
...Bab 42...
...Kakak Yang Depresi...
Praaannnk
Suara bising pecahan kaca terdengar di bawah, diluar depan ruangan tamu, pada pukul 02.00 pagi itu. Rizal yang baru saja terlelap menikmati tidurnya jadi terganggu karenanya.
Raffi dia baru saja pulang dan sampai rumah, dia membanting-bantingkan botol minumannya ke arah jendela rumah. Pak Mamat mencoba menghentikan ulahnya namun sulit sekali di atasi.
"Nadiaa...nadiaaa...." teriaknya, sambil menangis.
Semua penghuni rumah sana ikut terbangun dan bergegas keluar, menghampiri sumber suara bising itu. Tidak terkecuali Hendra juga keluar di dorong Tania dengan kursi rodanya, diiringi batuknya yang serasa sesak di dalam dadanya.
Raffi sudah tergeletak di teras rumah sambil mengigau tak karuan. Di samping jendela dekatnya banyak pecahan botol berceceran di sana dan sisa-sisa minuman keras.
Tania berteriak dan menghampirinya khawatir "Raffi hentikan sayang.., ayo bangun dari sana nanti kamu terkena pecahan beling nak!"
Hendra hanya menggeleng-gelengkan kepalanya prihatin melihat kondisi putra pertamanya menjadi seperti itu.
"Ayo kalian bantu Nyonya bawa Tuan muda Raffi ke kamarnya!" seru Hendra menyuruh pembantu-pembantunya yang dari tadi sudah ikut berdiri disana.
"Ba-baik Tuan!" semua serentak mematuhi Hendra. Dan mereka membantu membopong Raffi ke kamarnya, Tania ikut masuk menemani putranya itu.
Rizal yang baru saja turun dari lantai atas kamarnya memperhatikan itu. Berpapasan dengan Raffi yang melewatinya. Sekilas mata Raffi menatap ke arah Rizal dengan kondisi yang belum sadar. Rizal pun ikut prihatin melihat keadaan Kakaknya itu.
Hendra dan Rizal saling berpandangan mata, sama-sama merasakan kekalutan.
#
#
#
Pagi itu Tasia membuka ponselnya sebelum berangkat kerja, sambil menunggu jemputan mobilnya yang sudah Rizal siapkan dulu-dulu sebelum keberangkatannya ke Jakarta. Agar Tasia ada yang mengantarnya pulang pergi.
Sudah ada beberapa pesan Whatsapp dari Rizal semalam. Tasia tersenyum mengembang membacanya. Lalu dia membalas pesannya Rizal.
Pagi sayang..syukurlah kamu sudah sampai Jakarta dengan selamat. Sekarang aku sedang siap-siap mau berangkat ke Cafe. Jangan lupa sarapanmu ya...
Lalu tak lama pesannya terbaca oleh Rizal, dan Rizal sedang mengetik untuk membalas pesan Tasia lagi.
Iya sayangku.. kamu juga jangan sampai lupa sarapan dulu...jaga kesehatanmu... muachh 😘
Balasnya cepat, dengan di akhiri kata ciuman mesra. Tasia sampai tersenyum tersipu membacanya. Selang beberapa menit mobilnya sudah datang, dan Irna di luar halaman sedang menyapu, segera memanggil-manggil Tasia yang masih terduduk membaca pesan dari Rizal di kursi teras rumah. Tasia beranjak dari duduknya dan segera berlari ke depan.
Lalu berpamitan dengan Ibunya yang juga sedang menyiram bunga di halaman.
"Tasia berangkat dulu ya bu.." pamit Tasia seraya mencium punggung tangan ibunya.
"Iya nak, eh jangan lupa nanti siang tolong belikan ibu koyo sama balsem ya.. badan ibu rasanya pegal sekali, ingin rasanya di pijat sama Irna nanti" pinta Ibunya.
"Iya bu siap.. Assalamu'alaikum... " sahut Tasia. Lalu Tasia segera menaiki mobil yang di bawa supir pribadinya bang Mail.
"Wa'alaikumsalam.. " balas Ibu dan Irna seiringan.
"Ayo bang jalan.. " seru Tasia. Bang Mail memanggut dan menyapa Irna juga Ibunya sambil berpamitan.
Bang Mail melihat Irna sambil melambaikan tangannya dan tersenyum genit. Irna juga ikut membalas senyumnya. Sulastri meliriknya sambil berdehem mengejutkan Irna, dia jadi terkekeh tersipu setelah kepergok Sulastri kalau dia memang sedang main cinta dengan supir pribadinya Tasia itu.
"Ayo masuk, mobilnya kan sudah pergi, haaa pacaran mullu!" celetuk Sulastri.
#
#
#
Setelah Rizal selesai menelepon Tasia yang sedang di perjalanan ke Cafenya tadi di mobil, dia lalu membuka-buka poto Tasia yang dulu bersama Rizal di kota Yogyakarta, yang pergi ke tempat-tempat wisata berduaan. Yang membuat Rizal semakin rindu akan kebersamaannya dengannya.
Hendra tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar Rizal yang tidak tertutup menghampiri putranya dengan melangkah pelan memakai tongkat di tangannya.
"Ayah..." ujar Rizal terkejut, segera menghampiri Ayahnya yang sedikit kesulitan berjalan itu. Di papahnya sampai duduk di samping kasurnya oleh Rizal. Rizal pun ikut duduk di samping Hendra.
"Kamu habis telepon siapa tadi?" tanya Hendra penasaran, yang tadi tidak sengaja mencuri dengar pembicaraan putranya di telepon. Rizal menatap kikuk ayahnya sendiri, setelah ketahuan olehnya kalau Rizal tadi habis menelepon Tasia.
