
...Bab 36...
...Pertengkaran Kecil...
"Membeli sesuatu?" ujar Tasia penasaran. "Baiklah aku mau mandi sebentar ya... kamu masuk ke dalam dan temui ibuku dulu" pintanya. Rizal mengangguk dan menuruti perkataan Tasia. Dia pun masuk ke dalam rumah Tasia.
Tasia langsung berteriak memanggil Irna. "Irna.. Irna!" Dengan cepat Irna nongol dari dapurnya.
"Ada apa mbak?" jawabnya, langsung menghampiri Tasia ke depan.
"Tolong kamu buatkan minum buat mas Rizal ya.. minuman jeruk hangat, dan ambilkan beberapa makanan ringan di toples!" pintanya. Tasia sudah hafal dengan minuman yang selalu di minum Rizal kali itu. Rizal menatapnya geli.
"Baik, siap mbak!" seru Irna. Irna langsung bergegas ke dapur lagi.
"Tidak usah repot-repot" ujar Rizal menyenggolkan bahunya ke bahu Tasia, sambil mengedipkan matanya sebelah ke arahnya.
"Tidak repot kok!" jawab Tasia, mencibir bibir bawahnya ke Rizal. Melihat itu Rizal semakin gemas dan mencubit sayang pipinya Tasia.
"Aduuuh.. hentikan" rintih Tasia.
"Emm..ayo-ayo gitu lagi kucubit kamu ya..!" godanya. Mereka saling bercanda tawa bersama.
Lalu tak lama Sulastri, Ibu Tasia menghampiri mereka dari dalam dapurnya.
"Selamat siang nak Rizal" sahut Ibunya mengagetkan mereka yang tengah bercanda. Mereka berdua terkejut dan segera menghentikan candaan itu.
"Se-selamat siang tante" jawab Rizal gugup dan dia lekas bersalaman dan mencium punggung tangannya Sulastri.
"Sudah lama nak?" tanya Ibu.
"Baru saja kok tante!" sahut Rizal sopan. Lalu Sulastri menyilahkannya duduk, dan Ibunya memulai mengajak Rizal mengobrol, sedangkan Tasia pergi ke belakang mandi siang itu untuk menyiapkan dirinya.
Sedangkan Sulastri mencoba untuk bertanya tentang hubungan baik mereka. Rizal mengungkapkan semuanya dengan jujur bahwa mereka memang saling mencintai satu sama lain dan tengah menjalin hubungan yang serius.
Sulastri ikut senang dan merestui mereka. Apalagi setelah tahu kalau Rizal adalah teman baiknya Supri menantunya itu. Membuat Sulastri semakin yakin terhadap Rizal, bahwa Rizal pasti bisa membahagiakan putri keduanya itu.
Setelah lama mereka berbincang, Sulastri mengijinkan Tasia di ajak pergi Rizal sebentar. Setelah Tasia siap cantik dengan memakai blouse kuning tanpa lengan dan celana panjang hitamnya, lalu rambut coklat yang dibiarkan digerainya panjang, lalu mereka berdua pamitan untuk pergi keluar.
"Bu, Tasia dan Rizal pergi dulu ya..!" ujar Tasia lalu mencium punggung tangan ibunya, di lanjut dengan Rizal. Ibunya memanggut.
"Iya hati-hati di jalan, ingat tapi jangan sampai kamu pulang terlalu malam yaa..." pesan ibunya, sedikit khawatir dengan pasangan muda-mudi itu. Tapi melihat dari penampilan Rizal. Ibunya bisa merasakannya kalau Rizal adalah pemuda baik-baik.
" Siap, tante" jawab Rizal memanggut.
"Soalnya nanti malam makanan disini sudah siap, dan nak Rizal bisa ikut makan juga" titah Sulastri. Rizal berbinar senang dengan ajakan makan malam dari ibunya Tasia.
"Baik Tante" jawabnya sumringah. Tasiapun ikut senang dengan hubungan Ibu dan pacarnya yang mulai terlihat akrab itu.
Mereka lalu berjalan keluar rumah barengan, segera Rizal menyalakan mesin motornya.
"Kamu, pinjam motor siapa?" tanya Tasia yang belum pernah melihat motor baru di pakai Rizal.
"Ini motor teman bengkel ku, aku sewa seharian ini demi bisa jalan-jalan berduaan denganmu" sahutnya sambil mengedipkan matanya satu. Tasia tersipu-sipu mendengar gombalannya itu.
"Ya sudah ayo kita jalan.." Tasia segera menaiki dibelakang motornya. Mereka lalu berlalu melewati pagar rumah Tasia. Ibunya masih tersenyum sambil memandangi mereka dari kejauhan. Setelah mereka benar-benar pergi ibunya kembali masuk ke dalam rumah dan melanjutkan pekerjaannya bersama Irna untuk menyiapkan makan malam nanti bersama mereka.
...***'...
Setelah sampai, mereka berhenti di tempat tujuan. Tasia mendongak terkejut setelah Rizal memintanya untuk turun dari motor, ternyata Rizal ingin membawanya ke sebuah tempat penjualan mobil. Rizal memarkirkan motornya sebentar, lalu dia segera turun dari motornya, dan menghampiri Tasia.
