Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Tertuduh



...Bab 86...


...Tertuduh...


"Tunggu kau..." teriak Mira memanggil Tasia yang bergegas akan pergi ke kamarnya lagi.


Semua menoleh ke arah Tasia.


"Hah...Tante tahu, Tante tahu kamu jadi frustasi gara-gara wanita ini kan Rizal?" celotehnya lalu dia berjalan menghampiri Tasia dan matanya mengarah tajam pada Tasia di hadapannya.


"Sini kamu...siniii..." teriaknya tiba-tiba, sambil menarik lengan Tasia dengan paksa dan di bawanya dia ke ruangan tamu menghadap mereka.


Tasia mengerang kesakitan saat tangannya ditarik dan di cengkeram kencang oleh Mira.


"Aduh..Tante..maaf ada apa ini?" rintihnya bertanya terheran-heran padanya.


"Diam kamu!" menggertaki Tasia. "Ini kan yang jadi masalahnya...kalian sebenarnya sudah menikah diam-diam bukan?!...dan kau Hendra...kau juga telah mengingkari perjanjian kita selama ini...kau berjanji tidak akan menikahkan mereka...tapi kau masih tetap saja nekad menikahkan mereka!" kesalnya menggerutu penuh emosi.


Dengan cepat Mira menarik lengan Tasia dan mendorongnya ke depan Rizal.


"Aah..." Tasia hampir saja terjatuh di bawah kakinya Rizal tapi Rizal dengan kilat menahan tubuh Tasia dan memegangnya agar tidak terjatuh.


"Jangan pernah mengalihkan pembicaraan ini Tante...sekarang Tante harus jelaskan pada Ayah, maksud Tante apa melakukan itu semua?" gertak Rizal lagi sambil merangkul pundak Tasia di sampingnya.


"Ha ha ha...dasar anak durhaka...kau tahu, jika seperti ini ibumu tidak akan pernah tenang disana tahu putranya akan seperti dirimu...benar-benar, tidak tahu berterimakasih kamu Rizal! Sebenarnya ibumu menginginkan Tante untuk mengasuh hak dirimu...Setelah aku di vonis mandul. Tante punya hak atas dirimu sepenuhnya! Rizal..." ungkapnya lagi.


"Hah..aku sama sekali tidak percaya soal itu...Tante.." Rizal lalu merogoh cetik obat dari Dokter Lucas kemarin. "Aku punya satu hal lagi yang ingin kutanyakan padamu Tante...mungkin Tante tahu betul obat ini?" dilemparkannya lagi cepat oleh Rizal, plastik obat itu ke atas meja.


Semua terbelalak melihatnya termasuk Hendra.


"I-itu..bukannya obatku?" gelagap Hendra.


"Ya Ayah...itu obat pereda sakit jantung Ayah...ada seseorang yang berbaik hati telah mencampurkan obat lain ke dalam botol obat milik Ayah.." terang Rizal lagi. "Kenapa Tante? kenapa Tante jadi diam?"


Tania membantu Rizal menjelaskan "Sebaiknya kau jujur dengan apa yang telah kamu perbuat pada kakakmu Mira..atau kami akan menghubungi polisi untuk menangkapmu karena telah melakukan pembunuhan berencana..."


"Be-benarkah apa yang dikatakan putraku, Mira? kau-kau...kau ingin mencoba membunuhku hah!" geram Hendra, matanya tiba-tiba melotot ke arah Mira dengan nafasnya yang sedikit tersendat-sendat.


"Ha ha ha..kau memang sudah gila Rizal, gara-gara wanita ini kamu berani menuduh Tantemu sampai begini! lalu bagaimana dengannya, apa kau sama sekali tidak ada kecurigaan terhadap istrimu sendiri?" gerutu Mira menunjuki ke arah mukanya Tasia.


Semua mengerung menatap mengarah pada Tasia.


"Tante, sama sekali tidak tidur dan tidak tinggal di rumah besar ini...mana ada waktu Tante melakukan hal keji pada Ayahmu sendiri.." sangkalnya lagi, sekilas Mira melihat koper Tasia di sana. "Nah sekarang lihatlah oleh matamu sendiri Rizal, mau kemana istrimu itu membawa kopernya sendiri?" tanyanya lagi sambil menyunggingkan senyum sinis pada Tasia.


Tasia ikut menoleh ke arah kopernya sendiri lalu dia mencoba menjelaskannya kepada mereka perlahan.


"Saya...hanya ingin pamit pulang saja Tante..."


"Mau pulang? atau mau kabur?" sindirnya melototi Tasia. "Pengawal..." serunya. Para pengawal Mira menyahut serentak.


"Iya..Nyonya!"


"Geledah barang bawaan wanita itu!" perintahnya tegas.


"Baik Nyonya!"


Dengan cepat kedua pengawal itu mengambil koper Tasia dan mengobrak-abrik semua isinya di depan mereka.


"Apa yang kalian lakukan, hentikan...itu semua barang-barangku!" teriak Tasia mengkhawatirkan semua barangnya. "Apa yang kalian cari di dalam koperku!" cegahnya. Tetapi pengawal itu tidak menggubris perkataan Tasia dia hanya ingin menuruti perintah majikannya itu.


Rizal dan Tania hanya terdiam tak berkomentar apapun melihat koper Tasia yang di geledah paksa dan di periksa oleh kedua pengawal Mira.


Lalu tak lama beberapa menit kemudian seorang pengawal menemukan plastik hitam yang diikat dengan karet dan memberikannya pada Rizal.


"Ini Tuan Muda.." sodornya.


Tasia mendongak terkejut ke arah plastik hitam yang mencurigakan itu, dia melihat benda itu benar-benar asing di matanya.


