Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Penyamaran



Bab 79


Penyamaran


Hampir setiap hari Lia selalu datang ke rumah Rizal setelah kepulangannya dari Prancis, membuat Tasia tidak bebas bergerak berkeluyuran di rumah Hendra. Dan pagi itu nyaris Lia sekilas melihatnya berjalan ke arah dapur, Tasia langsung bergegas bersembunyi di samping lemari makan.


'Aku ini adalah istri sahnya Rizal, tapi kenapa aku sudah seperti selingkuhannya saja' pikirnya membathin, hingga jantungnya sampai berdebar-debar karena takut kepergok Lia.


Teringat akan pesan Hendra, kalau dia tidak boleh memberitahukan siapa dirinya pada Lia dan keluarganya membuat dirinya bertambah khawatir dan tersiksa.


Tasia memandang ke arah pelayan rumah Hendra dengan pakaian yang sama, dan idenya ingin meminjam pakaian mereka.


"Buat apa non?" tanya mbok Darmin


"Buat aku pakai..." jawabnya.


"Maksud non Tasia? mau pakai baju ini?" heran.


Tasia memanggutkan kepalanya. "Iya mbok...apa mbok tidak tahu..kalau hampir setiap hari tunangannya Rizal selalu datang kemari..."


Mbok Darmin menunduk prihatin terhadap Tasia, dia sebenarnya sudah mengetahuinya sebelum Tasia kemari, dan juga rencana Hendra akan menikahkan Rizal dengan Lia, dan sebelum-sebelumnya mereka juga sudah di ingatkan oleh Hendra, untuk tidak membocorkan siapa Tasia sebenarnya. Sehingga pelayan pembantu seperti mereka tidak diijinkan banyak bertanya ataupun berkomentar di rumahnya Hendra itulah peraturan yang harus mereka patuhi.


"Non...apa non yakin, tapi nanti kalau den Rizal lihat non pake baju pelayan...dia pasti tidak akan suka..." cegahnya, melarang nyonya mudanya memakai pakaian pembantu.


"Mbok jangan khawatirkan itu, dia pasti lebih mengerti.." sahut Tasia, dia tanpa ragu mengambil pakaian yang di berikan mbok Darmin padanya. Lalu dia bergegas pergi menuju kamarnya hendak mengganti pakaiannya itu.


'Kasihan sekali nasib non Tasia, dia harus terpaksa menjalani pernikahannya yang tersembunyi' bathin mbok Darmin menatap iba ke arah punggung Tasia yang berlari keluar dari dapurnya.


Setelah memakai pakaian pelayan di dalam kamarnya dan berdiri menghadap ke cermin, lalu di sisirnya rambut hitamnya itu dan perlahan dia mengepangnya satu dengan rapih. Tasia memandang dirinya dengan penampilan berbeda sekarang, namun dia merasa ada yang kurang dan masih terlihat familiar.


Tasia teringat kalau Rizal punya kacamata di dalam kamarnya, pernah sesekali Tasia melihat ke kamarnya. Tasia lalu pergi dan naik ke lantai atas, dia masuk ke kamar suaminya itu dan segera membuka laci mejanya dan memang benar terdapat banyak kacamatanya Rizal yang sudah tidak terpakai lagi.


"Maaf sayang...aku pinjam dulu kacamatamu ya..Mungkin ini akan jadi beda, dan penyamaranku sebagai pelayan tidak akan diketahui oleh Lia" gumamnya.


Lalu dia kembali menutup laci mejanya dengan rapat. Sekilas Tasia melihat ada album poto Rizal di atas meja kamarnya. Tasia penasaran dan mulai melihat-lihat isinya. Poto-poto remaja Rizal yang masih anak sekolahan, bersama teman-temannya. Terlihat Rizal dengan wajah imutnya yang memakai kacamata tebalnya.


"Culun sekali...ternyata dulunya kamu seperti ini?" kekehnya, sambil menutup bibirnya yang terbuka tidak kuat menahan tawanya.


Hari menjelang sore, Tasia pergi ke kamar neneknya untuk memberikan makan malamnya. Setelah luka di perutnya berangsur membaik Tasia jadi tidak bisa berdiam terus di dalam kamarnya itu, harinya kembali melakukan pekerjaan yang dia sukai. Seperti membantu para pembantu memasak sudah bagian hobinya dan menemani neneknya Rizal.


Suara mobil Rizal telah sampai depan rumahnya. Rizal yang baru pulang dari kantornya masih bersama Lia, seharian penuh ini Lia selalu saja setia menemaninya. Kemanapun Rizal pergi dia selalu saja ikut dan menempel seperti prangko. Padahal mereka belum menikah tetapi sikapnya Lia seperti sudah menjadi istrinya Rizal saja.


