Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Kau, Seorang Tuan Muda



Bab 59


Kau, Seorang Tuan Muda


Menjelang pagi pukul 04.30, pesawat pribadinya Raffi sudah sampai mendarat di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Namun Rizal dan Tasia masih tampak tertidur pulas di kursi pesawat. Tak lama kemudian Tasia terbangun karena pengawal Raffi yang tiba-tiba saja membangunkannya.


"Tuan Rizal...Nona Tasia, maaf sekarang kita sudah sampai Jakarta.." sahutnya.


Tasia menggeliat sesaat karena mendengar pengawal itu memanggil-manggilnya terus untuk segera bangun. Lalu membuka matanya perlahan-lahan dan duduk bangkit dari baringannya, sejenak dia kaget kalau dirinya ternyata sudah berada di samping atas dadanya Rizal. Dia baru menyadarinya berarti selama semalaman suntuk itu mereka sudah tertidur saling berpelukan.


Tasia terperanjat dan langsung berdiri, lalu segera membangunkan Rizal yang masih pulas dengan tidurnya.


"Rizal, Rizaal ayo bangun kita sudah sampai" sahutnya menepuk-nepuk pipi Rizal dengan wajah yang masih memerah karena malu dilihati terus oleh pengawalnya Raffi.


Rizal membuka matanya dan terbangun.


"Apa kita sudah sampai" tanyanya masih memelas, lalu perlahan bangkit dari baringannya.


"Iya Tuan..., sekarang mobil jemputan sudah siap berada di area gedung parkir dan supir Tuan juga sudah berada di lobi menunggu kepulangan anda dari tadi pagi sekali." terangnya.


"Baiklah..kami akan bersiap dulu..tolong kamu bawakan barang-barang kami ya.." pinta Rizal sambil mengusap-ngusap matanya karena lengket.


"Baik Tuan" jawabnya, segera pergi menuruti perintah Rizal.


Rizal memandang heran ke arah Tasia yang terlihat gelisah dengan wajah merahnya.


"Kamu kenapa?" tanyanya heran.


Tasia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak angkat bicara, karena malu untuk mengatakannya kalau selama semalam itu mereka sudah tidur bersama di kursi pesawat yang lebar itu.


"Aneh?" ketus Rizal seraya mencubit pipinya Tasia gemas.


Di perjalanan menuju rumah Rizal. Tasia terus-terusan memandangi kota Jakarta di jendela mobil jemputan mereka. Dia tak henti-hentinya terkagum dengan suasana pagi di ibukota Negara itu. Sudah sangat lama sekali sejak terakhir kali dia ke Jakarta adalah waktu dirinya masih usia 8 tahun. Karena dulu dia pernah di ajak Ayahnya ke tempat saudaranya sebab ada acara penting dari keluarga besarnya. Dan semenjak perceraian orangtuanya dulu, dia belum pernah lagi ke ibukota ini.


"Apa rumah orangtuamu masih jauh?" tanya Tasia yang masih tergugup untuk bertemu calon mertuanya itu, keringat dingin akhirnya berhasil membasahi kedua telapak tangannya itu.


Perlahan Rizal menggenggam tangannya Tasia yang basah, untuk menenangkan kegugupannya itu. Jari-jari kuat Rizal mengelus-ngelus bagian telapak tangan mungilnya Tasia dengan lembut, sesekali jari-jari lentik dan manisnya Tasia juga dimainkannya.


"Sebentar lagi...kamu santai saja ya.." ucapnya dengan menyenderkan punggungnya di kursi belakang mobil, lalu tersenyum manis memandangi Tasia. Tasia tertunduk dan memanggut.


Beberapa menit kemudian mobil berhenti di depan sebuah rumah besar nan megah, rumah mewah bak istana itu berhasil membuat penglihatan Tasia terpana ke arahnya hingga mulutnya sedikit terbuka.


Pintu gerbang dibukakan lebar-lebar oleh si penjaga rumah itu. Mata Tasia terbelalak kaget saat mobil itu mulai berjalan masuk ke dalamnya. Di depannya masih terlihat jauh menuju rumah besar itu. Halaman rumah yang begitu luas berapa hektar dipenuhi dengan tanaman bunga-bunga berwarna-warni.


Rizal menatapi Tasia sedikit kisruh, Rizal selama ini belum pernah memberitahukan siapa dirinya pada Tasia. Ada rasa cemas menjalarnya karena takut dia akan menjauhinya setelah tahu siapa Rizal sebenarnya.


Tasia menghembuskan nafasnya kencang dan melotot ke arah kursi depan mobil. Jantungnya tiba-tiba berdegup sangat kencang.


"Apakah ini benar-benar rumah orangtuamu?" tanya Tasia lagi mulai khawatir.