"Ayo kemarilah..aku hanya ingin meminta saranmu terlebih dahulu" meraih tangan Tasia dan menariknya ke dalam. Tasia masih melohok belum percaya.
"Ka-kamu mau beli mobil?" tanya Tasia terbata-bata terkejut.
Rizal memanggut. "Bukankah lebih nyaman memiliki kendaraan sendiri, dan bukannya dahulu kamu menyarankanku membeli kendaraan. Dan sekarang aku ingin membelinya" jawab Rizal menoleh ke arah Tasia.
Pelayan penjual mobil itu mempersilahkan mereka masuk dan memperbolehkan melihat-lihat dahulu. Rizal tertarik dengan mobil keluaran baru yang mereka promosikan dan harganya yang sangatlahzzz tinggi.
Tasia memandang Rizal dengan wajah masam. Karena baru pertama kalinya, dia melihat Rizal seperti itu, yang begitu tertarik dengan barang-barang mewah dan mahal.
"Bagaimana menurutmu? kau lebih suka yang warna apa?" serunya menengok ke arah Tasia di belakangnya, yang masih berdiri diam tidak bicara.
Tasia terkejut dari lamunannya.
"Ah ya apa?" sahutnya tidak terlalu fokus dengan pertanyaan Rizal barusan. Rizal menatapnya kesal karena Tasia hanya melamun saja dari tadi.
"Kemarilah" Rizal menggiring Tasia ke dekat mobil-mobil itu.
"Katakan yang mana yang kamu suka?"tanyanya lagi sambil merangkul kedua bahu Tasia. Tasia masih bingung untuk memilihkannya.
"Semuanya bagus kok.. tapi apakah uangmu sudah cukup untuk membelinya, kenapa tidak beli motor saja dulu? harga motor mungkin masih agak ringan di kantong" sahut Tasia lagi menyarankan.
"Aku menargetkannya akan membelinya setelah 2 bulan lagi, jadi setelah nanti acara wisuda selesai, aku bisa berangkat ke Jakarta dengan membawa mobil pribadiku sendiri" ujar Rizal dengan pandangan matanya masih mengarah ke mobil mewah itu.
Tasia terkejut lekas menundukkan kepalanya. "Ooh kau akan pulang?" tanyanya tiba-tiba sedih. "Berapa lama kamu disana?"
Rizal menjawab dingin "Belum tahu..." dia terlihat ragu, seraya menatap kosong didepannya.
"Rizal, bagaimana kalau kamu lihat mobil yang lainnya, siapa tahu ada yang lebih murah? dan yang terpenting fungsinya juga sama kan" saran Tasia tiba-tiba mengalihkan pembicaraannya.
Rizal mengernyitkan dahinya.
"Tidak aku lebih suka yang di depanku ini, yang lainnya aku tak tertarik!" Sahutnya ketus.
"Aku hanya ingin memberimu saran saja, dengan begitu kan sebagian uangnya bisa kamu tabung, lalu bisa membeli oleh-oleh untuk kedua orangtuamu disana. Mereka pasti akan sangat senang padamu setelah lama tidak berjumpa" ujar Tasia meyakinkannya. Rizal menatap mata Tasia dingin, tampak sekali di raut wajahnya Rizal yang tidak begitu senang dengan pembicaraan Tasia.
"Aku tidak punya orangtua..jangan pernah menyebut mereka didepanku!"tegas Rizal tiba-tiba marah. Lalu dia berjalan pergi menjauh dari Tasia, dan menghampiri pelayan itu untuk meminta brosur harganya.
Tasia tercengang dengan perkataannya.
"Kenapa dia jadi marah begitu? Apa ada yang salah dengan ucapanku? apa maksudnya tidak punya orangtua" tanyanya pelan.
Setelah selesai berdiskusi dengan pemilik toko mobil itu. Rizal mengajak Tasia pergi.
"Nanti 2 bulan lagi aku akan kesini lagi!" Ujarnya senang.
"Jadi kamu yakin akan membelinya?"tanya Tasia pelan.
"Iya tentu saja, kenapa? kamu terlihat tidak suka? Kamu mau suka atau tidak aku akan tetap membelinya!" bentaknya mengerungkan alisnya.
Tasia jengkel dengan perubahan sikap Rizal secara tiba-tiba. Dan masih belum percaya kalau Rizal akan berani membentaknya.
"Kenapa kamu jadi marah begitu? aku kan cuma ingin memberimu saran yang baik!" kesal Tasia, dengan wajah memerah marah.
"Kalau pun tidak suka dengan saranku, kenapa harus ngajak aku kesini segala!" paparnya lagi, seraya mendorong dadanya Rizal.
Lalu Tasia segera berlari pergi meninggalkan Rizal disana sendirian.
"Tasia, hei Tasia kau mau pergi kemana?" teriaknya.
"Ya Tuhan kenapa aku jadi memarahinya?" ujarnya menyesal sambil mengusap mukanya sendiri.
bersambung...
...***...
Jangan lupa like dan komentarnya yaa...
...🌺🌺🌺...