
Bab 80
Kebencian Ayah Mertua
Keesokan harinya...
Hendra baru saja terbangun dari istirahatnya setelah semalaman dokter memberinya obat penenang dan obat penghilang rasa sakit jantungnya tersebut.
"Apa kau sudah merasa baikan sayang...syukurlah" ucap Tania, menangis terharu menatap suaminya mulai sadar.
Hendra hanya mendehem dan menganggukkan kepalanya.
Tasia pun ikut senang melihatnya, dia dan Tania bersama-sama menjaga Hendra semalaman suntuk di dalam kamarnya.
Hendra pun baru tersadar dan terkejut jika menantunya itu juga ikut pergi ke rumah sakit mengantarkannya, dan sudah berada di dalam kamarnya tersebut.
"Sedang apa kamu disini?" tanya Hendra dengan nada tinggi, mengerutkan kencang dahinya menampakkan ke tidak-sukaannya itu terhadap Tasia.
Tasia sontak terkejut mendengar pertanyaan dari Ayah mertuanya itu.
"Dia juga sangat mengkhawatirkan mu..Yah.." jawab Tania menjelaskan. "Makanya dia ikut kemari untuk melihat kondisimu.." jelasnya lagi.
Tasia tersenyum memanggutkan kepalanya, merengkuh sopan pada Ayah mertuanya itu.
Hendra geram dan kesal karena Tasia berani keluar dari rumahnya tanpa seijinnya.
"Lebih baik kau cepat kembali ke rumahku...dan jangan pernah berani-beraninya keluar dari rumah!" geramnya marah.
"Ta-tapi Ayah...aku juga berhak menjaga dan merawat Ayah kan.." ucap Tasia gugup.
"Aku tidak sudi kau merawatku, cukup istri dan putraku saja yang berada di kamarku..Cepat pergi kau kembali ke rumahku!" bentaknya keras. "Uhuk..uhuuk..." mendadak batuk.
"Itulah akibatnya jika marah-marah nanti kamu malah kumat lagi..." cemas Tania. "Biarkan saja Tasia disini..." ujarnya lagi.
"Tidak bisa, dia tidak boleh berkeluyuran di luar cepat pergi kau dari sini .." hardiknya lagi, menyuruh Tasia segera kembali ke rumahnya.
"Baiklah...Ayah aku akan kembali pulang.." lirihnya pelan.
"Tasia.." panggil Tania merasa kasihan melihatnya.
"Tidak apa ibu..aku akan pulang..Ayah semoga cepat sembuh kembali..."sahutnya.
Hendra tidak menjawabnya dia hanya memandangi Tasia dengan wajah kesal dan masam.
Lalu Tasia perlahan membuka pintu kamar pasien, setelah keluar dia menutupkan pintunya kembali pelan dan dia bergegas pergi meninggalkan mereka.
Setelah agak jauh dari kamar Hendra, Tasia berjalan pelan menuju pintu luar rumah sakit. Dia pulang sendirian siang itu, dan tidak meminta jemputan Rizal. Karena pagi tadi Rizal memang sudah berangkat kerja dan belum ke rumah sakit lagi.
Setelah sampai keluar pintu gerbang Rumah sakit, Tasia melamun. Matanya tampak kosong memandang jalan raya, masih teringat akan perkataan Hendra tadi padanya. Perkataannya yang sungguh menyayat hati Tasia. Dia tidak menyangka akan dibenci Ayah mertuanya seperti itu.
'Apakah...mungkin ini karma buatku, yang dulu pernah membenci Ayahku sendiri...dan sekarang Tuhan tengah membalasku dengan dibenci Ayah mertuaku sendiri...' pikirnya dalam hati.
Tasia berjalan pelan menyebrangi jalan saat mulai sepi kendaraan, namun dari arah kanan jalannya ada motor yang tiba-tiba saja melaju dengan cepat ke arahnya akan menabraknya.
"Tasiaaa..." seseorang berteriak dari arah samping memanggilnya.
Tasia yang masih kalut tidak menyadari itu di tariknya kedua bahu Tasia dari belakangnya, dan punggung Tasia tersungkur ke pelukan dada orang yang menyelamatkannya.
Tasia mendongakkan kepalanya ke samping orang itu, matanya membulat besar dan terkejut, ternyata yang menolongnya adalah Yogi.
"Yogi..?" kagetnya. Yogi menatap mata Tasia cemas sekali.
Lalu seketika itu motor yang nyaris menabrak Tasia, melewati di hadapan mereka dan mengklakson ke arah Tasia kesal.
"Kalau jalan lihat-lihat dong!" bentaknya.
Yogi kesal dan membalas bentakannya "Motormu saja yang terlalu ngebut!!" balas jawabannya geram.
"Gila!!" teriaknya.
Lalu orang itu kembali menjalankan motornya tersebut dengan ngebut.
Yogi ingin mengejarnya dan menghajar si pengendara motor itu. Tapi tangan Tasia menahannya.
