
...Bab 34...
...Bertemu lagi...
Di dalam kamarnya, Tasia berbaring sambil melihat-lihat poto Rizal kemarin yang dikiriminya ke whatsapp Tasia. Poto Rizal yang masih berusia 17 sampai 24 tahunan, digeser-gesernya layar hp itu lalu jari Tasia tiba-tiba terhenti di salah satu poto Rizal yang sedang dudukkan di batu besar sambil menikmati pemandangan pantai Teluk Jakarta.
"Cakep banget sih.." gumam Tasia senyum-senyum sendiri, mengagumi poto kekasihnya itu. Tiba-tiba dia jadi teringat akan perkataan Yogi waktu itu.
"Apa maksudnya Yogi ya..kalau Rizal hanya memanfaatkan aku dan Lia?" mulai bertanya-tanya dalam pikirannya sendiri.
"Aku semakin penasaran denganmu, ingin tahu siapa kamu sebenarnya? tapi dari sikapmu yang baik dan perhatian kepadaku, kamu terlihat jujur padaku. Rizal maafkan aku. Diam-diam aku harus cari tahu tentang kamu dulu!" ucapnya, lalu men-zoom poto Rizal, dan mengecupkan bibirnya di poto itu. "Semoga kamu yang terbaik untukku.. " ucapnya lagi berharap.
...***...
"Rizal, ada apa mencariku tiba-tiba?" Tanya Lia masih memeluk pinggang Rizal.
"Lia tolong jaga sikapmu!" pinta Rizal berusaha melepaskan tangan Lia untuk tidak memeluknya terus, juga tidak enak dengan pandangan orang-orang yang ada disekitarnya.
Rizal melirik orang-orang di tempat itu, mereka semua tengah memperhatikan Rizal yang sedang mengajak Lia mengobrol. Rizal tahu model seperti Lia yang baru saja naik daun, akan lebih banyak diperhatikan orang.
'Kalau aku mengajak ngobrol Lia terang-terangan begini mereka bisa saja menyebarkan rumor tidak baik tentang kedekatan kami' ucapnya di hati.
"Sebaiknya kita bicara di luar saja, tidak enak sama orang-orang kalau di sini.. " ujarnya. Lia memanggut dan berjalan mengikuti Rizal dari belakangnya.
Mereka berdua lalu pergi agak jauh dari tempat pemotretan, untuk menghindari bahan gosip mereka.
Yogi yang masih memantau mereka dari jauh berusaha mengikuti mereka perlahan dari belakang, tapi tiba-tiba dia terhenti ditengah jalan, setelah dia melewati banyak jalan luar gedung, karena mereka berdua begitu cepat sekali menghilang dari pandangannya.
"Haah...sial aku kehilangan jejak mereka" gerutunya agak kesal.
Yogi lalu kembali hendak ke parkiran. Sesampai disana, Yogi melihat seorang wanita meminta orang-orang kuli bangunan di sana untuk mengangkat dan memindahkan moge nya itu karena telah menghalangi jalan mobilnya, dan wanita itu adalah Dian, dia hendak pergi ke butiknya kembali untuk membawa barang yang ketinggalan.
"Hei itu motorku jangan sembarangan disentuh!" teriak Yogi, lalu dia berlari menghampiri mereka. Yogi sedikit kesal karena mereka memindahkannya tanpa seijinnya dan ditambah lagi dirinya tidak suka kalau motor kesayangannya itu di pegang-pegang sama orang yang tangannya kotor, apalagi tadi motornya itu habis perawatan dan di cuci.
"Oh..jadi motor besar ini punyamu!" sahut Dian jengkel tiba-tiba dia terkejut setelah tahu motor punya siapa, dia membuka kacamata hitamnya, lalu menatap tajam ke arah pria itu. Yogi pun terkejut, melihat wanita itu. Dia adalah wanita yang dulu pernah membawa dirinya ke apartemennya ketika tengah mabuk berat.
"Kau lagi..!" ledek Yogi.
"Heeuh.. setiap bertemu dia aku selalu sial!" pekik Dian jengkel, memalingkan mukanya ke samping kirinya.
"Wanita jelek ini lagi" ucap Yogi pelan sambil memalingkan mukanya ke samping kanannya.
Lalu mereka menoleh bersamaan dan saling memandang kembali dengan perasaan benci dan kesal.
"Apa?!" seru mereka serentak.
"Cepat pindahkan motor besarmu itu, dia menghalangi jalan mobilku!" jengkelnya.
