
...Bab 44...
...Rencana Yang Gagal...
Seseorang tiba-tiba muncul di dekat Tasia, samar-samar Tasia melihatnya dengan mata sedikit kabur dan gelap. Orang itu mencoba menolong dan melepaskan jeratan jaring dan juga akar yang mengikat di kakinya. Dia kaget karena kaki Tasia berdarah karena akibat gesekkan akar yang mencengkeramnya kuat.
Terlihat tubuh gadis itu sudah tidak bertenaga lagi saat itu, namun orang itu tetap berusaha mengeluarkan Tasia di danau itu dengan memotong jaring-jaring dan akar dengan menggunakan pisau lipatnya.
Setelah beberapa menit akhirnya akar dan jaring itu terputus, dia pun segera merangkul pinggang Tasia dan membawanya keluar dari dalam air. Lalu menggendongnya dan membaringkan tubuhnya di semak-semak rerumputan pinggir danau.
"Haash...haah" nafas pria itu terdengar tersengal-sengal karena kelelahan setelah menyelamatkan Tasia, lalu perlahan dia mengatur nafasnya kembali. Tatapan pria itu kembali pada gadis yang terbaring di sampingnya, tangannya mulai membelai pipi Tasia dengan lembut.
#
#
#
Yogi baru saja sampai setelah diberitahu bang Mail. Bang Mail menceritakan semuanya kalau Tasia tadi di ajak seorang perempuan dengan mobilnya ke arah danau itu. Tapi sampai sekarang pun Tasia belum juga kembali lagi.
"Apa, kau tahu bang sama siapa Tasia tadi pergi?"
"Aku kurang tahu den...tapi tadi Non Tasia sempat memanggil namanya Lia..."
"Lia?" Yogi terperangah kaget mendengar nama Lia.
'Apa? wanita itu mungkin cari kesempatan untuk mencelakai Tasia!' pikir Yogi.
Yogi cepat-cepat mencari Tasia dengan masih mengendarai motornya itu, yang diikuti oleh bang Mail dari belakangnya.
Yogi terus mengamati jalan samping danau, dengan melewati pepohonan yang berjejer di jalan. Samar-samar terlihat bayangan dua orang yang tertelungkup dari tepi danau itu. Yogi lekas mengarahkan motornya kesana.
Pria itu mengusap atas kepala Tasia dan mencoba memberikannya nafas buatan. Namun Yogi keburu mencegahnya, dan tidak bertanya dulu siapa dia, dia malah langsung menarik baju belakang pria itu, lalu dipukulnya kencang pipinya sampai dia jatuh ke semak-semak.
"Hei apa yang kau lakukan kepadanya?" teriak Yogi. Pria itu mengusap pipinya yang sudah di pukul Yogi dengan punggung tangannya sampai ke bawah bibirnya, yang sudah mengeluarkan darah segar disana.
"Cuuh" dia meludahkan darahnya sendiri ke tanah.
"Apa matamu tidak lihat kalau aku sedang mencoba menolongnya, dia hampir saja mati tenggelam!" sahut pria itu lalu beranjak dia berdiri dan menghampiri Tasia lagi yang masih pingsan belum sadarkan diri.
"Biar aku saja!" cegah Yogi dengan cepat menghalangi pria itu untuk mendekati Tasia lagi.
"Minggir kau! dia urusanku aku yang sudah menyelamatkannya lebih dulu!" bentaknya, dengan mendorong Yogi ke sampingnya.
Seketika itu Tasia mulai terbangun dengan sendirinya diiringi batuk yang mengeluarkan air dari dalam mulut dan juga hidungnya.
"Uhuukk.. uhuk" Tasia bangun dan perlahan-lahan dia mulai merasakan nafas di dalam paru-parunya lega kembali.
"Tasia!" dua pria itu serentak mencemaskannya. Yogi terkejut karena pria itu juga mengenali Tasia.
Tasia menoleh ke arah mereka masih dalam keadaan berbaring di tanah yang berumput.