"Eemm.. itu kekasih Rizal di Yogyakarta Yah.." jawabnya terus terang sambil menggaruk rambut kepalanya. Ayahnya tidak terlalu heran mendengar pengakuan Rizal karena tadi memang jelas sekali Rizal memanggil sayang di telepon.
"Ayah sudah bisa menebaknya nak, lelaki sudah dewasa seperti dirimu tidak mungkin masih sendiri, Ayah sudah tahu kalau kamu juga pasti diam-diam tengah menjalin hubungan dengan seorang wanita..." ujar Ayahnya santai menanggapinya. Lalu menepuk-nepuk bahu Rizal dengan tangan kanannya.
Rizal memandang Ayahnya sedikit lega, mungkinkah itu pertanda bahwa Ayahnya mau menerima hubungannya dengan Tasia?
"Jadi bagaimana menurut Ayah? maukan Ayah menerimanya?" pertanyaan Rizal langsung mengarah ke intinya berharap sang Ayah mau mempertimbangkan lagi soal hubungannya dan Ayahnya mau membatalkan perjodohannya dengan wanita lain.
"Rizal...Ayah menghargai hubunganmu dengan wanita itu, tapi Ayah dan Tante Mira sudah mempersiapkan calon Istrimu sejak lama, sebelum kau menjalin hubungan dengan wanita itu. Cuma Ayah dan Tante Mira tidak memberitahukanmu lebih dahulu. Karena kami ingin memberi kejutan padamu, sekalian Ayah ingin kamu mengenalnya lebih dekat tanpa ada rasa canggung lagi. Kami sudah sangat dekat dengan keluarganya. Tanpa kau sadari sebenarnya kau sudah tahu siapa orangnya. Mereka juga selalu ikut hadir di setiap acara-acara penting keluarga kita" ujar Ayahnya panjang lebar.
Rizal mengerutkan dahinya setelah mendengar penjelasan Ayahnya ada rasa kecewa yang mendalam terhadapnya, ternyata Ayahnya tetap nekad ingin menjodohkan Rizal dengan wanita pilihannya itu.
'Siapa wanita pilihan yang dimaksud Ayah' pikirnya
Rizal lalu menunduk dan mengusap wajahnya dan menutupinya dengan tangannya sendiri.
"Kenapa Ayah? kenapa Ayah selalu saja memaksa Rizal untuk mengikuti kemauan Ayah! " keluhnya. Hendra memandang punggung anaknya sedikit iba.
"Ayah, cuma ingin kamu secepatnya menikah dan punya anak, dan Ayah juga ingin kamu hanya menikah dengan wanita yang jelas asal usulnya saja. Apa kau tidak lihat Kakakmu Raffi? itulah akibatnya kalau salah mencintai wanita yang tidak jelas asal-usulnya, hanya akan merugikanmu sendiri bahkan keluarga pun jadi ikut-ikutan tercemari!" tegas Hendra, mengkhawatirkan dengan masa depan Rizal juga.
"Ayah.. ayah belum tahu siapa Tasia, dia itu berbeda.. aku tidak bisa meninggalkan dan mengecewakannya Yah.. ku mohon Ayah juga mempertimbangkan hubungan kami. Percayalah pada Rizal, ayah pasti akan menyukai gadis itu..." sahut Rizal menjelaskan dengan sungguh-sungguh.
"Jadi namanya Tasia?" mengernyitkan alisnya. Rizal memanggut dan melebarkan senyumnya pada Hendra.
"Dia gadis istimewa Ayah... Ayah tahu Usaha Cafe Rizal di Yogyakarta itu? siapa lagi kalau bukan berkat Tasia yang membantu Rizal menjadi sukses seperti sekarang ini. Dan Rizal bisa menyelesaikan kuliah dengan lancar..." Rizal berusaha membuat Hendra menyukai Tasia sebisa mungkin agar dia mau mengurungkan niatnya untuk menjodohkannya dengan wanita lain.
"Benarkah? itu luar biasa sekali.." gumam Hendra yang lagi-lagi Hendra menepuk bahu Rizal. "Tapi alangkah baiknya kamu juga harus menemui calon mu dulu, setelah itu baru kau pertimbangkan lagi untuk menerimanya atau tidak, keputusan ada pada dirimu sendiri, Ayah pun tidak bisa memaksamu jika kamu memang ingin bernasib buruk seperti Raffi!" lanjutnya lagi tetap mantap dengan kemauannya itu.
"Minggu depan kita selanggarakan acara perjodohanmu dulu, baru kau bisa bicara lagi setelahnya" tuturnya lagi menegaskan. Lalu Hendra perlahan berdiri dan pergi dari kamar Rizal.
Rizal menatap kecewa dan sedih punggung Ayahnya yang pelan-pelan keluar dari kamarnya itu. Jika dia berkata keras dengan kemauannya sendiri dan menolak permintaan Ayahnya itu, takut sakitnya malah akan bertambah parah. Hati Rizal sangat kalut dan bimbang saat itu, dia benar-benar tidak bisa memaksakan keinginannya kalau memang seperti ini keadaannya. Dilihatinya poto cantik Tasia di ponselnya sambil di elus-elusnya dengan jempol kanannya itu.
bersambung...
...***...
Terimakasih banyak buat pembaca setia...sudah mau mampir di karya Novelku..
Mohon selalu minta dukungannya ya.. 🙏🙏🙏
Jangan sampai lupa tinggalkan like, komentar,, hadiah dan juga votenya yaa...
Karena itu juga pengaruh buat author semakin semangat menulis lagi ❤❤❤ I love You All..