
...Bab 83...
...Di Hari Bahagiamu Kau Habiskan Bersamanya...
Setelah kejadian makan malam itu semua jadi tidak berselera untuk melanjutkan makannya lagi. Semua kembali ke kamarnya masing-masing termasuk juga dengan Rizal yang sedang memendam amarahnya pada Tasia.
Tasia berlari mengejar Rizal ke atas loteng, dengan memanggil-manggilnya.
"Rizal...percayalah padaku...aku sama sekali tidak melakukan itu pada Ayahmu.." teriak Tasia menggedor-gedor pintu kamar Rizal, supaya pintu kamar dibukanya. Lalu dibukanya pintu perlahan dari dalam kamar olehnya. Karena merasa terganggu dengan suara gedoran Tasia.
"Sudahlah Tasia, aku tahu kamu sedang khilaf melakukannya.." ujar Rizal.
"Apa katamu? aku khilaf?" Tasia melongo tak percaya dengan ucapannya Rizal kepadanya. Suaminya tega menuduh dirinya dan percaya kalau itu perbuatan dirinya.
"Iya.., aku tahu kamu tadi khilaf.." ditepuknya pundak Tasia pelan. "Sekarang lebih baik kamu merenung di kamarmu, apa yang sudah menjadi kesalahanmu itu..dan maaf jangan ganggu aku lagi, aku lelah seharian ini di kantor, tolong mengertilah aku ingin istirahat!" pekiknya, lalu dia kembali menutup pintu kamarnya.
"Ta-tapi Rizaal...kumohon dengarkan penjelasanku dulu.." sahutnya lirih, sambil terus menepuk-nepuk pintu kamar suaminya itu pelan "Kenapa kau tidak percaya padaku?" sahutnya lagi terisak-isak.
Berharap Rizal akan mendengarkan bicaranya lagi. Namun percuma Rizal tidak menghiraukan perkataannya.
Tasia kembali ke kamarnya dengan perasaan sedih dan hampa. Dia tidak menyangka akan di acuhkan suaminya sendiri seperti itu.
Mbok Darmin melihat ke arah Tasia yang berjalan pelan menuruni anak tangga dengan raut wajah yang murung.
"Mbok..." Tasia berlari turun ke bawah sambil menangis menghampiri mbok Darmin, lalu dipeluk eratnya pembantu rumahtangga itu.
"Sabar..ya non Tasia.." hiburnya sambil mengelus-elus punggungnya Tasia.
Keesokan paginya...
Tasia berharap sikap Rizal akan kembali baik kepadanya. Sebelum berangkat ke kantornya dia sudah mempersiapkan sepatu dan pakaian kerja suaminya di dekat tempat tidurnya itu.
Rizal baru saja selesai mandi pagi dan dia keluar dari kamar mandinya dengan masih memakai handuk yang dibalut di pinggangnya.
Dia terkejut karena Tasia sudah berada di dalam kamarnya.
"Kau?" pekiknya.
"Sayang..kau sudah selesai mandinya..sini biar aku keringkan rambutmu.." Tasia mengambilkan handuk kecil di lemari lalu menghampiri suaminya hendak membungkuskan kepalanya. Tapi cekatan Rizal memegang tangan Tasia dan menolaknya untuk mengeringkan rambutnya.
"Tidak perlu, biar aku sendiri saja.." sahutnya datar. Lalu Rizal mengambil handuk kecil yang di pegangi Tasia barusan.
"Apa...kamu masih marah kepadaku?" tanyanya dengan pandangan sedih mengarah ke matanya Rizal.
"Menurutmu?" Rizal berjalan mendekat ke arah cerminnya, sambil menggosok-gosokan rambutnya sendiri dengan handuk itu.
"Sudah aku katakan padamu..kalau itu bukanlah perbuatanku.." sahut Tasia lagi membela dirinya.
"Aku bosan mendengarmu..lalu menurutmu siapa lagi yang akan melakukannya? bukankah kemarin mbok Darmin bilang semua makanan itu kamu yang masak sendiri?" ketusnya sedikit bernada tinggi.
Mata Tasia membulat ke arah Rizal yang berucap sinis padanya.
"Tapi, Rizaal..."
"Apa kau tahu akan dampak garam berlebih untuk penyakit Ayahku? Tasia!" sahutnya lagi sinis sambil membalikkan badannya lalu menoleh ke arah Tasia dengan raut wajah kesal di penuhi kebencian kepadanya.
