Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Cincin Yang Sama



Bab 70


Cincin Yang Sama


"Cincin apa ini...?" dahi Tasia dikerutkannya kencang, karena segudang pertanyaan mulai menggelitik pikirannya.


Rizal menggeliat terbangun saat tangannya terasa berat sekali di gerakkan. Lalu matanya mulai sedikit dibukanya perlahan. Pandangan Rizal sudah melihat ke arah Tasia di depannya yang sedang duduk di lantai samping kasurnya, dengan menggenggam erat tangan kirinya.


"Sayang...kamu sudah pulang?" tanyanya tergugah.


Tasia terkejut dan buru-buru melepaskan genggamannya di tangan kirinya Rizal.


"Iya...aku sudah pulang barusan..." jawabnya gugup. Namun bola mata Tasia masih melirik ke arah cincin di jari manisnya Rizal.


Rizal langsung beranjak bangun dan menarik dua lengan Tasia, lalu di angkatnya tubuh Tasia ke atas kasur, dan dipeluknya istrinya itu erat-erat.


"Aku rindu sekali padamu...makanya aku cepat-cepat pulang kemari...apa kau tidak merindukanku?" gumam Rizal bergelora lalu hendak diciumnya bibir Tasia. Tapi Tasia keburu mengelaknya, menghindari Rizal.


"Kenapa?" tanya Rizal heran saat Tasia menghindari ciuman darinya.


"Dimana cincinmu?" tanyanya langsung.


Rizal mengerungkan kedua alisnya, tiba-tiba saja Tasia menanyakan sebuah cincin.


"Tentu saja ada di jari tangan...ku.." ucapnya terputus saat dia merentangkan jari-jari tangannya di depan Tasia, dia pun melihat ke arah cincin itu. Namun itu adalah cincin pertunangannya dengan Lia, bukan cincin pernikahannya dengan Tasia.


Mata Rizal terbelalak dan mulai panik, bicaranya langsung gelagapan. Tasia memandang ke arah Rizal mulai mencurigainya.


"Dimana?" tanya Tasia lagi penasaran, suaranya mulai meninggi.


"Em., i-ini..aku lupa cincin kita...aku simpan di laci meja kamarku di Jakarta, ini adalah cincin biasa...punyaku waktu dulu.." dustanya tergugup.


"Aku iseng memakai cincin lamaku...aku malah kelupaan terus memakainya..ha ha ha... Sekarang aku akan melepasnya jika kau masih terganggu." buru-buru Rizal melepas cincin pertunangannya lalu dia simpan di tas ranselnya itu yang berada di sisi saku tasnya.


Tasia hanya terdiam sedikit cemberut. Rizal memperhatikan wajah istrinya seperti tidak senang.


"Hmm...ya sudah aku pergi mandi dulu, aku sedikit kumal.." ujar Tasia beranjak berdiri dan keluar tapi Rizal cepat-cepat menarik tangannya lagi supaya jangan dulu pergi.


"Tunggu...aku belum puas memelukmu" di dekapnya lagi tubuh Tasia.


"Rizal..aku mau mandi..." tolak Tasia menghindari pelukannya. "Badanku kotor semua.." mendorong kencang dada Rizal yang menghimpit tubuh depannya Tasia.


Lalu Tasia mengambil handuk dan pakaian tidurnya di lemari dan segera keluar kamarnya pergi ke kamar mandi.


"Huufft"


Rizal menghela nafas panjang.


"Aah, sial kenapa aku bisa lupa tidak memakai cincin ku?" geramnya, memandang ke arah ransel " Dan cerobohnya aku malah masih memakai cincin pertunangan itu..." menghempas tinjuan kosong ke udara, lalu kilat terduduk di kasur dengan rasa sesal dan mengusap seluruh wajahnya sendiri dengan kasar.


###


Setelah mereka mandi bergantian, lalu mereka pergi makan malam di ruangan makan. Mereka makan hanya berduaan saja. Sebab Sulastri dan Irna sudah tertidur pulas karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 malam.


"Selama aku di Jakarta...jujur aku sangat merindukan masakanmu..." gumam Rizal buka suara, setelah mereka terdiam lama. Tasia tertegun mendengarnya.


"Kalau kau memang merindukan masakanku...lalu, kenapa kemarin-kemarin aku tidak boleh pergi ke Jakarta untuk menyusulmu?" celetuk Tasia.


Rizal terpojok dengan pertanyaan Tasia, dia jadi serba salah. Di sisi lain dia menginginkan Tasia berada di dekatnya, tapi dia juga takut Tasia bertemu dengan Lia di Jakarta dan masalah akan semakin rumit.


"Hmm..iya soalnya aku khawatir nanti kamu akan bosan sendirian di rumah, karena aku sering pulang malam..." gurau Rizal mencubit hidung Tasia manja, mencari-cari alasan hanya untuk meredakan kekecewaan Tasia kepadanya.


Tasia hanya tersenyum hambar padanya.


Rizal mulai menggerayangi jari jemari Tasia di meja makan, setelah mereka menyelesaikan makan malamnya berdua. Tasia terkejut dan menoleh pada telapak tangannya yang hangat. Seketika itu pula hati Tasia yang dingin mulai mencair karena sentuhan lembut tiba-tiba darinya.


