Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Titip Pacar ke Teman



...Bab 38...


...Titip Pacar ke Teman...


Setelah dua bulan lamanya. Semakin hari semakin melejit pesat perkembangan usaha Rizal di bidang kulinernya itu.


Setiap minggunya selalu banyak pesanan online untuk acara syukuran dan acara-acara penting lainnya. Bukan cuma itu, bahkan Cafe tempatnya Rizal juga selalu di sewa oleh orang-orang yang ingin mengadakan acara pentingnya disana seperti rapat kantor, reunian sekolah, pesta ulang tahun, pertunangan, pernikahan dan lain-lainnya.


Rizal sendiri tidak menyangkanya, usaha kulinernya akan secepat meningkat itu. Sehingga setiap minggunya omset nya itu semakin bertambah meningkat banyak. Rizal pun sebagai pemilik Cafe sekaligus Direktur utamanya itu tidak tinggal diam untuk membangun dan memperluas lagi lahan Cafenya. 'Steam Beans Cafe' itulah nama Cafe yang didirikan Rizal yang sekarang ini sudah terkenal baik oleh penduduk kota sana. Bahkan banyak juga pengunjung baru berdatangan kesana seperti turis (orang asing) untuk menikmati hari santainya.


Dan sekarang kurang lebihnya Cafe Rizal yang seperti restorant itu sampai membutuhkan 80 orang pegawai. 25 orang koki untuk bekerja di dapurnya yang akan membantu Tasia. 25 orang waitress dan Revan sebagai ketua dalam hal pelayanan. 30 orang untuk bekerja sebagai cleaning service dibagi dua dengan bekerja di bagian taman Cafe. Sedangkan Yogi diangkat jabatannya menjadi managernya disana.


Semua sibuk sekali dengan pekerjaannya masing-masing sehingga jarang sekali untuk bertemu walaupun satu tempat kerjaan.


Semuanya lengkap sudah, Rizal tersenyum puas karena usahanya itu ternyata sangat menghasilkan dan menjanjikan, ini juga berkat dari hasil kerja keras dan bantuan teman-temannya juga. Dia bahkan sudah bisa mengembalikan uang pinjaman milik Lia dahulu. Revan sendiri dapat menyekolahkan kedua adiknya itu dengan tenang. Ibunya Revan tak pernah berhenti bersyukur atas kesuksesan anak lelakinya.


Dan pada akhirnya Rizal pun bisa membeli mobil yang dia idam-idamkan dahulu.


"Semua keberuntungan dan kesuksesanku berawal pertemuan denganmu.. Tasia!" gumamnya bahagia, setelah dia membawa dan mengendarai mobil barunya itu. Lalu dia lekas turun dari mobilnya setelah sampai parkiran Cafe termewah di Yogyakarta.


Tasia melongok terkejut melihat Rizal sudah datang dengan membawa mobil barunya yang dia sukai dulu. Tasia yang sudah berada di depan pintu Cafe memandanginya dari jauh. Setelah Rizal menutup pintu mobilnya, dia juga terkejut melihat Tasia yang sudah ada di depan pintu, lalu dia membalas pandangan matanya. Terlihat ada raut tidak senang dari wajah Tasia kepadanya.


Tasia memalingkan wajah darinya dan melangkah masuk ke dalam, tanpa menyapa Rizal terlebih dahulu.


Dari jauh Rizal menatapnya sedih. 'Maafkan aku Tasia, tapi aku harus membelinya. Ini akan menjadi bukti kepada keluargaku, agar aku tidak di remehkan lagi oleh mereka. Kamu belum tahu kenapa aku bisa begini..'ujarnya di hati.


Rizal masuk dan segera ke ruangan Yogi. Yogi terlihat sibuk dengan grafik datanya di komputer. Sampai tidak menyadari Rizal telah memasuki ruangannya.


"Aku ingin bicara denganmu" sahut Rizal mendekati ke meja kerjanya. Yogi terkejut dan menoleh ke arahnya sebentar, lalu melanjutkan lagi dengan menggeser-geser mouse di tangan kanannya.


