
Bab 69
Misteri Di Balik Wasiat Perjanjian
"Setelah kuulang dan kubaca lagi...rasanya seperti ada yang salah dengan lembaran catatan milik ibu..." gumam Rizal kembali menelitik buku catatan ibu kandungnya.
Pada malam hari itu Rizal kembali memeriksa kotak rahasia peninggalan Audi, ibu kandungnya sendiri. Dirinya selalu saja terbayang-bayang keanehan di setiap kali setelah membuka buku catatan harian milik ibunya itu.
"Aku lahir pada tahun 1994 bulan April tapi terakhir ibu menulis wasiat perjanjian itu pada bulan Mei 1994, dan Ayah bilang Ibu meninggal setelah satu jam aku dilahirkan ke dunia.. disinilah aku merasa ada yang salah..." pikirnya lagi semakin mencurigainya.
Tengah malam sekali saat semua sudah tertidur dan suasana rumah mulai sunyi sepi, Rizal berjalan perlahan mengendap-ngendap menuju ruang kamar bekas Tantenya itu, Mira. Namun saat ingin dibuka ternyata pintu kamarnya terkunci rapat. Rizal untung masih teringat kalau setiap ruangan rumah milik Ayahnya memiliki kode rahasia, dan mampu membuka ruangan tanpa harus membuka kuncinya.
Di sudut ruang perpustakaan keluarga besar Wijaya, dia bergegas membuka sebuah brangkas kecil di dinding samping rak buku peninggalan kakek buyutnya Rizal. Ada kode khusus di setiap ruang untuk membuka pintu tanpa harus menggunakan kunci.
Rizal akhirnya berhasil membuka kamar Tante Mira tanpa harus bersusah payah menjebolnya. Dia berjalan dan kembali ke kamar Mira yang sudah terbuka lalu dengan segera dia masuk kamarnya, dan memeriksa semua lemari buku Tante Mira dengan teliti.
Setelah lumayan lama di kamar Mira akhirnya usahanya Rizal tidak sia-sia, dia menemukan bukti yang dia cari selama ini, ya bukti yang sangat akurat, bukti yang cocok sekali dengan apa yang direncanakan Mira selama ini padanya.
###
Keesokan harinya...
Hampir setiap hari Lia selalu mengunjungi Rizal di kantornya, setelah pertunangan mereka Lia jadi sering ke kantor Rizal hanya sekedar ingin memberikan perhatian padanya, dengan membawa makan siang dan beberapa bungkus cemilan kesukaan Rizal.
"Rizal ayo makan...aku bawa makanan kesukaanmu lagi loh..." rayu Lia saat di ruangan kerja Rizal. Lia duduk merangkul leher Rizal di samping tangan kursi Rizal yang tengah didudukinya.
"Maaf Lia hari ini aku belum lapar dan belum mau makan..." tolak Rizal kali itu.
Rizal berani menolak semua makanan kesukaannya yang di tawarin Lia padanya hari ini. Setelah malam harinya dia sudah mengetahui bukti rencana busuk Tante Mira. Dirinya malas untuk makan yang di bawa Lia. Dia ingin menguak semua rencana kejahatan Mira pada semuanya namun dia masih butuh waktu untuk mengumpulkan bukti yang banyak lagi.
Lia sedikit kesal karena hari itu, tumben-tumbenan Rizal menolak makanan yang di bawanya sendiri.
Tiba-tiba pintu ruangan Rizal diketuk,
Tok tok tok
"Masuk..." teriak Rizal.
"Ada yang masuk, sebaiknya kau segera duduk di sofa tamu..." suruhnya pada Lia sedikit risih dengan sikap Lia padanya. Lia cemberut tapi akhirnya dia menurut. Lalu Lia berjalan duduk di sofa tamu.
Pintu terbuka dan itu Shanti, dia berjalan masuk menghampiri Rizal dengan membawa laporan yang di sedekapkannya di samping dada kanannya.
Seperti biasa dia berjalan dengan melenggak-lenggokkan tubuhnya yang gemulai. Tubuhnya yang montok sangat jauh sekali kalau dibandingkan dengan tubuh Lia yang tinggi ramping dan tidak terlalu terbentuk itu, karena Lia hanyalah seorang model yang lebih mengutamakan tubuhnya yang ideal.