"Huh, gak perlu kau suruh! sekarang aku juga mau pergi.. dasar cerewet!" gerutu Yogi lalu dia memakaikan helmnya dan mulai menyalakan mesinnya. Yogi melirik si wanita itu, seraya menyunggingkan sudut bibirnya dengan sinis.
Di perjalanan mereka saling berkebutan, dua-duanya tidak mau kalah.
"Hah mau balap denganku, oke aku ladenin kau!" sahut Yogi melirik dia di jendela mobilnya lalu menunjukkan jempol kirinya yang dibalikkannya di depan Dian.
"Hah dia mengejekku!" kesal Dian tidak mau kalah. Dian segera menancapkan gasnya dan menaikkan kecepatan mobilnya. Lalu mereka saling bertanding dan kebut-kebutan di jalan raya.
...***...
Setelah lama mereka berbicara empat mata. Tiba-tiba terdengar bunyi di dalam saku celananya Rizal.
Diiinng diiing
Suara pesan WA milik ponsel Rizal, dia segera membuka tasnya dan memeriksa handphonenya segera dan itu pesan singkat dari Tasia.
Tasia
Ibuku sudah pulang.. aku tunggu kamu di rumah ya...
Rizal tersenyum merekah membacanya.
"Maaf Lia, aku harus segera pergi. Sekarang Tasia sedang menungguku." ujarnya.
Setelah dia berbicara dengan Lia, dia melegang pergi meninggalkannya, dan menaiki motor temannya lagi.
Setelah benar-benar Rizal pergi dari hadapannya, Lia masih menatap punggung Rizal dari jauh yang melajukan motornya, lalu dia meremas-remas kertas di tangan kanannya. Dia menunduk muram, tiba-tiba air matanya mengucur ke pipinya deras.
"Rizal kenapa kau tega sekali padakuu!" teriaknya terisak-isak kencang.
Tangannya menekan-nekan ke dadanya. Lalu dia menurunkan lututnya dan menjatuhkan diri ke rerumputan, dia meremas remas kertas di tangannya itu lalu membuangnya jauh, kertas itu adalah cek berisi 50 juta yang di berikan Rizal kepadanya. Uang itu adalah uang yang dahulu pernah dipinjamkan Lia ke Rizal. Dan hari itu Rizal sudah melunasi semua hutangnya pada Lia.
Rizal sudah mengungkapkan semuanya pada Lia, bahwa Tasia dan dirinya tengah menjalin hubungan. Dan dirinya meminta Lia agar tidak mengejar dan mengharapkannya lagi. Lalu Rizal meminta juga agar dia tidak perlu bekerja lagi di Cafenya. Karena Rizal sudah memperkerjakan banyak karyawan untuk mengembangkan bisnis Cafenya.
Tidak ada kata lagi yang bisa di ucapkan Lia, selain menangis dan menangis. Hari itu Lia benar-benar terluka. Dia berusaha menahan sakitnya namun dia malah ingin berteriak.
"Rizal, kenapa kau lebih memilih Tasia daripada aku? selama ini aku sudah menunggu mu sangat lama" berbicara sendiri, menahan tangis. Lalu dia mengelap semua air matanya.
"Tidak, tidak boleh bersedih Lia, kamu tidak boleh menyerah! ini bukan akhir hidupmu, yaa aku masih banyak kesempatan untuk mendapatkan Rizal kembali. Rizal kau hanya tetap akan menjadi milikku, tunggu aku di acara perjodohan nanti! apa kau masih mau menolakku? Ayahmu dan Tante Mira akan selalu memihak kepadaku. Dan kau Tasia siapa kau? kau hanya gadis kampung yang tidak berarti apa-apa di keluarga besar kami. Sampai kapan kalian akan bertahan lagi, dengan hubungan yang tidak dapat restu dari Keluarga kami?" lanjutnya lagi dengan senyuman sinis, seraya memandang bekas jejak bayangan Rizal tadi.
Lalu Lia kembali berjalan masuk ke dalam gedung itu, dan dia segera masuk ke toilet lekas-lekas dia membersihkan kembali wajah make- upnya dengan air, untuk menghilangkan raut wajahnya yang sedih. Tak lama setelah membersihkan dirinya, dia segera meminta tukang rias untuk mengulangi riasannya kembali.
bersambung...
...***...
Jangan Lupa tinggalkan jejaknya like dan komentarnya yaa...
...🌺🌺🌺...