
Bab 67
Mengkhawatirkanmu
Setelah menarik Lia sampai ruangan yang sepi orang, Rizal menghempas tangannya kencang hingga punggung Lia terbentur ke dinding tembok.
"Aaww..." rintihnya, sambil mengelus bahunya.
Nafas Rizal terputus-putus tak beraturan, setelah membawa jalan cepat Lia ke ruangan itu. Kali itu Rizal sedang diselimuti emosi yang sangat besar terhadapnya.
"Kenapa kau bawa wartawan? dengarkan aku baik-baik walaupun kita sudah resmi bertunangan, tapi jangan harap nanti kita bisa menikah..."gertaknya emosi.
Lia tersontak kaget dengan ucapan Rizal. "Apa maksudmu kau tidak mau menikahiku?"
"Dengar baik-baik Lia, pertunangan kita karena kehendak orangtuaku...bukan keinginanku sendiri.." terangnya.
"Kau harus tetap menikahiku! atau tidak perusahaan Ayahmu akan hancur..." ancam Lia.
"Jangan berdalih soal perusahaan Ayahku! Aku tahu kau dan Tante Mira sebenarnya sudah merencanakan ini semua, dari dulu...kalian sudah berkomplot dan berpura-pura dengan perjanjian atas nama ibu kandungku, iya kan!" ungkapnya. "Ayo katakan, semua itu benar kan?" papar Rizal lagi, ingin membeberkan rencana busuk Lia dan Tantenya, dengan mengcengkram kuat dan menggoyangkan bahunya Lia kencang. Kepala Lia hingga pusing karena goyangannya itu, karena tidak kuat dia mampu melawan Rizal.
"Apa maksudmu? aku sama sekali tidak tahu- menahu soal ibumu itu?" sangkal Lia sambil melepaskan cengkraman Rizal darinya lalu dia pergi bergegas sedikit ketakutan dan meninggalkan Rizal di tempat itu sendirian.
Rizal memandang jengkel ke arah Lia yang pergi menghindari pertanyaannya.
"Aku pasti akan menyelediki itu semua...aku yakin ada yang tidak beres dengan perjanjian itu!" gumamnya sendiri.
###
Keesokan harinya.
Revan yang sedang istirahat siang di ruangan kerjanya di temani bang Mail sambil disuguhi kopi dan cemilan. Beranjak Revan menyalakan televisinya di ruangannya itu hendak menonton berita siang menghilangkan kebosanan.
Di ambilnya remote di meja kerjanya dan mulai menyalakan TV itu. Lalu dia pindahkan ke chanel berita siang hari.
"Nah sudah yang ini saja den.." sahut Mail menyarankan.
Revan duduk setelah menemukan acara yang cocok untuknya, lalu di minumnya kopi hitam yang tadi masih menganggur di meja kerjanya itu.
Berita trending mulai muncul di layar televisi, dan berita itu memaparkan seorang model dan juga sebagai bintang iklan ternama yang baru-baru ini populer, tadi malam telah melepas kelajangan dan bertunangan dengan seorang putra pengusaha tambang terbesar di Jakarta.
Buuuuiiiirr
Semburan kopi di mulut Revan tepat mengenai muka Mail.
"Uhukk..uhukk" Revan tersontak kaget setelah mendengar dan melihat berita trending itu.
Bang Mail mendumel kesal ke Revan mukanya jadi basah dan kotor akibat semprotan kopi di mulutnya Revan.
"Eh den yang benar saja...mukaku kok di semprot pake kopi..." gerutuannya.
"Sstttt ssstttt...." menyuruh Mail untuk diam tak bersuara. Revan tidak memperdulikan ocehan Mail, dia hanya fokus ke layar tv menonton berita tersebut.
"Lia?!" gumamnya dengan mata membulat ke arah layar televisi. "Dan...apa tidak mungkin?" sahutnya tidak percaya. Lalu dia beranjak pergi keluar dan menemui Yogi di ruangannya meninggalkan Mail.
Revan berlari kencang dan segera menaiki lift menuju ruangan Yogi.
Setelah sampai 5 menit dia membuka pintu kerja Yogi. Yogi yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya dengan komputernya terkejut Revan yang main masuk saja ke ruangannya tanpa ketuk pintu.
"Ada apa, kau bikin kaget saja?" gerutunya sambil merapikan kertas-kertas yang sudah di print-nya.
"Remote mana remote?" Revan panik dan tergesa-gesa mencari remote di ruangan Yogi dan ingin segera menyalakan televisinya.
"Ada apa datang-datang cari remoteku?" tanya Yogi kesal menulak pinggang. "Remoteku di atas lemari" sahutnya lagi.
Lekas Revan mengambil remote Yogi yang di simpan di atas lemari peralatan olahraganya itu.
"Sudah diam, kau lihat saja ini...!" suruh Revan.
Revan menyalakan televisi dan menambah volume suaranya biar terdengar jelas.
Mata Yogi mengarah pada layar televisi, dia terbelalak kaget. Disana terlihat jelas Lia yang sedang merangkul tangan mesra Rizal.
Revan mengerung dan memandang ke arah Yogi.
"Sekarang kau sudah melihatnya juga kan?" tanya Revan cemas.
Yogi seketika itu juga ikut cemas dan gelisah.
"Sedang apa si bodoh itu dengan Lia?" tanyanya pada Revan penasaran. Revan menggeleng-gelengkan kepalanya belum tahu.
