
Bab 76
Menyembunyikan Statusku
Setelah lama mencoba merayu Tasia, akhirnya Rizal bisa membawanya pulang ke rumahnya. Namun Tasia meminta kalau dia ingin tidur di kamarnya sendirian. Rizal menuruti kemauannya yang terpenting istrinya itu mau ikut pulang bersamanya.
Di dorongnya kursi roda Tasia menuju rumah.
Sesampainya di pintu masuk rumah kediaman Hendra, semua pembantu menyambut kedatangan Tasia yang baru saja pulang dari Rumah Sakit pagi itu, dan mbok Darmin sudah menyiapkan kamar mereka sebelumnya. Tetapi Rizal menyuruh mbok Darmin mempersiapkan satu kamar untuk Tasia yang ingin tidur sendirian di kamarnya. Bu Darmin melongo dengan permintaan Rizal dalam hatinya berkata.
'Bukankah mereka sudah suami-istri, kenapa tidurnya terpisah..' herannya.
"Baik..den.." mematuhi perintah tuan mudanya.
Tidak mau berkomentar dengan majikannya, lalu mbok Darmin segera bergegas pergi untuk membereskan kamar buat Tasia sambil membawa koper kepunyaannya Tasia.
"Jika kamu perlu sesuatu...nanti tinggal bilang mbok Darmin saja ya.." ujar Rizal perhatian. Tasia hanya memanggut namun matanya tidak melihat Rizal sama sekali.
Hendra dan Tania baru saja keluar dari kamarnya dan menemui Tasia yang sudah datang, lalu Hendra tiba-tiba ingin mengajak Tasia untuk berbicara dengannya hanya berdua saja.
Rizal memandang ke arah Tania dipenuhi rasa kecemasan, Tania pun membalas menatap ke arah Rizal sama-sama cemas.
Beberapa menit setelah mereka terdiam di ruangan Hendra. Tasia menundukkan pandangan matanya karena segan pada Ayah Mertuanya itu. Jantungnya mulai berdegup kencang karena takut, karena baru kali itu Hendra mau mengajaknya berbicara berdua saja.
"Iya...Ayah ada apa?" tanya Tasia memberanikan dirinya bertanya duluan.
"Tasia...aku ijinkan kau tetap tinggal di rumahku.. tapi perlu kau ketahui, aku tidak bisa menutup-nutupinya lagi darimu, karena suatu hari nanti lambat laun kau pun pasti akan mengetahuinya" ujar Hendra perlahan tapi nampak tegas itu.
Tasia mengangkat pelan kepalanya ke arah Hendra berusaha menyimak perkataan apa yang akan disampaikannya padanya.
"Sebenarnya Rizal sudah kami jodohkan dengan wanita lain...dan secepatnya kami akan segera menikahkan mereka berdua..." ucapnya menatap lurus ke arah Tasia.
Deg
Jantung Tasia kembali berdegup dan seperti akan terhenti disana. Maksud perkataan Hendra, dengan wanita lain itu adalah Lia. Tasia sudah mengetahui itu sebelumnya. Matanya kembali berkaca-kaca ingin rasanya air itu di keluarkannya tapi dia berusaha menahannya dan tetap tegar di depan Hendra.
"Em..begitu ya.." ulas Tasia pelan.
"Ya...aku tahu kau masih status istrinya Rizal, dan aku tidak akan mengganggu hubungan kalian..kalian ingin terus bersama pun, aku tidak akan pernah melarangnya..." ujar Hendra.
"Tetapi ada syaratnya selama kau tinggal disini.. aku juga perlu mengatur dirimu, selama ada keluarga dari calon besanku termasuk calon istrinya Rizal nanti, kamu harus bisa menyembunyikan identitasmu sebagai istrinya Rizal.." tambahnya lagi membuat mata Tasia semakin tercengang dan dadanya tambah sesak mendengarnya.
"Ma-maksud...Ayah?" sahut Tasia terbata-bata kini air matanya mulai menetes keluar.
"Maaf..mungkin ini sangat mengecewakanmu..Tasia, aku tahu ini memang berat sekali bagimu, karena kau begitu sangat mencintai putraku, Rizal. Tapi aku pastikan kamu tak akan kekurangan nafkah darinya" jawabnya.
"Asalkan kau mau menuruti perintahku... jangan pernah sekali-kali kau beritahukan dirimu siapa di depan mereka..atau tidak kalian berdua terpaksa harus bercerai.." titah Hendra lagi menegaskan. "Kau mengerti..?!" tegasnya lagi.
Mata Tasia kembali terbelalak. Kini air matanya benar-benar keluar deras. Tasia tertunduk menahan kesakitan hatinya. Mertua mana yang tega begini pada menantunya. Menyembunyikan menantu pertamanya demi menantu yang dikehendakinya sendiri. Tasia bingung antara harus menurutinya atau tidak. Dan memilih harus mempertahankan pernikahannya lagi atau tidak bersama Rizal. Sedangkan dia sendiri tahu kalau dirinya bukanlah wanita yang kuat dan tegar seperti yang lainnya. Harus membagi suami dengan wanita lain. Dipaksa di poligami oleh mertua sendiri adalah hal gila baginya.