Tubuh Shanti begitu sangat bergairah dan membuat mata para lelaki normal manapun selalu penuh nafsu untuk memandang ke arahnya.
Shanti melirik Lia yang duduk di sofa dengan senyuman tipis, dan Lia membalas senyuman sinis padanya.
"Ada apa Shanti?" tanya Rizal.
"Ini Pak Rizal, ada beberapa laporan yang perlu anda baca dan tandatangani..." sahutnya. Shanti memberikan dua buah map merah dan biru ke hadapan Rizal.
Rizal segera membuka dan memeriksanya. "Nanti akan ku baca lagi. Kau boleh pergi dulu...setelah selesai aku panggil kamu lagi kesini.." pinta Rizal. Shanti memanggut lalu dia hendak kembali pergi.
Rizal menatap makanan yang dibawa Lia di mejanya. Lalu menyuruh Shanti kembali.
"Hem..Shanti tunggu dulu..." panggilnya tiba-tiba. Langkah Shanti terhenti dan dia menoleh ke arah Rizal lagi. Lia memandang Rizal yang memanggil Shanti lagi.
"Iya pak?"
"Apa kau lapar...?"
"Emm..lumayan sih pak..."
"Kalau begitu ambillah makanan ini, ini semua untukmu..tolong kamu habiskan ya.." pinta Rizal memberikan semua bekal makanan Lia kepada Shanti. Lia sontak langsung beranjak berdiri melihatnya.
"Hmm terimakasih banyak Pak..aku pasti akan memakannya" sahutnya riang.
"Sama-sama.." ucap Rizal memoleskan senyuman manis pada Shanti.
Shanti terpesona dengan senyuman Rizal kepadanya, lalu Shanti segera keluar dengan bahagia karena baru kali itu atasannya begitu perhatian padanya. Setelah benar-benar Shanti keluar dari ruangan Rizal dengan membawa bekal makan milik Rizal. Lia marah dan geram dengan sikap yang dilakukan Rizal.
"Kenapa bekal makan siangmu yang aku bawa malah di kasihkan wanita itu?" jengkelnya.
"Aku kan sudah bilang padamu kalau aku belum lapar...dari pada makan siangmu tidak ada yang makan, lebih baik aku berikan padanya." gumam Rizal tersenyum tipis pada Lia. Lia kesal dengan menghentakkan kakinya lalu dia pergi meninggalkan Rizal di ruangannya.
"Terserah kau saja!" gerutunya marah.
Lia keluar dan menutup pintunya sangat kencang sangking kesalnya dia pada Rizal.
"Hmm...sepertinya aku harus merancang rencana dan membalas semua perbuatanmu Lia.. supaya kau semakin membenciku, agar kita terputus dari hubungan pertunangan ini...dan sebelum kau memintaku untuk menikahimu segera..." gumam Rizal tertawa licik pada Lia.
###
Sudah hampir empat minggu lebih itu mereka terpisah karena jarak, namun karena pekerjaan keduanya yang tidak bisa ditinggalkan juga. Jujur hati Tasia saat terpisah dari suaminya adalah hal terberat di dalam hidupnya.
Tasia merasakan kehampaan dalam dirinya. Walaupun juga Rizal sering menghubunginya namun dia juga sebenarnya sangat merindukan sentuhan hangat dari Rizal.
Hati Tasia kian hari kian kemelut, di pandanginya terus wajah suaminya di poto dan di dekapnya erat ke dadanya.
"Ahh...kamu lama sekali pulangnya..." gumamnya. "Bukankah kamu sudah berjanji padaku akan pulang satu bulan sekali" sedikit kesal.
Rizal dulu pernah berjanji akan pulang satu bulan sekali namun karena kesibukkan yang padat dengan pekerjaannya dia jadi mengundur-ngundurkan waktu untuk pulang ke rumah istrinya itu.
Tasia semakin hari semakin gelisah dengan memikirkannya terus, tiba-tiba matanya melihat ke kalender di meja kerjanya.
"Bulan depan sudah bulan April..." gumamnya "Hah..." dia tersontak jadi teringat bahwa akhir bulan depan adalah hari ulangtahunnya Rizal yang ke 27 tahun.