"Apa kau baik-baik saja? aku khawatir sekali kepadamu.." tanya pria itu, sambil mendekati Tasia, dan menggenggam tangannya.
Tasia memandang wajahnya seksama.
"Mas Adrian? kamu kah... yang sudah menyelamatkanku?" ujarnya dengan suara yang lemas, dengan raut wajah terharu ternyata Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk hidup.
Adrian mengangguk tersenyum.
"Iya.." lalu Adrian membantu membangunkan Tasia perlahan-lahan.
"Terimakasih...mas...terimakasih ya.." ucapnya menangis haru.
Yogi melihat ke arah pria itu jengkel. "Tasia kenapa kamu bisa tenggelam di danau?" berjalan menghampirinya dan berjongkok di sampingnya.
"Kalungku... tadi terjatuh ke sana, tapi aku sudah menemukannya lagi... "katanya senang saat membuka tangannya sendiri. Tapi dia terkejut dan tangannya ternyata sudah tidak memegang kalungnya lagi. Tasia tidak menyadarinya, dia pikir kalung itu masih di dalam genggaman tangannya.
"Hah.. kalungku, kalungku kemana? tadi jelas-jelas ada di tanganku! sahutnya mencemaskannya lagi, sambil mencari-cari di sekitarnya dudukkan.
"Jangan-jangan kalungnya terjatuh lagi di dalam danau!" seru Tasia lalu berusaha berdiri dengan kakinya yang terluka.
"Aduuuh.." rintihnya.
Adrian spontan membantu Tasia berdiri dan menghentikan langkahnya.
"Jangan berdiri dulu.. kakimu sedang terluka parah!" cegahnya sambil menahan tangan Tasia agar tidak bergerak.
"Tidak boleh?" sahut Yogi. Yogi lekas berjalan mengambil sepatu kerja punya Tasia lalu meraih tangan gadis itu.
"Ta-tapi itu..Yogi" pekiknya terbata-bata.
"Lebih baik kamu istirahat saja dulu dan sembuhkan dulu lukamu itu. Nanti kita bisa kesini lagi dan mencarinya bersama, ayo!" lanjutnya, lalu Yogi mengalungkan lengan Tasia ke belakang lehernya dan memapahnya sampai mobil bang Mail.
"Biar aku saja yang membawa dia!" tiba-tiba Adrian mencegah Yogi untuk membawa Tasia.
"Aku yang bertanggung jawab untuk menjaganya, jadi aku yang berhak membawanya.. " sahutnya sinis pada Adrian dengan wajah yang masih tidak bersahabat itu, sambil berjalan pelan membopong Tasia. Tasia pun menoleh ke Adrian yang masih di belakangnya.
"Terimakasih sekali lagi ya mas, tapi biar Yogi saja yang mengantarku pulang..." ujarnya. Lalu perlahan Yogi mengangkat Tasia ke dalam mobilnya lagi. Yogi pun kembali mengendarai motornya dan meninggalkan Adrian di pinggir danau sendirian.
Adrian berdiri sendirian di tepi danau lalu melemparkan batu ke air begitu jauh. Dengan pakaiannya yang masih basah kuyup itu masih memikirkan Tasia di bawa pria lain, dia begitu sangat kesal dan cemburu, lagi-lagi dia menendang batu ke arah sembarang lalu nafasnya dihembuskannya kasar.
"Aaaaarrgggh" teriaknya.
"Kenapa, kau selalu menolakku yang benar-benar perhatian padamu...tapi kau tidak pernah menolak lelaki lain. Berapa banyak lelaki lagi yang tengah ada di dekatmu...Tasia" gerutunya kesal sendiri, sambil tangan merogoh sesuatu di celana jins nya lalu dia membukakan tangannya itu.
"Lalu pentingkah kalung ini bagimu?" tanyanya sendiri, sambil menyunggingkan senyuman licik, melihat-lihat bentuk kalung yang tadi di cari Tasia. Dan yang ternyata dialah yang mengambil kalung itu, lalu di simpannya kembali di dalam saku celananya itu.
