
...Bab 11...
...Candaan bersama keluarga kakak...
Pagi itu, mentari baru terlihat muncul di celah-celah sudut jendela kamar, menembus tirai dan menerpa wajah Tasia yang masih pulas tertidur. Suara kicauan merdu burung, bertengger dekat pot bunga depan jendela luar kamarnya. Seakan hadir untuk membangunkan gadis muda itu.
Namun dia yang masih lelap dari tidur nya yang nikmat, mungkin itu karna aktivitas beratnya kemarin. Sehingga badannya terasa berat sekali untuk bangun awal.
Ibu Tasia yang baru saja pulang dari pasar itu langsung melihat kamar Tasia yang masih tutupan. Ibu menebaknya kalau dia mungkin masih tertidur, segera diketok-ketoknya pintu kamarnya itu, seraya memanggil-manggil nama putrinya tersebut.
"Tasiaa...Tasiaaa...bangun nak! ini sudah pukul berapa? Kamu mau tidur sampai kapan, sebentar lagi kakakmu datang..ayoo bangun! bantu ibumu memasak di dapuur.." teriaknya kencang.
Terdengar samar-samar ocehan Ibunya dari luar kamar, perlahan Tasia membuka matanya, lalu mengucek-ngucek matanya yang lengket itu.
"Hmm..emm iyaa Bu iyaa..huaaa" melasnya menguap lagi.
Lalu dia segera meraih handphonenya di meja untuk melihat jamnya disana.
"Apaaa?! ya ampuun ini sudah kesiangan..aku belum sholat subuh lagi!" sontaknya kaget saat melihat jamnya sudah menunjukkan angka 6 pagi.
"Aduuuh bisa telat kayak gini sih?!" keluhnya, dia segera bergegas masuk ke kamar mandi dan lekas sholat.
"Haah anak ini, tumben-tumbenan bisa telat sholat begini!" dumel ibunya sambil mengeluarkan belanjaannya pagi tadi. Lalu menyiapkan wadah untuk sayuran dan ayam yang akan di cucinya.
Setelah selesai memasak pagi untuk menyiapkan sarapan kami. Tak lama kemudian kak Maya dan suaminya datang dengan mobil Avanza mereka.
Mereka memarkirkan mobilnya di halaman rumah lalu keluar dari mobil itu, dengan membawa barang bawaan dan bingkisan oleh-oleh dari mertuanya Maya.
"Bu..Assalammua'laikum.." sahut mereka barengan.
"Wa'alaikumsalam...Maya, Nak Supri ayo masuk..sudah dari tadi ibu menunggu kedatangan kalian!" jawab Ibunya bahagia, melihat putri dan menantunya akhirnya datang dan mau menginap di rumahnya.
"Ini Bu, dari mamah dan aku!" Supri dengan segera menyodorkan dua bingkisan besar kepada mertuanya itu. Sebagai bentuk rasa sayang dan hormatnya dia kepada ibu beserta istrinya.
"Apa ini? Ya Allah makasih ya nak Supri, jadi merepotkanmu..." ujarnya senang sekali yang mendapatkan rezeki pagi itu.
"Ya sudah, sekarang ayo kalian masuk dan siap-siap, kita sarapan dulu, Ibu dan Tasia baru saja selesai masak!" sambungnya lagi.
"Iya Bu..aku dan Mas Supri masuk kamar dulu ya.. mau nyimpen kopernya..!" sahut Maya, ibunya memanggut dan mereka lekas masuk ke dalam kamarnya Maya yang dulu.
Tak lama mereka pergi ke meja makan, Tasia dan Ibu sudah berada disana dengan menyiapkan hidangan sarapan itu.
"Aah... kamu Tasia bisa saja!" sahut Supri yang siap menyerbu hidangan pagi itu.
"Huuuh kamu anak kecil, belum nikah sok-sok-an bilangin saja!" celoteh Maya, menepuk pundak adiknya yang tengah mencandai mereka.
"Wes-wes..sudah lama tidak bertemu, mesti kalian berantem terus!" seru ibunya.
"Ayo nak Supri yang banyak ambil lawoh nya..ini yang masak sayur dan ayamnya Tasia, ibu cuma masakin nasi sama sambalnya.. Maaf ya makannya yang seadanya saja.." terang ibunya sungkan karena makanannya yang biasa.
"Ya ampun Bu.. ini sudah mewah begini kok masih dibilang biasa. Supri itu biasa makan seadanya yang penting kalau dah laper makan sama apa saja, pasti enak-enak saja kok bu.." ujar Supri yang selalu ingin menyenangkan hati mertuanya itu.
Ibu Tasia tersenyum bahagia, melihat Maya akhirnya bisa menikah dengan pemuda yang baik akhlak perilakunya seperti Supri. Di dalam doanya dia juga berharap suatu hari nanti Tasia putri keduanya akan menikah dengan pemuda yang baik dan bertanggungjawab juga seperti Supri.
"Ah ngomong-ngomong, itu Tasia! kenapa dengan luka di dahimu?" tanya Supri yang dari tadi belum sempat bertanya padanya.
"Ah itu kak kemarin...!" ujar Tasia.
"Kemarin dia habis kejar maling di pasar, lalu malingnya kesal dan pukul dia sampai jatuh nak Supri. Anak ini memang agak bandel kalau dibilangin jangan buat masalah..tapi selalu saja ikut masuk ke dalam masalah orang, jadi akhirnya dia sendiri yang rugi!" potong ibunya panjang lebar menjelaskan.
"Tasiaa.. Tasiaa!" sahut Maya menggeleng-gelengkan kepalanya, prihatin dengan kelakuan adiknya itu, yang tidak pernah kapok-kan.
"Oooh...benarkah!" seru Supri. "Lain kali kamu harusnya bawa tongkat buat jaga-jaga Tas, biar gak kalah pukul" tambahnya lagi malah membela Tasia.
"Benar juga itu ya kak!" serunya.
"E-eh ibu lagi nasehatin kamu, malah ga didenger nih kupingnya! kamu juga mas malah ngebelain Tasia ngasih ide, dia malah semakin semangat saja berantem terus!" ujar Maya kesal sama mereka berdua. Lalu menjewer kencang kuping adik dan suaminya itu berbarengan. Mereka menggaduh kesakitan.
Tasia dan Supri hanya terkekeh-kekeh saja mendengar omelan Maya dan ibunya itu. Suasana di meja makan itu menjadi riang gembira karena kehadiran anggota keluarga barunya. Tapi itu tidaklah lama, karena mereka harus berpisah lagi. Maya dan Supri harus meninggalkan pulau Jawa Tengah, dan harus tinggal menetap di Bogor, Jawa barat sana, karena status pekerjaannya.
Tasia bahagia sekali waktu itu karena keadaan di rumahnya terasa begitu hangat kembali. Walaupun tanpa keberadaan Ayah di sisi mereka.
bersambung...
...***...
Jangan lupa like dan komentarnya yaa...
...🌺🌺🌺...