
Bab 75
Aku membencimu
Setelah polisi menangkap preman-preman itu dan menggiring mereka ke kantor polisi. Pak Polisi pun segera menghubungi mereka malamnya, dan meminta Yogi dan Ramond untuk membawa semua barang bukti curiannya itu serta meminta keterangan lebih lanjut atas kasus perampokkan tersebut.
Yogi memukuli wajah si preman yang menusuk Tasia di kantor polisi sampai wajahnya babak belur.
Tatapannya Yogi melotot tajam ke arahnya sangking kesalnya dia, lalu diremasnya kencang kerah baju si preman itu. Rasa-rasanya dia belum puas menghajar muka preman tersebut.
"Dengar baik-baik aku tidak akan pernah memaafkanmu jika sampai dia mati..Akan aku pastikan kau pun harus di hukum mati!" gertaknya dipenuhi dengan emosi yang meluap-luap padanya. Si preman hanya diam tak bicara namun menyunggingkan sisi sudut bibirnya menatap balas Yogi.
"Sudah Pak..sudah.."lerai pak polisi mencegah Yogi untuk tidak bergaduh di kantornya.
Polisi segera menghentikan aksi kasar Yogi karena ini berada di kantor polisi. Lalu para polisi membawa tiga pelaku itu segera masuk ke dalam sel.
Setelah lama berbincang dan dimintai keterangan dari polisi, Yogi dan Ramond lalu kembali ke rumah sakit membawa semua barang rampokan milik Tasia termasuk mobilnya Rizal.
###
Dua jam kemudian, setelah menunggu operasi selesai akhirnya kedua dokter yang menangani Tasia keluar dari ruangan operasi tersebut. Mereka segera membuka masker bedahnya dan menghampiri Rizal yang tengah duduk cemas di ruangan tunggu.
Rizal segera beranjak dari duduknya melihat kedua dokter itu menghampirinya dan langsung bertanya pada mereka penuh dengan kecemasan.
"Bagaimana keadaan istri saya dokter?" tanyanya begitu khawatir.
"Bersyukurlah tusukkannya tidak terlalu dalam, hingga tidak mengenai organ dalamnya, namun nyaris hampir beberapa inci lagi pisau itu akan mengenai lambungnya." terang dokter yang tua tampak sedikit khawatir, sambil mengerungkan kedua alisnya.
Rizal terharu dan tidak berhenti mengucap rasa syukur.
"Terimakasih Tuhan.. terimakasih banyak dokter..." memegang bahu dokter itu, merasa puas mendengar kabar dari dokternya.
"Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu ya pak.." sahut dokter muda satunya lagi.
Rizal memanggut, dan kedua dokter itu pun pergi meninggalkan Rizal sendirian di ruang tunggu pasien, dua perawat lalu segera memindahkan Tasia di brankar menuju ke ruang inap setelah selesai mengoperasinya. Rizal mengikutinya dari samping brankar Tasia dan membantu perawat-perawat itu mendorongnya.
Setelah masuk kamar dan memasangkan alat infusnya Tasia, perawat itu berpesan.
"Kalau habis nanti bisa beritahukan kami lagi ya Pak.." sahutnya.
"Iya...baik terimakasih suster.." jawab Rizal.
Lalu kedua suster itu meninggalkan kamar pasien dan segera menutup pintunya.
Rizal memandang sendu wajah istrinya yang masih memakai infus dan selang oksigen dihidungnya. Perlahan tangan kanan Rizal mengusap-ngusap kening Tasia dengan lembut.
"Cepat sembuh kembali sayang...aku sangat merindukanmu.." ucapnya lirih lalu di genggamnya tangannya itu dan dikecupinya lembut dan penuh kasih sayang.
Akhirnya tak lama Rizal pun tertidur di kursi sambil menundukkan kepalanya di kasur Tasia.
###
Paginya Tania dan mbok Darmin segera ke rumah sakit menyusul Rizal setelah dia diberitahukan Rizal bahwa Tasia terkena musibah semalam.
"Bagaimana keadaan Tasia..? tanyanya cemas pada kedua teman Rizal yang sedang duduk menunggu di luar kamar pasien.
Yogi memandang ke ibunya Rizal yang baru saja datang. Saat akan berbicara, seketika itu juga Rizal pun keluar dari kamar Tasia.
Tania langsung menoleh ke arah Rizal.
"Bagaimana?" tanyanya lagi ikut cemas.
"Ya sudah biar ibu dan mbok Darmin yang gantian jagain Tasia..kamu cepat pulang dulu, mandi lalu ganti pakaianmu..." saran Tania sedikit kasihan melihat Rizal yang begitu kecapean.