Tasia tersenyum senang dia jadi ingin sekali memberikan suprise buat suaminya itu nanti.
Pada malam harinya. Tasia diantar pulang oleh Yogi dengan mobil bang Mail. Akhir-akhir ini Tasia merasa aneh dengan sikap Yogi padanya. Dia yang antar jemput Tasia pulang dan bukan bang Mail.
Di perjalanan pulang mereka berdua hanya berdiam saja. Tasia jadi merasa canggung dengan sikapnya yang agak berubah. Namun Tasia mencoba memberanikan diri untuk bertanya padanya.
"Kenapa? akhir-akhir ini kau selalu mengantar jemput aku..?" tanya Tasia tiba-tiba memecahkan keheningan.
Yogi melirik sebentar ke arah Tasia yang duduk di samping kirinya, tidak menjawab pertanyaan Tasia. Matanya lalu fokus menyetir ke depan lagi.
Tasia cemberut karena pertanyaannya tidak di jawab. Tak berapa lama kemudian mobil terhenti dan mereka sudah sampai di depan rumah Tasia.
Yogi mendekati Tasia perlahan, dan matanya Yogi mengarah padanya lekat. Tasia jadi sontak terkejut dengannya yang semakin dekat ke arahnya.
"Sudah sampai rumahmu sekarang kau bisa turun.." sahutnya, dengan membantu membukakan sabuk pengaman yang mengikat Tasia.
Wajah Tasia jadi memerah karena malu. Lalu didorongnya dada Yogi untuk menjauhinya.
"Kau ini...dasar! tak perlu repot-repot bukain segala kan, aku kan juga bisa melakukannya sendiri" gerutunya jengkel. Tasia dengan cepat membuka pintu mobil dan segera turun keluar.
"Ya sudah kalau begitu aku kembali lagi yaa.." seru Yogi
"Ya sudah pergi sana!" kesal Tasia menutup pintu mobilnya lagi dan bergegas masuk rumahnya.
Yogi tersenyum manis memandanginya dari jauh. Lalu dia pergi menjalankan lagi mobilnya.
###
Tasia masuk dengan wajah di tekuknya karena jengkel terhadap Yogi. Setelah sampai di depan pintu luar rumahnya, tiba-tiba Tasia melihat ada sepatu coklat kepunyaannya Rizal yang sering dipakainya pergi jalan-jalan bersama Tasia.
Jantungnya tiba-tiba berdegup sangat kencang dan matanya mulai berkaca-kaca karena terharu. Dibukanya pintu depan cepat-cepat dan mengucap salam kepada penghuni rumah.
Sulastri dan Irna sudah terduduk di ruang tamu sambil membuka-buka keranjang buah tangan, lalu membalas salamnya.
Mereka melihat ke arah Tasia bersamaan sambil tersenyum-senyum. Tasia sudah bisa menebaknya dia langsung bergegas lari cepat pergi ke kamarnya, tanpa membuka sepatu kerjanya dulu.
Kreeeeettttt
Matanya berbinar-binar, dan sudut matanya mulai mengeluarkan air mata. Setelah dia melihat suami tercintanya sudah ada tertelungkup tidur di ranjangnya.
"Hhhh...Rizal...suamiku sayang..."ucapnya pelan. Perlahan Tasia mendekati suaminya yang tidur pulas karena kecapean. Tasia tidak menyangka kalau malam ini dia akan pulang. Ternyata dia tidak ingkar janji. Di genggamnya tangan kiri Rizal yang mengulai ke bawah kasurnya. Lalu di ciuminya tangan suaminya itu lembut.
Tetapi tiba-tiba saja Tasia terkejut saat melihat cincin pernikahan di jari manis Rizal jadi berubah dengan cincin yang berbeda.
Alisnya mengerut ketat...dan matanya terus melihat ke arah cincin itu.
"Cincin apa ini..." tanyanya.
bersambung....
...***...
Bantu dukung aku ya...like, koment, hadiah dan votenya...
kalau ada yang like dan komentarnya rame ..nanti bisa ku lanjutin lagi ceritanya...
terimakasih yang sudah mau membacanya semoga terhibur...