"Garam akan mempercepat kematian seseorang yang terkena resiko jantung..Tasia..apa kau tidak tahu itu? atau kau hanya pura-pura tidak tahu!" bentaknya geram diiringi nafas yang terputus.
Tasia sontak terkejut dengan bentakan kerasnya.
"Bu-bukan begitu..." ucap Tasia terbata-bata yang terus menggeleng-gelengkan kepalanya, terasa sulit sekali untuk menjelaskan.
"Aku tahu Ayahku telah memperlakukanmu sangat tidak baik, kemarin dia telah mengusirmu di Rumah Sakit dan juga... soal menyembunyikan statusmu dari oranglain.." terangnya. "Tapi aku tidak suka caramu menyakiti Ayahku dengan seperti itu..Tasia...maaf aku kecewa sekali kepadamu.." ujarnya lagi dengan memandang semu ke arah istrinya.
Tasia hanya diam tak bergeming mendengar perkataan dari suaminya itu, air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya dan nyaris saja tumpah keluar. Kali itu ucapan Rizal telah menggoreskan luka di hatinya, entah apa lagi yang harus dia jelaskan supaya suaminya itu bisa percaya kepadanya.
"Rizal..." lirihnya.
"Maaf aku sedang terburu-buru sekali, nanti bisa terlambat kerja..." sahutnya.
Lalu Rizal bergegas memakai kemeja dan celana kerjanya dengan cepat dan asal serta dasi yang dibiarkan masih teruntai di lehernya. Lalu sepatunya pun di pakaikannya cepat-cepat, setelah itu dia mengambil tas di mejanya dan keluar kamar meninggalkan Tasia sendirian. Tasia yang melihat kemeja Rizal yang belum terkancing semua, hendak mengingatkannya dan berusaha ingin membantu merapikannya.
"Tu-tunggu tapi pakaianmu belum rapi..." serunya sedikit berteriak. Karena Rizal berjalan cepat ke arah pintu kamarnya.
Rizal tak menghiraukan perkataannya dia hanya berjalan keluar kamarnya dan hendak menuruni anak tangga. Tasia mencoba untuk mengejarnya. Namun Rizal sudah berada di bawah begitu cepat, dan samar-samar terdengar suara wanita yang menghentikan langkah Tasia tiba-tiba, sehingga dia mengurungkan niatnya lagi untuk mengejar suaminya itu. Perlahan Tasia memundurkan langkahnya ke belakang setelah wanita itu menghampiri Rizal.
"Yaa..ampuuun sayang..masa ke kantor masih acak-acakkan begitu siih...sini biar aku bantu rapihkan yaa..." ujarnya dengan suara yang manis dan manja. Dengan cekatan wanita itu meraih kemeja Rizal dan mengancingkannya perlahan satu persatu, lalu di lanjut memasangkan dasinya dengan rapi.
Ternyata Lia sudah berada di bawah dari tadi menjemput Rizal, dan dia berhasil mendahului Tasia membetulkan kancing kemeja dan dasi suaminya itu. Di atas loteng Tasia hanya bisa terdiam melihatnya dengan berusaha lapang dada. Dia lekas bersembunyi di balik dinding loteng ketika Rizal hampir saja menoleh ke arahnya.
Kali itu genangan air di matanya sudah tak tertahankan lagi dan deraiannya berhasil keluar tanpa henti.
###
Malam harinya, ketika pesta ulangtahun itu berlangsung, Tasia memberanikan ke luar dari kamarnya dengan memakai pakaian pelayan malam itu. Dia pun ingin melihat suaminya yang tengah berbahagia di malam ulangtahunnya yang ke 27 tahun. Dia membawa kotak hadiah yang sudah dia sediakan dari kemarin-kemarin sore. Tasia naik ke atas loteng dan hendak menyimpannya di kamar suaminya sendiri.
Kotak hadiah itu Tasia simpan di atas tempat tidurnya Rizal. Pesta sudah dimulai dengan meriah, di atas balkon jendela kamar Rizal, Tasia membuka sedikit gordennya, dan matanya melihat ke arah suaminya yang sudah duduk manis di kursi bersampingan dengan Lia, dan sesekali Tasia melihat mereka saling berarah pandang. Lia tampak cantik sekali malam hari itu dengan gaunnya yang berwarna merah menyala, sangat cocok sekali dengan Rizal yang begitu tampan menawan dengan stelan jas hitamnya.
