Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Impian Mereka



...Bab 10...


...Impian Mereka...


Tasia pulang ke rumah siang itu dengan keranjang kue yang masih tersisa. Ibunya terkejut saat melihat keadaan putrinya itu, perban putih sudah menempel di dahi kirinya dan sudut bibirnya yang luka, seperti bekas tamparan keras.


"Tasia kenapa dengan wajahmu? apakah kamu habis berkelahi? Dengan siapa dan dimana?" tanya Ibunya khawatir dengan kondisi putrinya, seraya memegang pipinya untuk melihat-lihat wajahnya yang luka.


"Tidak apa-apa Bu, tadi Tasia di pasar habis ketemu maling. maling itu pukul Tasia sampai terjatuh. Tapi Tasia sudah gak apa-apa kok, untungnya ada yang nolongin Tasia" jelasnya terkekeh kecil.


"Ya Tuhan, sampai begitu nya. Lain kali kamu jangan jadi sok pahlawan, sok-soak-an menangkap orang jahat!" kritik ibunya kesal karna sikap Tasia yang sedari kecil sampai dewasa ini masih saja belum berubah.


"Ibu tidak usah khawatir. Tasia sudah besar sudah biasa juga dipukul orang jadi tidak ada rasa takut kok. Sekarang Tasia ingin mandi dan istirahat dulu sebentar. Tidak enak nih baju Tasia kotor-kotor semua" sambungnya lagi, yang terlihat kecape-an.


"Ya sudah kamu mandi sana, lalu cepat istirahat!" sahut ibunya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tasia, Tasia ada-ada saja nih kamu!" celoteh ibunya lagi, lalu dia melanjutkan kembali menjahit baju pesanan orang.


Saat mau melanjutkan dia jadi teringat akan sesuatu.


"Oh iya, besok kakakmu Maya dan kakak iparmu mau datang kesini. Mereka akan tidur dua malam. Karena hari minggunya mereka harus berangkat ke Bogor. Pekerjaannya Supri kan sekarang di pindah kesana. Jadi otomatis Maya juga harus ikut kesana." sahut Ibunya lagi mengingatkan.


"Oh, begitu ya!" gumam Tasia dengan menampakkan raut muka yang sedih.


Tentu saja Tasia bersedih, karna nanti dia harus jauh dengan kakak satu-satunya itu, kakak yang juga sebagai tempat untuk mencurahkan isi hatinya.


...***...


Di depan halaman Cafe, tampak Lia duduk seorang diri di kursi cafe sambil bermain gadget nya, terdengar suara motor, dia lekas berdiri.


"Kalian dari pagi pergi kemana sih? Jam siang baru pulang" tanya Lia menghampiri Rizal dan Yogi yang baru saja sampai di Cafenya.


"Kami habis refreshing..." jawab Yogi sedikit terlihat kesal, karena usahanya tidak menghasilkan.


Setelah memarkirkan motornya, Yogi segera membuka kunci pintu Cafenya itu dan langsung memasuki ruangan dapur.


"Ada apa dengannya?!" tanya Lia pada Rizal.


"Dia mungkin lagi sakit hati!" jawab Rizal asal. "Kakak mau ke kostan dulu, kamu disini saja sama Yogi ya.."ujarnya.


"Iya kak.." angguk Lia. Lalu Rizal berjalan keluar dan pergi ke kosan nya yang berada tidak jauh dari tempat Cafenya itu.


"Mereka habis darimana sih? kok gak mau cerita-cerita?" gumam Lia penasaran.


Dia lekas masuk ke dalam Cafe menyusul Yogi.


"Kemana anak itu, kok belum datang juga, ini sudah pukul 2 siang. Harusnya dia membantuku merapikan dapur ini!" gerutu Yogi membicarakan Revan yang belum juga datang.


"Tadi dia kirim pesan padaku, ibunya lagi sakit! Jadi gak bisa datang bekerja" seru Lia menjelaskan.