"Sudah...sudah biarkan saja dia pergi..." sahut Tasia mencegahnya.
"Tapi kamu nyaris ditabrak olehnya.." sahutnya masih kesal.
Tasia hanya tersenyum memanggut saja" iya..aku tahu tapi aku bersyukur untungnya barusan ada kamu yang tepat waktu menolongku...Terimakasih ya..." ucapnya senang menatap Yogi.
Yogi tersipu malu, ketika Tasia tersenyum mengucapkan terimakasih kepadanya, yang membuatnya jadi salah tingkah mengusap hidung dan mulutnya sendiri dengan cepat.
"Ya sama-sama...sedang apa kamu dekat rumah sakit? bukankah kamu sudah sembuh?" tanyanya.
"Aku habis menjenguk Ayahnya Rizal, semalam jantungnya kumat, dia di rawat di rumah sakit ini..." jawab Tasia sambil menundukkan pandangannya ke aspal.
"Benarkah...? lalu sekarang kamu mau kemana?"
"Aku mau pulang lagi ke rumah Rizal.."
"Kenapa Rizal tidak mengantarmu?"
"Aku tidak mau merepotkan dia...dia masih di tempat kerjaannya.."
"Ya sudah kalau begitu..nanti aku yang antarkan kamu pulang, sekarang karena mumpung ketemu kamu kebetulan, ayo..temani aku makan siang tadi aku tidak sengaja lewat jalan sini mencari-cari restorant.." ajak Yogi dia mengambil motor Ramond di parkir dibelakangnya dan menyuruh Tasia ikut dengannya.
Awalnya Tasia sempat ragu ikut dan dibonceng Yogi. Tapi karena dia sendirian tidak ada teman diapun akhirnya mau ikut pergi makan di traktir Yogi. Toh dia juga menganggap Yogi sudah sebagai sahabatnya sendiri.
"Baiklah..." jawabnya setelah dipaksa Yogi. Yogi senang sekali karena ini baru pertama kalinya dia membonceng Tasia walaupun bukan memakai moge kesayangannya itu.
Dari samping kirinya mereka di jalan raya, terlihat mobil Lia yang akan masuk ke gerbang Rumah Sakit, namun yang mengendarai setir mobilnya adalah Dian. Karena mereka baru saja dengar berita Hendra masuk Rumah Sakit, mereka berdua berniat untuk menjenguk Hendra.
"Itu kan..?" ucapnya pelan.
Lia yang masih fokus dengan cermin bedaknya sambil mengusap celak matanya yang sedikit belepotan malas untuk mengendarai mobil. Terheran karena mobilnya berhenti.
"Ada apa? kenapa mobilnya berhenti?" tanya Lia mengejutkan Dian yang matanya mengarah ke Yogi yang sedang menaiki motornya membonceng seseorang. Lalu tak lama mereka pergi dengan motornya tersebut.
"Ah tidak ada apa-apa" ujarnya pura-pura.
Menoleh kembali ke Lia..lalu kembali melanjutkan jalannya mobil masuk ke Rumah Sakit.
Setelah memarkirkan mobil Lia. Lia membuka pintunya dan turun dari mobil. Dian masih terdiam terpikirkan Yogi dan bertanya-tanya dalam hatinya 'Kenapa dia ada di Jakarta..dan siapa wanita yang bersamanya itu?'
Lia memandang heran di samping jendela kaca mobilnya.
"Hei..ayo turun..kenapa malah melamun begitu sih?" serunya mengagetkan lamunan Dian.
"Hee..i-iya.." gelagapnya. Lalu Dian cepat-cepat turun dari mobilnya.
###
Setelah lama perjalanan mereka berputar-putar mencari tempat restoran yang bagus menurut Yogi. Hampir satu setengah jam mereka menaiki motor berduaan.
Tasia sedikit kesal dengan Yogi karena dari tadi dia hanya berputar-putar jalan saja. Sesekali mereka melewati taman hiburan dan hanya sekedar lewat tapi sangat mengasyikan bagi Yogi sendiri. Dia memang sengaja, ingin berlama-lama di motor bersama Tasia. Sesekali kadang Yogi jahil mempercepat motornya biar Tasia memegang pinggangnya erat.
Dan...akhirnya mereka berhenti di salah satu Restorant dekat Ancol.
"Ayo..kita coba makan di tempat sini saja" ajaknya setelah memarkirkan motornya lalu membuka helmnya itu.
Tasia turun dengan cepat dari motornya lalu mengomeli Yogi kesal.
"Kita muter-muter cari restorant sampai satu jam setengah, tahu-tahunya masih di sini dekat-dekat rumah sakit yang tadi juga..." ketusnya jengkel. Yogi hanya terkekeh-kekeh mendengar omelan Tasia. Dia memang sengaja mengerjai Tasia supaya bisa lama-lama memboncenginya.
Restorantnya memang dekat Ancol tapi tidak jauh dari Rumah Sakit tempat Hendra di rawat.
Lalu Yogi menarik tangan Tasia masuk ke dalam restoran itu.
