup telepon Maya dan segera mengangkat telepon dari Rizal.


"Hallo... ya Rizal?"


"Kamu sedang apa, sibuk tidak? bisa temani aku keluar sebentar?" sahut Rizal tiba-tiba mendadak.


"Oh ya sudah, nanti setelah ibumu pulang, kasih tahu aku ya, aku akan menjemputmu di rumahmu..!" ujarnya. Tasia memanggut.


"Iya baiklah.. " lalu mereka menutup teleponnya masing-masing. Tasia bertanya-tanya sendiri.


"Memangnya dia mau ngajak aku pergi kemana sih?" tanyanya semakin penasaran.


...***...


Lia yang baru saja sampai di lokasi pemotretan itu di giring perias model untuk segera duduk dan merias wajahnya dengan make-up, dia pergi di temani Dian pagi itu. Karena Dian juga bekerja sama dengan perusahaan mereka, mempromosikan gaun-gaun di butiknya. Lia berseri-seri memandangi dirinya di cermin.


"Kamu memang cocok sekali dengan pakaian yang kubuat Li, huu kamu memang pantas di juluki model profesional. Sudah cantik body mu juga tidak kalah menarik" puji Dian mengaguminya.


"Kalau memang aku cantik dan menarik, Rizal tidak akan mungkin menolakku!" tiba-tiba murung menatap cermin kecil di tangannya.


"Hei, sudahlah jangan pikirkan itu.. tapi kan sebentar lagi kalian akan dijodohkan dan bertunangan, ngapain juga sedih. Aku yakin lama-lama Rizal akan terpaut hatinya olehmu.. " Dian mencoba menghiburnya.


Lia menghela nafas panjangnya. Lalu dia berdiri dan bersiap pemotretan. Tapi handphonenya keburu berdering.


Kriiiiinng kriinnnng


"Eh Li, ada telepon, angkat dulu tuh!" seru Dian yang sedang sibuk beresin pakaian di kopernya.


Lia lalu mengambil ponselnya di tasnya dan melihatnya dia terkejut kalau itu dari Rizal.


"Rizal? hah dia... ada apa ya telepon aku?" sahutnya senang.


"Dian, ini dari Rizal aku angkat dulu teleponnya sebentar ya!" senangnya. Dian terkejut mendengarnya dan ikut senang.


"Nah baru saja di omongin, orangnya tiba-tiba saja nelepon kamu...jangan-jangan dia sedang merindukanmu lagi!" celotehnya.


"Ahh kamu ini..jangan buat aku tambah ge-er dong Din.. sudah ah aku angkat dulu teleponnya!" Lia lalu berlari menuju tempat yang sepi agak jauh dari lokasi syuting. Dian tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya memandangi Lia.


"Hallo, ada apa Rizal?" berbinar


"Lia, boleh kita ketemu? sekarang kamu dimana?" tanyanya Rizal tiba-tiba.


"Aku masih ada pemotretan, boleh akan aku berikan alamatnya ke kamu! datang saja kesini..!" sahut Lia.


"Iya baiklah nanti aku kesana..." jawab Rizal.


Setelah Rizal menerima pesan dari Lia, alamat tempatnya, dia langsung meminjam motor kawannya ke bengkel motor. Lalu bergegas dia menemui Lia di lokasi syutingnya.


Saat itu Yogi yang sedang berada di toko peralatan olahraga, melihat Rizal dari seberangnya jalan, dia melihat Rizal terburu-buru pergi. Karena penasaran dengannya, Yogi mengikutinya diam-diam dari belakangnya.


Di perjalanan Rizal tidak menyadari kalau dirinya tengah di buntuti oleh Yogi dari tadi. Setelah sampai alamat tujuan dia memarkirkan motor temannya. Yogi pun ikut berhenti dan memarkirkannya dari jauh.


Yogi memperhatikan gerak-gerik Rizal. Dan terus melangkah mengikutinya dari belakang bersembunyi di balik pohon-pohon lalu memasuki sebuah gedung. Ketika itu dia tidak sengaja memergoki Rizal yang tengah menemui Lia disana. Lia langsung berlari ke arahnya dan memeluknya.


"Sedang apa dia ke sini?" Yogi menggeleng-gelengkan kepalanya melihati mereka berdua. "Hmm sudah kuduga kau memang lelaki munafik, ck ck ck...kau berpacaran dengan Tasia tapi kau masih ingin dekat dengan Lia!" umpatnya dengan tatapan yang sinis memandangnya.


bersambung...


...***...


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya...like dan komentarnya...


...🌺🌺🌺...