"Ini akan jadi masalah besar kalau sampai kak Tasia mengetahuinya..." pekik Revan menakuti Yogi.
"Siapa? yang ingin kau hubungi.." tanya Revan penasaran.
"Tentu si bodoh itu, ngapain dia pake bertunangan segala dengan wanita lain, apa dia tidak puas punya satu istri?" kecamnya kesal setelah melihat berita itu di televisi antara percaya dan tidak.
Tak lama telepon pun terhubung. Rizal yang baru saja selesai rapat dengan kliennya, saat berjalan menuju ruang kerjanya, tiba-tiba handphonenya bergetar dan langsung mengangkat teleponnya itu.
"Ada apa?"
"Hei, brengsek sedang apa kau!" teriak Yogi memarahinya di telepon. Rizal mengernyitkan alisnya.
"Aku baru saja selesai rapat..." jawabnya seraya membuka pintu ruangannya itu.
"Jangan berpura-pura bodoh, apa kau sudah gila bertunangan dengan Lia?" celetuknya.
Rizal terkejut mendengarnya dari mulut Yogi, ternyata berita itu cepat sekali dipublikasikan.
"Hah Yogi...banyak sekali yang perlu ku jelaskan kepadamu, ini semua tidak seperti yang sedang kau pikirkan...seharusnya aku beritahukan kepadamu sebelumnya.." sahut Rizal tergugup dan mulai gelisah.
"Jadi apa maksudmu?"
"Nanti akan aku jelaskan...sekarang aku minta tolong padamu jangan sampai Tasia melihat berita di televisi atau majalah...tolong kau sebisa mungkin cegah dia untuk melihatnya, agar menghindari kesalahpahaman!" pinta Rizal memburu-burukan Yogi.
Yogi sontak ikut khawatir dan tegang.
"Aaah kau selalu saja menyusahkanku..." gerutunya jengkel terhadap sahabatnya itu. Tanpa basi-basi lagi Yogi langsung menutup ponselnya lagi. Lalu dia bergegas menuju ruangan Tasia.
"Revan kita punya tugas...jangan sampai Tasia mengetahui berita itu...semuanya matikan televisi dan jangan sampai ada yang mengabarinya tentang ini!" teriak Yogi terburu-buru lalu berlari segera menemui Tasia.
"Baik!" jawabnya cekatan.
###
Yogi berlari menuju ruangan Tasia, dia berharap semoga masih sempat menemui Tasia yang belum mendengar berita mengenai Rizal.
Braaaak
Pintu ruangan Tasia di bukanya cepat dan lebar. Yogi memanggilnya, tapi Tasia sudah tidak berada di ruangan itu.
"Tasiaaaa?" panggilnya cemas. "Kemana dia?" mengelilingi ruang kerja Tasia.
"Aah apa mungkin sedang di dapur" tebaknya
Lalu Yogi berbalik kembali keluar tapi saat keluar pintu dia bertabrakan dengan Tasia yang juga baru saja mau masuk ke ruangannya sendiri.
Bruukk
"Aaaah..." Tasia terjatuh ke lantai karena tabrakkan keras dari dorongan badan Yogi, dan map berisi kertas yang di pegangi Tasia juga ikut berhamburan ke lantai.
"Aduuuh...Yogi, kau mengagetkanku saja sih" rintihnya sambil mengelus-ngelus bokongnya yang montok itu.
"Ahh...maaf-maaf aku tidak sengaja, kau tidak apa-apa kan?" khawatirnya, cepat-cepat membereskan map Tasia dan membantunya berdiri.
"Tidak apa...kamu kenapa sih kayak panik gitu?" tanya Tasia lalu dia lekas berdiri dan masuk ke dalam ruangannya lalu diikuti Yogi dari belakangnya.
"Enng ti-tidak kok" melihat Tasia dia jadi gelagapan dan gugup entah dari mana dulu dia harus bertanya padanya.
Tetapi melihat Tasia yang bersikap seperti biasa saja, dia jadi berpikir mungkin Tasia belum melihat berita itu.
Tasia menyimpan mapnya di meja dan merapikannya dengan santai lalu mengambil gelas dan menuangkan air hangat di dispensernya dekat meja kerjanya. Lalu dudukan di kursi dan meneguknya perlahan-lahan.
Tasia tidak menyadarinya kalau Yogi sedang memperhatikan ke arahnya terus-menerus. Setelah selesai minum Tasia menyimpan gelasnya lagi di atas mejanya, lalu saat berbalik dirinya terkejut melihat pandangan Yogi yang sedang mengarah padanya.
Tasia jadi salah tingkah dibuatnya. "Kamu kenapa sih melihat aku terus?" tanyanya sedikit kesal.
Yogi jadi gelagapan di tanyainya begitu.
"Aemmm...ti-tidak...aku cu-cuma siaaang ini lapar sekali, dan ingin mengajakmu makan siang" jawabnya gelagapan, sangking paniknya jadi bingung mencari alasan. "Ayo kita makan siang bareng..." ajaknya mantap.
Tasia terheran dengan sikap aneh Yogi siang itu, karena Tasia juga sangat lapar lalu dia menerima ajakan makan siangnya.
"Ya sudah ayo... kita makan di tempat biasa.." jawab Tasia lalu dia mengambil tas kecilnya di meja.
Kemudian mereka pun makan siang bersama di restorant tempat mereka yang sering dikunjunginya itu.
bersambung...
...***...