"Ayo..aku sudah sangat lapar sekali..." sahutnya.
"Dasar alasan saja kamu..kalau sudah lapar, harusnya tadi ke sini saja.." geramnya. Yogi cuek saja dia malah suka mendengar omelan Tasia, lalu dia menarik kursi makan dan menyilahkan Tasia duduk duluan.
"Tidak usah repot-repot.."ujarnya masih menyungging senyum ketus terhadap Yogi. Lalu Tasia duduk di kursi yang Yogi persiapkan.
Yogi menyusulnya duduk di depan Tasia sambil berhadapan. "Masih marah?" tanyanya tertawa kecil.
"Huuu..." mencibir ke arah Yogi.
Yogi hanya senyum-senyum suka dengan ekspresi wajah Tasia yang lucu kalau sedang marah dan kesal.
Lalu tak lama pelayan restoran menghampiri mereka dan menanyakan pesanan mereka sambil memberikan buku menu makanannya.
Mereka berdua memesan makanan kesukaannya masing-masing. Setelah memesan mereka menunggunya di meja sambil mengobrol.
"Kamu...kenapa belum pulang ke Yogyakarta? keadaan Cafe kita bagaimana? Apa Revan bisa mengatasinya sendirian?" tanya Tasia khawatir.
"Biarkan saja...biar dia belajar memanage sendiri cafe kita.. supaya bertambah banyak lagi pengalaman untuknya..." jawab Yogi santai.
"Hmm..aku hanya sedikit khawatir saja jika kita meninggalkan cafe terlalu lama" ujarnya.
Tasia menghembuskan nafasnya pelan lalu memandang kosong ke arah luar lewat jendela restorant itu. Punggungnya dia senderkan di belakang kursi, dan kedua tangannya yang ditumpu menjulur di depan meja makannya.
Pikirannya kembali kepada Ayah mertuanya tersebut. Tatapan sedihnya kembali tergambar di wajah Tasia, sehingga Yogi tergugah melihatnya. Yogi melihat ke arah tangan Tasia di depan mejanya serasa ingin dia menggenggamnya erat sekedar memberi perhatian dan perlindungan untuknya tapi dia urungkan niatnya itu.
Yogi berpikir mungkin Tasia kini tengah tersiksa dengan kehidupan rumah tangganya bersama Rizal. Rasanya dia tidak sabar menunggu berita Tasia berpisah dari Rizal.
"Kenapa kamu jadi melamun...?" tanyanya tiba-tiba membuyarkan lamunan Tasia.
Tasia sontak menoleh ke arah Yogi. Terlihat mata yang sedikit berair itu langsung di usapnya pelan.
"Tidak ada kok!" dustanya.
Yogi tidak tega melihatnya sedih dan murung. Lalu dia memberanikan diri menggenggam telapak tangan Tasia pelan.
"Aku tahu...kamu menyimpan kesedihan...tidak usah berbohong untuk memendamnya lagi.." ucapnya pelan.
Tasia mendongak terkejut karena Yogi tiba-tiba saja memegang tangannya. Saat Tasia ingin menarik tangannya dari genggamannya Yogi, tapi Yogi malah semakin erat memegangnya, dan menatap matanya Tasia lekat penuh dengan kekhawatiran yang mendalam padanya.
"Tasia...jujurlah padaku...apa kau bahagia dengan pernikahanmu itu?" tanyanya lagi.
Tasia melongo dengan pertanyaannya Yogi yang tiba-tiba saja menggetarkan hatinya.
"Ma-maksudmu?"
"Aku tahu perasaanmu...kamu belum bisa menerima pertunangan mereka..bukan" ucap Yogi. "Tasia...kamu masih ada kesempatan untuk memilih hidupmu sendiri...kamu berhak bebas dan bahagia..." paparnya lagi.
Tasia mulai merenung dengan ucapan Yogi padanya. Pikiran Tasia hampir saja terpengaruhi oleh Yogi yang mengiming-ngiminginya untuk berpisah dengan Rizal, setelah dia tahu kalau Ayah mertuanya tidak akan pernah menyukainya. Tapi teringat Rizal kalau dia akan secepatnya membongkar rencana Tantenya itu. Tasia hanya bisa bersabar menunggu waktunya itu datang.
"Yogi...aku percaya akan Rizal, dia tidak akan menghianati cintaku mesti dia sudah bertunangan dengan Lia.." jawab Tasia tersenyum tipis.
Yogi memandangnya sedikit masam mendengar perkataan Tasia, lalu dengan cepat melepaskan pegangan tangannya dari Tasia.
"Terserah itu padamu saja..aku hanya memberimu saran yang terbaik, jika nanti kamu sendiri yang memendam kekecewaan padanya...aku akan selalu siap berada di sisimu..." ungkap Yogi blak-blakkan.
bersambung...
...***...
Jangan lupa like, komentar vote dan juga hadiahnya ya....
bantu dukung author readers setia...biar tambah semangat berkarya...🙏🙏🙏🥰 Terimakasih...