Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Kenalan



...Bab 35...


...Kenalan...


Motor Yogi melaju sangat cepat sekali sehingga mobilnya Dian jauh tertinggal di belakangnya dan tiba-tiba mobilnya Dian terhenti di tengah jalan. Yogi diam-diam memperhatikannya di kaca spionnya, lalu dia segera berhenti di perapatan jalan.


Dian keluar dari mobilnya lalu dia buru-buru memeriksa ban mobilnya.


"Ish, bannya bocor, duuuh gimana ini? aku bisa telat," keluhnya.


Karena sangat penasaran Yogi membalikkan arah motornya dan kembali menghampirinya.


"Ada apa?" sahutnya setelah menghentikan motornya.


Dian kaget, ternyata Yogi mau balik lagi dan mengkhawatirkannya.


"Ban mobilku bocor! Aah ini semua salahmu pake ngajak kebut-kebutan segala sih tadi" jengkelnya. Yogi segera turun dari motornya lalu memeriksa ban mobilnya itu, dan bannya memang bocor parah.


"Ya sudah, sekarang aku telepon tukang kesini.. dia teman baikku"


papar Yogi. Lalu Yogi segera merogoh ponselnya di saku jaketnya dan menelepon tukang bengkel itu.


Dian menatap Yogi dari belakang punggungnya.


'Kupikir dia itu sepenuhnya lelaki yang menyebalkan, tapi ternyata dia, punya sisi positif juga!' ucapnya dalam bathin, dan dia pun tersenyum lebar.


"Sudah ku telepon 5 menit lagi katanya, dia sampai sini" sahut Yogi tersenyum bangga pada Dian, ingin merasa di akui kalau dia pahlawannya sekarang.


"Kau mau tetap tinggal disini saja? sepertinya kulihat kau sedang terburu-buru tadi" celoteh Yogi sambil memakaikan helmnya lagi. Secara tidak langsung menawari Dian tumpangan.


Dian masih berdiri mematung di dekat mobilnya, gadis itu merasa malu jika berterus terang padanya, kalau dirinya memang tengah terburu-buru. Tapi gengsinya terhadap Yogi terlalu besar.


"Ya sudah, kalau tidak ada lagi.. aku pergi duluan" Yogi mulai menyalakan mesin motornya. Dian tercengang ketakutan kalau Yogi benar-benar akan meninggalkannya. Saat Yogi mau menancapkan gas motornya, cepat-cepat di tahan Dian.


"Eh iya-iya.. aku ikut sama kamu!" teriaknya. Lalu buru-buru Dian mengambil kunci mobil dan tasnya di dalam mobil. Yogi tersenyum kecil, dan memberikan helm satunya ke Dian yang ada di dalam box motornya.


Yogi tertawa-tawa kecil melihat tingkah wanita itu karena akhirnya dia mau juga diantar olehnya. Lalu perlahan Dian menaiki motornya Yogi di belakangnya.


"Sebaiknya kau pegangan yang benar karena motorku ini bukan motor biasa!" ujarnya.


"Apa?" kaget Dian. Belum selesai bicara motor Yogi sudah melaju dengan cepat. Dian teriak histeris.


Aaaaaarrrggh


"Sudah kubilang pegangan yang kuat!" teriak Yogi.


Lalu terpaksa Dian harus memeluk erat perut Yogi dibelakang punggungnya.


...***...


Dalam waktu kurang dari 5 menit mereka telah sampai di butik. Dian perlahan turun dari motornya Yogi dengan keadaan kakinya yang masih gemetaran sehingga dia hampir saja terjatuh lemas ke tanah.


Lalu Yogi segera menahan tubuhnya yang langsing itu.


"Kenapa?" sahut Yogi terkekeh-kekeh melihatnya ketakutan.


"Aku gak bisa jalan jantungku mau copot, aku hampir mau mati!" ucap Dian gelagapan masih ketakutan. Yogi prihatin melihat keadaannya. Karena kasihan, Yogi langsung menggendong badannya lalu berjalan masuk ke dalam butik.


"Eeh kamu mau ngapain?" Dian terkejut karena Yogi tiba-tiba menggendongnya.


"Katanya sudah gak bisa jalan" cengirnya.


"Tapi kan gak perlu pakai gendong segala!" sahut Dian tersipu malu, lalu menundukkan kepalanya di depan semua orang yang melihatnya itu. Dian lekas menutup matanya sendiri sangking malunya diperhatikan oleh orang-orang disana.


Lalu perlahan Yogi mendorong pintu kaca butik itu dengan bahunya yang tegap.


Para karyawan lain yang tengah dalam kesibukkannya dengan pelanggan-pelanggannya terkejut saat melihat bosnya digendong masuk butiknya oleh seorang pria tampan nan gagah. Semua terpana melihat kebersamaan mereka. Mereka jadi berbisik-bisik dan bergosip tentang hubungan bosnya dengan pria itu.


Lalu Wiwin sekretarisnya Dian segera menghampirinya karena khawatir melihat bosnya kenapa-kenapa sampai di gendong segala masuk butiknya.


"Bu Dian, ibu tidak apa-apakah?" tanyanya mencemaskannya


"Dimana ruang kerjanya?" tanya Yogi tanpa basa-basi.