Rizal adalah pria yang membuatnya jatuh cinta pertama kalinya, yang bisa merubah hidupnya menjadi wanita periang dan bahagia setelah perceraian kedua orangtuanya itu. Rizal adalah orang yang mampu membuat dia tersenyum di kala dia menangis sedih.
Tetapi sekarang Tasia harus menerima kenyataan dirinya, bahwa menikah dengan pria kaya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Tasia menyesali dirinya mengenali Rizal. Harusnya dia menolak Rizal dari dulu, setelah tahu Rizal dan Lia benar-benar akan dijodohkan. Dia mungkin tidak akan bernasib sama dengan Ibunya yang pada akhirnya akan di telantarkan oleh Ayahnya sendiri.
Sekarang kejadian buruk masa lalu Sulastri kini di alami Tasia, putrinya sendiri. Dirinya harus bersiap menerima menjadi istri yang terabaikan dan di asingkan nantinya.
Tasia memanggut mengerti di depan Hendra. Kini semua sudah terlanjur dan tidak boleh di sesali lagi. Tapi harus dijalani dengan ikhlas saja.
'Hah seandainya saja dulu Rizal tidak jadi menikahiku mungkin rasanya tidak akan sesakit ini sekarang...' batinnya menyesali.
Lalu Tasia kembali ke kamarnya yang sudah di bersihkan mbok Darmin.
Tasia perlahan naik ke kasur dan menidurkan tubuhnya sejenak lalu melanjutkan tangisannya di kamar itu.
###
Malam harinya waktunya keluarga Hendra menikmati makan malam bersama. Semua sudah berkumpul di meja makan terkecuali Tasia yang masih di dalam kamarnya.
"Mbok..Tasia apa sudah diberitahukan kalau sekarang waktunya makan?" tanya Rizal cemas.
"Emm..sudah den, tapi non Tasia memilih makan di kamarnya.." jawab si mbok.
"Ooh..."Rizal sejenak jadi murung, karena istrinya tidak mau ikut makan bersama di meja makan keluarganya. Lalu cepat-cepat Rizal menyantap makanannya supaya cepat habis karena ingin segera menyusulnya ke kamar.
Hendra melihat putranya sedikit masam. Tanpa ragu dia akhirnya membuka suara dan membicarakan hal penting pada putranya itu.
"Ehm.. Rizal dalam waktu dekat ini adalah hari ulangtahunmu, Ayah sengaja sudah mempersiapkannya dari kemarin-kemarin.. Kita adakan pesta ulangtahunmu sabtu malam nanti di rumah ini...Ayah juga sudah mengundang semua teman-teman Ayah terutama keluarganya Lia, dan.. setelah selesai pesta, Ayah dan Ayahnya Lia akan membicarakan hari yang cocok untuk pernikahan kalian berdua nantinya.." terangnya.
Uhuk..uhuuuuk!" batuknya.
Rizal yang sedang menikmati makannya langsung tersedak nasi karena kaget mendengar perkataan Ayahnya itu.
"Ya Tuhan...Rizal pelan-pelan makannya...kamu juga Pak, kenapa mengajaknya bicara pas lagi makan, seperti tidak ada waktu lain saja untuk membicarakan itu pada Rizal!" kesal Tania pada Hendra. Lalu Tania memberikan air minum untuk Rizal, dan Rizal segera mengambilnya lalu meneguknya pelan-pelan.
"Tidak ada waktu lagi...Secepatnya kalian harus segera menikah" sambungnya lagi.
"T-tapi Ayah, belum ada dua bulan ini aku bertunangan dengan Lia...kenapa Ayah memburu-burukan aku segera menikahinya. Bukankah Ayah tahu disini masih ada Tasia? ini adalah hal berat baginya kalau dia sampai tahu.." riuhnya beruntun gelisah.
"Ayah sudah memberitahukannya tadi. Dan dia sudah menyetujui pernikahanmu dengan Lia."
"Apa?!"
Rizal menjengak kaget belum percaya ternyata Hendra sudah menjelaskannya pada Tasia tadi.
'Pantas saja dia tidak ingin ikut makan bersama kami' batinnya.
Rizal hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya lalu mengusap bagian sisi wajahnya, sekarang dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain bisa menerima keputusan dari Ayahnya. Hidupnya selalu tidak bisa dia kendalikan sendiri. Dari dulu Ayahnya selalu saja berkehendak sesuka hatinya. Jika tidak di turuti Rizal takut dengan kondisi sakitnya akan semakin parah.
