
...Bab 43...
...Tenggelam Di Danau...
Waktu istirahat siangnya Tasia ijin pergi ke apotek dulu hendak membeli koyo dan balsem pesanan ibunya pagi tadi. Masih di antar sama bang Mail. Lalu dia pulang dan istirahat makan siang di rumah.
Sorenya setelah ingin kembali ke arah Cafe di perjalanan melewati arah Danau Tasia melihat di depan jalannya sudah ada Lia yang tengah berdiri di luar mobilnya sendirian, dan dia juga melihat ke arah mobil Tasia di depannya lalu melambaikan tangannya kepadanya.
"Berhenti dulu bang disini"pinta Tasia. "Yang di depan itu temanku!"
"Iya non" sahut bang Mail. Lalu bang Mail segera menghentikan mobilnya. Kepala Tasia menengok keluar jendela kaca dan memanggilnya.
"Lia kau kenapa? apa mobilmu lagi bermasalah?" tanyanya. Lia menatap tajam ke arah Tasia.
"Aku ingin bicara berdua denganmu...sebentar " sahutnya lugas sambil mendekapkan kedua tangannya. Tasia terkejut dengan penuturannya yang agak ketus itu, tanpa pikir panjang Tasia menurutinya dan keluar dari mobilnya, lalu Lia menyuruhnya masuk ke dalam mobilnya.
Dan bang Mail di mintai Tasia untuk menunggunya sebentar di sana. Lia lalu menjalankan mobilnya mengajak Tasia pergi bersamanya entah mau kemana, karena penasaran Tasia jadi banyak bertanya padanya.
"Kamu mau bawa aku kemana?" tanyanya. Tapi tidak diresponnya, Lia lalu berhenti di suatu tempat agak sepi orang dekat Danau. Dia lalu keluar dan membuka pintu satunya untuk menyuruh Tasia juga keluar dari dalam mobilnya.
"Ini untuk yang terakhir kalinya, aku memperingatkan kamu... " menoleh ke Tasia dengan mata malas menatapnya. Tasia masih bingung yang dia ucapkan.
"Maksudmu?" perlahan Tasia turun keluar dari mobilnya. Lia menutup dengan kencang-kencang di pintu mobil itu.
Braak
"Putuskan Rizal dari mulai sekarang juga! percuma saja kalian berdua berhubungan" tegasnya. Tasia terkejut dengan apa yang disampaikannya, tiba-tiba dia ingin mengajak bicara dan memintanya untuk memutuskan Rizal.
"Apa?" Tasia mengerutkan dahinya, masih keadaan mulut yang terbuka lebar. Lia menatapnya sinis, dengan tetap berdiri melipatkan tangan di dadanya.
Sekelebat mata Lia melirik kalung di leher Tasia. Dia tahu kalau Tasia dari dulu tidak pernah memakai barang-barang mahal.
"Aku kagum sekali kepadamu, dulu kau hanya seorang gadis desa kampungan dan hanya memakai pakaian sederhana. Dulu.. kau berangkat pergi dengan di antar ojeg online dan sekarang kau diantar mobil jemputan. Statusmu berubah yang dulunya seorang gadis desa sekarang menjadi seorang putri.. waah hebat sekali..." serunya sambil berjalan memutar mengelilingi Tasia, diiringi senyuman sinis dan menghujam. Tasia hanya bisa tersenyum tipis sembari menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar hujatannya.
"Jadi...maksudmu apa Lia? kau ingin bicara denganku, tujuanmu hanya ingin menghinaku sepuasmu begitu saja?" cermat Tasia. Lia menyunggingkan senyumnya ke arah Tasia, lalu dengan kilat dan cepat dia mengambil dan menarik kalung Tasia dengan kencang, hingga kalung itu terlepas dari lehernya Tasia.
Tasia tercengang kaget dan merintih sakit di bagian lehernya, "Apa yang telah kamu lakukan? kembalikan kalungku!" teriaknya, sambil mengelus-ngelus leher belakangnya.
"Aku hanya ingin bilang kepadamu...kalung ini... sangat cantik sekali ya..tapi sayang kayaknya ini kurang pantas kamu pakai!" cebiknya setelah dia berhasil merebut kalung itu.
"Berikan itu kepadaku!" sergap Tasia hendak mengambil kalungnya kembali. Tapi tak keburu diambil tangan Lia sudah melemparkannya jauh masuk ke dalam Danau.
Cepppluuuk
Tasia melotot ke arah kalungnya yang dilempar Lia.
"Ups.. maaf tanganku licin!" celotehnya seraya tersenyum puas.