Rizal merapatkan bibirnya kencang dan menjawabnya singkat. "Iyaa..." langsung menoleh ke arah Tasia.


Tasia membalas penglihatannya ke arah Rizal, seketika jadi ragu.


"Aku ingin kembali pulang.." pintanya tiba-tiba.


Lalu mobil berhenti di depan teras rumahnya yang luas. Rizal segera turun dari mobilnya, dan berlari membantu Tasia membukakan pintu samping mobilnya juga.


"Ayo kita sudah sampai.." meminta Tasia segera turun dari mobilnya. Tapi Tasia malah terdiam saja membeku.


"Tasia.." teriak Rizal sedikit kesal.


"Kenapa kamu tidak pernah cerita padaku, kalau kamu adalah anak orang kaya?" sedikit kecewa terhadap Rizal, dengan menundukkan pandangannya ke bawah. Tasia berpikir Rizal adalah seorang anak dari rakyat biasa, yang sedang merantau jauh ke kotanya untuk sekedar belajar dan kerja saja disana. Dalam pandangan Tasia, Rizal mungkin sama seperti Supri kakak iparnya itu yang terlahir dari anak keluarga sederhana juga. Tapi semua tidak sesuai dengan harapan Tasia sendiri.


"Kenapa bicaramu begitu, kenapa juga aku harus menceritakan segalanya kepadamu. Itu tidaklah penting. Ayo ikutlah aku masuk ke dalam dulu" ajak Rizal lagi menarik tangan Tasia pelan-pelan.


Tasia dengan terpaksa keluar dari dalam mobilnya Rizal, dan mengikutinya masuk ke dalam rumah besar itu. Pintu rumah terbuka lebar, dan sudah ada pembantu yang menyambutnya di depan pintu rumahnya.


"Selamat pagi, den Rizal..dan non?" ucap mbok Darmin terhenti seketika karena belum tahu nama pacar anak majikannya itu.


"Tasia mbok, namanya Tasia" jawab Rizal.


"Ooh..ya non Tasia, non cantik sekali serasi dengan namanya. Imut-imut he he he" sahut pembantu rumah tangga itu, terlihat senang dengan kehadiran pacarnya Rizal.


"Terimakasih bu.." sahut Tasia tersipu malu lalu merengkuh sopan ke ibu rumahtangga itu yang usianya tidak jauh beda dengan ibunya sendiri.


"Eh..kok panggil ibu sih..panggil saja si mbok..nama saya mbok Darmin non.." tawanya, terlihat aneh karena diperlakukan sopan oleh Tasia.


"Tasia tinggal di sebuah pedesaan dekat kota Yogyakarta mbok, jadi sudah terbiasa dengan bersikap sopan pada siapapun yang lebih tua darinya" jelas Rizal.


"Mbok tolong antar nona Tasia ke kamarnya ya..dan tolong bantu bawakan kopernya juga" pinta Rizal. Seketika itu Tasia terkejut karena barang bawaannya yang berat itu di ambil mbok Darmin yang sudah tua.


"Eeh..tidak boleh mbok biar aku saja yang bawa sendiri!" sahut Tasia menolak di bawakan olehnya.


"Tidak apa-apa non..mbok sudah biasa kok." celotehnya senyam senyum.


Rizal melihat Tasia jadi mengerti dengan sikapnya itu, "Ah mbok biar aku saja yang bawa kopernya" tiba-tiba saja Rizal berubah pikiran dan membawakan koper Tasia sendirian ke kamarnya Tasia. Mbok Darmin jadi aneh dengan anak majikannya yang tiba-tiba berubah sikap.


Lalu Tasia ikuti Rizal dari belakangnya. Mbok Darmin berlari didepannya dan membukakan pintu kamarnya Tasia.


"Silahkan non Tasia, kamarnya sudah siap..." sahutnya.


Tasia berterimakasih padanya lalu masuk ke dalam kamarnya di ikuti Rizal yang menaruh kopernya di kasur.


"Mmmh...sekarang kamu boleh mandi dan istirahat dulu..nanti kita sarapan pagi bersama pukul 7, persiapkan dirimu ya.." ucap Rizal, seraya membelai pipinya Tasia lembut.


Tasia memanggut melas, setelah keberadaannya di sini kenapa tiba-tiba saja kekhawatirannya semakin besar.


Rizal tak banyak bicara lagi, setelah itu dia pergi keluar dari kamarnya Tasia.


'Apa yang hendak kupikirkan...ternyata Rizal adalah anak dari keluarga bangsawan. Apa mungkin kedua orangtuanya mau menerimaku ini...hanya seorang gadis desa dan lulusan SMK saja?' tiba-tiba cemasnya di dalam hati.


bersambung....


...***...