"I-itu bukan kepunyaanku.." ucap Tasia terus terang.


"Kau masih membantah, sudah jelas-jelas itu ada di dalam kopermu sendiri!" sindir Mira tersenyum meringai ke arah Tasia.


Rizal memandang wajah Tasia penuh kecurigaan lalu dia cepat membuka bungkus plastik itu karena penasaran.


Hendra dan Tania pun sama-sama terbelalak kaget melihatnya.


Tasia menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri, menjengak kaget tidak percaya kalau di dalam kopernya ada obat yang sama persis dengan obat bahaya yang di konsumsi Ayah mertuanya sendiri.


"I-itu...bukan punyaku...aku, aku tidak tahu itu ada di dalam koperku Rizal..." lirihnya memandang cemas ke arah Rizal. "Aku benar-benar tidak tahu..." ucapnya lagi.


Rizal kembali memandang ke arah wajah istrinya itu yang hampir saja menangis. Rizal hanya bisa terdiam seribu bahasa, mulutnya seperti disumpal kain, benar-benar tidak berdaya harus membela Tasia ataukah harus menuduhnya di depan keluarganya.


Mira tersenyum puas melihatnya diapun mengangkat suara.


"Sekarang sudah jelas kan semuanya...jadi siapa yang berniat membunuhmu...kakakku tersayang..." sindirnya pada Hendra.


Hendra naik pitam dan langsung mengayunkan tongkat ke arah pundak Tasia.


"Kurang ajar, dasar menantu tidak tahu diri kamu!" geramnya. Sambil menggenggam dada kirinya yang hampir saja kumat. Dan tongkat itu berhasil mengenai pundak Tasia dengan kencang.


"Aaaaaa..." gaduhnya.


"Hentikan Ayah...hentikan itu..." teriak Rizal, dia mencoba menahan tongkat Ayahnya supaya tidak memukul Tasia lagi. Tania pun menahan tubuh Hendra agar tidak mudah emosi dulu.


"Tasia...kenapa kamu lakukan itu pada Ayahku?" tanya Rizal.


"Tidak Rizal...obat itu bukan kepunyaanku!" terangnya sambil menangis terisak-isak membela dirinya.


Mbok Darmin dan semua pembantu rumah tangga juga ikut masuk ke ruang tamu menyaksikan kegaduhan di rumah itu.


Rizal menghembuskan nafasnya terputus-putus. Dia mengusap rambut kepalanya perlahan, matanya mulai memerah menahan sedih dan amarah, sulit untuk dia percayai sendiri kalau ini akan terjadi pada dirinya. Dia harus menerima kenyataan bahwa ternyata istrinyalah yang selama ini yang ingin mencoba meracuni Ayahnya sendiri setelah tahu kejadian kemarin Tasia memberikan garam pada sayuran Ayahnya.


"Pengawal usir wanita itu keluar rumah!" seru Mira geram.


"Baik Nyonya!"


Dengan cekatan dua pengawal itu menuruti perintah majikannya dan menyeret paksa Tasia keluar dari rumah Hendra. Tasia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah berhamburan keluar.


"Ayooo...anda harus keluar!" serunya.


"Rizaaaal...ibuuuu...aku bersumpah itu bukan punyaku...aku mohon...kalian percayalah kepadaku...Rizaaaal....Ayaaahh..." teriaknya histeris sambil terisak-isak menangis di depan mereka.


Tasia cepat-cepat melepaskan diri dari mereka dan merangkak merangkul kaki Rizal agar suaminya itu percaya padanya.


"Rizaaaal...kumohon percayalah padakuu.." sahutnya lagi memohon agar suaminya percaya kepadanya dan mau mendengarkan perkataannya.


Rizal hanya berdiri mematung pandangannya terlihat kosong ke depan. Pengawal itu lagi-lagi menarik dan menyeret tubuh Tasia supaya cepat keluar dari sana.


"Ceraikan dia sekarang juga, Rizal!" gertak Hendra.


Rizal tercengang dengan permintaan Ayahnya secara tiba-tiba. Tasia sontak ikut terkejut mendengar Ayah mertuanya juga, wajahnya mulai kusut dipenuhi air mata yang berderaian, mulutnya terbuka lebar menatapi suaminya sendiri.


"Ayah bilang CERAIKAN DIA RIZAALL! Ayah tidak sudi untuk melihatnya lagi di rumah ini!" teriaknya lagi lalu Hendra segera melangkah pergi ke kamarnya karena sudah terlihat muak memandang wajah menantunya itu.


Rizal menelan salivanya perlahan, dan berucap pelan. Lalu menundukkan pandangannya ke arah Tasia yang berlutut di bawahnya.


"Tasia...maafkan aku...kita harus bercerai..." ucapnya terpaksa memenjamkan matanya menahan sedih.


Tasia menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya, hari itu Rizal benar-benar telah berucap kata cerai di depannya.


Matanya terus melihat ke arah Rizal, sekarang dia hanya bisa diam membisu dan pasrah dengan keputusan suaminya sendiri. Tubuhnya mendadak lemas dan dia terus membiarkan dirinya di seret pengawal itu keluar.


Mbok Darmin melihat iba ke arah Tasia. Dia pun ikut menangisinya.


Lalu di tariknya tubuh Tasia cepat dan didorongnya kencang oleh pengawal itu hingga tubuh lemahnya terjatuh di teras rumahnya Hendra dan satu pengawal lagi melempar koper dan barang-barang Tasia hingga berserakan di hadapannya sendiri.


bersambung...


...***...


Jangan lupa like dan komentarnya ya..


...🌺🌺🌺...