"Kalian habis darimana sih sebetulnya? pasti ada yang penting kan?" tanya Lia lagi.


"Tidak ada, ini bukan urusanmu!" singgung Yogi, yang lagi malas bercerita.


Dia lalu membuka kulkas dan mengambil air dingin di kaleng minuman, dan pergi ke ruang kerja lalu menyalakan televisi dan rebahan di sofa itu.


"Hari ini Cafe kita tutup dulu. Besok baru buka lagi. Aku ingin bersantai dulu!" serunya ke Lia.


"Hah, mana bisa kita bersantai terus? sudah satu bulan ini Cafe kita dilanda kebangkrutan, lihat Cafe di seberang jalan dekat supermarket itu! mereka selalu ramai dengan pengunjung. Sedangkan kita hanya satu-dua orang pengunjung saja yang datang. Terus sekarang kamu mau bersantai begini, bagaimana bisa kita dapat pemasukkan!" terangnya Lia geram, karna tingkah Yogi yang selalu saja meremehkan pekerjaannya.


Yogi tak menghiraukan ocehan Lia padanya, cepat-cepat dia mengambil buku majalah yang di atas meja lalu menutupkan mukanya dengan buku itu, dan berpura-pura tertidur.


"Hahh dasar pemalas!" gerutu Lia kesal.


"Mending aku pergi saja..ini hanya akan membuang-buang waktuku disini!" pekiknya lagi. Lalu dia mengambil tas kecilnya lagi dan keluar dari Cafe itu.


"Ya pergilah-pergilah" ucap Yogi pelan.


Setelah benar-benar Lia pergi. Yogi kembali menaruh majalah itu di meja. Terus, dia membayangkan lagi sosok gadis yang bernama Tasia itu.


"Kalau di pikir-pikir, gadis itu menarik juga yaa!" gumamnya sambil tersenyum-senyum sendiri.


...***...


Di malam dingin itu, Tasia merebahkan badannya dan merenggangkan otot-otot sarafnya supaya terasa lebih rileks. Badan Tasia terasa kaku sekali malam itu, akibat peristiwa tadi pagi di pasar, dia harus berlari mengejar dan berkelahi melawan si maling.


"Haaaah... nyamannya kasur empukku ini..! serunya.


Sesekali dia menatap langit-langit kamar dengan merefreskan pikirannya lalu hendak memejamkan matanya yang lelah, sayup-sayup, dan samar terbayang wajah seorang pria itu muncul di lamunannya yang tengah menatapnya penuh, lalu dia memanggil namanya jelas.


Tiba-tiba suara getaran handphone Tasia mengagetkan lamunannya.


"Rizal!" beciknya terkejut dan terbangun dari tidurnya


"Haah cuma mimpi, kenapa aku bisa berhalusinasi bertemu dengannya sih?!" tanyanya sendiri.


"Siapa yang telepon malam-malam begini lagi?" Tasia mengambil ponselnya di atas meja belajarnya dan melihat panggilan itu, dan ternyata itu dari Rizal.


"Ya ampun ngapain sih dia telepon jam 9 malam begini?" karena penasaran lalu dia segera mengangkat teleponnya.


"Hallo..? ada apa?" sahut Tasia memelas.


"Hallo Tasia, kamu belum tidur?!" tanya Rizal di telepon.


"Baru saja mau tidur, tapi kamu tiba-tiba saja telpon, ya gak jadi tidur deh" ujarnya ketus.


"Ah, maaf-maaf aku tidak tahu, maaf kalau aku telah mengganggu istirahatmu, aku hanya ingin mengingatkan kalau obat antibiotik nya kamu jangan lupa diminum ya?!" sahutnya perhatian.


"Ooh..terimakasih sudah mengingatkanku.. tapi aku bukan anak kecil lagi, jadi kamu tak perlu repot-repot memberitahukanku!" singgungnya jutek.


