
...Bab 6...
...Pencarian seorang juru masak 1...
Setelah selesai menghadiri pesta pernikahan sahabatnya, Rizal bergegas pulang dan kembali ke Cafe tempat kerjanya.
Setelah sampai di Cafe suasana kembali memanas, Revan kembali mogok kerja, semakin hari semakin dia kesal karna sikap Yogi yang terlalu menekan dan memerintahnya terus- terusan.
Rizal hanya menggelengkan kepalanya acap kali melihat mereka bertengkar di dapur. Lalu dengan segera memotong pertengkaran mereka.
"Yogi kemarilah sebentar.." panggil Rizal mengajak Yogi untuk segera masuk ke ruangannya.
Yogi menghentikan pekerjaannya lalu mengikuti Rizal dibelakangnya. Setelah mereka di ruangan kerjanya Rizal.
"Ada apa?" sahutnya.
"Coba makanlah kue ini, mungkin kau bisa menebak bahan apa saja yang ada pada jenis kue ini?" ujar Rizal sambil menyodorkan 2 potongan kue di cup plastik.
Lalu, Yogi membuka plastik kue itu dan mencium aromanya. Setelah itu dia langsung melahapnya ke dalam mulutnya sambil mengunyahnya perlahan.
"Emmm..Ada rasa crispi dan dingin di luar, tapi lembut dan empuk di dalam.. ada campuran rasa coklat karamel juga." ujar Yogi menghayatinya.
"Ini enak sekali, kau dapat beli darimana?" tanyanya.
"Aku bawa dari resepsi pernikahan temanku tadi, aku pikir ini akan menjadi menu kue baru di cafe kita nantinya.." ujar Rizal
"Apa nanti kamu sanggup meniru jenis kue ini?!" pintanya ke Yogi.
Yogi tidak yakin tapi dia akan berusaha mencobanya. Meniru bentuk dan bahannya sudah pasti Yogi ahlinya, namun soal rasa dia meragukan kualitasnya.
...***...
Di hari ke lima setelah pernikahan kakaknya, Tasia kembali melakukan aktivitas seperti biasanya. Dini hari dia mulai membuat adonan kue satu demi satu dengan telaten.
Tasia sudah terbiasa melakukan itu sendirian sehingga tidak perlu bantuan ibunya lagi. Karna Tasia tahu Ibu sudah cukup tua untuk melakukan pekerjaan berat, jadi semestinya ibu lebih banyak beristirahat.
Jam 6 subuh Tasia sudah selesai dengan pekerjaannya. Lalu dia bersiap-siap mandi dan berkemas.
"Sudah mau berangkat Tasia?" tanya Ibunya keluar dari kamarnya, yang baru saja selesai dzikiran pagi dengan masih memakai mukenanya.
"Iya Bu..Tasia berangkat dulu yaa.. Assalammua'laikum..." ucap Tasia pamitan dengan mencium punggung tangan ibunya.
"Wa'alaikumsalam...Ya sudah hati-hati ya sayang..." jawab Ibunya.
Lalu Tasia berangkat ke pasar dengan berjalan kaki. Pasar tempat jualan Tasia tidak jauh dari rumahnya makanya dia sudah terbiasa jalan tanpa kendaraan.
...***...
Pagi itu sudah ke lima kalinya Yogi membuat kue yang mirip dengan kue kemarin. Tapi rasanya masih belum sama persis.
"Sebenarnya apa yang kurang yaa?" tanyanya sendiri.
Selagi Yogi fokus dengan kerjaannya tiba-tiba saja Rizal muncul menghampirinya.
"Bagaimana sudah kau coba buat?" tanyanya penasaran sambil menepuk pundak Yogi yang fokus melihati kue yang sudah jadi di piringnya.
"Memangnya apa yang kurang?" sahut Rizal memgambil kue tiruan Yogi itu dipiring dan cepat-cepat menyicipnya.
"Benar rasanya tidak sama persis..!" pekiknya.
"Sebaiknya kamu cari orang yang bisa membuat kue itu, dan meminta resep andalannya!" ujar Yogi memberi saran.
"Itulah masalahnya, dia tidak mau memberikan resep itu.." sahut Rizal meragukan.
"Tapi aku tahu dimana dia bekerja, kita masih bisa temui dia..dan meminta bantuannya!" sarannya lagi.
"Kalau begitu tunggu apalagi, kita pergi kesana!" titah Yogi tidak sabar.
Yogi segera mengganti pakaian kokinya dengan memakai kaos serta jas hitamnya. Lalu dua pria itu pergi menaiki sepeda motor besar kepunyaan Yogi, mesin motor dinyalakan dan mulai melajukannya. Pergilah mereka dengan cepat ke arah tujuan.
Sedangkan keadaan Cafe mereka di tutup dahulu hari itu, untuk sementara, karena Revan dan Lia pun sedang ada kuliah pagi itu.
...***...
Ketika baru sampai pasar dekat terminal, Tasia tidak sengaja diserempet pria berkumis dan bertopi yang melewatinya dengan tergesa-gesa sehingga Tasia nyaris terjatuh dan berdesakan dengan para pengunjung pasar disana.
"Kenapa orang itu? tingkahnya mencurigakan sekali?"pikir Tasia.
"Copeeet...tolooong ada copeet, tas saya di copeeet...!!!" tiba-tiba terdengar suara histeris seorang ibu. Dia menunjuki ke arah Tasia bahwa orang yang tadi menyerempet Tasia adalah tukang copet.
"Apaa?!" teriak Tasia kaget
'Pantas saja tampangnya mencurigakan ' batinnya.
Segera Tasia mencoba mengejar pencopet tadi. Setelah dia titip dahulu dagangannya di tempat penjual dan wanita tua korban pencopetan.
Tasia lari sekuat tenaga, akhirnya tak lama pencopet itu dapat terkejarnya, karna kebingungan si pencopet tadi malah lari ke arah jalan buntu. Wajar saja Tasia bisa mengejar pencopet itu karena dia sudah terbiasa lari cepat dahulu, sebab dulunya dia juara marathon waktu di sekolahnya.
"Kamu mau lari kemana? sudah gak bisa lari kemana-mana lagi kan?!" sindir Tasia tanpa ada rasa takut sama sekali menghadapinya.
Padahal pencopet itu lebih tinggi dan besar dari Tasia.
"Kamu punya nyali juga ya!! dasar gadis bodoh jangan ikut campur!!!" si pencopet itu garang dan hendak memukul mukanya Tasia. Namun Tasia dengan gesit menghindari pukulannya sehingga pencopet itu jatuh tersungkur. Lalu dengan segera tangan si pencopet tadi di genggam dan dipelintirkan Tasia ke arah punggungnya, agar dia tak berkutik.
"Sebaiknya kamu nyerah dan balikin lagi tas ibu tadi!" gertak Tasia.
"Ha..haha.." tawa si pencopet itu mengejek. "Ternyata kamu kuat juga yaa..gadis bodoh?! geramnya. Tiba-tiba dia bersiul sangat kencang. Dan tak lama kemudian berdatanganlah kawan-kawannya yang hendak membantu si pencopet itu, ada kurang lebih 5 orang kawan si pencopet tengah berjejer lalu mereka mengelilingi Tasia.
Tasia sontak terkejut tak percaya si pencopet tadi ternyata hendak menjebaknya di tempat itu. Tasia sedikit panik dibuatnya.
"Sekarang kamulah yang gak bisa lari kemana-mana lagi, dasar gadis bodoh ha.. ha..haa..." ledek kawannya, dan semua menertawakan Tasia disana.
bersambung...
...***...
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya...
...🌺🌺🌺...