"Bicara, ya bicara saja.. tapi aku harus segera menyelesaikan ini dulu" jawabnya, kedua bola matanya kembali lurus menatap layar komputernya.


"Ini tentang hubunganku dengan Tasia" kilahnya, Rizal lalu membalikkan badannya dan berjalan menuju kursi lalu dudukkan disana. Yogi menoleh ke arahnya terkejut setelah mendengar dia menyebut nama Tasia.


"Kenapa tiba-tiba ingin membicarakan hubungan kalian kepadaku?" sebal Yogi dengan bibir yang dimiringkannya karena jengkel, sangat tidak suka dengan hubungan mereka.


"Apa kau tidak ingin mendengarnya sebentar?" sahut Rizal dengan menyenderkan punggungnya di kursi itu. Yogi menggelengkan kepalanya malas, tapi karena penasaran dia menghentikan dulu pekerjaannya dan beranjak dari kursinya, lalu berjalan menghampiri Rizal.


"Sudahlah, katakanlah jangan bertele-tele lagi!" sahutnya, sambil memasukkan kedua tangannya di saku celananya.


"Setelah aku selesai pelantikan wisuda besok, sorenya aku akan berangkat pulang ke Jakarta" ujarnya perlahan. "Aku hanya meminta kamu untuk menjaga Tasia selama aku tidak ada disini. Apa kau mau berjanji kepadaku?" lanjutnya lagi, dengan raut muka sedih sambil menatap kosong ke depan asbak di atas meja, yang tangannya pun dilipat ke dagunya.


Yogi tercengang dengan permintaannya Rizal, dia tertawa meledek pria itu.


"Apa maksudmu? apa ini tidak lucu, kau ingin menitipkan pacarmu kepadaku.. setelah kau tahu kalau aku juga suka dengan pacarmu itu! kesannya sangat aneh sekali, apa kau tidak takut nanti aku bisa merebut pacarmu? kau memang sudah tidak waras!" ejek Yogi padanya diiringi tawa kecil.


"Aku tahu, kau tidak akan mungkin berbuat begitu. Tasia begitu mencintaiku dia tidak akan mungkin juga sampai menghianatiku.. "paparnya percaya diri.


“Oow.. benarkah?" ejek Yogi lagi meremehkannya.


"Dengar Yogi, aku hanya titip dia padamu, supaya kamu mau menjaganya dari marabahaya hanya itu saja. Tapi kalau dia sampai kenapa-kenapa karena ulahmu, aku juga tak akan tinggal diam untuk menyeretmu ke penjara!" pesannya sedikit menggertak Yogi.


"Ha ha ha.. " Yogi tertawa menyeringai mendengar pesan dari temannya yang sekaligus saingan cintanya itu.


"Aku khawatir saja.. setelah aku menolak cinta Lia, hidupnya Tasia jadi terganggu oleh Lia" ujar Rizal cemas.


Yogi terkejut mendengar perkataan Rizal, dia jadi teringat dengan Lia dan belum sempat menanyakannya kenapa Rizal ingin memberhentikan dia bekerja di Cafe mereka.


"Kenapa kau memberhentikan Lia dulu?" tanya Yogi penasaran.


Setelah mendengar perkataan Rizal. Yogi menganggukkan kepalanya paham. Dia sedikit menyesali, karena dulu dia salah paham telah menuduh temannya sembarangan. Akibat emosi dan kecemburuannya terhadap Tasia dia jadi berkata tidak-tidak tentangnya.


"Maafkan aku, dulu kupikir kau pun juga menyukai gadis model itu! makanya aku merasa aku punya kesempatan untuk mendapatkan Tasia" ungkap Yogi terus terang padanya.


"Baiklah demi menebus kesalahanku terhadapmu dulu..aku akan jaga dia untukmu. Kau tak perlu mencemaskannya, kau bisa mengandalkanku" ujar Yogi, memberikan kepercayaan kepadanya.