"Hmm..begitu ya, baguslah kalau sudah diminum, emm.. kalau begitu kamu istirahat dulu biar besok badannya lebih enakkan!" sahutnya.


"Iyaa.." jawab Tasia singkat.


Lalu mereka mengakhiri teleponnya bersamaan.


Tasia pun hendak menyimpan hpnya di meja lagi tapi sebelum mematikan hpnya sekilas dia melihat poto profilnya Rizal, sederet ada tulisan kata-kata bijak disana yang terlihat jelas.


' Pilihan kitalah yang menunjukkan siapa kita sebenarnya, jauh melebihi kemampuan kita'


Tulisan indah itu adalah tulisan karya penulis terkenal yang sudah mendunia, milik "J.K Rowling -Harry Potter and the Chamber Of Secreet"


Tasia tertegun cukup lama mencerna kata-kata tersebut, dan entah mengapa perkataan yang bijak itu mampu membuat bibir mungil merah mudanya, memoleskan senyuman yang manis.


Setelah menyalakan mode pesawat, cepat-cepat dia taruh ponselnya di meja belajarnya lagi, lalu dia kembali melanjutkan tidurnya.


...***...


Rizal yang masih duduk termenung di ranjangnya sambil merebahkan punggungnya, dengan seksama dia menatap lama sekali poto profil milik Tasia di aplikasi WhatsAppnya malam hari itu. Lalu dia bergumam sambil memandangi poto gadis itu.


"Entahlah mengapa, aku merasa ingin sekali mengenal tentangmu lebih banyak lagi, mungkin saja ada sesuatu yang kamu sembunyikan?" gumamnya.


Dia jadi teringat ketika bertemu Supri dan Maya di Mall saat mereka berbelanja, di hari kedua setelah pernikahan mereka itu.


...~Flasback~...


"Rizaaal!" teriak Supri memanggilnya dari jauh, Rizal yang kala itu juga tengah berbelanja kebutuhan untuk kesehariannya.


"Haii Supriii..." balas Rizal melambaikan tangannya pada teman kuliahnya. Lalu Supri dan Maya menghampiri Rizal yang baru saja selesai membayar belanjaannya di kasir.


"Sedang belanja juga ya?" tanyanya


"Iya...he_" kekeh Rizal. "Kalian sendiri?"


"Kami juga sama, em..bagaimana kalau kita makan dulu di restorant sana sambil mengobrol-ngobrol sebentar.." ajak Supri tiba-tiba menunjuk ke arah restorant di sana. Rizal memanggutkan kepalanya.


"Boleh.."


Lalu mereka mampir di sebuah restoran dekat Mall, dan berbincang lama. Yang pada akhirnya Rizal mengeluhkan keadaan usahanya itu pada mereka, lalu meminta bantuan Supri untuk mencarikan pegawai baru yang mau bekerja di tempat kerjanya. Maya berinisiatif untuk merekomendasikan Tasia adiknya sendiri.


Maya berkata bahwa Tasia dulunya Sekolah Menengah, di jurusan Tata Boga, sangat cocok sekali dengan pekerjaannya di Cafenya Rizal.


Tapi sayangnya, tadi siang Tasia malah menolak tawaran kerja darinya, dia malah membohonginya bahwa dia bukanlah yang membuat kue tersebut.


Disaat menjelang pernikahan Supri dan Maya. Rizal merasa Tasia tidak begitu senang dengan kehadiran ayahnya waktu itu. Sehingga banyak sekali pertanyaan yang mengganjal di hatinya Rizal untuk mengetahuinya lebih dalam.


Rizal merasakan dirinya dan gadis itu memiliki suatu kesamaan. Sesuatu itu, yang mungkin ingin dia raih tapi hanya ingin mengandalkan tangannya sendiri, tanpa sosok seorang Ayah di sampingnya.


bersambung...


...***...


Jangan lupa like dan komentarnya...


...🌺🌺🌺...