"Aku tak akan pernah menyerah untuk mendapatkanmu... akan ku hancurkan siapapun yang menghalangi jalanku, walau bagaimanapun aku sudah sangat terlanjur mencintaimu, Tasia hanya akulah yang pantas menjadi suamimu!" gumamnya sendiri, yang matanya masih memandang luas ke arah danau itu.
#
#
#
Sesampai di sebuah Cafe, di dalam ruangan tempat kerja Tasia, Yogi membantu membersihkan dan mengobati luka di kakinya.
"Bagaimana bisa kamu menjatuhkan kalungmu itu?" tanya Yogi masih bingung, sambil membalut pergelangan kaki Tasia dengan perban.
Tasia menatapnya takut dan sedih.
"Aku...aku.." Tasia tidak bisa berbohong dan mencari alasan lagi.Tapi dia pun juga takut untuk menceritakan semuanya pada Yogi bahwa Lia lah yang telah membuangnya.
Yogi memandang wajah Tasia yang kasak kusuk cemas, setelah selesai mengobatinya.
"Bang Mail tadi bilang kamu tadi di ajak oleh seorang perempuan naik mobil. Apakah iatu Lia benarkah?" Yogi menebaknya dengan tampang serius. Tasia menatapnya murung dan memanggut pelan.
"Sudah aku duga..." ujar Yogi. "Sebaiknya kamu istirahat dulu, tapi sebelumnya gantilah pakaian basahmu itu nanti kamu bisa masuk angin. Aku sudah meminta pelayan membelikan satu stel baju untukmu tadi" Yogi mengambil baju untuk Tasia dan memberikannya, lalu dia beranjak berdiri dari duduknya, tetapi Tasia menahannya sebentar. Yogi menoleh ke arah Tasia lagi.
"Yogi...berjanjilah kamu tidak akan pernah menceritakan kejadian ini pada Rizal, aku takut dia akan ikut khawatir.." pesannya memohon, Yogi memandang penuh iba kepada Tasia.
"Baiklah...kalau memang itu maumu... aku berjanji tidak akan menceritakannya..." lalu dia lekas keluar meninggalkan Tasia di dalam ruangannya.
#
#
#
Setelah sampai di kediamannya, Adrian segera menelepon Lia penuh amarah dan emosi kepadanya.
"Kau seharusnya tidak membuang kalung itu kedalam danau, dia nyaris saja tenggelam dan mati! apa kau tidak memikirkan resikonya" membentak Lia di ponsel, setelah dia sampai di rumahnya.
"Tapi itu lah satu-satunya cara agar kau bisa dekat dengannya bukan...kau akan di anggap pahlawan olehnya, karena telah menyelamatkan nyawanya. Lalu bagaimana sekarang apa kau sudah berhasil membawanya pulang ke rumahmu?" tanya Lia penasaran.
"Huh...apanya yang berhasil dia malah di bawa pergi pria lain, siapa dia? beraninya dia juga memukulku!" gerutunya sambil mengelus rahangnya kasar.
"Pria lain..? apa itu Yogi?" tanya Lia. Adrian mengiyakannya.
"Ya kudengar Tasia tadi sempat memanggil namanya itu.., rencana kita gagal gara-gara pria itu datang.." gerutunya kembali memukul-mukul dinding kamarnya.
"Sudah tenanglah, tak perlu khawatir, jika rencana A tidak berhasil kita masih punya rencana B dan C... dalam waktu dekat ini aku akan pergi ke Jakarta. Kita nanti akan pikirkan rencana lagi bersama besok, oke!" sahut Lia menyarankan. Lalu Lia segera menutup kembali ponselnya.
"Tidak Rizal tapi juga Yogi...huh sebenarnya aku sih gak peduli gadis kampung itu bersama pria lain asalkan dia tidak dengan Rizal. Tapi memperhatikan si bodoh Adrian itu... malah aku ingin sekali memanfaatkannya agar Tasia menyerah dan tidak mendekati Rizal lagi..." gumamnya sambil tersenyum picik.
bersambung...
...***...
Jangan lupa like and komentarnya yaa....
...🌺🌺🌺...