Mereka berdua masuk ke dalam rumah bersamaan, Lia yang terus merangkul leher Rizal begitu intim, di bawah anak tangga yang menuju kamarnya Rizal, tidak sengaja kepergok Tasia yang baru saja keluar dari kamar neneknya yang di belakang loteng dengan membawa piring dan gelas bekas nenek makan barusan di atas nampannya.


"Sayang...kapan kamu mau mengajakku jalan-jalan malam?" sahut Lia yang begitu agresif menatapi wajah Rizal lekat.


"Aku lelah...Lia, maaf aku tidak banyak waktu menemanimu.." keluh Rizal memang dia terlihat sangat kecapean.


"Sayang ..kamu jangan begitu..kalau Ayahmu sampai tahu kamu tidak pernah menyenangkan aku, beliau pasti akan marah padamu..." ujarnya sedikit mengancam yang membuat Rizal tidak bisa menolak permintaannya.


"Hah...baiklah Lia beri aku sedikit waktu buat istirahat dulu, nanti malam pukul 20.00 aku akan jemput kamu di rumahmu..." keluh Rizal terpaksa. Lia begitu senang akhirnya Rizal terpancing dengan omongannya itu. Lalu Lia mendekatkan wajahnya itu menghadap Rizal dan hendak mencium bibirnya perlahan.


Tasia yang melihat wajah mereka berdekatan semakin tidak fokus berjalan hingga gelas jatuh oleng menimpa piringnya yang di nampan, dan mengeluarkan suara berisik mengganggu mereka.


Lia dan Rizal langsung menoleh ke belakang mereka. Tasia langsung gugup dan menundukkan pandangannya.


"Kau? sedang apa di sana?" teriak Lia kesal.


"Maaf... T-Tuan Nona..." ujarnya gelagapan. Rizal menatapi wajahnya seksama, dia baru kali itu melihat ada pelayan baru di rumahnya.


"Permisi..." Tasia bergegas ke dapur ingin meninggalkan mereka. Tapi...


"Tunggu" panggil Rizal menghentikan langkahnya tiba-tiba.


"Kamu siapa? kenapa aku baru melihatmu di rumah ini?" tanya Rizal penasaran dan melihat ke arah kacamata yang dipakai pelayan sangkaannya itu.


'Ternyata penyamaranku berhasil..bahkan Rizal pun tidak mengenaliku...' pikirnya puas.


"Ma-maaf Tuan saya pelayan baru di rumah ini...sekarang saya di tugaskan untuk merawat nenek Tuan" ujarnya bersandiwara, sambil terus menundukkan pandangannya karena takut Rizal akan mengetahui wajah aslinya.


"Ooh...pelayan baru...nah kalau begitu..kamu tolong ambilkan tas milik tuanmu ke kamarnya ya..." pinta Lia tiba-tiba semena-mena. Tasia tidak bisa berkutik lagi dan langsung mematuhi perintahnya, supaya bisa cepat-cepat pergi dari mereka. Di ambilnya tas kerja milik Rizal yang disodorkan Lia padanya. Setelah Tasia menyimpan nampan di atas meja makan.


Lalu Tasia buru-buru berjalan melewati Rizal dan Lia naik ke atas loteng.


"Emm..baiklah...Lia sekarang kamu boleh pulang dulu...aku mau mandi dan istirahat sebentar." ucapnya, setelah lumayan lama Rizal memandang ke arah Tasia yang disangkanya pelayan baru itu.


Lia menghela nafas pelan sedikit kesal karena selalu gagal berciuman dengan Rizal.


"Baiklah..tapi kamu janji ya...malam ini kamu temani aku jalan-jalan.." pintanya lagi.


"Iya.." jawab Rizal memanggutkan kepalanya perlahan. Lia lalu pergi berjalan keluar dari rumah Rizal sambil membetulkan tasnya yang dia cangkleng di bahu lengannya dan kembali pulang dengan mobilnya yang dia parkir di halaman rumah Rizal.


Setelah benar-benar Lia pergi, Rizal bergegas naik ke lotengnya dan menyusul pelayan baru itu.


Tasia menyimpan tas milik Rizal di mejanya lalu hendak kembali keluar kamar itu sedikit kesal. Rizal yang baru saja masuk kamarnya membuat Tasia terkejut dan jadi salah tingkah.