"Ah di sana pak.. silahkan biar saya antarkan" Wiwin segera membuka pintu ruang kerja Dian. Lalu Yogi segera masuk ke ruangannya dan mendudukkan Dian di sofa itu.


"Terimakasih banyak, sudah mengantarku" Dian menunduk wajahnya tersipu malu.


"Ok, sama-sama.. kalau sudah tidak ada lagi, aku boleh pamit pergi kan Bu Dian?" celotehnya tiba-tiba merengkuhkan punggungnya layaknya memberi penghormatan pada gadis itu.


"Apa tulisan di meja itu kurang jelas?" Yogi menunjuk papan nama di meja pemilik butik itu.


"Tadi juga bawahanmu memanggil nama kamu bukan? pendengaranku masih baik..." gerutunya.


Dian tersipu malu, dia menggaruk telinganya sendiri padahal tidak terasa gatal itu.


"Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu, ini no telepon tukang bengkel temanku" Yogi memberikan kartu nama temannya agar Dian bisa menghubunginya kapan saja dibutuhkannya. Lalu melangkah pergi hendak keluar ruangan itu, tetapi Dian segera memanggilnya lagi.


"Yogi, terima kasih sekali lagi" teriaknya.


Yogi terkejut, kalau Dian juga sudah tahu namanya. Dia masih heran dan mengerlingkan matanya ke Dian.


"Namamu Yogi kan? aku juga sudah tahu karena aku tak sengaja melihat kartu namamu di dompetmu itu waktu kau mabuk dulu." sahut Dian tiba-tiba wajahnya memerah padam. Lalu garis itu beranjak berdiri dari duduknya.


"Salam kenal" sahutnya menyodorkan tangannya yang putih bersih itu ke Yogi, hendak berjabat tangan dengan pria yang sudah membantunya. Yogi tersenyum dan membalas jabatan tangannya Dian juga.


"Iya, salam kenal juga" jawab Yogi.



#


#


#


Tttiiiiit tiiiitdd


Suara klakson motor Rizal terdengar kencang di depan rumah Tasia. Irna yang sedang menyiram tanaman bunga di samping rumah pun terkejut.


"Iya sebentar" lalu Irna segera berlari membuka pagar rumah. Irna melohok melihat seorang lelaki tampan dan tinggi datang ke rumah majikannya.


"Hallo permisi mbak, Tasia-nya ada?" tanya Rizal setelah membuka helmnya.


Irna terkejut ternyata pria itu ingin menemui Tasia. Dia jadi berpikir di hatinya kalau pria itu adalah pacar anak majikannya. Lalu dia tersenyum-senyum sendiri.


"Ada, ada kok mas.. silahkan masuk dulu. mbak Tasia ada di dalam" rengkuhnya sopan. Setelah membuka pintu pagarnya lebar. Rizal memasuki motornya ke dalam halaman.


"Silahkan tunggu sebentar disini saya akan panggilkan mbak Tasianya dulu.." sahut Irna, mempersilahkan Rizal duduk di kursi teras rumah lalu dia bergegas masuk ke dalam rumah memanggil Tasia.


Tasia yang masih sibuk membantu Ibunya memasak, mengaduk-ngaduk sayur di pancinya, tiba-tiba di kejutkan Irna dari belakangnya.


"Mbak Tasia, itu ada pria ganteng di depan mau nemuin kamu mbak!" sahut Irna terburu-buru, sambil menggoda Tasia dengan lirikkan mata mencurigainya.


Tasia tersenyum dengan ucapan Irna, dia sudah tahu kalau itu adalah Rizal.


"Siapa Tasia?" tanya Ibunya yang sedang sibuk mencuci berasnya.


"Itu.. Rizal bu.. bos pemilik Cafe tempat Tasia bekerja" jawab Tasia.


"Benarkah, ya sudah suruh dia masuk.. Irna kamu teruskan memasak gantiin Tasia!" suruh Ibunya ikut-ikutan memburu-buru Tasia.


"Iya-iya bu siap!" seru Irna.


"Ya sudah Tasia samperin dia dulu ya bu.." Tasia segera membuka celemeknya dan bergegas ke depan menemui Rizal.


Rizal terlihat masih dudukkan anteng di kursi teras rumahnya Tasia sambil memandang halaman di depannya.


"Dooor" Tasia mencoba mengejutkannya di samping pintu rumahnya. Rizal terkaget, dan langsung tersenyum merekah ke arahnya. Lalu Tasia ikut-ikutan dudukkan di kursi sampingnya.


Rizal memandangi Tasia dari sampingnya dengan matanya yang berbinar, Tasia membalas senyuman cantik ke arahnya dan sesekali menundukkan pandangannya itu.


"Apa kamu masih sibuk?" tanya Rizal. Tasia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sudah tidak, ada apa memangnya?" tanya Tasia penasaran.


"Aku ingin mengajakmu pergi beli sesuatu" sahut Rizal tiba-tiba, dengan memancarkan wajah ceria kepadanya.


Bersambung...



...***...


Yang pengen lanjut ceritanya silahkan boleh klik like and komentnya ya... jangan lupa jadiin novel favorit kamu.. 🙏 mohon dukungan selalu karya saya ya...terimakasih banyak...I Love You...😘


...❤❤❤...