"Selamat ulangtahun...maaf aku tidak bisa menemani kamu di hari bahagiamu ini..." ucapnya terisak-isak, sambil melelehkan air mata bening di pipinya.
Tasia kembali berjalan turun ke bawah. Tiba-tiba seorang pelayan sewaan meminta bantuannya untuk membawa beberapa minuman di meja roda ke halaman luar untuk para tamu undangan disana. Pelayan sewaan itu menyangka dirinya juga seorang pelayan di sana.
Tasia lalu menuruti perintahnya dan dia segera memakai kacamata Rizal lagi, yang sudah dia simpan di saku roknya.
Tasia memberanikan diri berjalan keluar menghampiri mereka yang sedang menikmati pesta ulangtahun suaminya itu. Suara alunan musik romantis terdengar begitu merdu sekali. Cocok bagi para pasangan yang saling merajut cinta kala itu. Disana juga sudah ada beberapa terlihat pasangan yang tengah berputar dan berdansa dengan gembiranya sambil diiringi tawa bahagia.
Tasia berjalan perlahan dengan menawari tamu-tamu itu minuman, namun pandangannya sesekali ke arah Rizal yang sedang berdiri sambil asyik mengobrol dengan teman-temannya sendiri. Lalu tiba-tiba beberapa teman Rizal memanggil meminta minuman padanya.
"Hei pelayaaan...sinii..aku minta satu gelas!" seru salah satu temannya Rizal sambil melambaikan tangannya ke arah Tasia.
greeeert greeetttt greeeeet
Suara roda meja dorong terdengar dan melaju perlahan lalu berhenti di samping kanannya Rizal.
"Silahkan...Tuan..." ucap Tasia pelan dengan pandangan yang masih menunduk ke arah meja dorongnya. Rizal langsung menoleh ke arah pelayan yang baru saja datang di sampingnya dan dia pun terkejut kalau ternyata pelayan itu adalah istrinya sendiri, yang sedang menyamar.
Lalu satu-persatu mereka mengambil gelas-gelas minuman itu di meja dorong yang Tasia bawa.
"Wahh.. This drink is so delicious, I'm getting addicted, thank you for your service ma'am" ucapnya senang pada Tasia. "May i know your name?" tanya salah satu temannya Rizal yang tubuhnya lebih tinggi dan tegap, berparas tampan seperti keturunan orang Turki, khas sekali dengan adanya brewok di wajahnya.
"Sama-sama...eem.." gelagap Tasia tidak berani menjawab pertanyaannya itu karena ada Rizal di sampingnya.
Rizal sedikit geram, kepada temannya yang mulai menggoda Tasia.
"Her name is meaningless, this maid is already married you are too late to get acquainted with her.." terangnya tersenyum tipis, menjawab pertanyaan teman turkinya itu. Sambil melanjutkan minumnya kembali.
Tasia tersenyum tersipu walaupun Tasia tidak bisa berbicara bahasa inggris tapi dia paham betul maksud perkataaannya.
"Are you sure?" cebik temannya melongo masih belum percaya. Rizal hanya menganggukan kepalanya ke atas.
"Rizal...!" tiba-tiba Lia berseru memanggil Rizal dan menghampirinya dengan anggun. Semua serentak menoleh ke arah Lia bersamaan.
"Sorryy....aku pinjam dulu sahabat kalian..yaa..." sahutnya pada teman-teman Rizal disana.
Mereka melihat ke arah Lia terkagum-kagum dengan kecantikan tunangannya Rizal.
"Iyaa..boleh-boleh.." sahut mereka.
"Ayo, sayang.. aku ingin sekali berdansa denganmu..." ajaknya tiba-tiba menarik paksa dan merangkul lengan Rizal cepat.
"Pergilah bersenang-senanglah.." seru mereka semua sambil terus menggoda Rizal yang ditarik-tarik calon istrinya itu.
Rizal hanya bisa diam, terpaksa menuruti ajakan Lia tanpa penolakan, sekilas matanya melihat ke arah Tasia yang masih tertunduk tak melihat ke arahnya. Dia lalu menyimpan kembali gelas itu di meja dorongnya Tasia.
Rizal dan Lia berjalan di tengah-tengah orang banyak, lalu mereka mulai berdansa diiringi suara musik biola yang begitu merdu sekali. Sehingga keduanya terbawa suasana hingga menari mengikuti irama musik itu.
