Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Tantangan



...Bab 20...


...Tantangan...


"Apa? jadi maksud Kak Rizal, dia yang akan gantikan aku di dapur?" sahut Revan terkejut yang masih belum percaya, dengan ujaran Rizal barusan, seraya menunjuk kedua tangannya ke arah Tasia.


"Iya bocah, sekarang kau tidak usah lagi repot-repot menghancurkan dapurku!" celoteh Yogi yang dari tadi di belakangnya lalu berjalan mendekati Revan.


"Ya Tuhan...terimakasih, engkau telah kirimkan aku Dewi Penyelamat..." sahutnya girang, langsung tangannya menyosor memegang tangannya Tasia.


"Hallo kak Tasia terimakasih banyak ya...akhirnya kamu datang menolong ku setelah sekian lama aku disiksa oleh orang ini!" sahutnya sambil melirik Yogi dengan tatapan menyindir.


Tasia tertawa kecil mendengar ungkapan Revan.


"Dasar lebay.. ngapain juga pake pegang-pegang tangannya segala!" geram Yogi, lalu menipuk kepalanya Revan dengan gulungan koran.


"Adduuuuh,..kebiasaan pukul-pukul nih orang! gerutu Revan meringis, sambil mengelus-elus kepalanya sendiri.


Tasia tertawa geli dibuatnya, melihat tingkah mereka berdua seperti kakak beradik yang sedang bertengkar.


"Sudah-sudah, setiap hari kalian selalu saja bertengkar... membuat Cafe ini jadi sepi pembeli.." sahut Rizal menggelengkan kepalanya, kesal dengan ulah mereka.


"Yogi, sebaiknya kau cepat tunjukkan dapur untuk tempat kerjanya Tasia.." titah Rizal lagi.


"Oke, Tasia ayo ikut masuk denganku...!" sahut Yogi dengan senang hati. Tasia memanggut dan mengikuti Yogi dari belakang punggungnya, Revan juga ikut masuk mengantar Tasia.


Ketika Rizal mau menyusul mereka, Lia meraih tangan Rizal dan menghentikan langkahnya.


"Tunggu Rizal, sejak kapan dan darimana kamu bertemu dengan gadis itu?" tanya Lia penasaran.


"Dia adik iparnya sahabatku.. aku yakin kamu pasti akan menyukai keberadaannya, kalian bertemanlah, dia pandai sekali membuat kue.."ujar Rizal. Lalu Rizal kembali melangkahkan kakinya masuk ke cafenya menyusul Tasia dan yang lainnya.


"Apa betul begitu, aku jadi ragu sekali dengan kemampuannya bekerja?" ucap Lia tersenyum sinis menatap punggung Tasia yang masuk ke dalam bersama mereka.


...***...



Setelah memasuki ruangan dapur, Tasia terpana melihat dapur Cafe itu. Ruangannya cukup besar untuk disebut dapur, tempatnya juga bersih dan peralatannya semua terlihat mewah dari kompor gas juga oven-oven kue yang berjejer.


"Dapur ini sekarang adalah tempatmu bekerja!" sahut Yogi.


"Apa kau menyukainya?" tanyanya lagi.


Tasia tidak menghiraukan pertanyaan Yogi, pandangannya masih tertuju pada ruangan dapur itu, dia mengelilingi meja besar tempat biasa Yogi membuat adonan. Tangannya mulai menggerayangi semua benda-benda yang berada disana.


Rizal dan Yogi saling menatap, lalu kembali melihat ke arah Tasia dengan penuh keheranan.


"Aku selalu memimpikan memiliki dapur seperti ini...luas dan nyaman...cita-citaku dari kecil memang ingin menjadi seorang koki..." gumamnya terharu, sekilas terlihat matanya mulai berkaca-kaca.


"Sekarang apakah aku masih bermimpi bisa bekerja di tempat ini? tanyanya tiba-tiba.


"Kau tidak sedang bermimpi Tasia, raihlah cita-citamu...percayalah kamu bisa melakukan apapun yang menjadi impianmu.." jawab Rizal perlahan mendekatinya dari belakangnya.


"Benarkah?!" ujarnya lalu dia membalikkan badannya dan menoleh ke arah Rizal. Rizal menganggukkan kepalanya, dia percaya sekali Tasia memiliki kemampuan yang belum pernah dimiliki oranglain. Rizal sangat yakin, Tasia bisa merubah hidupnya di masa depannya dengan bekerja di tempatnya.


Tak lama Lia masuk ke ruangan dapur, setelah mendengar ucapan perhatian Rizal terhadap gadis itu.


"Kalau begitu sekarang kamu harus buktikan pada kami kemampuanmu, apa kamu bisa membuat kue-kue dari negara lain?" tanya Lia tiba-tiba menantang Tasia.


Semua di ruangan itu sontak terkejut dengan permintaan Lia yang secara tiba-tiba.


"Hei, dia baru saja datang..lebih baik dimulai membuat yang lebih mudah saja, kue tart atau kue pie..misalnya?!" saran Yogi.


"Tidak, keputusannya sudah bulat..kalau kamu ingin diterima bekerja disini, buktikan kamu tak hanya bisa buat kue tradisional saja namun semua jenis kue di luar negeri juga, kamu harus bisa mempelajarinya!" tegas Lia.


"Jika ingin bisnis usaha kita sukses dan maju maka kita juga harus bersiap bersaing dengan pengusaha lainnya." paparnya lagi.