Rizal kembali memperhatikan seluruh postur tubuh dan penampilan yang katanya si pelayan baru itu.


"Apa yang kamu lakukan dengan penampilan itu..." sahutnya tiba-tiba. Tasia sontak terkejut dengan pertanyaannya tiba-tiba ternyata Rizal mampu mengenali penyamarannya itu.


"Kau...bisa menebaknya kalau ini adalah aku?" tersipu malu karena penyamarannya ketahuan suaminya sendiri.


Rizal tersenyum terkekeh melihat Tasia. Lalu mendekati Tasia perlahan dan melepaskan kacamatanya.


"Tentu saja aku tahu jelas...karena kamu memakai kacamataku.." celetuknya.


Tasia tersontak langsung memukul dadanya Rizal yang lebar.


"Hah...kalau aku tidak menyamar begini, aku bisa ketahuan oleh Lia..." geramnya jengkel.


Rizal menunduk sedih memandangi istrinya itu. Lalu di rangkulnya kepala Tasia ke dalam dekapannya.


"Maafkan sikap Ayahku yaa...gara-gara permintaannya kita berdua jadi kesulitan seperti ini.." lirihnya.


"Rizal...sampai kapan kita akan bersandiwara terus begini...? aku sudah tidak kuat lagi, kalian baru saja bertunangan apalagi nanti kalau kalian sudah menikah...! sungguh aku tidak bisa membayangkannya...jika kamu bersama istrimu yang lain..." lirih Tasia kembali meneteskan air matanya.


Rizal hanya bisa mengelus puncak kepala Tasia dan mendekapnya erat. Lalu tiba-tiba matanya Rizal mengarah ke rak buku di samping mejanya.


"Tasia...kemarilah akan kutunjukkan ini padamu..." sahutnya menarik lengan Tasia menuju rak buku.


Lalu Rizal mengambil sebuah kotak peninggalan ibu kandungnya, dan dia mulai menceritakan semuanya pada Tasia.


Mereka berdua dudukan di tepi kasur berdekatan. Rizal perlahan membuka kotak itu, dan diserahkan buku catatan milik ibunya ke Tasia untuk dibacanya. Sambil berlanjut Rizal menjelaskannya panjang lebar. Tasia mendengar seksama penjelasannya dengan penuh antusias.


Setelah setengah jam bercerita...


"Jadi...maksud kamu? semua perjodohan ini adalah rekayasa tante Mira?" kejutnya belum percaya.


Rizal memanggut yakin.


"Maaf baru aku bisa jelaskan semua ini kepadamu..., aku cuma tidak ingin kau ikut khawatir...dan kenapa aku tidak mengijinkanmu ikut ke Jakarta...karena sebenarnya aku sedang berusaha menyelesaikan permasalahan ini sendirian..." jelasnya lagi.


"Rizal..maafkan aku ya, yang sudah banyak menuduhmu..." Tasia lekas memeluk Rizal dengan merangkulkan tangan di lehernya.


"Terus sekarang rencana apa yang ingin kau lakukan selanjutnya..?" tanyanya lagi.


"Aku cuma ingin terlepas dari Lia dulu... kalau sampai kami menikah semua rencana ku tidak akan bisa berjalan lancar..intinya aku harus cepat membongkar rencana busuknya tanteku terhadap perusahaan milik Ayah.." ungkapnya lagi.


Tasia membelai pipi Rizal lembut dan menatapnya terharu. Dia sekarang tersadar ternyata kecurigaan dan prasangkanya terhadap Rizal selama ini adalah salah. Rizal terpaksa melakukan ini terhadapnya justru demi menjaga keutuhan rumah tangganya sendiri bersama dirinya.


"Sekarang...aku percaya dengan semua perkataanmu..." lirih Tasia kembali meneteskan buliran air di matanya.


Rizal tersenyum terharu dan mendekatkan wajahnya kepada wajah Tasia, sambil dipegangnya erat-erat tangan istrinya itu. Mereka berdua sama-sama menangis terharu dan saling berkecupan mesra.


bersambung....


...***...



Minta dukungannya yaaa .....like and komentarnya juga yang banyakin...supaya author smakin semangat melanjutkan ceritanya...yang favorit dah banyak tapi yang memberikan jejak cuma sebagian saja... itu membuat sedih author deh 😥 readers setia...


author akan melanjutkan ceritanya lagi kalau lebih dari 20 like...di setiap episodenya...di tunggu ya... 😂👍👍👍 bagus-bagus sampai ratusan he hee.. Terimakasih banyak nih yang udah mampir dan mau baca semoga terhibur...🙏🥰