Semua mata memandang tertuju ke arah mereka diiringi pujian yang disampaikannya. Tampak kedua orangtua mereka yang sedang menikmati hidangan makan malam di meja panjang itu, semua menatap ke arah putra-putri mereka dengan wajah penuh kebahagiaan.
Mata mereka saling memandang lekat, tangan Rizal mulai perlahan memegang samping pinggang ramping Lia dan Lia pun yang membalas mengalungkan tangannya di leher Rizal.
Tasia tidak tahan untuk berdiri terus memandangi mereka di depannya, kakinya tiba-tiba saja mendadak lemas tak bertenaga, hatinya kembali merasakan sakit seperti tertusuk belati. Tasia mencoba berjalan cepat dan pergi dari sana. Karena tidak kuat lagi untuk menahan rasa cemburu itu di dalam hatinya, air matanya yang tidak bisa tertahankan itu akhirnya berderaian keluar dengan derasnya.
Setelah jauh dari keramaian orang Tasia berlari kencang menjauh dari halaman utama tempat pesta itu di gelar.
Rizal memandangi punggung Tasia yang berlari pergi keluar halaman. Tak di pungkiri lagi Rizalpun dalam hati kecilnya tentu merasakan kepahitan yang tengah di rasakan istrinya saat itu juga.
'Maafkan..aku...aku terpaksa harus melakukannya...' lirih dalam hatinya.
###
"Yogi kau baru sampai?" tanya Dian yang tengah asyik mengobrol dengan temannya seketika itu melihat Yogi baru saja masuk gerbang.
"Iya.." jawabnya sedikit tergesa-gesa.
Yogi lalu mengedarkan pandangannya di halaman rumah Hendra yang sudah dipenuhi banyak orang malam itu. Terlihat olehnya dari jauh Rizal yang sedang berdansa dengan Lia begitu mesranya. Dia mencari-cari sosok Tasia di sekitaran sana, namun belum terlihat orangnya.
Dian memperhatikan Yogi sedari tadi dan bertanya padanya.
"Kamu sedang mencari siapa?" tanyanya terheran.
"Hmm..seseorang...maaf aku harus pergi, nanti kita bicara lagi..yaa.." ujar Yogi terburu-buru, lalu meninggalkan Dian yang masih bercengkrama dengan teman-temannya.
Dian memandang Yogi terheran dan semakin penasaran. Lalu di ikutinya Yogi dari belakangnya.
Yogi mencari-cari di sekitar sana namun tak jua melihat Tasia dan tidak sengaja punggungnya di tabrak seseorang di belakangnya.
"Aah..maaf" ucapnya sambil menunduk, lalu dia melanjutkan larinya itu, Yogi selintas melirik mata wanita yang berpakaian pelayan itu.
"Tasia..." ucapnya pelan. Yogi tahu jelas hanya dengan sekilas walaupun Tasia memakai pakaian pelayan. "Aku yakin itu dia..."
Tasia berlari ke belakang halaman rumah Hendra dan ketika sudah merasa sepi orang, barulah dia dudukan di batu besar yang berada di tepi kolam tersebut. Sambil memandangi beberapa ikan-ikan koi yang berenang di air kolam sana, serta semburan air mancur ke atas dan kembali berjatuhan merintikan air ke dalam kolam.
Dia kembali meluapkan kesedihannya di malam itu. Hari bahagia suaminya yang harusnya dia rasakan bersamanya, kini dia harus bisa melewati kepahitan itu sendiri dan merelakan suaminya bersama dengan wanita lain.
"Selamat ulangtahun...suamiku...selamat semoga kamu bahagia bersama Lia..." isaknya menahan rasa sakit yang teramat di dadanya.
Selembar sapu tangan tiba-tiba menjulur di samping depan kirinya.
"Ini...aku tahu kamu pasti akan seperti ini..."
Mata Tasia terbelalak kaget, dan ternyata Yogi sudah berada di sampingnya.
"Yogii..." lirihnya terbata-bata. Air matanya kembali berhamburan keluar.
Yogi perlahan merangkul pundak Tasia yang lemah itu dan menariknya membiarkan kepala gadis itu bersender di dadanya yang bidang.
Dian yang sedari tadi membuntuti Yogi, akhirnya dia menemukannya dan mengetahui siapa yang tengah dicari-cari Yogi dari tadi, dan ternyata wanita kemarin yang dia lihat di depan Rumah Sakit bersama Yogi.
bersambung...
...***...
Jangan lupa like dan komentnya ya...
...🌺🌺🌺...