"Baiklah..terimakasih ibu..tolong ibu jaga Tasia ya.." sahut Rizal lega ada yang gantian menunggu istrinya itu.
Tania dan mbok Darmin memanggut lalu segera masuk ke dalam kamarnya Tasia.
Yogi dan Ramond bernafas lega setelah mengetahui kabar itu. Mereka pun ijin pulang dulu ke apartemen, setelah mengembalikkan barang Tasia dan Rizal.
"Terimakasih banyak Yogi..."
"Ya..." jawabnya santai.
Di perjalanan pulang naik motor Ramond yang di bonceng Yogi di belakangnya bertanya-tanya pada sepupunya itu.
"Emm..jadi..seseorang yang tengah kau khawatirkan selama ini adalah wanita itu?" celetuknya tiba-tiba baru menyadari itu setelah tadi malam di kantor polisi.
"Berhentilah berbicara itu padaku..." sahutnya mulai tersipu karena perasaannya ketahuan oleh Ramond.
"Ha ha..aku tidak menyangka sama sekali kau bakalan jatuh cinta dengan wanita yang sudah bersuami...padahal yang perawan banyak lo.." ledeknya diiringi tawa yang renyah.
"Ramond....hentikaaan bicaramu!" kesal Yogi lalu melajukan motornya dengan cepat supaya Ramond ketakutan dan berhenti mengoceh.
###
Satu minggu kemudian setelah Tasia kembali pulih dia sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, namun dokter menyarankan Tasia jangan terlalu banyak bergerak dahulu karena jahitan di perutnya masih basah.
Rizal bahagia sekali melihat kondisi istrinya yang mulai terlihat segar. Lalu di gendongnya Tasia ke kursi roda pelan-pelan.
Rizal terduduk berlutut di bawah kaki Tasia dan menyentuh tangan Tasia lembut.
"Apa kau senang, sekarang mau pulang..?" tanyanya.
"Aku ingin pulang ke Yogyakarta" jawabnya datar tiba-tiba dengan pandangan lurus ke depan, tak menatap ke arah Rizal sekalipun.
"Dalam kondisi seperti ini? kamu tidak boleh kemana-mana dulu, karena kamu harus dalam perawatan intensif dulu di rumah.." jawab Rizal lembut.
"Tidak, pokoknya aku ingin pulang sekarang!" sahutnya, dengan suara tinggi lalu mendorong pundak Rizal untuk menjauh darinya, dan memutar roda kursinya maju ke samping.
Rizal tersungkur di keramik kamar rumah sakit. Rizal menghembuskan nafasnya cepat.
"Tasia...aku mohon kamu jangan seperti ini...luka di perutmu masih basah..kalau kamu memaksakan pulang di perjalanan kau tidak akan bertahan.." ujarnya lagi.
"Terserah, aku tidak peduli itu...yang penting aku tidak ingin dekat denganmu..Aku membencimu, aku tidak ingin melihatmu, aku tidak ingin bersamamu..." teriak Tasia sambil menangis menutupi penglihatannya dengan kedua tangannya. Lalu dia menangis sejadi-jadinya.
Hati Rizal terluka sekali mendengar pengakuan Tasia kepadanya. Lalu di rangkulnya Tasia ke dalam pelukannya. Tetapi Tasia menolak di sentuh apalagi di peluk Rizal, dia memukul-mukul dada bidang Rizal dengan kencang serta mendorongnya agar menjauh darinya. Rizal menahan pukulan keras dari Tasia dan tetap memeluknya erat.
"Tasia...jika kau ingin marah padaku...marahlah..pukul aku sekuat tenagamu..ayo pukullah aku.. asal kau mau tetap disini biar aku rawat dirimu sampai kamu betul-betul sembuh...ya.." ujar Rizal sambil meneteskan air matanya.
"Tidak mau...aku tidak mau di rawat olehmu..." kesalnya, sambil terisak-isak menangis.
Rizal merasa bersalah sekali padanya, wanita kesayangannya kini jadi terluka dan trauma gara-gara ulah dirinya sendiri. Rizal terlalu meremehkan Tasia karena menganggap Tasia hanya gadis polos dan mungkin bisa di bohongi, dan kesakitan hati Tasia kali ini akan menjadi bumerang buat Rizal sendiri.
bersambung...
...***...
Minta dukungannya terus ya biar author tambah semangat menulis ceritanya...
jangan lupa selalu tinggalkan jejaknya ya ..dan banyakin komentarnya biar jadi bahan inspirasi author... oke terimakasih ya...yang udah setia selalu membaca tulisan ceritaku ini...🥰🙏🙏🙏