"Apa yang kau lakukan!" teriak Tasia histeris saat melihat kalung itu sudah tenggelam masuk kedalam air.
"Kembalikan kalungku... kamu memang sengaja melemparnya kan... " teriaknya kesal.
"Wah sepertinya kalung itu berharga sekali buatmu?" Lia masih bersikap santai setelah membuang kalung itu. "Apa kalung itu pemberian dari Rizal?" tebaknya tepat.
"Kembalikan lagi kalungku!! " teriaknya lagi sedikit membentak Lia dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Lagi-lagi Tasia tercengang yang di ucapkan Lia kepadanya. Antara percaya dan tidak percaya, apakah benar yanga dikatakannya kalau mereka akan bertunangan? Tasia menggeleng-gelengkan kepalanya, air bening mulai keluar dari sudut matanya. Lia lalu lekas melangkah kembali ke mobilnya dan pergi meninggalkan Tasia sendirian di samping Danau itu.
Tasia berjalan mendekati pinggir Danau itu. Melihat air Danau yang tenang dan sesekali bergelombang kecil karena tiupan angin sore hari.
Tanpa pikir panjang Tasia segera melepas sepatu kerjanya dan melompat masuk ke dalam danau tersebut.
Byuuuuur
Tasia berenang cepat dan masuk sampai ke dalam dasar air, dia mencari-cari kalung yang sudah di buang Lia tadi. Mencari-carinya seperti mencari jarum di tumpukkan jerami, sangat sulit sekali dia temukan. Sesekali Tasia kembali ke atas air dan mengambil oksigen lagi untuk bernapas, lalu kembali berenang melanjutkan pencariannya di dalam air.
Lia melajukan mobilnya sambil melirik di kaca spionnya yang masih memperhatikan Tasia dari jauh, dan dia melihat Tasia yang nekad masuk ke dalam Danau demi kalung itu, lalu segera dia menelepon seseorang.
"Tugasku sudah selesai, sekarang giliran aksimu.. datang ke tempat yang aku suruh tadi!" sahutnya tersenyum puas. Lalu dia menutup kembali teleponnya dan pergi jauh dari sana, tanpa memperdulikan gadis itu.
#
#
#
Sudah hampir 30 menit bang Mail mondar-mandir di depan mobil menunggu Tasia, tapi Tasia belum juga kembali.
"Aduuh Non Tasia kok lama sekali ya?" ujarnya bingung.
Bang Mail lalu mengambil telepon genggamnya dan menelepon Yogi dengan cepat yang masih berada di Cafenya untuk memonta bantuan, karena Tasia juga lupa tidak membawa ponsel dan tas nya yang tertinggal di jok belakang mobilnya.
#
#
#
Tasia tetap berusaha berenang dan mencari-carinya sampai ketemu, dia meraba-raba benda-benda di dasar danau itu sendirian.
Lama sekali pencarian itu hingga dia nyaris putus asa. Namun ketika dia ingin menyerah dan kembali ke atas air, Tasia sekilas melihat ada kilauan cahaya putih di himpitan batu-batu yang tertutup batang pohon besar di sana, ada sedikit harapan baginya, 'Itu mungkin kalungku' pikirnya senang.
Tasia segera berenang dengan cepat ke arah kalungnya.
Saat menggeser sedikit batang pohon dan batuan itu dan memang benar kalungnya jatuh dan terikat dengan ranting-ranting pohon disana, Tasia senang sekali. Lalu dia segera mengambil dan mencium lekat kalungnya lagi di tangannya. Tapi saat dia ingin kembali ke atas air. Kaki kanan Tasia tiba-tiba saja terjerat jaring-jaring ikan yang sudah lama tenggelam disana, saat itu juga dia kesulitan untuk melepaskan kakinya itu. Tasia mulai panik dan kehilangan kendalinya, sampai dia kehabisan oksigen. Matanya melotot ingin rasanya berteriak dan meminta tolong. Tapi apa daya dia di dalam air hanyalah sendirian. Dia memenjamkan matanya sambil menangis.
'Ya Tuhan tolong aku... Rizaaalll....' batinnya sambil menangis, yang sudah tidak kuat lagi untuk menahan napas panjangnya, kakinya yang terus di hentak-hentakannya supaya jaring itu mau terlepas dari kakinya. Tapi tidak jua mau terlepas.
Namun sayangnya lama-kelamaan tubuh Tasia mulai melemas dan tiba-tiba saja dia mulai kehilangan kesadarannya.
bersambung.....
...***...
Jangan Lupa like and komentarnya yaa....
...🌺🌺🌺...