Semua memandang ke arah Tasia dengan tatapan keraguan, apa yang dikatakan dan disampaikan Lia memang ada benarnya, tapi Rizal juga tidak bisa menahan perintahnya Lia.


Setelah mereka lama terdiam, Tasia mulai membuka mulutnya dan berbicara pada mereka.


"Baiklah...kalau begitu, apa aku bisa memulainya dari Negara Jepang?" sahut Tasia, menerima tantangannya itu.


"Woow.. negeri sakura! aku suka sekali.." seru Revan.


"Aku akan mencobanya dari kue anmitsu, manju dan takoyaki terlebih dahulu.." ujar Tasia, dia lalu segera mempersiapkan dirinya. Di taruhnya tasnya itu digantungan baju samping pintu dekat kamar mandi, dan mengambil celemeknya lalu memakaikannya perlahan.


"Apa kau yakin?" tanya Rizal kepada Tasia.


"Oke, kalau begitu, kami akan memberimu waktu 30menit...! kami tunggu di ruangan kerja" sahut Lia.


"Ayo Rizal..kita tunggu di luar! sambil menarik lengannya Rizal untuk keluar dapur.


"Baiklah..." jawab Tasia.


"Biar ku bantu menyiapkan bahan-bahannya, kamu tinggal bilang saja butuh apa?" ujar Yogi menawarkan.


Lalu Yogi dan Revan membantu menyiapkan bahan-bahan dan segera mengeluarkan peralatannya.


Tasia memulai dari membuka plastik tepung terigu lalu masukkannya ke wadah dan ditimbang beratnya dan di lanjut dengan bahan lainnya yang dia simpan ke wadah yang berbeda-beda, satu-persatu dia melakukannya begitu sangat terampil. Yogi dan Revan tidak berhenti memperhatikan apa yang dilakukan Tasia. Mereka berdua terkagum ketika Tasia mulai mengolah dan mengaduk adonan itu dan memasukannya ke loyang-loyang dengan lihainya.


Sementara itu di luar kaca jendela dapur, Rizalpun juga fokus tengah memperhatikannya.


...***...



...Anmitsu...



...Manju...



...Takoyaki...


Selang 30 menit kemudian kue-kue ala Jepang buatan Tasia sudah matang semua. Yogi membantunya memasukkan kue-kue itu di piring dan mangkuk dan menaruhnya di nampan besar. Sedangkan Revan membuat jus untuk mereka. Lalu mereka bertiga keluar dapur secara bergilir dan memperlihatkannya kepada Rizal dan Lia yang tengah menunggunya di ruangan kerja.


"Anmitsu, manju dan Takoyaki sudah matang!" seru Revan tiba-tiba, perlahan-lahan dia menyimpannya satu-persatu di atas meja. Rizal dan Lia pun melihatnya berbarengan.


"Sekarang kalian boleh mulai mencicipinya... Tanoshinde kudasai!" tiba-tiba Tasia menundukkan kepalanya dan mengucapkan selamat menikmati dengan bahasa Jepang, kepada mereka.


Semua terkejut dan terpana melihat Tasia yang begitu fasih menguasai bahasa negri sakura tersebut.


"Keren kamu bisa bahasa Jepang..?" teriak Yogi.


"Hai (iya)!" mengangguk lagi.


Rizal tersenyum kagum pada Tasia. Pandangan matanya yang tak lepas darinya, terlihat oleh Lia yang duduk di samping kursinya.


"Ehm!! Baiklah, sekarang aku ingin mencoba kue Jepang buatanmu ini!" sahutnya mengalihkan pembicaraan mereka. Lalu dia mengambil satu mangkuk Anmitsu dan langsung mencicipinya. Rizal pun mengambil satu. Yogi dan Revan pun menyusul mencicipinya satu-persatu kue itu, terkecuali Tasia sendiri.


Setelah mereka menyicipi kue itu dimulut mereka masing-masing, tiba-tiba semua terdiam sejenak dan saling menatap dengan yang lainnya.


"Deliciouuus " sahut Yogi dan Revan serentak.


Rizal pun merasakan hal yang sama.


"Arigatou gozaimasu..." senyumnya kepada mereka, ikut senang dengan hasilnya yang memuaskan.


Rizal tidak berhenti terkagum melihat ke arah gadis itu.


"Tasia, aku tidak menyangka, ternyata kamu benar-benar pandai membuatnya. Aku tidak akan pernah salah memilih kamu" ungkapnya tersenyum puas. Lalu Rizal beranjak dari duduknya dan menghampiri Tasia sambil memegang pundaknya dan merangkulkan tangannya.


"Nah..teman-teman..!" serunya memandang ke arah mereka bertiga.


Lia menekukkan wajahnya jengkel dihatinya, karena Rizal merangkul pundak Tasia begitu terlihat akrab.


"Sekarang..mari kita rayakan kedatangan Tasia, si koki Baru di cafe kita!" sahutnya lagi pada mereka


"Yaaa...tentu saja...Tasia selamat datang dan bekerja di cafe kami!" seru Yogi dan juga Revan


Lalu mereka pun setuju dan bersulang dengan meminum jus buah yang dibuat Revan tadi.


Lia tidak bisa berkomentar lagi. Mau tidak mau, dia pun juga harus ikut merayakan kehadiran gadis itu dan menerimanya sebagai pegawai baru di Cafenya.


bersambung ..


...***...


Jangan lupa like dan komentarnya yaa...


...🌺🌺🌺...