Rizal sangat senang sekali dengan perkataannya dari sahabat perjuangannya itu. Dia lalu berdiri dan memeluk Yogi, mengeratkan persahabatan mereka kembali. Yogi membalasnya dan menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu.


"Terimakasih sobat! aku akan merepotkanmu kali ini! Tolong kau juga mesti jaga rahasiaku dari Tasia" sahutnya. Yogi menganggukkan kepalanya.


"Tentu saja aku tak akan membocorkan identitasmu itu padanya!" jawab Yogi "Tapi tunggu, kau jangan senang dulu sobat! jika suatu hari nanti kalau kau juga menyakiti Tasia, aku juga tidak akan diam untuk merebutnya darimu!" ancamnya tiba-tiba.


Rizal terkesiap kaget dengan ancamannya yang mengerikan itu.


"Deal" sahutnya lagi sambil merentangkan telapak tangannya menjabat tangan Rizal. Lama sekali Rizal berpikir dan tidak menjawabnya, tapi pada akhirnya dia juga memanggut menyetujuinya.


"Baiklah, deal" jawab Rizal, mengiyakan permintaan temannya, Rizal pun segera menangkap tangan Yogi. Dan tangan mereka keduanya di kepalkan erat bersamaan dan mengikrarkan perjanjian itu.


Revan datang dan masuk ke ruangan Yogi tanpa mengetuk pintu dulu, tak sengaja dia melihat kedua temannya saling berhadapan dan membicarakan hal yang serius, terlihat mereka pun saling berpegangan tangan dengan erat. Tiba-tiba pikiran kotor muncul di otaknya dan berpikir macam-macam tentang mereka.


"Kalian sedang melakukan apa?" tanyanya terkejut.


Rizal dan Yogi menoleh bersamaan ke arahnya. Revan yang jauh ketinggalan berita dan belum tahu tentang hubungan Rizal dan Tasia jadi dia berpikir yang tidak-tidak tentang mereka, dia pikir kedua lelaki yang di depannya itu tengah menjalin hubungan setelah di tolak sama Tasia.


"Hah" kejutnya terbelalak setelah berpikir lama tentang mereka sambil menutupi mulutnya yang terbuka.


Yogi dan Rizal saling bertatap muka heran dengan tingkah teman satunya ini.


"Itu tidak mungkin.. " sahutnya lagi, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ja-jangan bilang ka-kalau kalian berdua itu sudah pacaran.." ocehnya terbata-bata, tapi cepat-cepat dia segera menutup mulutnya sendiri, takut terdengar oranglain.


"Wah-wah ini anak, kepalanya memang sudah tidak waras nih.." celoteh Yogi sambil menunjukinya. Rizal menepok keningnya sendiri dan tertawa-tawa kecil, menertawakan tingkah Revan yang selalu saja diluar nalarnya.


Yogi melingkar tangannya di leher Revan. Revan bergidig didekati Yogi.


"Kamu itu lagi mikir apa bocah!" bentak Yogi lalu mencekiknya perlahan.


"Ampun...tidak kok" sahut Revan sangat ketakutan kalau dirinya tidak bisa bernafas karena di cekik Yogi.


Tiba-tiba seorang pelayan datang mengetuk pintu kerja Yogi dan memanggil mereka di ruangan. sehingga mengejutkan mereka bertiga.


"Permisi, maaf pak Rizal, pak Yogi dan pak Revan, sudah ditunggu bu Tasia dari tadi di ruangan makannya" sahutnya.


"Waaah sarapannya sudah siap...! aku sudah sangat lapar sekali" teriak Revan akhirnya dia bisa lolos dari jeratan Yogi. Lalu Revan segera berlari duluan ke ruang makan tempat Tasia, meninggalkan dua pria itu di ruangan.


Rizal tertawa melihat pemuda itu, dan Yogi cuma bisa menggelengkan kepalanya karena tingkahnya yang menyebalkan.


bersambung...


...***...


Jangan lupa like and komentarnya ya...


...🌺🌺🌺...