Seketika itu mata mereka saling beradu pandang.


Pipi Tasia merona dibuatnya dan merapatkan kedua bibirnya erat-erat, lalu memanggut-manggut pelan. Jujur di lubuk hatinya yang paling dalam. Dirinya juga sangat merindukan hal ini bersama Rizal.


Tiba-tiba Rizal menggendong tubuh Tasia, dan membawanya masuk ke dalam kamar mereka.


"Kamu...aku ini berat tahu.." sipu Tasia.


"Mau seberat apapun dirimu, aku akan tetap kuat menggendongmu..." gombalnya.


"Masa siihhh.." cengir Tasia, lalu mendekatkan wajahnya dan menyentuhkan hidung mereka.


Mereka lalu tertawa bersamaan. Dan di dalam kamar mereka kembali melanjutkan aktivitas hubungan suami-istri itu.


###


Keesokan harinya. Rizal berdiskusi dengan Yogi di ruangannya. Rizal membeberkan semua bukti-bukti itu pada Yogi, sekedar meminta bantuan kepadanya untuk mencari solusi dan memecahkan masalah bersama.


"Em..berarti Tantemu itu..punya masalah kejiwaan di dalam dirinya" celoteh Yogi diiringi tawa mencela, setelah memeriksa tulisan catatan Ibunya Rizal dengan tulisan di bukunya Tante Mira.


Ada kesamaan tulisan Mira di akhir catatan milik ibunya Rizal, dan mereka berdua sepakat kalau catatan wasiat Audi adalah hasil manipulasi Mira sendiri.


"Kau pikir begitu? akupun sempat berpikir sama sepertimu" ujar Rizal meringai tawa puas.


"Sebaiknya kau selidiki lagi tentang dia, kau tanyakan pada seseorang yang mengetahuinya lebih banyak" saran Yogi, menyenderkan punggungnya di kursi sambil menopang dagu kanannya.


"Nenekku?"sontak Rizal teringat neneknya sendiri. "Aah..tapi dia sudah sangat tua dan mulai pikun, bicaranya pun sudah tidak terlalu jelas.." Rizal berpikir lama.


Lalu dia sempat tak pernah terpikirkan dengan Tania ibu tirinya sendiri.


"Mungkin ibu tahu semuanya tentang ibu kandungku dan Tante Mira..." gumamnya, menoleh pada Yogi sambil mengelus-ngelus dagunya sendiri.


###


Tasia yang masih sibuk dengan urusan dapurnya bersama para koki, tanpa lelah dia selalu memberikan arahan kepada mereka, setiap bulannya Tasia mengharapkan akan ada kreasi baru untuk menambah menu daftar di Cafe mereka.


"Ya..cukup, mungkin itu yang kusampaikan pada hari ini...perlu diingat kita harus tetap menjaga kualitas dan kebersihan pada makanan kita. Jangan pernah sekali-kali pun kita mengecewakan para pelanggan. Oke.. kalau begitu kalian bisa memulai bekerja kembali! Semuanya... tetap semangat yaa.." sahutnya, memberikan sederet motivasi pada pekerja di dapurnya.


"Siaaap bu..." semuanya serentak menyahuti Tasia dan bertepuk tangan padanya.


Tasia tersenyum pada semua koki yang bekerja di dapur kesayangannya itu. Lalu dia kembali keluar dapur meninggalkan mereka semua.


Ketika Tasia berjalan di koridor ingin memasuki lift, bermaksud pergi ke ruangannya Rizal di lantai atas. Tetapi seorang pelayan yang biasa selalu memberikan surat masuk pada Tasia yang namanya Nina, dia kini memberikan lagi majalah langganan Tasia setiap bulannya.


"Bu Tasia...ini majalah edisi bulan April..sudah terbit lagi..." sahut Nina tergesa-gesa menghampiri Tasia yang baru saja mau memasuki liftnya.


"Eh iya terimakasih...Nin.."


Tasia lalu mengambil majalah itu. Nina kembali ke depan untuk bekerja.


Tasia bergumam sendiri. "Majalah bulan kemarin saja belum sempat aku baca...soalnya keburu di rebut Revan, sampai sekarang belum di kembalikan lagi..."


Tasia mengangkat kedua alisnya heran. Lalu dia memasuki lift sendirian. Di dalam lift dia membuka lembaran-lembaran majalah itu satu-persatu. Matanya tiba-tiba terhenti dengan halaman majalah yang terpampang poto Lia disana dengan mempromosikan produk make-up merk baru bulan ini.


Poto Lia yang begitu cantik memukau dalam majalah itu, sekilas Tasia melihat ke arah tangan kirinya Lia yang merangkul bahu kanannya sendiri.


"Hah..." kedua alis Tasia mengerut dan mulutnya sedikit terbuka karena terkejut.


Dirinya melihat cincin yang melingkar di jari manisnya Lia. Cincin yang bentuk dan warnanya sama persis dengan cincin yang dipakai Rizal semalam.


"Ini...tidak mungkin sebuah kebetulan..." sahutnya berdegup kencang, matanya mulai berkaca-kaca seraya menutupi mulutnya dengan tangan kirinya.


bersambung...


...***...