"Kau memang tidak punya hati,.." gerutu Tania mencibir pada Hendra, lalu dia beranjak berdiri dari kursi makannya dan pergi ke kamar Tasia. "Nasib gadis yang malang.." ucapnya pelan.
###
Tasia menyimpan piringnya di atas nakas lalu mengambil gelas minumnya dan meneguknya perlahan. Setelah selesai makan malam dengan perut kenyang lalu dia lekas berbaring kembali untuk istirahat. Tapi tiba-tiba terdengar pintu kamarnya di ketuk.
"Tasia...Tasia...apa kamu sudah tidur nak?" teriaknya di luar kamar.
"Ibu..?" gumamnya, dia tahu itu suara Tania.
"Emm..belum bu.." jawab Tasia. Lalu perlahan di bukanya pintu kamar Tasia. Tania menghampiri Tasia penuh keibaan.
"Tasia..." Tania sontak memeluki menantunya itu. Tasia terkejut apa yang terjadi, kenapa tiba-tiba ibu mertuanya memeluknya hangat.
"Gadis yang malang.." ucapnya lirih. Lalu membelai wajah Tasia perlahan " Maafkan sikap Ayah mertuamu ya nak...ibu tahu kabar berita ini, sangat berat bagimu..tapi percayalah ibu akan selalu mendukungmu dan Rizal untuk selalu bersama..."
"Ibu...maksud Ibu?" mengerutkan kedua alisnya.
"Jangan sampai kalian terpisah gara-gara Rizal akan menikah lagi ya..ibu sudah terlanjur menyukaimu,." hibur Tania menenangkan kesedihan yang tengah dirasakan Tasia. Lalu di peluknya lagi menantunya itu.
Tasia pun semakin terharu dan membalas pelukan ibu mertuanya itu. "Terimakasih banyak bu..aku tidak sedih kok selama ada ibu dan nenek yang baik padaku..." gumamnya tersenyum tipis.
###
Yogi memandang langit malam di atas balkon apartemennya Ramond. Sesekali matanya juga melalang buana terkesima ke arah kota Jakarta yang berkelip dengan cahaya-cahaya lampu yang masih menyala disana.
Yogi memulai memetik senar gitarnya dan bernyanyi seorang diri. Sudah hampir satu tahun lebih ini dia melajang menunggu Tasia. Mungkin semua orang akan menganggapnya gila, mencintai wanita yang sudah bersuami adalah hal yang sangat memalukan. Tapi itulah yang tengah di rasakan Yogi. Rasa cintanya terhadap Tasia bukanlah main-main.
Pertama bertemu dengan wanita itu Yogi sudah tertarik dengan gayanya berbicara dan keluguan yang ada padanya. Tasia adalah wanita istimewa tak banyak bergaya tapi selalu nampak sederhana.
Mata Yogi terpejam dan sekilas melamunkan wajahnya tapi seketika itu Ramond tiba-tiba muncul menepuk bahunya sehingga membuyarkan lamunan indahnya.
"Hei sedang apa kau? gitar di peluk begitu, sambil senyum-senyum sendiri" sahutnya ceplas-ceplos.
Ramond adalah sepupu Yogi yang berusia 22 tahun dia masih berstatus mahasiswa dan yang terbaik di UI karena mendapatkan beasiswa. Memang gaya bicaranya itu selalu ceplas-ceplos namun terkadang dia juga selalu menasehati siapapun yang menurut dia tidak baik baginya.
"Kenapa kau selalu saja menggangguku..." gerutu Yogi.
Ramond tersenyum memandang kakak sepupunya yang sudah mau menginjak usia 28 tahun itu tapi masih belum menikah juga.
"Aku baru teringat dengan pria temanmu itu, siapa namanya?" bertanya sambil berpikir.
"Rizal, maksudmu?"
"Ah iya...itu dia namanya..." ujar Ramond membenarkan.
"Kenapa memang dengannya?"
"Bukankah dia tunangannya seorang model terkenal akhir-akhir ini.. yang bernama Lia Marshena? seorang model blasteran, cantik dan tinggi." ujar Ramond menjelaskan.
Yogi memanggutkan kepalanya. "Ya kalau memang kau sudah tahu lalu kenapa?"
"Lalu wanita kemarin yang dia sebut istrinya itu? aku masih sedikit bingung..." tanyanya penasaran.
"Kenapa kau jadi ingin mengurusi kehidupan oranglain?"
"Tidak...cuma waktu sebelum terjadi penusukan, wanita itu menangis terus di samping jembatan, mungkin dia tengah bersedih dan patah hati karena suaminya bertunangan dengan wanita lain" sambungnya lagi. Lalu memandang ke arah Yogi.
"Pantas saja kau begitu perhatian dengannya?" ujarnya lagi.
"Bantu doakan saja...aku malah berharap mereka segera bercerai..." ungkap Yogi tiba-tiba mengangkat alisnya di depan Ramond.
bersambung...
...***...